Terpaksa Mau Menikah 2

Terpaksa Mau Menikah 2
Kenapa Kamu Selalu Maafin Aku


__ADS_3

Hari semakin malam, dan setelah Felysia dan di bantu oleh Vincent selesai menidurkan Adelio dan Adelia, kini mereka berdua bisa berbaring sambil berpelukan di atas tempat tidur.


"Fel," panggil Vincent pada Felysia yang terlihat nyaman bersandar di dadanya itu.


"Hmm," gumam Felysia yang sedang nyaman dengan posisinya itu.


"Kenapa setiap aku buat salah sama kamu, kamu selalu cepat bisa maafin aku?" Tanya Vincent, yang membuat Felysia akhirnya mendongak agar bisa bertatapan dengan suaminya itu.


"Ya gimana ya jawabnya. Intinya aku nggak akan bisa terlalu lama marah sama kamu, apalagi kalo kamu udah jelasin kenapa dan apa yang buat kamu jadi kayak gitu, aku makin nggak bisa lama marah sama kamu." Ucap Felysia sambil memainkan kancing baju tidur Vincent.


"Semudah itu?" Tanya Vincent, yang langsung di angguki oleh Felysia.


"Emang kamu mau, kalo aku lama maafin kamu gitu?" Tanya Felysia yang dengan cepat langsung mendapatkan gelengan kepala dari Vincent.


"Ya udah pasti nggak mau dong sayang." Ucap Vincent sambil mengusap sayang kepala istrinya itu.


"Nah itu nggak mau, jadi nggak usah nanya-nanya kayak gini lagi." Ucap Felysia.


"Bisa aja, tapi setelah aku dapat ini." Ucap Vincent sambil menunjuk ke arah bibirnya, dengan jari telunjuknya.


"Ogah ah, mending aku cium baby twins daripada kamu." Ucap Felysia sambil mengubah posisi duduknya menjadi membelakangi Vincent.


"Loh kok gitu? Bedanya aku sama Baby twins apa coba?" Tanya Vincent tepat di telinga Felysia.


"Pokoknya beda. Dan aku lebih suka cium Baby twins pokoknya." Ucap Felysia lagi, hingga ia mendengar helaan berat dari suaminya itu.

__ADS_1


"Jadi, aku udah nggak ada artinya lagi nih? Jadi sekarang yang jadi prioritas kamu cuma Baby twins aja?" Tanya Vincent dengan di iringi nada merajuk. Felysia tidak memberikan jawaban, tapi diam-diam ia tersenyum geli mendengar nada bicara suaminya itu yang terdengar jelas seperti orang merajuk.


"Felysia, jawab aku. Kok kamu cuma diam aja sih?" Tanya Vincent sambil menggoyang-goyangkan bahu istrinya itu.


"Sayang, aku tau kamu belum tidur loh." Ucap Vincent sekali lagi, yang akhirnya membuat Felysia memilih untuk mengubah posisi tubuhnya menjadi berhadapan dengan suaminya itu lagi.


"Kalo kamu udah nggak ada artinya buat aku, palingan aku nggak akan biarin kamu tidur di samping aku seperti ini." Jawab Felysia yang membuat senyuman Vincent mengembang.


"Jadi aku ada artinya buat kamu kalo gitu. Ya udah, sekarang aku mau minta ciuman selamat malam aku, sebelum kita tidur." Ucap Vincent yang membuat Felysia langsung memutar bola matanya itu. Memang suaminya ini jika permintaannya belum di turuti, akan menuntut terus sampai akhirnya pria itu mendapatkan keinginannya itu.


Cup


"Udah kan? Sekarang kita tidur." Ucap Felysia bersiap ingin menutup matanya tapi langsung di cegah oleh Vincent.


"Kok cuma kayak gitu sih? Itu bukan ciuman namanya." Protes Vincent karena belum puas dengan apa yang ia mau.


"Kayak gini," ucap Vincent dan setelah itu ia menarik tengkuk istrinya dan mencium wanita itu dengan penuh kelembutan seperti biasanya, hingga sekitar beberapa menit kemudian, Vincent menjauhkan wajah mereka berdua. Nafas di antara mereka berdua sama-sama berburu mencari pasokan oksigen sebanyak-banyaknya.


"I love you, istriku." Ucap Vincent sambil memberikan sebuah ciuman di kening istrinya itu.


