
Vincent pulang ke Mansion setelah ia bertemu dan juga membahas tentang bisinis bersama dengan Theresia. Dan kepulangannya itu membuat Felysia di landa rasa senang luar biasa, karena akhirnya Vincent mau pulang setelah semalam tidak pulang dan juga selama seharian ia tidak menghubungi Felysia sama sekali. Tapi rasa senang itu langsung memudar begitu saja ketika Vincent berubah cuek dan hanya memperhatikan Baby twins dan seakan tidak mengganggap keberadaannya. Hal itu tentu membuat Felysia menahan perasaan sakit di hatinya dan menyalahkan dirinya yang terlalu egois. Vincent tidak pernah secuek ini padanya, bahkan jika ia marah, Vincent dengan segala macam cara akan mencoba membujuknya hingga ia mau berhenti marah-marah. Tidak seperti ini yang untuk pertama kalinya Vincent benar-benar secuek ini. Ah sepertinya Vincent benar-benar kecewa padanya karena kejadian semalam.
Felysia hanya bisa memperhatikan Vincent yang sedang mengajak berbicara dan bermain Baby twins, dari pinggiran tempat tidur, yang ia jadikan sebagai tempatnya duduk sambil melihat interaksi yang terjadi di antara suami dan juga anak-anaknya.
"Anak-anak Daddy, pasti kangen ya sama Daddy?"
"Maaf Daddy baru pulang sayang, Daddy janji nggak akan pergi lagi kayak semalam ya."
"Kalian rewel ya semalam, aduh anak Daddy yang ganteng dan juga cantik kalo udah malam jangan suka rewel. Malam waktunya untuk tidur ya sayang," ucap Vincent terus mengajak bicara Adelio dan juga Adelia.
Setelah merasa cukup berbicara dengan kedua anak-anaknya itu, Vincent berjalan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dari keringat selama seharian bekerja. Ia langsung menuju ke kamar mandi tanpa memedulikan Felysia sama sekali yang saat ini sedang memandangi punggungnya dengan pandangan sendu.
"Aku mohon jangan berubah," lirih Felysia setelah itu berdiri dan berjalan untuk menghampiri Baby twins.
"Sayang, Mommy harus gimana? Daddy kalian nggak mau bicara sama Mommy." Ucap Felysia menahan rasa sedihnya itu.
"Babababababababa"
"Yayayayayayayaya"
Kedua bayi itu membalas dengan berceloteh entah apa itu untuk membalas ucapan Felysia. Senyuman Felysia terukir melihat kedua anaknya itu merespon ucapannya walaupun hanya dalam bentuk celotehan yang bahkan ia tidak tahu artinya apa.
Tidak lama kemudian, setelah sekitar sepuluh menit di dalam kamar mandi, Vincent keluar dengan wajah yang lebih segar dengan hanya menggunakan handuk. Tanpa melihat ke arah Felysia ia segera melangkah menuju ke walk in closet untuk mengganti pakaian, tapi suara Felysia membuat Vincent menghentikan langkahnya tanpa mau menoleh ke arah Felysia.
__ADS_1
"Aku siapin baju buat kamu ya?" Tawar Felysia berharap jika Vincent akan mau.
"Nggak usah," singkat Vincent dan langsung masuk kedalam walk in closet.
Sesak
Itu yang di rasakan oleh Felysia ketika Vincent menolak tawaran darinya. Ternyata bisa sesesak dan sesakit ini ketika menawarkan sesuatu dan di tolak oleh Vincent. Felysia menghela nafasnya dengan berat.
Jika seperti ini terus, orang-orang di Mansion akan tahu jika ia dan Vincent sedang bertengkar. Apalagi Vincent yang menjadi cuek tidak seperti biasanya akan menjadi nilai plus orang-orang Mansion cepat atau lambat akan tahu.
"Felysia," panggil Vincent dengan nada suara datar ketika ia sudah keluar dari walk in closet, tidak seperti biasanya yang selalu memanggilnya dengan nada lembut.
"Kenapa?"
