
Cuaca yang begitu cerah, tapi tidak sesuai dengan suasana hati seorang pria yang sedang melihat pemandangan lalu lintas dari Jendela ruang kerjanya. Dari semalam ia tidak bisa tidur karena kepikiran dengan bagaimana keadaan anak dan istrinya di rumah. Dari semalam ia terus merasa cemas, tapi ia tidak ada niatan sama sekali untuk pulang karena tidak ingin jika harus bertengkar lagi dengan Felysia.
Huh
Entah sudah berapa banyak helaan nafas berat itu keluar dari mulut Vincent. Ia begitu merindukan Baby twins dan juga istrinya di rumah, tapi seperti keadaan yang tidak memungkinkan. Selama ia dan Felysia menikah, baru semalam ia dan Felysia bertengkar seperti itu. Dan karena itu ia memilih untuk berdiam di kantor untuk sementara waktu dan bertahan tanpa adanya anak-anak dan istrinya yang biasanya selalu menjadi semangatnya untuk bekerja. Saat sedang asik-asiknya dengan pikirannya, sebuah ketukan pintu membuat ia langsung tersadar dari lamunannya.
"Ada apa?" Tanya Vincent tanpa membalikkan tubuhnya sama sekali. Pandangan matanya masih fokus pada pemandangan keramaian jalanan.
"Saya hanya ingin melaporkan tentang keadaan istri dan juga anak-anak anda, sesuai dengan yang anda minta." Ucap Owen dengan sopan dan berdiri tegak di belakang Vincent.
"Apa yang terjadi?" Tanya Vincent dengan singkat.
"Semalam anak-anak anda sangat rewel hingga Ibu dan juga Nenek anda ikut campur dalam menenangkan bayi kembar itu, karena istri anda sangat kerepotan semalam." Ucap Owen mulai menjelaskan apa yang terjadi. Semalam ia memang berada di Mansion atas perintah dari Vincent yang ingin Felysia tetap di awasi saat ia sedang tidak berada di samping istrinya itu.
"Lalu untuk pagi sampai siang ini?" Tanya Vincent lagi.
"Tidak ada yang harus di khawatirkan, karena tidak terjadi hal seperti semalam lagi Tuan." Ucap Owen yang mendapat anggukan dari Vincent. Entah Owen melihat ia merespon dengan cara mengangguk atau tidak, ia tidak peduli.
"Kamu bisa pergi sekarang," ucap Vincent yang dituruti oleh Owen. Setelah kepergian Owen, Vincent kembali ke tempat duduknya dan kembali menyelesaikan pekerjaannya itu walaupun sebenarnya ia sangat tidak berselera, apalagi semalam ia tidak bisa tidur sama sekali.
"Aku harap kalian baik baik aja selama aku nggak ada di dekat kalian." Ucap Vincent sambil menghela nafas lelah.
Ia ingin pulang ke rumah, tapi rasanya ia belum sanggup jika harus bertengkar lagi dengan Felysia. Dan akhirnya ia memilih untuk tetap berada di kantor hingga ia rasa ia bisa pulang ke Mansion.
__ADS_1
Di lain tempat, Felysia menutupi rasa sedihnya karena sampai sekarang Vincent belum ada kabar sama sekali. Selain tidak pulang selama semalam, Vincent juga tidak menghubunginya sama sekali. Dan itu tentu membuat Felysia menjadi tidak tenang.
"Kamu dimana? Kenapa nggak pulang selama semalam?" Gumam Felysia di dalam kamarnya dan Vincent itu.
Tempat tidur di sampingnya terasa dingin karena tidak ada yang menempati seperti biasanya. Bahkan ia yang biasanya mendapatkan pelukan hangat di malam yang dingin, tidak mendapatkan pelukan hangat itu semalam. Rindu, itu yang ia rasakan, dan juga hampa karena kehadiran orang yang di tunggu-tunggu kehadirannya semalam sama sekali tidak datang. Pertengkaran mereka semalam ternyata sangat berefek untuk hari ini, dan rasanya ia ingin bisa memutar waktu jika ia bisa, dan memutar waktu kembali seperti semula di saat mereka tidak bertengkar.
