
Selama di kantor, Vincent hanya bisa memaksakan dirinya untuk tetap fokus mengikuti meeting. Karena jauh dari dalam lubuk hatinya, ia tidak ingin berada disini, ia hanya ingin mencari dimana istri dan kedua anaknya berada sekarang. Tapi ia sama sekali tidak bisa egois juga, karena sebagai seorang direktur, tentu ia juga harus berada di meeting tersebut. Hingga setelah meeting selesai, pria itu langsung pamit undur diri, karena ia tidak bisa lagi lama-lama untuk berada di kantor. Ia tidak ingin Felysia dan anak-anak mereka terlebih dahulu jauh darinya.
Vincent mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, karena suasana di jalan sekarang sedang padat. Dan ia sama sekali tidak bisa menambah kecepatan mobilnya sama sekali, karena akan berakhir hanya akan terjadi tabrakan nantinya. Pria itu hanya bisa mencoba tenang, agar ia tidak akan berbuat hal yang nekat.
Setelah menempuh jarak yang lumayan memakan sampai satu jam, akhirnya Vincent sampai di kediaman keluarga Felysia, yang terlihat sepi seperti biasanya ketika ia dan juga Felysia sedang berkunjung. Vincent memasukkan mobilnya kedalam halaman rumah tersebut, setelah di bukakan pintu oleh seseorang satpam.
"Pak, apa istri saya ada di dalam?" Tanya Vincent pada satpam tersebut.
"Iya Tuan. Non Felysia sedang berada di dalam." Jawab satpam tersebut dengan sopan.
"Baik kalo begitu terima kasih, saya ke dalam dulu." Ucap Vincent, dan setelah itu melangkah menuju ke pintu utama.
Pria itu menghela nafas pelan, sebelum ia mulai menekan bel pintu rumah sampai beberapa kali, hingga bel pintu tersebut akhirnya terbuka.
"Mau apa kamu kesini? Masih belum cukup kamu menyakiti anak saya? Mending kamu pergi dari sini, karena saya tidak sudi punya seorang menantu yang kerjanya selingkuh, di saat istrinya sedang kesusahan mengurus anak." Ucap Evans marah ketika tahu siapa yang datang saat ini. Ia berusaha keras untuk tidak memukul menantunya ini, karena ia tidak ingin menimbulkan keributan, hingga membuat Felysia menyadari kedatangan dari suaminya itu.
"Ayah, saya minta maaf karena saya sudah menyakiti Felysia. Tapi saya tidak selingkuh Yah. Semua yang Felysia lihat kemarin itu cuma rekayasa, tidak seperti yang dia lihat. Mana mungkin saya selingkuh dari Felysia, hanya dia dan anak-anak kami yang sangat saya sayangi dan cintai." Ucap Vincent dengan ekspresi wajah memohon.
"Mana ada orang yang selingkuh, mau mengaku selingkuh." Ucap Evans meremehkan Vincent.
"Tidak Ayah, saya serius. Apa yang harus saya lakukan agar Ayah mau biarin saya ketemu sama Felysia. Tolong kasih saya kesempatan untuk mengubah semuanya, tolong Ayah, tolong. Saya tidak ingin kehilangan Felysia dan anak-anak kami." Ucap Vincent bertambah memohon.
__ADS_1
"Seharusnya kamu sudah memikirkan hal ini, sebelum kamu bertindak buruk dengan cara selingkuh. Kalo sudah seperti ini, apa yang bisa kamu janjikan lagi sama saya, untuk tidak menyakiti anak saya lagi huh?" Tanya Evans mulai sedikit demi sedikit kehilangan kesabarannya.
"Ayah, tolong saya mohon. Saya harus bertemu dengan Felysia. Felysia harus dengerin penjelasan dari saya, kalo tidak yang ada dia akan makin sakit hati Yah. Jadi tolong biarkan saya untuk bertemu dengan Felysia, masalah ini tidak akan selesai, jika Felysia tidak tau tentang kebenaran yang sebenarnya." Ucap Vincent masih tidak mau menyerah agar Ayah mertuanya itu mau mengizinkannya untuk bertemu dengan istrinya.