"Ini masalah tentang Baby Sitter, karena kamu nggak mau adanya Baby Sitter, aku udah batalin Baby Sitter yang sebenarnya datang hari ini ke Mansion." Ucap Vincent, berjalan melewati Felysia menuju ke tempat tidur dan bersiap untuk tidur.
Vincent tidak mempedulikan ucapan Felysia, ia lebih memilih untuk membaringkan tubuhnya di tempat tidur dengan memunggungi Felysia.
"Kamu nggak mau ikut makan malam?" Tanya Felysia mencoba untuk mengajak Vincent berbicara lagi.
"Aku udah kenyang," jawab cuek Vincent tanpa menoleh ke arah Felysia sama sekali.
"Tapi kamu kan baru pulang, dan pastinya kamu belum makan malam kan," ucap Felysia membalas ucapan Vincent.
__ADS_1
"Aku baru pulang, bukan berarti aku belum makan."
"Tapi kamu makan dimana kalo kamu udah makan? Kamu kan selalu makan malam di Mansion."
"Di restoran sama teman," jawab Vincent.
"Teman? Sejak kapan kamu mau makan malam sama teman kamu? Teman cewek apa cowok?" Tanya Felysia sangat penasaran.
"Kamu ribet banget si Fel, masalah makan malam doang harus nanya sampai ke akarnya segala." Ucap Vincent bangun dari tidurnya dan menatap ke arah Felysia dengan wajah kesal yang begitu kentara di wajahnya.
"Aku kan cuma nanya, salah aku nanya hal kayak gini sama kamu?" Tanya Felysia dengan suara pelan dan terdengar lirih.
"Dahlah, aku capek. Terserah kamu mau mikir apa tentang aku. Aku nggak peduli, aku mau tidur dan jangan ganggu aku." Vincent kembali membaringkan tubuhnya tanpa melihat Felysia yang saat ini matanya sudah berkaca-kaca.
"Aku tau aku salah, tapi apa kamu nggak bisa jangan berubah kayak gini?" ucap Felysia begitu lirih yang dapat di dengar oleh Vincent langsung, tapi ia beranggapan seakan ia tidak mendengar perkataan Felysia barusan.
"Aku sadar aku egois, apa yang kamu lakukan untuk aku udah paling benar karena kamu nggak mau aku sampai sakit karena kelelahan ngurus Baby twins."
"Tapi aku dengan bodohnya langsung mengganggap lain maksud kamu, aku nyesel benar-benar nyesel." Ucap Felysia dengan air mata yang mulai mengaliri kedua pipinya itu. Rasanya begitu sakit melihat perubahan Vincent yang hanya dalam waktu semalam dan ia tidak ingin Vincent seperti ini, ia ingin Vincentnya kembali seperti biasanya.
Mendengar ucapan Felysia, Vincent yang sedari tadi berpura-pura tidur itu bangun dari posisi berbaringnya. ia menghela nafasnya pelan ketika melihat Felysia yang saat ini sedang melihat ke arahnya dengan kedua mata memerah karena menangis. Tanpa menggunakan sendalnya, Vincent langsung menghampiri Felysia dan membawanya kedalam pelukannya. Tangisan Felysia langsung pecah ketika Vincent membawanya kedalam pelukan hangat yang sangat di rindukan oleh Felysia itu.
"Maaf, maaf karena aku udah buat kamu nangis." Ucap Vincent mengusap-ngusap sayang punggung Felysia, untuk menenangkan Felysia yang terus menangis itu.
__ADS_1
Runtuh sudah pertahanan Vincent ketika melihat Felysia yang menangis seperti ini. Sebenarnya ia tidak ada niat untuk melukai perasaan Felysia tadi dengan sikap cueknya itu. Yang ia lakukan tadi adalah hal paling sulit untuk bisa ia lakukan, tapi ia memang sengaja melakukan itu hanya untuk membuat Felysia sadar dengan kesalahannya. Jika ia membujuk Felysia, yang ada istrinya itu akan semakin keras kepala dan tidak akan mau mendengarkan perkataanya sama sekali, apalagi karena ia yang terus memanjakan Felysia selama ini.
"Udah sayang jangan nangis dong, nggak malu di liatin tuh sama Lio dan Lia?"