Terpaksa Mau Menikah 2

Terpaksa Mau Menikah 2
Anak-anak Kesayangan Daddy


__ADS_3

Selesai mandi dan mengganti pakaiannya, Vincent langsung secara bergantian memeluk dan juga mencium kedua anaknya itu. Ia sudah menahan perasaan ingin memeluk dan mencium anaknya itu sedari tadi, dan akhirnya sekarang ia dapat melakukan itu. Felysia tersenyum melihat pemandangan yang ada di depannya itu.


"Anak-anak kesayangan Daddy, buat Daddy gemes dan pengen cium kalian terus deh." Ucap Vincent dan setelah itu kembali memberikan ciuman di pipi Adelia.


"Udah Vincent, jangan terlalu gemes gitu. Nanti kalo Lia sampe nangis jadi repot lagi loh. Entar Lio juga ikut nangis yang ada." Ucap Felysia memberikan teguran yang di angguki oleh Vincent.


"Maaf sayang, aku hanya terlalu gemes aja sama Lia." Ucap Vincent sambil memberikan kecupan-kecupan kecil di pipi Adelia.


"Iya aku tau, tapi jangan terlalu kayak tadi." Ucap Felysia sambil mengambil Adelio dari box bayi, dan membawa bayi tersebut kedalam pelukannya.


"Iya-iya aku nggak akan kayak gitu lagi." Ucap Vincent menurut.


"Oh iya, selamat ulang tahun sayang." Ucap Vincent sambil memberikan sebuah kecupan di kening Felysia.


"Cuma selamat aja nih? Nggak ada niatan kasih aku kado gitu, setelah udah buat aku nangis?" Tanya Felysia yang membuat senyuman Vincent terukir di kedua sudut bibirnya.


"Tentu ada dong, kamu masa udah lupa kalo pas di ruang tamu tadi, aku udah bilang kalo aku punya kejutan buat kamu." Ucap Vincent sambil mengusap sayang kepala Adelia, sebelum akhirnya ia melihat ke arah Felysia yang juga sedang sibuk dengan Adelio.


"Jadi kejutannya apa?" Tanya Felysia terlihat penasaran.


"Ada deh, nggak bakal jadi kejutan lagi kalo aku udah kasih tau sekarang." Ucap Vincent sambil tersenyum misterius.


"Nggak usah sok misterius deh Vincent. Lio, coba kamu liat Daddy kamu ini. Masa main rahasia-rahasiaan sama Mommy." Ucap Felysia mengadu pada Adelio yang masih bayi dan juga belum mengerti apa-apa itu.


"Loh kok jadinya malah ngaduh sama Lio sih? Aku kan bukan nggak mau kasih tau sama kamu, cuma nanti pas kita udah ke sana, kamu pasti bakal tau kejutan apa yang mau aku kasih ke kamu." Ucap Vincent.


"Terus kapan?" Tanya Felysia tidak sabaran.

__ADS_1


"Coba kamu lihat Lia, Mommy kamu nggak sabaran banget jadi orang." Ucap Vincent sambil terkekeh.


"Ya udah kalo nggak mau kasih tau. Lio, mending sekarang kita ke Grandpa ya, Daddy nggak asik soalnya." Ucap Felysia dan setelah itu membawa Adelio keluar dari kamar bersama dengannya. Sedangkan Vincent, ia menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kepergian Felysia. Ia tidak ikut serta keluar dari dalam kamar, karena ia masih merasa tidak enak jika harus berhadapan dengan ayah mertuanya itu. Walaupun masalahnya sudah selesai, tapi tetap saja, rasa tidak enak itu masih ada di hatinya sekarang.


"Lia disini aja ya sama Daddy. Biarkan Mommy sama Lio ketemu sama Grandpa di luar." Ucap Vincent sambil mencium pipi Adelia.


***


Suasana makan malam terasa berbeda, karena Vincent dan juga Evans sama-sama hanya diam tanpa ada yang membuka suara. Felysia tentu menyadari hal itu, dan ia tidak ingin hal seperti ini berlangsung lama. Apalagi di ruang makan itu hanya ada mereka bertiga, sedangkan Bu Erni tadi sudah makan duluan dan sedang menemani si bayi kembar di dalam kamar.


