
Selesai makan malam bersama, Vincent dan juga Felysia menuju ke kolam renang untuk berbicara hal serius. Sebenarnya ini adalah keinginan Vincent yang ingin berbicara, dan kolam renang menjadi pilihan tempatnya untuk mereka berdua. Untuk Baby twins, kedua bayi itu saat ini sedang bersama dengan Grandma dan Grandpa mereka dan juga Om mereka David.
"Kamu mau bicara apa?" Tanya Felysia, saat mereka telah duduk di kursi yang berada di pinggir kolam renang itu.
Sebelum menjawab pertanyaan Felysia yang terlihat sudah sangat penasaran itu, Vincent berdehem sebentar untuk menetralkan suaranya yang tiba tiba terasa serak.
"Aku mau ada Baby Sitter yang bantu kamu buat ngurus Baby twins." Ucap Vincent langsung to the point, karena ia tidak ingin bertele tele yang intinya tetap sama saja.
"Tapi kan kamu udah setuju kalo aku nggak mau ada Baby Sitter yang bantu aku buat ngurus Baby twins. Waktu Mom tawarin aja aku langsung tolak, karena aku pengen aku sendiri yang ngurus kedua anak kita." Ucap Felysia yang tidak terima jika ada campur tangan orang lain selama ia mengurus kedua anaknya dan Vincent itu.
"Aku nggak terima penolakan dari kamu, ini udah jadi keputusan aku." Ucap Vincent dengan tegas.
"Nggak bisa gitu, kamu jangan egois Vincent. Aku, Ibu dari Lio dan Lia, dan aku berhak buat ngasih keputusan juga." Ucap Felysia merasa tidak terima dengan yang di katakan oleh Vincent. Ia berdiri dari duduknya dan ingin segera meninggalkan Vincent di kolam renang itu, tapi sebuah tangan yang menahan pergelangan tangannya itu membuat ia mengurungkan niatnya.
"Kamu bilang aku egois? Iya aku emang egois, tapi sebelum kita menikah karena dengan egoisnya aku rebut kamu dari Owen. Tapi sejak kita menikah aku selalu nurutin apa yang kamu mau, aku selalu buat kamu nyaman dan bahkan aku nggak sampai hati biarin kamu terluka. Di pikiran aku, hanya ada kamu dan kamu terus." Ucap Vincent menaikan satu oktaf nada bicaranya.
"Oh jadi kamu nyesel setelah semua yang pernah kamu lakuin buat aku?" Tanya Felysia langsung mengambil keputusan sepihak tentang perkataan Vincent barusan.
Vincent mengacak ngacak rambutnya merasa frustasi. Selama mereka menikah, belum pernah sama sekali mereka bertengkar seperti ini.
"Bukan gitu maksud aku," ucap Vincent mencoba untuk tetap berbicara lembut, bahkan suaranya yang tadinya naik 1 oktaf telah ia turunkan.
__ADS_1
"Terus apa? Aku heran deh sama kamu. Aku cuma minta biarin aku yang ngurus kedua anak kita sendiri, tanpa ada campur tangan dari orang lain."
"Aku biarin kamu ngurus anak-anak kita sendiri, tapi kamu seakan lupa sama tanggung jawab kamu sebagai istri apa. Aku tau kamu sibuk, tapi aku suami kamu yang bahkan selama sebulan ini aku nggak tau kamu masih butuh aku atau nggak. Sikap kamu berbeda Fel, kamu berubah dan perubahan kamu buat aku kecewa." Ucap Vincent dengan lirih, tanpa sadar perasaan kesal bercampur kecewa yang ia simpan selama ini keluar begitu saja tanpa ia sadar.
"Seharusnya kamu ngertiin aku, Lio dan Lia anak kamu juga. Kamu tau sendiri gimana reportnya kalo mereka berdua nangis." Ucap Felysia meminta pengertian dari Vincent.
