
Vincent bersandar dengan nyaman di kursi kebesarannya setelah ia selesai meeting yang memakan waktu 2 jam, karena ada hal begitu penting yang memang harus di bahas dengan begitu tuntas. Ia mengambil ponselnya dan melihat lockscreennya yang menggunakan foto mereka berempat yang langsung membuat Vincent tersenyum. Foto itu baru saja di ambil minggu lalu untuk kenang kenangan Baby twins di umur 1 bulan. Tiba tiba ia jadi merasa rindu dengan 3 orang yang sedang berfoto dengannya itu, dan akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi Felysia tapi hingga panggilan kelima Felysia tidak menjawabnya.
Huh
Vincent meletakan kembali ponselnya dan kembali menyandarkan tubuhnya di kursi. Jika sudah sampai 5 kali ia mencoba menghubungi Felysia dan tidak di angkat, itu artinya Felysia sedang tidak memegang ponsel dan mungkin saat ini sedang sibuk dengan Baby twins.
"Baby twins, Daddy cemburu sama kalian berdua." Ucap Vincent dengan suara yang terdengar lemas.
Vincent yang pikirannya hanya tertuju pada anak dan istrinya itu harus di buat kaget ketika pintu ruangannya di buka tanpa di ketuk sama sekali. Ia sudah ingin mengumpatii orang yang masuk seenaknya saja itu, tapi langsung ia urungkan ketika yang masuk adalah Ayahnya.
"Dad, kenapa Dad kesini?" Tanya Vincent pada Theo yang saat ini sudah duduk di sofa ruang kerjanya itu.
"Kemarilah dulu, ada yang ingin Dad tanyakan sama kamu." Ucap Theo mengajak anak satu satunya itu untuk mendekat padanya.
Karena sudah sangat penasaran dengan apa yang ingin Ayahnya katakan, Vincent langsung menghampiri Ayahnya itu.
"Apa yang ingin Dad tanyakan sama Vincent?" Tanya Vincent setelah ia sudah mengambil duduk di sofa single.
"Huh, ada apa dengan kamu Vincent? Selama beberapa minggu ini Dad lihat kamu tidak fokus bekerja." Ucap Theo langsung ke inti permasalahannya, yang membuat Vincent terdiam bingung harus menjawab apa.
__ADS_1
"Tidak apa apa Dad, aku hanya sedikit merasa lelah." Ucap Vincent memilih untuk berbohong daripada harus berbicara jujur pada Ayahnya.
Theo tentu tahu jika anaknya ini sedang berbohong, karena walaupun Vincent dalam keadaan lelah sekalipun, ia tidak akan pernah melalaikan pekerjaannya seperti sekarang ini. Apa yang sedang di pikirkan anaknya itu hingga akhir-akhir ini terlihat tidak berselera melakukan apapun.
"Jangan bohong Vincent, kamu anak Dad satu-satunya dan tentu Dad tau kalo kamu sedang berbohong sekarang."
Ternyata ia memang tidak pandai berbohong pada Ayahya, ia pikir Ayahnya itu akan percaya ketika ia mengatakan kebohongannya. Tapi ternyata ia salah besar, dan akhirnya ia harus memutar otak lagi untuk menjawab perkataan Ayahnya.
"Dad, aku ingin bertanya---," ucap Vincent menggantung.
"Kamu ingin bertanya apa?" Tanya Theo begitu penasaran.
"Oh jadi kamu jadi seperti ini, karena istri kamu jadi cuek setelah Adelio dan Adelia lahir? Tanya Theo yang di angguki oleh Vincent.
"Aku harus bagaimana Dad? Selama sebulan ini, aku rasa Felysia jadi mulai jauh dari aku dan seperti dia nggak membutuhkan aku lagi." Ucap Vincent mulai mengeluarkan keluh kesahnya itu pada sang Ayah. Ia memang selalu seperti ini jika ada masalah, Ayahnya yang akan menjadi tempat berceritanya, karena ia pikir Ayahnya yang akan lebih mengerti bagaimana perasaannya karena mereka sama sama seorang pria.
