Terpaksa Mau Menikah 2

Terpaksa Mau Menikah 2
Sebuah Surat


__ADS_3

BRAAK


Vincent menabrak gerbang masuk mansion tidak peduli dengan mobilnya yang menjadi rusak karena yang penting sekarang ia harus menemui Felysia dan menjelaskan sebenarnya apa yang terjadi. Sang penjaga yang bertugas di gerbang Mansion sampai di buat kaget oleh ulah Vincent itu, mereka ingin marah awalnya tapi ketika melihat siapa yang menabrak gerbang hingga terbuka itu membuat beberapa penjaga yang berjaga itu terdiam.


Setelah memarkir mobilnya dengan asal tidak sesuai dengan tempat biasa untuk memarkir mobil, Vincent masuk kedalam Mansion yang tanpa harus membuka pintu telah di bukakan pintu oleh penjaga yang berjaga di depan pintu. Dengan tergesa-gesa Vincent menuju ke dalam kamar mereka untuk mencari Felysia, rasa takut sangat mendominasi dirinya, ia takut sangat takut jika Felysia sampai pergi meninggalkannya.


"FELISYA" Teriak Vincent hingga membuatnya menjadi pusat perhatian para pelayan yang berpas-pasan dengannya.


"FELISYA"


"FELYSIA"


Sepanjangan perjalanan menuju ke kamar, Vincent terus berteriak. Hingga di saat ia telah berada di depan pintu masuk, Vincent berhenti berteriak dan menghela nafas kasar sebelum akhirnya ia membuka pintu kamar itu.


Deg


Jantung Vincent seketika memompa dengan cepat. Suasana kamar itu terasa sepi dan seperti tidak ada penghuninya. Dengan langkah pelan Vincent berjalan mendekat ke box bayi yang sekarang terlihat kosong dan rapi begitu juga dengan tempat tidur yang biasanya menjadi tempatnya Felysia untuk beristirahat. Masih belum mau percaya jika Felysia dan Baby twins pergi dan meninggalkannya, Vincent berjalan menuju ke walk in closet untuk memeriksa semua pakaian Felysia.


Vincent bernafas lega ketika melihat semua pakaian Felysia masih tertata dengan rapi di dalam lemari. Tapi helaan nafas leganya itu tidak bertahan lama ketika melihat sebuah kertas yang terselip didekat lemari itu. Dengan perasaan yang semakin tidak tenang Vincent mengambil kertas itu dan membaca tulisan yang berada di dalam kertas itu.


...Aku minta maaf kalo aku ada salah sama kamu,...


...tapi untuk bertahan lagi dengan kondisi kita...


...yang sekarang, aku rasa aku nggak bisa. Kita...


...udah berbeda jalan Vincent, aku dan kamu...


...tidak akan bisa lagi jadi kita. Terima kasih untuk...

__ADS_1


...semua kebahagiaan yang pernah kamu berikan...


...untuk aku. Baby twins aku bawa pergi karena...


...mereka butuh aku, tapi jika suatu hari nanti...


...kamu ingin bertemu dengan mereka, aku akan...


...berikan kamu ijin....


...Aku pamit....


......Aku mencintaimu, suamiku. ......


Vincent meremas dengan begitu kuat kertas yang ternyata berisi surat pamitan dari istrinya. Ia mencoba untuk tetap tenang tapi rasanya semakin menyesakkan ketika ia mencoba untuk tetap tenang. Dengan perlahan suara isakan mulai keluar dari bibirnya hingga akhirnya tangisnya pecah dan berakhir ia yang terjatuh berlutut menangisi kebodohannya sendiri. Kesalahannya sendiri yang membuat isterinya pergi dan membawa kedua buah cinta mereka.


Jika ia bisa memutar waktu, ia tidak ingin seperti ini. Ia tidak menyangka semuanya akan menjadi seperti ini dan membuatnya tidak tahu harus berbuat apa, Felysia benar-benar menuruti kemauannya tadi untuk pulang, tapi bukan berarti Felysia pergi dari Mansion yang ia maksudkan.


"Jangan ninggalin aku, aku butuh kamu dan Baby twins."


"Aku butuh kalian, aku nggak mau berpisah dengan kalian bertiga."


"Maafin aku, aku bodoh telah melakukan hal paling bodoh."


"Aku mohon kembali."