"Karena aku tau seberapa reportnya kamu selama ngurus Baby twins, makanya aku ingin ada Baby Sitter yang bantu kamu Fel. Adanya Baby Sitter, bukan berarti Lio dan Lia akan kekurangan kasih sayang, tapi keberadaan Baby Sitter cuma buat bantu kamu di saat kerepotan selama aku nggak ada dan nggak bisa bantu kamu."
"Tetap aja aku nggak mau, aku bisa ngurus Baby twins sendiri tanpa bantuan Baby Sitter atau bantuan kamu sama sekali." Ucap Felysia keras kepala.
"Jangan egois Felysia, kamu pikir tubuh kamu nggak akan jatuh sakit kalo kamu terlalu kelelahan, kamu pikir aku lakuin ini semata mata karena aku ingin kamu lebih perhatian sama aku di bandingkan dengan Baby twins? Aku emang pengen kamu lebih perhatian sama aku, tapi aku lebih pentingkan kesehatan kamu sekarang karena aku sadar, posisi aku sekarang apa. Tapi kayaknya kamu nggak bisa terima itu. Kalo kamu sampai sakit karena kelelahan, bagaimana dengan Baby twins? Kamu nggak akan bisa ngurus mereka lagi selama kamu sakit."
"Fel, jangan keras kepala. Ini demi kebaikan kamu dan juga Baby twins." Ucap Vincent mencoba membujuk Felysia.
"Tetap aja aku nggak mau, kalo kamu kesal pun aku nggak peduli." Ucap Felysia yang membuat Vincent di buat tidak habis pikir.
Vincent mencengkeram kedua bahu Felysia dan memaksa Felysia untuk menatap ke arahnya.
"Sebenarnya kamu kenapa? Tadi kita baik-baik saja,"
"Aku nggak apa-apa, kamu tuh yang kenapa maksa-maksa aku buat mau adanya Baby Sitter." Ucap Felysia dengan tenang.
__ADS_1
Vincent melepaskan cengkeramannya di kedua bahu Felysia dan berjalan sedikit mundur.
"Kamu bukan Felysia yang aku kenal, aku nggak nyangka kamu bisa berubah seperti ini. Aku kecewa sama kamu, aku mau buat beban kamu sedikit berkurang tapi kamu tolak, bahkan kamu jadi marah-marah."
"Kamu bilang mau ngurangin beban aku? Maksud kamu beban itu Lio dan Lia, iya?" Tanya Felysia dengan suara sedikit meninggi. "Mereka berdua anak kita, dan tentu mereka bukanlah beban, mereka nggak pernah minta ada di dunia ini. Kamu lupa, siapa yang dulu pengen cepat cepat punya anak, kamu kan? Terus sekarang dengan gampangnya kamu anggap mereka beban? Aku nggak habis pikir sama kamu." Ucap Felysia menggelengkan kepalanya.
Vincent menghela nafas berat. Ia tidak tahu jika keputusannya itu akan membuat mereka bertengkar seperti ini.
"Terserah kamu mau bilang apa, mau atau nggak maunya kamu, aku akan tetap sewa Baby Sitter buat bantu kamu." Putus Vincent untuk kedua kalinya.
"Aku nggak---,"
"Jangan membantah Felysia, kamu mau jadi istri pembangkang? Aku kepala keluarga, dan semua keputusan ada di tangan aku." Ucap Vincent.
"Walaupun kamu kepala keluarga, tapi aku sebagai istri juga berhak buat setuju atau nggak sama keputusan kamu." Ucap Felysia tidak mau jika Vincent bertingkah semaunya.
"Terserah aku, kalo kamu nggak bisa setuju pun nggak akan berarti apa apa untuk aku. Keputusan aku udah bulat, dan besok Baby Sitter akan datang ke Mansion dan mulai bekerja untuk bantu kamu." Ucap Vincent.
"Nggak ada ijin dari aku, artinya nggak boleh Baby Sitter datang ke Mansion." Ucap Felysia masih berusaha menolak.
"Penolakan kamu nggak berarti apa-apa buat aku," Setelah berkata seperti itu, Vincent meninggalkan Felysia sendirian di kolam renang itu.
__ADS_1