"Kamu ini ngomong apa sih? Istri kamu itu bukan nggak membutuhkan kamu lagi, tapi dia yang belum bisa membagi waktunya dengan baik karena ada dua bayi yang harus ia urus selain kamu." Ucap Theo menenangkan sang anak.
"Tapi Dad,"
__ADS_1
"Begini saja, Dad akan minta tolong sama Mom kamu buat bicara sama Felysia tentang masalah ini." Putus Theo akhirnya karena ia jadi tidak tega melihat anaknya yang terlihat lesuh seperti ini.
"Waktu kamu lahir dulu, Dad tidak pernah mengalami hal seperti kamu ini. Tapi mungkin karena Mom hanya ngurus kamu sendiri, berbeda dengan Felysia yang ngurus 2 bayi sampai dia sering kewalahan sendiri dan kamu bisa lihat sendirikan." Ucap Theo yang di angguki oleh Vincent.
"Felysia membutuhkan seorang Baby Sitters yang bisa membantunya agar tidak terlalu repot dan tidak akan membuat anak kesayangan Dad ini jadi galau karena kurang di perhatikan sama istrinya." Ucap Theo sedikit bergurau di akhir kalimatnya.
"Tapi Dad, Felysia kan udah pernah menolak pas Mom ingin Felysia di bantu sama Baby Sitters." Ucap Vincent ketika mengingat hal itu, "dan siapa juga yang galau, Dad ada ada aja." Tambah Vincent tidak ingin mengakui yang membuat Theo tertawa karena Vincent terlihat gengsi untuk mengakuinya.
"Kalo Felysia nggak mau, kamu tentu sebagai suami harus lebih tegas sama istri kamu. Dad lihat kamu hanya terus memanjakan istri kamu, dan selalu menuruti apa yang dia mau. Bukannya nggak boleh, tapi tentu ada batasnya. Bagaimanapun kesehatan Felysia juga penting, kalo dia tiba-tiba sakit karena terlalu lelah karena mengurus Adelio dan Adelia bagaimana? Anak-anak kalian masih kecil dan rentan sakit, jadi jaga Ibunya juga jangan sampai sakit. Dan sebagai kepala rumah tangga kamu tentu harus tegas untuk kebaikan istri dan anak anak kamu." Ucap Theo memberikan penjelasan yang panjang untuk membuat anaknya itu mengerti.
Mendengar perkataan dari Ayahnya itu membuat Vincent terbuka pikirannya. Benar yang dikatakan oleh Ayahnya itu, ia harus tegas untuk kebaikan istri dan anak anaknya. Setelah pulang dari kantor, tanpa bantuan Ibunya juga ia bisa menyelesaikan masalah ini. Ia adalah kepala keluarga dan tentu semua keputusan ada di tangannya.
"Terima kasih Dad, aku jadi bisa berpikir lebih baik setelah mendengar penjelasan dari Dad barusan." Ucap Vincent yang di angguki oleh Theo.
"Tidak usah berterima kasih, kamu dan Felysia masih muda dan tentu saja kalian membutuhkan bimbingan orangtua ketika ada masalah seperti ini." Ucap Theo berdiri dari duduknya dan memberikan dua kali tepukan di bahu Vincent.
"Lebih baik kamu pulang, dan selesaikan masalah itu. Walaupun Felysia belum mengganggap ini sebuah masalah tapi berbeda dengan kamu, selesaikan semuanya sebelum jadi semakin membesar dan membuat hubungan kalian jadi merenggang. Urusan kantor biar untuk sementara waktu Dad yang akan handle." Ucap Theo sekali lagi dan memilih untuk keluar dari ruangan Vincent.
Vincent menurut dengan perkataan Ayahnya itu. Hari ini ia akan pastikan semuanya akan selesai dan tentu hubungannya dan Felysia tidak akan seperti ini lagi.
__ADS_1