
Jam telah menunjukkan pukul 12:00 malam, dan itu artinya tanggal telah berganti. Dan itu artinya hari ini, istrinya telah bertambah usia setahun lagi, dan seharusnya ia dan juga sang istri bisa merayakan hari ulang tahun ini. Tapi nyatanya semuanya tidak sesuai dengan ekspetasi yang ia pikirkan. Felysia pergi meninggalkannya tepat beberapa jam lagi sebelum ulang tahun istrinya itu. Vincent hanya bisa menangis sambil meratapi kebodohannya, yang telah membuat sesuatu yang sangat di luar akal sehatnya.
Jika saja ia tidak berbohong pada istrinya.
Jika saja ia jujur saja tentang kejutan yang akan ia berikan di hari ulangtahun istrinya itu, mungkin hal seperti ini tidak akan pernah terjadi. Tapi nyatanya sebuah penyesalan memang tidak akan pernah berada di depan, dan sekarang ia hanya bisa menerima semua konsekuensinya.
Saat ini Vincent sedang duduk di lantai dan dengan menyandarkan tubuhnya di tempat tidur. Ia masih menggunakan setelan kantornya. Kedua tangannya memegang kotak persegi yang belum sempat ia berikan pada Felysia dengan pandangan nanar. Dengan perlahan Vincent membuka kotak persegi itu yang berisi sebuah kunci.
"Kamu dan anak-anak kita dimana sayang?" Tanya Vincent entah pada siapa. Ia sudah tidak menangis lagi, tapi mengurung dirinya di kamar dan tidak ada niatan untuk keluar.
"Aku kangen kalian, aku pengen ketemu kalian." Ucap Vincent lagi walaupun ia tahu Felysia tidak akan bisa mendengar apa yang ia katakan ini.
"Dimana pun kalian berada sekarang, aku pastikan akan menunggu kalian kembali. Aku yakin kalian akan kembali, tapi jika kalian tidak kembali, aku yang akan mencari kalian. Aku akan mencari kalian sampai aku bertemu dengan kalian dan membawa kalian kembali, mau atau tidak aku tetap akan membawa kalian kembali." Ucap Vincent dengan bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
Berbeda dengan Vincent yang sedang bersedih, Felysia saat ini sedang kesusahan karena kedua bayi kembar yang tidak lain Adelio dan Adelia terus menangis sedari tadi. Mereka sangat rewel dan tidak ada hal yang berhasil membuat Felysia berhasil menenangkan kedua bayi itu. Bu Erni yang juga ikut mencoba menenangkan Baby twins tidak menghasilkan apa-apa.
"Nyonya, maaf saya bukannya lancang. Tapi sepertinya mereka menangis berhubungan dengan kepergian Nyonya dari Mansion tadi sore." Ucap Bu Erni berhati-hati takut jika ia salah berkata.
__ADS_1
Felysia yang mendengar perkataan dari Bu Erni seketika terdiam dan bingung harus berkata apa. Ia juga tidak bisa mengatakan tidak dengan perkataan Bu Erni karena bisa saja itu adalah sebuah kebenaran. Ikatan batin antara anak dan Ayah tentu bisa saja membuat kedua bayi yang terus menangis itu gelisah, mereka seakan tahu jika mereka akan menjauh dari sang ayah dalam waktu yang lama hingga mereka terus menangis.
"Sayang, anak Mommy. Jangan nangis dong, kalian kan anak-anak Mommy yang pinter, jangan nangis dong." Bujuk rayu Felysia sambil mengusap-ngusap sayang kepala Adelio dan Adelia secara bergantian.
Perkataan Felysia tidak berefek apa-apa karena kedua bayi itu masih saja terus menangis hingga membuat Felysia tidak tahu harus berbuat apa.
"Bu, saya harus bagaimana? Saya tidak mungkin kembali ke Mansion lagi. Untuk apa saya ke sana jika hanya akan membuat saya semakin sakit hati." Ucap Felysia mulai merasa frustasi sendiri karena kedua anaknya itu tidak mau berhenti menangis.
Bu Erni merasa iba melihat majikannya itu. Ia juga jadi bingung harus berkata apa, karena ia tidak paham apa yang sebenarnya terjadi, dan ia hanya bisa menerka-nerka ada apa sebenarnya.
Felysia menghela nafasnya lelah, yang dikatakan Bu Erni ada benarnya jika ia dan Vincent berpisah, maka Baby twins harus memilih salah satu di antara mereka yang nyatanya pasti akan terasa sulit untuk kedua bayi itu ketika mereka besar nantinya. Tapi apa yang harus di selesaikan lagi, semuanya sudah jelas. Vincent telah mengkhianatinya dan ia tidak bisa menerima itu.
🌸
Pagi hari menjelang, Vincent terbangun dari tidurnya di lantai. Ia tidak menyadari jika semalam tertidur di lantai seperti ini. Dengan tubuh yang terasa sakit karena tidur di lantai yang dingin dan juga keras itu Vincent bangun dari posisi tidurnya dan langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Sekitar 10 menit berlalu Vincent keluar dari kamar mandi dan menuju ke walk in closet untuk menggunakan pakaian kantor. Vincent bergerak begitu pelan dalam menggunakan pakaian kantornya, seakan ia tidak mempunyai gair4h untuk menjalankan harinya untuk hari ini. Tapi tetap saja ia berusaha untuk tetap pergi ke kantor dan setelah meeting pagi ini selesai, ia berniat untuk ke rumah mertuanya. Ia berharap jika Felysia dan juga Baby twins berada disana.
__ADS_1
Setelah selesai, Vincent berjalan keluar dari kamarnya dan bersiap untuk ke kantor tanpa berkeinginan untuk ikut sarapan ia langsung berjalan keluar menuju ke parkiran mobil. Hari ini ia tidak ingin menggunakan jasa supir, karena ia hanya ingin sendiri dan tidak ada yang mengganggunya.
Tok...Tok...Tok
Ketukan dari pintu kaca mobilnya membuat Vincent menurunkan kaca mobilnya.
"Ada apa Mom?" Tanya Vincent dengan ekspresi wajah yang terlihat biasa-biasa saja, seperti tidak ada yang terjadi.
"Kamu nggak sarapan dulu? Mom baru aja mau panggil kamu buat sarapan, tapi Mom liat kamu udah mau pergi aja." Ucap Sherly merasa khawatir, ia tahu jika anaknya itu hanya sedang berpura-pura baik-baik saja sekarang. Karena mustahil Vincent terlihat baik-baik saja ketika Felysia dan juga Baby twins pergi dari Mansion.
"Aku harus cepat sampai di kantor Mom, nggak ada waktu buat aku untuk sarapan." Jawab Vincent sekenanya.
"Untuk apa kamu cepat-cepat ke kantor? Karena masalah meeting? Mom dengar dari Dad kamu kalo meeting pagi ini nanti jam 9. Lalu apa yang akan kamu lakukan di kantor sepagi ini?"
Vincent diam sebentar dan memilih untuk tidak menanggapi perkataan Ibunya. Bukannya ia ingin menjadi anak yang durhaka, tapi untuk sekarang makan adalah sesuatu yang tidak ia inginkan sekarang. Mana mungkin ia bisa makan dengan tenang ketika istri dan anak-anaknya sedang berada di luar. Rasanya sangat tidak pantas rasanya. Apalagi di tambah pikirannya saat ini di penuhi dengan pertanyaan-pertanyaan dimana istri dan juga anak-anaknya.
"Mom, mana bisa aku makan ketika istri dan anak-anak aku pergi dari Mansion."
__ADS_1