
Siang ini Vincent, Felysia Baby twins, beserta Bu Erni telah berada dalam perjalanan untuk kembali ke Mansion. Itu yang berada di pikiran Felysia, berbeda dengan Vincent yang memang sudah mengatur semuanya. Hingga saat mereka telah berada di pertengahan perjalanan, tiba-tiba arah jalan menjadi berbeda hingga membuat Felysia langsung menatap heran ke arah Vincent yang duduk di sampingnya sambil mengelus sayang pipi Adelia yang sedang tertidur.
"Vincent, kita mau kemana? Ini bukan arah jalan buat ke Mansion loh." Ucap Felysia yang langsung membuat Vincent langsung tersenyum.
"Kan aku udah bilang sama kamu, kalo aku pengen nunjukkin kado ulang tahun kamu. Dan kita emang harus lewat jalan yang berbeda buat sampai ke sana." Ucap Vincent masih dengan senyuman mengembangnya.
"Oh gitu, ya udah deh." Ucap Felysia akhirnya tidak bertanya lagi. Kini fokusnya kembali pada Adelio yang sedang tertidur tenang dalam pangkuannya itu.
Sekitar satu jam setengah akhirnya, mobil yang di kendarai oleh supir pribadi keluarga Vincent itu akhirnya sampai juga di tempat tujuan. Saat mereka keluar dari mobil, Felysia menatap penuh tanda tanya dengan tempat mereka berada sekarang.
"Ini rumah siapa? Dan kenapa kita harus ke sini?" Tanya Felysia sambil meletakkan Adelio kedalam kereta bayi, bersama dengan Adelia yang telah di letakkan terlebih dahulu oleh Vincent.
Vincent tidak langsung menjawab pertanyaan dari istrinya itu. Ia mengambil kedua tangan wanita itu, dan menggenggam kedua tangan itu dengan erat.
"Mungkin hal ini telat aku lakukan. Tapi walaupun begitu, kita punya kehidupan rumah tangga sendiri, dan nggak semuanya harus ada campur tangan orangtua di dalamnya. Dan karena itu, diam-diam aku memperkerjakan orang untuk membuat rumah ini sebagai kado ulang tahun kamu. Jadi gimana, kamu suka sama rumah ini, atau kamu pengen rumah yang lain?"
"Ini kamu serius? Kamu nggak bohong kan?" Tanya Felysia seakan tidak percaya jika di hari ulang tahunnya ini, ia akan mendapatkan kado sebesar ini.
Siapa yang dapat menyangka jika ia akan mendapatkan kado rumah berukuran besar, dan di tambah dengan halaman yang luas. Semuanya hanya bisa di bayangkan di dalam mimpi, tapi sekarang semuanya tepat berada di depannya.
"Tentu saja aku serius. Emangnya sejak kapan aku nggak serius buat kebahagiaan kamu?" Ucap Vincent yang langsung membuat Felysia memeluk suaminya itu dengan erat.
"Makasih, makasih banget. Karena kamu udah kasih kado terindah di ulang tahun aku, tahun ini." Ucap Felysia.
"Cuma makasih doang nih?" Tanya Vincent sambil melepaskan pelukan mereka, dan menyelipkan beberapa helai rambut Felysia di belakang telinga gadis itu.
Cup
Satu kecupan singkat Felysia layangkan di bibir suaminya itu, yang membuat Vincent mengangkat kedua sudut bibirnya untuk tersenyum.
"Sekarang kita masuk yuk, mereka pasti udah nungguin kita di dalam." Ucap Vincent yang membuat Felysia mengerutkan keningnya.
"Emang siapa yang datang?" Tanya Felysia penasaran.
"Udah, nanti kamu akan tau setelah kita berada di dalam." Ucap Vincent sambil menggandeng tangan istrinya itu untuk masuk kedalam, sebelum ia berhenti dan berbalik ke arah Bu Erni yang berada di belakangnya dan Felysia.
"Bu Erni, saya minta tolong ya dorong kereta bayinya Baby twins." Ucap Vincent dan tanpa menunggu jawaban dari Bu Erni langsung membawa Felysia kedalam rumah itu.
__ADS_1
..."Kejutan!"...
..."Selamat datang di rumah baru kalian!"...
Felysia merasa kaget sekaligus bahagia ketika melihat orang-orang terdekatnya, semuanya berada di rumah itu untuk menyambutnya. Sherly dan Ayudia yang terlebih dahulu mendekat ke arah Felysia dan memeluk wanita itu dengan penuh kerinduan.
"Akhirnya kamu pulang nak, Mom kangen." Ucap Sherly sang ibu mertua.
"Grandma juga kangen banget sama cucu Grandma ini." Ucap Ayudia ikut bersuara.
"Felysia juga kangen sama Mom dan Grandma." Balas Felysia membalas.
"Udah-udah pelukannya nanti aja, sekarang waktunya kita untuk makan-makan untuk memperingati hari Vincent dan juga Felysia pindah rumah." Ucap Theo yang di angguki oleh Evans yang juga ikut serta tanpa sepengetahuan Felysia.
"Benar sekali, karena ini adalah jam untuk makan siang. Tapi maaf saja, karena saya makin susah untuk bertemu dengan cucu-cucu saya, maka saya akan memilih menghabiskan waktu bersama Lio dan Lia saja." Ucap Evans sambil melangkah mendekat ke arah kereta bayi.
"Sepertinya saya juga, karena tidak akan ada lagi hari-hari dimana saya bisa selalu melihat Lio dan Lia seperti di rumah." Ucap Theo ikut-ikutan.
"Kalian seharusnya mengalah pada saya. Karena saya yang akan lebih merindukan cicit-cicit saya ini." Ucap Deon.