"Tidak bisa! Saya tidak sudi mempertemukan anak dan juga cucu-cucu saya sama laki-laki yang sudah tega menyakiti mereka. Mendingan kamu pergi dari sini, sebelum saya tidak bisa lagi menahan diri saya untuk memukul kamu." Ucap Evans dengan suara yang sengaja ia naikkan, agar Vincent tahu jika ia sudah benar-benar marah pada pria itu.
Vincent seakan tuli, ia tetap mencoba terus dengan cara memohon, agar ayah mertuanya itu mau membiarkannya bertemu dengan Felysia dan juga anak-anak mereka. Ia sama sekali tidak merasa takut dengan ancaman yang diberikan oleh Evans itu.
"Ayah, tolong ijinkan saya bertemu dengan mereka." Ucap Vincent tidak mau menyerah terus memohon.
"Kalau saya sudah katakan tidak, itu artinya tidak. Apa kamu tidak bisa mengerti dengan apa yang sudah saya katakan tadi? Apa harus dengan cara saya harus menghajar kamu dulu, baru kamu mau pergi dari sini?" Tanya Evans yang kini sudah tidak bisa lagi menahan emosinya. Ia tidak suka dengan pria yang tidak bisa menjaga ucapannya, dan hanya menjadi pria yang bisanya melukai putrinya itu.
"Saya tidak akan pergi Ayah, sebelum Ayah mengijinkan saya untuk bertemu dengan Felysia dan juga anak-anak kami." Ucap Vincent dengan tatapan yang terlihat berharap ayah mertuanya itu bisa luluh, setelah semua permohonannya.
Bug
Bug
Bug
Vincent sama sekali tidak melawan, ia hanya pasrah menerima setiap pukulan yang diberikan oleh ayah mertuanya itu. Karena ia tahu jika ia pantas menerima semua ini, karena walaupun hal itu tidak benar, tapi ia sudah berhasil mematahkan hati dari istrinya itu.
__ADS_1
"Kamu bajingan Vincent!"
"Jika kamu memang sudah tidak mencintai anak saya, kenapa kamu tidak memulangkannya dengan cara baik-baik kepada saya?"
"Kenapa harus dengan cara menyakiti hati anak saya dulu?"
uhuk...uhuk...uhuk
Vincent yang kini telah terbaring di lantai itu terbatuk-batuk, sambil menarik nafasnya yang terasa sesak sekarang.
"Sa...saya sama sekali tidak ada niat untuk menyakiti Felysia, Om. Dia adalah satu-satunya wanita yang telah membuat saya jatuh cinta sampai sedalam ini." Ucap Vincent dengan susah payah.
"Tidak usah banyak beralasan lagi Vincent, saya sudah muak untuk percaya dengan kebohongan yang sekarang kamu katakan." Ucap Evans menghela nafasnya pelan, sambil melihat ke arah lain. Seakan ia tidak ingin melihat wajah dari menantunya itu.
"Apa yang harus saya lakukan Om? Supaya Om mau percaya, dengan apa yang saya katakan sekarang?" Tanya Vincent.
"Saya tidak butuh kepercayaan kamu lagi Vincent, cukup sudah kamu membuat anak saya menangis. Mulai hari ini, saya yang akan menjaga anak dan juga cucu-cucu saya. Tanpa kamu, mereka tidak akan kekurangan kasih sayang. Karena ada saya, yang akan selalu memberikan kasih sayang, yang tidak bisa kamu berikan untuk mereka." Ucap Evans kini mulai memutuskan, yang membuat Vincent langsung menggelengkan kepalanya seakan tidak bisa menerima dengan keputusan tersebut.
"Jangan Ayah, jangan pisahkan saya dengan istri dan juga anak-anak saya. Tolong jangan lakukan itu." Ucap Vincent yang kini melangkah menggunakan lututnya dan langsung memeluk kaki Evans untuk memohon.
"Saya tidak ingin kehilangan mereka Ayah, tolong berikan saya satu aja kesempatan terakhir. Saya tidak akan pernah melakukan hal seperti ini lagi Ayah, saya mohon." Ucap Vincent yang sama sekali tidak mau di pedulikan oleh Evans yang kini lebih memilih untuk melihat ke arah halaman rumah, dan membiarkan Vincent yang sedang memeluk kakinya itu.
__ADS_1
"Vincent...."