
"Vincent, sudah cukup. Aku nggak mau lagi di anggap sebagai pelakor di rumah tangga kamu. Kamu jujur aja sama Felysia," Ucap Theresia setelah sedari tadi diam dan melihat Vincent yang raut wajahnya begitu kusut setelah kepergian Felysia.
"Aku akan jujur malam ini, karena malam ini adalah ulang tahunnya dan kejutan yang udah aku siapin akan aku kasih ke Felysia malam ini." Ucap Vincent tiba tiba mengembangkan senyumannya. Ia mengeluarkan sebuah kotak yang didalamnya berisi sesuatu yang ingin ia berikan untuk Felysia ketika jam 12 malam nanti tepat di hari ulangtahun Felysia.
"Huh punya sahabat kok kayak gini. Untung rambut aku nggak rontok pas di jambak sama istri kamu tadi," ucap Theresia kesal yang membuat Vincent terkekeh. "Istri kamu galak gitu, jangan berani-berani kamu sampai selingkuh. Bisa mati di tangan istri kamu nanti selingkuhan kamu." Ucap Theresia lagi.
"Aku minta maaf soal rambut kamu yang di jambak sama Felysia tadi. Nanti kamu perawatan aku yang bayarin sebagai permintaan maaf aku." Ucap Vincent tapi di iringi terkekeh.
"Ngasal kamu ya, kamu pikir rambut aku ini cuma modal duit doang. Ah sini aku jambak juga rambut kamu biar impas,"
"Eh jangan-jangan." Vincent langsung memilih menghindari daripada rambutnya yang akan kena jambak Theresia. Mereka akhirnya memilih untuk duduk di sofa dengan meja yang menjadi penengah di antara mereka berdua.
"Tapi Vincent, Felysia tadi benar-benar terluka karena ulah kamu. Lagian kamu kalo mau buat kejutan jangan sampai bawa-bawa aku gini dong, mana aku di anggap kayak selingkuhan kamu lagi." Ucap Theresia yang seketika membuat Vincent jadi teringat jika ia sudah sangat keterlaluan tadi.
"Sebenarnya aku nggak ada niatan kayak gitu, hubungan aku sama Felysia beberapa hari ini emang lagi nggak akur tapi aku nggak ada niatan buat balas dia. Aku cuma biarin dia sendiri dulu tanpa mau ganggu dia, biar dia bisa tenang. Tapi entah kenapa aku tiba-tiba kepikiran buat kayak gini setelah aku dengar dia mau datang ke kantor."
"Ah dasar kamu suami goblok." Decak kesal Theresia. "Untung suami aku nggak segoblok kamu."
"Setidaknya masih aku yang lebih ganteng dan berduit daripada suami kamu." Ucap Vincent berniat pamer.
"Duit sama tampang nggak selalu menjadi prioritas untuk kebahagiaan."
"VINCENT!!!"
Baik Vincent dan juga Theresia di buat kaget dengan sebuah teriakan dan pintu yang di buka dengan begitu kuat. Terlihat Theo sang Ayah yang masuk kedalam ruangannya dengan emosi yang berkobar-kobar.
"Dad, ada apa?" Tanya Vincent berdiri dari duduknya di ikuti oleh Theresia yang ikut berdiri.
"KAMU BILANG ADA APA?" Tanya Theo semakin emosi ketika mendengar pertanyaan singkat yang di keluarkan oleh anaknya itu.
__ADS_1
"Dad kenapa? Kok emosi kayak gini?" Tanya Vincent lagi seakan tidak mengerti ada apa dengan Ayahnya itu.
"KAMU BIAD4P, BERANI BERANINYA KAMU MENYAKITI ISTRI KAMU, DENGAN CARA KAMU SELINGKUH SEPERTI INI."
"WANITA INI, APA YANG KAMU LIHAT DARI DIA, HINGGA DENGAN BERANI-BERANINYA KAMU MENJADI SEORANG BAJING4N SEPERTI INI?" Theo menunjuk Theresia yang terdiam bingung harus bagaimana. Ia tidak cukup berani untuk membuka suara ketika melihat kemarahan dari Theo.