"Karena Grandma-grandmanya adalah orang-orang yang paling mencintai mereka." Ucap Ayudia.
"Nggak bisa dong Mom, aku yang duluan." Ucap Theo memprotes.
Vincent dan Felysia yang melihat kedua bayi mereka menjadi rebutan para orangtua tertawa. Memang sulit jika kedua bayi kembar itu merupakan cucu-cucu pertama baik di keluarga Felysia, maupun keluarga Vincent.
"Vincent, kayaknya kamu harus tangani mereka dulu deh. Lio sama Lia bisa nangis kalo kayak gini." Ucap Felysia yang di angguki oleh Vincent.
Pria itu melangkah maju ke arah kereta bayi, dan mengambil alih kereta bayi itu dari Bu Erni.
"Jadi Mom, Dad, Ayah, Grandma, Grandpa. Kalo kalian mau menghabiskan waktu sama Lio dan Lia, jangan saling berebutan. Nanti Lio dan Lia nangis loh gara-gara kalian pada berisik." Ucap Vincent mencoba membuat para orangtua itu mengerti.
"Dan mending gini aja, kita makan siang aja dulu sekarang. Dan setelah itu kalian bisa gantian buat main sama Lio dan juga Lia." Tawar Vincent yang langsung di setujui oleh para orangtua itu.
"Ya udah kalo gitu, mending sekarang kita ke ruang makan." Ajak Vincent melirik ke arah istrinya itu sebentar, sebelum ia mengajak para orang-orang tua tersebut untuk mengikutinya.
Tidak perlu ada yang di khawatirkan karena semuanya memang sudah di atur sebelum hari ini datang. Kini tersisa Felysia dan juga Owen yang kebetulan juga ikut dalam pesta penyambutan itu.
__ADS_1
"Lio sama Lia emang jadi kesayangan di keluarga kamu, dan keluarga suami kamu juga ya. Aku turut senang karena kamu bahagia dengan kehidupan kamu yang sekarang." Ucap Owen berbicara informal pada Felysia, yang membuat wanita itu melihat ke arah Owen.
"Udah lama rasanya aku nggak dengar kamu bicara santai kayak gini." Ucap Felysia yang di respon senyuman oleh Owen.
"Mungkin sesekali aku bisa melakukannya. Karena kalo suami kamu itu tau, dia bakal hajar aku kayaknya." Ucap Owen yang membuat Felysia terkekeh.
"Oh iya, by the way kamu sama Nesya gimana? Udah ada kemajuan nggak di hubungan kalian?" Tanya Felysia membuka pembicaraan baru.
"Aku sama Nesya cuma teman, kemajuan apa yang kamu maksud?" Tanya Owen berpura-pura tidak tahu.
"Aku tau kamu tau maksud aku Owen. Nesya itu suka sama kamu, dan dia lagi berjuang buat dapat perhatian dari kamu. Emang kamu nggak mau kasih dia kesempatan gitu?" Tanya Felysia yang membuat helaan nafas berat terdengar dari pria di sampingnya itu.
"Bukannya aku nggak mau Fel, tapi untuk sekarang aku emang belum bisa buat buka hati lagi. Aku cukup trauma kehilangan kamu waktu itu, tapi tenang aja kamu nggak usah merasa bersalah. Karena aku senang liat kamu bahagia. Dan juga, aku nggak mau paksain diri aku buat pura-pura di depan Nesya, aku nggak mau buat dia berharap sama aku, yang nyatanya nggak ada perasaan apa-apa sama dia." Ucap Owen yang akhirnya membuat Felysia mengerti. Jika ia jadi Owen mungkin ia akan melakukan hal yang sama. Apalagi ia tahu jika dulu Owen sama sekali tidak pernah main-main dengan hubungan mereka, hanya saja memang takdir tidak menggariskan mereka untuk bersama.
"Sayang, kamu ngapain sama Owen?" Tanya Vincent sambil berjalan ke arah Felysia dan Owen yang terlihat sedang membicarakan sesuatu.
"Aku cuma bicara santai kok sama dia, ya udah mending kita ke ruang makan yuk." Ajak Felysia sambil menarik Vincent untuk mengikutinya, dan meninggalkan Owen yang kini memilih untuk pergi dari rumah tersebut.
"Tadi kamu bicara apa sama Owen?" Tanya Vincent menghentikan langkah mereka hanya karena rasa penasarannya itu.
"Kamu nggak percaya sama aku?" Tanya Felysia.
"Bukan gitu, aku percaya kamu. Yang aku nggak percaya itu Owen. Dia itu mantan kamu, dan tentu aku harus waspada tiap dia dekat sama kamu." Ucap Vincent yang membuat senyuman Felysia mengembang.
"Cemburuan banget sih jadi suami. Itu tadi aku sama Owen cuma bicarain tentang hubungannya sama Nesya aja. Kan kamu tau sendiri, kalo sekarang Nesya lagi ngejar Owen." Ucap Felysia menjelaskan.
"Oh masalah itu." Ucap Vincent akhirnya memilih untuk percaya. Ia tidak ingin bertanya lagi, karena ia rasa jika masalah hubungan Owen dan juga Nesya sekarang seperti apa, itu bukanlah urusannya. Urusannya hanyalah membahagiakan istri dan juga anak-anaknya.
"Ya udah yuk kita makan siang dulu. Kamu juga kan belum makan." Ucap Vincent sambil memeluk pinggang istrinya itu untuk ke ruang makan.
*
*
*
Kira-kira cerita Owen sama Nesya di satuin di cerita ini aja, atau harus di buat lapaknya sendiri nih?
__ADS_1