Terpaksa Mau Menikah 2

Terpaksa Mau Menikah 2
Kamu Berubah


__ADS_3

Note : Panggilan Bu Erni ke Felysia di ganti dengan sebutan Nyonya. Aku baru sadar salah kasih Kosa kata sebelumnya.


"FELYSIA, STOP!" Teriakan Vincent menggema di dalam ruangan itu. Felysia yang mendengar teriakan dari suaminya itu menatap Vincent tidak percaya. Selama ini Vincent tidak pernah berteriak padanya seperti itu, dan sekarang hanya karena wanita yang asal usulnya tidak jelas itu, oh mungkin hanya untuknya yang tidak jelas. Karena pastinya Vincent telah mengenal baik wanita yang sedang ia jambak itu.


"Vincent, kamu bela wanita ini? Kamu bela wanita yang mau hancurin rumah tangga kita, gitu?" Tanya Felysia menggelengkan kepalanya tidak percaya. Dan si4lnya airmatanya tanpa sadar tumpah tanpa ia minta sekalipun.


"Kalo iya kenapa? Kamu mau marah?" Ucap Vincent dengan nada tegas tanpa ada keraguan sama sekali dari nada bicaranya itu.


Tangan Felysia yang masih setia bertengker manis menjambak rambut Theresia seketika terlepas. Entah kenapa tiba-tiba tubuhnya terasa lemas dan pikirannya seketika kosong. Felysia melihat ke arah Vincent dengan pandangan terluka, Vincentnya telah berubah. Berubah hanya dalam kurun waktu secepat ini, apa ia tidak cantik lagi dan apa ia tidak ada harganya di mata Vincent lagi.


"Kamu berubah Vincent, aku nggak tau kamu kenapa, tapi yang pasti kamu berubah. Berubah menjadi Vincent yang nggak aku kenal." Ucap lirih Felysia dengan airmata yang masih setia mengalir di kedua pipinya.


"Dia berubah karena sikap kamu, makanya jangan salahkan suami kamu kalo tiba-tiba berubah kayak gini." Ucap Theresia sudah kembali memeluk lengan Vincent tanpa ada sekalipun risih yang di tunjukkan oleh Vincent.


"Okay, aku akui aku salah karena udah abaikan kamu, udah jadi istri pembangkang. Tapi apa harus dengan cara kayak gini kamu balas semua sikap aku, iya?" Tanya Felysia mendekat dan menarik kasar kemeja Vincent.


"Kamu apaan sih, kemeja Vincent bisa robek kalo kamu tarik- tarik seperti ini." Theresia menepis kedua telapak tangan Felysia dari kemeja Vincent. Dan tentu saja hal itu tidak bisa di terima oleh Felysia.


"Kamu apaan sih, Vincent suami saya dan saya berhak melakukan apapun untuk suami saya."


"Felysia, lebih baik kamu pulang daripada kamu buat keributan disini. Ini kantor dan bukan tempat untuk kamu membuat keributan sesuka hati kamu disini." Ucap Vincent dengan tegas dan melepaskan kedua tangan Felysia yang menarik kemejanya itu.


"Okay, aku pulang. Aku turuti kemauan kamu." Ucap Felysia, ia menghapus air matanya dan setelah itu ia langsung melangkah keluar dari ruangan Vincent dengan luka yang ia bawa.


Jika datang ke kantor Vincent hanya akan membawa sebuah luka untuknya, lebih baik ia memilih untuk tidak datang dan tetap menahan rasa rindunya itu. Dengan sesekali menghapus airmata Felysia masuk ke dalam lift.


Kenapa harus sesakit ini?


Kenapa semuanya terjadi seperti ini?


Dimana semua perhatian dan kehangatan dari suaminya?

__ADS_1


Apa kehadiran Baby twins sama sekali tidak ada artinya?


Pikiran-pikiran itu terus berputar-putar di kepalanya. Hingga karena rasa tidak mampunya membuat Felysia akhirnya terduduk dan menangis di dalam lift itu. Ia menangisi dirinya yang terlihat sangat menyedihkan sekarang ini. Apa yang bisa ia harapkan lagi sekarang setelah semuanya hancur seperti ini. Suami yang ia pikir akan selalu berada di sampingnya dan selalu memberikan kehangatan untuknya dan juga anak-anak mereka mungkin semuanya akan berlalu. Karena kemungkinan besar mereka akan berpisah setelah ini. Baru memikirkan kata berpisah saja hatinya terasa seperti sudah di remas kuat hingga menimbulkan rasa sakit yang begitu dalam.


