Terpaksa Mau Menikah 2

Terpaksa Mau Menikah 2
Saya Berjanji Ayah


__ADS_3

Suasana di ruang tengah terasa begitu menegangkan. Apalagi Evans sang ayah terus diam, tapi menatap ke arah Vincent dan juga sepasang suami istri yang ada di depannya itu dengan tatapan tajam. Jika bukan karena paksaan dari putrinya itu, ia tidak mungkin mau bertemu dengan orang-orang tersebut.


Ekhem


"Jadi, kalian hanya akan terus diam dan membuat waktu berharga saya terbuang percuma?" Tanya Evans akhirnya membuka suara, karena jengah dengan orang-orang di depannya itu yang sekarang hanya berdiam diri, tanpa menjelaskan apa yang seharusnya ia ketahui.


Feysia menyenggol lengan Vincent yang duduk di sampingnya itu, agar mulai berbicara. Karena ia tahu jika ayahnya itu tidak tahan dengan situasi seperti ini.


"Ayah, jadi sebelumnya saya mau minta maaf. Ini karena kebodohan saya, hingga membuat semuanya jadi seperti ini. Saya mau menjelaskan jika wanita yang di kira oleh Felysia adalah selingkuhan saya, adalah teman saya. Dan seperti yang Ayah lihat sekarang, kalo dia sudah menikah dan bersuami." Ucap Vincent memulai pembicaraan, dengan satu tangannya yang ia gunakan untuk menggenggam tangan Felysia, seakan ia ingin meminta kekuatan pada istrinya itu, agar ia bisa menjelaskan apa yang sedang terjadi sekarang dengan baik.


"Lalu kalo dia benar-benar sudah menikah dan mempunyai suami. Lalu apa yang membuat kamu, membuat Felysia berpikir jika dia adalah selingkuhan kamu?" Tanya Evans sambil melihat ke arah Theresia yang saat ini hanya duduk diam bersama dengan suaminya. Mereka hanya berdiam diri, sampai mereka akan di berikan kesempatan untuk bersuara nantinya.


"Ini benar-benar kesalahan saya, Ayah. Saya sebenarnya ingin memberikan sebuah kejutan pada Felysia, tapi entah pemikiran gila dari mana, yang membuat saya sampai membuat hal gila seperti itu. Tapi saya jujur Ayah, saya sama sekali tidak selingkuh." Ucap Vincent dengan bersungguh-sungguh.


Evans mengganggukan kepalanya ketika selesai mendengar perkataan dari menantunya itu.


"Terus, apa yang bisa membuat Ayah benar-benar yakin dengan apa yang kamu katakan sekarang?" Tanya Evans, berhati-hati karena ia tidak ingin jika menantunya itu menganggap dirinya mudah untuk di taklukkan.


Vincent tidak memberikan jawaban, tapi ia melihat ke arah Theresia seakan memberikan wanita itu kode untuk berbicara saat ini.


"Maaf Om, disini saya sebagai teman dari Vincent. Bukannya ingin ikut campur, tapi apa yang dikatakan oleh Vincent itu benar. Sebenarnya dia mempunyai sebuah kejutan untuk istrinya di hari ulang tahunnya ini. Tapi seperti yang Om ketahui sekarang, semuanya jadi kacau karena kebodohan Vincent yang melibatkan saya, hingga saya di anggap sebagai selingkuhannya." Ucap Theresia dengan begitu tenang, tanpa ada rasa gugup sama sekali.


"Saya benar-benar tidak ada hubungan apa-apa sama Vincent, selain sebagai rekan bisnis dan juga sebagai seorang teman. Lagian saya mencintai suami saya, dan mengkhianatinya, sama saja saya membuang permata yang berharga di hidup saya." Ucap Theresia yang membuat suaminya itu tersenyum.


"Apa buktinya jika pria yang duduk di samping kamu ini, adalah suami kamu? Bisa saja kan kamu dan juga Vincent telah membuat sebuah rencana, dengan menyewa seseorang untuk berpura-pura menjadi suami kamu."


"Ayah," tegur pelan Felysia. Ia tidak menyangka jika Ayahnya itu bisa sampai berpikir seperti itu. Ia tahu Vincent memang telah menyakiti perasaannya, tapi setelah mendengar penjelasan dari suaminya itu, ia yakin jika Vincent sama sekali tidak ada niat untuk mengkhianati dirinya.

__ADS_1


"Apa? Ayah hanya mengatakan hal yang biasanya sering terjadi kan? Ayah hanya tidak ingin kamu kembali di sakiti Felysia, karena Ayah sama sekali tidak akan membiarkan hal itu terjadi."


"Kalo Om ingin melihat buktinya, oke ini saya bawa dokumen yang berisi akta nikah dan juga beberapa foto pernikahan kami. Kalo masih kurang cukup, kita bisa bertemu dengan pendeta dan juga saksi pernikahan kami." Ucap Theresia sambil meletakkan dokumen yang sengaja ia bawa itu ke atas meja.