🌺
Walaupun dengan rasa malas yang mendominasi dirinya, Vincent menuju ke sebuah Cafe tempat ia akan bertemu dengan clientnya. Sebenarnya ia sangat malas jika harus bertemu dengan clientnya di Cafe, yang bahkan ia tahu wajahnya saja tidak karena selalu orang kepercayaan dari Clientnya yang bertemu dengannya. Ini adalah kali pertama ia akan bertemu dengan clientnya.
"Sudah ada janji atau baru mau pesan tempat Pak?" Tanya seorang pelayan di Cafe itu ketika Vincent masuk kedalam Cafe yang sering di kunjungi oleh kebanyakan orang itu.
"Atas nama Theresia," jawab Vincent langsung to the point.
"Sia? Jadi kamu Clientnya?" Tanya Vincent ketika melihat wanita yang berada di depannya ini merupakan orang yang ia kenal. Ia kira mereka hanya memiliki nama yang sama, tapi ternyata memang mereka adalah orang yang sama.
"Halo Centvin, long time no see." Ucap Theresia berdiri dari duduknya dan memeluk Vincent yang langsung di balas oleh Vincent tanpa ada keraguan sama sekali. Wanita di depannya ini memang mengetahui identitas namanya yang sebenarnya jadi tidak heran jika wanita di depannya itu tidak memanggil namanya dengan sebutan Vincent.
"Kapan pulang?" Tanya Vincent, melepaskan pelukan mereka terlebih dahulu dan memilih untuk duduk yang di ikuti oleh Theresia.
"Beberapa hari yang lalu," jawab Theresia, menyeruput anggun jus jeruknya.
"Gimana Australia?" Tanya Vincent sambil membuka menu.
__ADS_1
"Ya begitulah biasa aja, aku sampai pengen cepat cepat pulang selama di sana." Keluh Theresia yang membuat Vincent terkekeh.
"Mba Late-nya 1," ucap Vincent pada seorang pelayan yang saat ini menunggu ia akan memesan apa.
Setelah memesan pesanannya, Vincent kembali fokus dalam pembicaraannya dengan wanita di hadapannya ini.
"Bukannya kamu yang pengen tinggal disana selama beberapa tahun? Kok malah pengen cepat-cepat pulang."
Theresia menggangguk. "Ya ya ya, emang aku yang pengen tinggal di sana selama beberapa tahun, tapi ternyata tinggal di sana nggak sesuai sama ekspetasi aku." Jawab Theresia kembali menyeruput minumannya.
"Dasar, nggak pernah berubah." Ucap Vincent mengangkat satu tangannya dan mengacak rambut wanita di depannya itu dengan gemas.
"Apaan sih, rambut aku perawatannya mahal ya. Main asal ngacak-ngacak segala," decak Theresia mulai merapikan kembali penampilannya dengan menggunakan cermin kecil yang selalu ia bawa kemana mana di dalam tasnya.
"Berapa duit sih? Aku bisa kasih tuh biaya perawatan buat rambut kamu." Ucap Vincent mulai menyombongkan diri.
"Idih sombong amat Pak, tau kok yang banyak duit, nggak usah pamer segala juga kali." Decak Theresia yang lagi lagi membuat Vincent tertawa dan seakan melupakan masalahnya semalam.
"Aku nggak sombong tuh, aku cuma mengatakan apa yang benar."
"Terserah deh, aku kesini mau bahas bisnis sama kamu, bukan buat bahas kekayaan kamu." Ucap Theresia mulai kesal karena Vincent yang punya kepercayaan tinggi itu mulai berulah.
"Permisi, ini pesanannya Pak." ucap seorang pelayan membawakan Late yang di pesan oleh Vincent itu.
__ADS_1
Vincent menyeruput minumannya dengan perlahan selama beberapa kali seruput dan setelah itu ia meletakan cangkir tersebut di atas meja. Kini ia dan wanita di hadapannya itu terlibat pembicaraan serius tentang rencana berbisnis mereka.