"Ini tidak seperti yang Dad lihat. Aku sama Sia tidak selingkuh." Ucap Vincent tapi tidak mau di dengarkan oleh Theo.
"Kamu telah mempermalukan keluarga kita Vincent. selama ini di keluarga kita, tidak pernah ada yang namanya mengkhianati pasangannya, dan sekarang kamu malah yang melakukannya."
"Lebih baik Dad tidak pernah setuju kamu menikah dengan Felysia dulu jika nyatanya kamu hanya akan membuat anak orang sakit hati seperti ini. Apa yang harus Dad bilang sama Ayahnya huh? Kamu pikir pake otak kamu, sebelum kamu berbuat apa konsekuensinya."
Vincent menunduk, ia telah salah membuat keputusan. Hal ini telah membuat semuanya menjadi masalah besar. Walaupun ia tidak tahu jika masalah ini akan menjadi sangat besar seperti ini, hingga Ayahnya sendiri ikut campur.
"Iya Vincent salah, Vincent salah puas? Tapi Vincent nggak selingkuh, sumpah Vincent nggak selingkuh Dad. Sia hanyalah sahabat Vincent waktu di Australia dulu." Ucap Vincent mencoba menjelaskan.
"Jangan banyak alasan kamu, kalo udah salah seperti ini."
Tanpa di duga Vincent mendapatkan banyak pukulan tidak terduga dari Theo. Ini pertama kalinya ia di pukul seperti ini oleh Ayahnya sendiri. Vincent memilih pasrah dan tidak membalas atau menghindar, ia menerima semua pukulan yang di berikan oleh Ayahnya.
"Om tolong jangan pukul Vincent seperti ini, Vincent bisa mati kalo om pukul seperti ini." Ucap Theresia berjalan mendekat dan mencoba mencegah Theo.
"Diam kamu, saya tidak ada urusannya sama kamu." Ucap Theo.
Theresia jadi kalang kabut sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Jika ia memanggil petugas kemanan pun tidak akan membuat hasil apa-apa. karena semua yang bertugas di sini merupakan bawahan dari pemilik Xander Grup. Dan alhasil ia hanya bisa menonton sambil sesekali meringis ketika melihat Vincent yang pasrah di pukul itu.
"Sekarang kamu mau apa Vincent, Felysia dan Baby twins hampir keluar dari Mansion jika Mom kamu tidak cegah mereka. Apa kamu mau benar-benar kehilangan mereka bertiga?" Ucap dan Tanya Theo, tapi setelah itu ia memilih untuk keluar dari ruangan Vincent ketika menyadari jika ia telah keterlaluan pada anaknya itu.
Mendengar perkataan Ayahnya barusan membuat Vincent seketika panik. Ia tidak menyangka jika istrinya itu akan langsung memilih keluar dari Mansion karena yang ia lakukan tadi. Tidak, ia tidak bisa membiarkan Felysia dan Baby twins meninggalkannya seperti ini.
__ADS_1
"Nggak, Felysia nggak mungkin akan ninggalin aku seperti ini." Ucap Vincent dengan susah payah berdiri di bantu oleh Theresia.
"Aku harus pulang,"
"Aku bantu antar kamu sampai di lantai bawa ya?"
Vincent langsung menggelengkan kepalanya.
"Nggak usah, aku nggak mau masalahnya semakin bertambah jika kamu bantu aku." Ucap Vincent dengan tertatih keluar dari ruangannya dengan kunci mobil dan juga dompet yang ia bawa.
🌸
Vincent mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia tidak peduli dengan keselamatannya, yang paling penting ia harus menjelaskan semuanya pada Felysia sekarang. Untuk masalah kejutan tidak apa-apa jika harus lebih cepat Felysia tahu, yang penting Felysia tidak akan meninggalkannya.
Tunggu aku Fel, tunggu aku pulang.
Maaf aku udah buat kamu sedih
Aku salah karena telah buat *kamu nangis tadi.
Aku salah
Aku salah besar
Tapi tolong jangan ninggalin aku.
Kamu dan Baby twins sama sama berarti untuk aku*.
BRAAAKK
__ADS_1