"Jadi Ayah sama Vincent mau diem terus nih?" Tanya Felysia tapi tidak mendapatkan jawaban sama sekali dari kedua pria itu.


"Sampai kapan? Masalah udah selesai, masa Ayah sama Vincent saling diam kayak gini?" Tanya Felysia lagi.


"Makan aja Felysia, di ruang makan waktunya untuk makan dan bukan waktunya untuk berbicara." Ucap Evans membuka suara.


"Okay, Ayah bicara." Ucap Evans akhirnya memilih untuk mengalah, karena sang anak tidak akan berhenti memelas sebelum permintaannya itu di kabulkan. Sedangkan Vincent tetap memilih diam karena ia takut jika sampai salah membuka pembicaraan. Ia harus lebih hati-hati sekarang, karena ayah mertuanya itu sudah memberikan ancaman yang tidak main-main padanya.


"Bagimana kerjaan kamu di kantor Vincent?" Tanya Evans setelah mencoba menghilangkan semua rasa gengsi yang bersarang di hatinya.


"Baik Ayah," ucap singkat Vincent.


"Baguslah. Lalu kapan kalian akan kembali ke Mansion?" Tanya Evans lagi.


"Saya, terserah sama Felysia Ayah. Kalo dia sudah bersedia untuk pulang bersama saya, maka kami akan segera pulang. Tapi jika tidak keberatan, dan jika Ayah mengijinkan, saya akan tetap bersama dengan Felysia dan juga anak-anak kami di rumah Ayah untuk sementara waktu." Ucap Vincent yang mendapatkan anggukan dari Evans.


"Ya kalo kalian masih mau menginap di rumah ini, Ayah sama sekali tidak keberatan. Tidak ada larangan sama sekali untuk anak-anak dan juga cucu-cucu Ayah untuk berada di rumah ini." Ucap Evans memberikan jawaban.

__ADS_1


"Terima kasih Ayah," ucap Vincent.


Felysia yang melihat adanya interaksi kembali antara sang ayah dan suami merasa senang.


"Nah kalo kayak gini kan aku senang." Ucap Felysia sambil tersenyum, yang menular pada kedua pria itu.


"Kalo begitu Ayah duluan mau ke kamar, ada yang harus Ayah kerjakan." Ucap Evans setelah ia selesai menyelesaikan memakan makanannya.


Setelah kepergian Evans, kini tersisa Vincent dan juga Felysia yang masih sementara menyelesaikan makanan mereka.


"Jadi kamu pengen pulang kapan?" Tanya Vincent.


"Aku ya terserah kamu aja sih sebenarnya." Ucap Felysia sambil melihat ke arah Vincent.


"Kok terserah sama aku?" Tanya Vincent.


"Terus mau kamu gimana? Aku sebagai istri kan harus mengikuti kemanapun suami berada. Ya kecuali kalo kamu mau bawa aku ke jurang, aku mah ogah. Kamu aja sana yang pergi." Ucap Felysia yang langsung membuat Vincent terkekeh.


"Kita pulangnya besok aja gimana? Sekalian aku kasih tau kamu, kejutan apa yang mau aku kasih ke kamu." Ucap Vincent yang langsung di angguki semangat oleh Felysia.


"Aku jadi nggak sabar nunggu besok." Ucap Felysia setelah itu melanjutkan memakan makanannya.


"Harus sabar dong, ini kejutannya spesial banget loh." Ucap Vincent sambil mengusap sayang kepala istrinya itu.


"Ih udah-udah, jangan bilang kayak gitu. Nanti yang ada aku makin nggak bisa sabar buat besok yang ada."


"Iya sayang, iya. Yaudah sekarang kamu habisin dulu makanannya." Ucap Vincent setelah itu kembali ikut memakan makanannya yang tinggal tersisa sedikit itu.

__ADS_1


__ADS_2