Ting


Bunyi lift yang terbuka, dengan segera Felysia berdiri dari duduknya dan juga menghapus airmatanya. Ia menghela nafas berat sebelum akhirnya ia memilih untuk keluar dari dalam lift itu untuk menuju ke ruangan khusus dimana Baby twins dan Bu Erni sedang menunggu.


"Maaf ya Bu lama. Baby twins tidak rewel kan?" ucap Felysia setelah sampai di dalam ruangan itu.


"Tidak kok Nyonya, mereka anteng-anteng aja dari tadi." Jawab Bu Erni yang membuat Felysia tersenyum senang. Ia berjongkok di didepan kereta bayi itu.


"Sayang, kita pulang ke rumah Grandpa Evans ya?" Ucap Felysia dengan suara serak karena sehabis menangis tadi.


"Dan mungkin kita akan tinggal selamanya di rumah Grandpa Evans."


Bu Erni yang mendengarkan perkataan majikannya itu hanya bisa diam, karena tidak ada hubungannya sama sekali dengan dirinya.


"Iya Nyonya,"


"Mulai hari ini Ibu bisa berhenti bekerja dengan saya. Saya minta maaf karena tidak bisa membuat Ibu bertahan lama berkerja dengan saya." Ucap Felysia dengan senyuman tipis yang ia perlihatkan di akhir kalimatnya.


"Tidak Nyonya, saya sudah kontrak dan di bayar penuh selama setahun oleh Tuan Vincent. Tidak mungkin saya berhenti begitu saja, jika Nyonya akan keluar dari Mansion, saya akan ikut juga." Ucap Bu Erni.


Ternyata masih ada orang lain yang peduli padanya, pikir Felysia.


"Terimakasih Bu, tapi Ibu Erni nantinya hanya akan bekerja dengan saya sampai kontrak Ibu selesai." Ucap Felysia yang di iyakan oleh Bu Erni.


Setelah bercakap-cakap sebentar mereka keluar dari ruangan itu untuk pulang ke Mansion. Hari ini Felysia telah memutuskan untuk keluar dari Mansion karena ia rasa sudah tidak artinya ia berada disana. Mungkin takdir pernikahan mereka hanya sampai disini saja.


🌸

__ADS_1


Felysia mengepak semua baju-bajunya masuk kedalam koper. Walaupun masih ada perasaan tidak rela untuk melakukan itu, tapi ia memang harus melakukannya jika tidak ingin hatinya semakin disakiti.


Setelah semuanya selesai, Felysia di bantu oleh Bu Erni yang mendorong kereta bayi untuk keluar dari kamar.


"Apa Nyonya yakin, akan pergi dari sini?" Tanya Bu Erni ketika mereka telah berada di ruang tengah.


"Saya yakin Bu, untuk apa lagi saya harus disini. Tidak ada gunanya lagi saya bertahan dengan orang yang sudah tidak menginginkan kehadiran saya."


Mendengar perkataan majikannya itu membuat Bu Erni merasa iba, ia sangat menyayangkan rumah tangga yang belum lama di karunia dua orang anak itu harus seperti ini.


"Felysia," dari arah belakang suara Sherly datang mendekat dan membuat Felysia menoleh.


"Iya Mom,"


"Kamu sama Baby twins mau kemana? Terus kenapa bawa koper begini juga?" Tanya Sherly menatap heran Felysia.


"Felysia mau pulang ke rumah Ayah, Mom. Karena udah nggak ada gunanya Felysia ada disini, karena Vincent sudah memiliki pengganti Felysia."


"Maksud kamu apa nak? Mom tidak mengerti apa yang sedang kamu bicarakan ini."


"Aku tadi ke kantor dan melihat Vincent bersama seorang wanita. Dan dia---," perkataan Felysia tertahan di tenggorokannya. Begitu berat rasanya untuk mengatakan apa yang terjadi.


"Tunggu disini, jangan kemana-mana!" Ucap Sherly yang mulai mengerti dengan situasi.


"Tapi Mom,"


"Sudah Mom katakan, jangan kemana-mana. Kembali bawa barang-barang kamu ke kamar dan juga pindahkan Baby twins ke box mereka. Kasihan mereka jika harus tidur di kereta bayi seperti itu."


"Bu Erni, tolong bantu Felysia."


Setelah mengatakan itu Sherly kembali berjalan menuju ke kamarnya entah apa yang akan ia lakukan.

__ADS_1


__ADS_2