Vincent terus meracau sampai ia akhirnya ia tidak bisa lagi berkata-kata karena rasa sakit bercampur sesak di dad4nya. Ia terus menangis di dalam walk in closet itu hingga menjelang malam tiba. Ia sama sekali tidak mau berjalan keluar dari dalam ruangan itu. Rasanya semuanya tidak ada artinya lagi, untuk apa lagi semuanya jika ia harus kehilangan orang yang benar- benar sangat ia cintai, apalagi semuanya terjadi karena kebodohan sendiri.


🌸

__ADS_1


Suasana makan malam terasa dingin tidak seperti biasanya yang adanya kehangatan. Itu semua di karenakan oleh menantu dan juga cucu di Mansion itu telah keluar dari Mansion karena sebuah kesalahpahaman. Apalagi dengan cucu tertua yang saat ini memilih mengurung dirinya di kamar dan tidak ingin kemana-mana, membuat suasana semakin dingin. Theo yang tadi siang telah membuat Vincent menjadi babak belur merasa bersalah tapi seperti pepatah penyesalan selalu berada di belakang bukan.


Setelah selesai makan, mereka berempat berkumpul di ruangan tengah untuk membicarakan tentang apa yang terjadi hari ini.


"Hal ini tidak bisa di biarkan, semuanya akan berakhir fatal jika harus seperti ini terus. Vincent juga sebagai suami seharusnya tidak membuat hal gila seperti ini, yang nyatanya hanya membuat mereka berdua sama-sama saling menyakiti jadinya." Ucap Deon membuka suara.


"Eh seenaknya kamu bilang cucu aku gila," decak Ayudia.


"Aku nggak bilang Vincent gila sayang." Protes Deon pada istrinya yang hanya memilih diam dan tidak membalas lagi.


Theo hanya bisa memutar bola matanya ketika kedua manusia di depannya tiba-tiba malah pamer kemesraan di depannya dan juga sang istri.


"Udah deh Mom, Dad. Kalian udah tua juga mana udah punya cicit masih aja pamer kemesraan di depan anak. Apalagi ini lagi bahas hal yang serius," ucap Theo menegur Ayah dan Ibunya itu.


"Kalo iri bilang aja," ucap Deon tapi setelah itu ia kembali ke posisi serius untuk membicarakan tentang yang sedang terjadi sekarang.


"Kalo menurut Dad, mending kita biarkan mereka mencoba menyelesaikan masalah mereka sendiri dulu. Karena kan yang lebih tau masalah ini itu mereka berdua." Ucap Deon yang di angguki oleh Ayudia, Theo dan juga Sherly.


"Termasuk kamu Theo, kalo mau pukul anak denger penjelasan dari dia dulu jangan langsung main pukul seperti tadi." ucap Deon lagi yang tertuju langsung pada anak pertamanya itu.


"Maaf Dad, aku khilaf." Ucap Theo mencoba memberikan alasan.


"Tapi Dad, berapa lama kita biarkan mereka berdua mencoba menyelesaikan masalah sendiri? Aku takut jika mereka bukannya menyelesaikan masalah mereka, tapi malah membuat masalah mereka lebih rumit." Ucap Sherly dengan rasa kekhawatirannya sebagai seorang Ibu.


"Kamu tenang aja, biarkan mereka berdua menyelesaikan masalah mereka Sherly. Kita sebagai orangtua tidak bisa ikut campur karena ini urusan mereka, kecuali jika memang mereka sudah sampai terlibat di suatu hal yang memang membutuhkan turun tangan kita baru kita ikut campur."


"Benar sayang, Dad bukannya mau buat anak kamu berpisah dengan istrinya. Tapi kembali ke hubungan mereka, kalo mereka saling mencintai dan memang masih saling membutuhkan mereka akan bisa menyelesaikan masalah ini dengan sendirinya. Mereka sudah dewasa, apalagi mereka sudah memiliki dua orang anak sekarang." Ujar Ayudia menambahkan.


"Tapi Mom, Felysia sama cucu-cucu aku pergi padahal udah aku minta jangan pergi tadi." Ucap Sherly.

__ADS_1


"Sayang, menantu dan juga cucu-cucu kita akan kembali kok. Kamu yang tenang ya." Theo merangkul bahu Sherly untuk memberikan ketenangan.


__ADS_2