Huh


"Baiklah saya akan percaya sama kalian untuk kali ini. Tapi ini untuk terakhir kalinya. Jika Ayah tau, putri Ayah kembali disakiti sama kamu Vincent, Ayah tidak akan segan-segan membawa Felysia pergi jauh kemanapun, yang penting putri dan juga cucu-cucu Ayah tidak akan bertemu dengan kamu lagi." Ucap Evans akhirnya memutuskan.


"Ayah serius?" Tanya Vincent dengan nada suara bahagia yang tidak bisa ia sembunyikan. Evans hanya menggangguk sebagai jawaban.


"Ayah peringatkan satu hal sama kamu Vincent, jangan pernah berbuat hal-hal yang tidak berguna seperti itu lagi. Karena hal-hal tidak berguna itu sudah berhasil membuat Felysia sakit hati." Ucap Evans memberikan peringatan.


"Saya berjanji Ayah, saya tidak akan membuat hal-hal tidak berguna seperti itu lagi. Terima kasih Ayah, terima kasih karena telah memberikan saya kesempatan untuk bisa bersama dengan Felysia dan juga Baby twins."


Evans hanya memberikan sebuah anggukan singkat, dan setelah itu ia pergi menuju ke kamarnya, dan membiarkan keempat orang yang saat ini masih berada di ruang tamu itu. Theresia langsung menghela nafas penuh kelegaan ketika Evans telah benar-benar menghilang dari pandangannya.


"Makanya, kamu juga lagian pake mau-mau aja ikut permainan Vincent." Ucap Rey sambil mengelus kepala istrinya itu dengan sayang.


"Ih jangan salahin aku, salahin tuh Vincent. Mana kepala aku masih sakit lagi sampai sekarang." Ucap Theresia tanpa sadar telah membuat Felysia merasa bersalah. Karena yang membuat kepala wanita itu sakit adalah ulahnya.


Ekhem


"Soal kemarin saya mau minta maaf banget. Saya terlanjur emosi waktu itu, sampai menarik rambut kamu, dan berakhir kepala kamu jadi sakit begini." Ucap Felysia dengan penuh rasa bersalahnya itu.


Senyuman Theresia seketika mengembang, ia tidak langsung menjawab permohonan maaf dari Felysia. Wanita itu berdiri dari duduknya, dan berjalan mendekat ke arah tempat duduk Felysia dan juga Vincent.


"Awas, aku mau duduk. Cepat awas, atau aku tendang." Ucap Theresia sama sekali tidak ada rasa sopannya pada Vincent. Dan tentu Rey sebagai suami hanya bisa menggelengkan kepalanya karena tidak bisa heran lagi dengan kelakuan istrinya itu.

__ADS_1


"Apaan si Sia," ucap Vincent merasa tidak terima karena wanita di depannya itu sekarang malah memerintahnya.


"Berdiri sekarang, atau aku benar-benar tendang nih. Nggak usah songong ya, kalo bukan karena bantuan aku, kamu nggak akan bisa dapat kesempatan untuk kembali sama istri kamu lagi." Ucap Theresia dengan begitu lantang. Felysia sampai di buat kaget dengan wanita yang penampilannya terlihat begitu anggun itu, tapi tidak sesuai dengan sifatnya.


"Vincent, kamu berdiri aja ya. Kamu nggak mau kan, kalo tiba-tiba Ayah keluar dari kamar dan tiba-tiba marah-marah sama kita." Ucap Felysia yang akhirnya di turuti oleh pria itu.


"Nah gitu dong, dari tadi kek." Ucap Theresia kini duduk di samping Felysia, sedangkan Vincent mengambil tempat duduk di tempat ayah mertuanya tadi, dan akhirnya memutuskan untuk berbicara dengan suami Theresia itu.


"Sekali lagi saya minta maaf ya, untuk masalah kemarin." Ucap Felysia yang di balas senyuman oleh Theresia.


"Udah santai aja kali, nggak usah seformal itu sama aku. Ini juga bukan salah kamu, kalo aku berada di posisi kamu waktu itu, palingan aku bakal lakuin hal yang lebih dari yang kamu lakuin. Maybe aku bakal tendang sama tonjok juga tuh perempuan yang jadi selingkuhan suami aku." Ucap Theresia yang membuat Felysia hanya bisa tersenyum kaku.


Theresia di buat tertawa ketika melihat ekspresi wajah Felysia itu. Ia tahu pasti wanita di depannya ini pasti sangat heran dengan kelakuan dan cara berpakaiannya berbanding terbalik.


"Kamu pasti heran ya sama aku, ya aku kayak gini aslinya. Oh iya kamu bisa panggil aku Sia aja." Ucap Theresia tanpa menghilangkan senyumannya.


"Oke," jawab Felysia.


"Ngomong-ngomong aku boleh jadi teman kamu nggak?" Tanya Theresia langsung mengatakan keinginannya.


"Teman?" Tanya Felysia.


"Iya teman. Aku pengen kita bisa jadi temenan setelah ini. Aku bosan temanan sama pria-pria menyebalkan itu terus." Ucap Theresia sambil menunjuk Vincent dan juga suaminya.


"Boleh." jawab Felysia sambil terkekeh karena ucapan Theresia tadi.


"Oke, mulai sekarang kita harus sering menghabiskan waktu bersama ya." Ucap Theresia membuat keputusan sepihak.

__ADS_1


__ADS_2