"I love you, suamiku." Ucap Felysia dengan senyuman merekah.


"Udah sekarang waktunya kita untuk tidur." Ucap Vincent yang di angguki oleh Felysia, karena wanita itu memang sudah mulai merasa mengantuk selama berbicara dengan suaminya itu.


Pagi harinya....

__ADS_1


Felysia, Vincent dan juga Evans telah selesai sarapan. Dan kini mereka berada di ruang tengah untuk mengobrol tentang keputusan Vincent dan juga Felysia yang memutuskan untuk pamit dari rumah orangtua mereka itu hari ini juga. Dan tentu sebagai orangtua, Evans hanya bisa mengiyakan karena ia tidak punya hak lebih untuk urusan rumah tangga anaknya itu.


"Jika kalian benar-benar udah mau pulang hari ini, Ayah sama sekali nggak merasa masalah. Cuma Ayah mau pesan sesuatu sama kalian berdua. Hal ini penting, dan Ayah nggak mau kalo ini sampai terjadi di rumah tangga kalian."


"Ayah tau kalo kalian sama-sama saling mencintai. Tapi yang harus kalian tau, dalam rumah tangga yang di butuhkan bukan cuma cinta saja. Kalian bisa lihat contoh rumah tangga Ayah yang nggak bertahan lama, karena Ayah pikir cinta dan juga harta saja sudah cukup untuk membuat rumah tangga Ayah bertahan. Tapi nyatanya sama sekali tidak kan. Jadi kalian berdua, terkhususnya kamu Vincent, jangan pernah membuat hal-hal yang nggak di perlukan seperti lelucon yang sudah kamu lakukan itu. Kalo mau membuat sebuah kejutan, kamu bisa melakukan hal lain yang tentunya nggak akan membuat sakit hati istri kamu." Ucap Evans mengakhiri kalimat panjangnya itu.


"Iya Ayah, saya mengerti. Saya tidak akan mengulangi hal seperti itu lagi. Karena hal itu hanya membuat saya menjadi suami yang tidak berguna, karena telah membuat menangis istri sendiri. Padahal Felysia sama sekali nggak membuat masalah apa-apa." Ucap Vincent dengan sopan.


"Baguslah," ucap Evans.


"Ayah sama Vincent bicara dulu aja ya, aku mau ke kamar dulu mau liat Baby twins sama Bu Erni." Ucap Felysia yang di angguki oleh kedua pria itu. Wanita itu langsung berjalan menuju ke kamarnya berada.


"Bu Erni," panggil Felysia ketika ia kini telah masuk kedalam kamar dan menemukan Bu Erni yang sedang bermain dengan kedua bayi kembar yang berada di box bayi itu.


"Iya Nyonya," jawab Bu Erni sambil melihat ke arah majikannya itu.


"Bu Erni kan belum sarapan, sekarang Bu Erni sarapan dulu yuk. Biar Baby twins sama aku aja." Ucap Felysia, ia bukan tanpa tujuan datang ke kamarnya. Itu karena Bu Erni yang tadinya memilih untuk menunda sarapan, padahal Felysia sudah menyuruh wanita paruh baya itu untuk sarapan tadinya.


"Tidak apa-apa Nyonya, saya masih belum merasa lapar sekarang." Ucap Bu Erni menolak.


"Bu Erni, saya tau Bu Erni sekarang pasti sudah lapar. Udah Bu Erni sarapan dulu, saya tidak ingin Bu Erni nanti sakit. Ingat loh, anak-anak saya bisa jadi ikut sakit kalo Baby sitternya sakit juga." Ucap Felysia lagi, berharap kali ini wanita paruh baya itu akan menurut padanya.


"Baiklah Nyonya, saya akan sarapan sekarang." Ucap Bu Erni akhirnya menurut. Ia juga tidak ingin sakit, karena ia harus bekerja demi kelangsungan hidupnya.


"Ya udah Bu Erni nanti minta masakin asisten rumah tangga aja ya, bilang saya yang suruh. Mereka pasti nggak akan menolak, seperti kemarin juga kayak gitu kan." Ucap Felysia yang di angguki oleh Bu Erni.

__ADS_1


"Kalau begitu, saya permisi Nyonya." Ucap Bu Erni sebelum akhirnya ia keluar dari dalam kamar Felysia tersebut.


__ADS_2