
Vincent mulai mengerjabkan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam matanya itu. Setelah beristirahat sebentar, ia memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu, sebelum ia akan menyusul Felysia yang tadinya sudah duluan ke lantai bawa itu.
Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk Vincent selesai mandi. Ia hanya membutuhkan waktu sekitar lima belas menit kemudian, ia sudah selesai mandi dan juga berganti pakaian. Selesai menyisir rambutnya yang masih basah itu, Vincent langsung melangkah keluar kamar untuk menuju ke lantai bawa.
Saat telah di lantai bawa, Vincent tidak melihat siapa-siapa disana. Orangtuanya, mertuanya, serta kakek dan neneknya sudah tidak ada. Belum lagi di tambah dengan istrinya, anak-anaknya, serta baby sitter juga tidak ada. Pria itu melirik ke arah jam dinding, yang ternyata telah menunjukkan pukul enam sore.
Huh
Ia telah salah mengira jika ia hanya tidur tidak lama saja, dan ini semua juga karena ia lupa melihat jam yang bertengker manis di dinding kamarnya dan Felysia. Ternyata ia tidur cukup lama tadi dan berakhir semua orang sudah tidak ada. Karena melihat ruang tengah yang kosong itu, Vincent memutuskan untuk kembali ke lantai atas, untuk mengecek istri dan anak-anaknya apakah berada di kamar yang di buat khusus untuk Adelio dan Adelia itu. Dan sesuai dugaan, mereka memang berada di dalam kamar tersebut.
"Gimana tidurnya, nyenyak pastikan?" Tanya Felysia ketika menyadari keberadaan Vincent yang masuk kedalam kamar tersebut. Pria itu tidak langsung menjawab pertanyaan dari istrinya itu, ia lebih memilih berjalan mendekat ke arah Felysia, dan mendekatkan wajahnya ke arah daun telinga wanita itu.
"Udah pasti aku tidur nyenyak. Apalagi apa yang aku mau, udah kamu turuti." Bisik Vincent sengaja karena merasa tidak enak ada kehadiran seorang wanita paruh baya yang berada di dalam kamar itu mereka..
"Jangan mulai deh, malu tau ada Bu Erni disini." Ucap Felysia yang mendapatkan tanggapan senyuman dari wanita paruh baya itu.
"Eh aku nggak ngapa-ngapain loh." Ucap Vincent membela dirinya sendiri yang membuat Felysia hanya bisa menggangguk mengiyakan
"Oh iya, Bu Erni bisa makan malam aja dulu sekarang. Nanti selesai Bu Erni, baru saya dan suami saya yang gantian makannya." Ucap Felysia yang dengan cepat di tolak oleh wanita paruh baya itu.
"Tapi Nyonya, disini saya hanya sebagai seorang Baby sitter. Mana mungkin saya makan lebih dulu dari majikan." Ucap Bu Erni merasa tidak enak.
"Udah nggak apa-apa Bu, ikuti saja perintah dari istri saya." Ucap Vincent dengan penuh perintah bernada tegas serta datar, yang tidak ingin mendapatkan penolakan dari apa yang di katakan olehnya.
Felysia yang melihat Bu Erni masih saja berada pada posisi yang sama, membuatnya harus memberikan banyak macam kode untuk meminta wanita paruh baya itu meninggalkan kamar sekarang juga. Felysia hanya ingin menghindari suaminya yang akan mulai berubah menjadi galak, jika perkataannya tidak di turuti.
__ADS_1
Bu Erni yang akhirnya menangkap kode dari majikannya itu, memilih langsung berpamitan dan langsung keluar dari dalam kamar itu.
"Akhirnya bisa berempat juga," ucap Vincent yang kini memeluk Felysia dari belakang yang sedang memperhatikan Baby twins yang sedang tertidur itu.
"Itu sih maunya kamu," ucap Felysia yang membuat Vincent terkekeh pelan karena takut akan membangunkan tidur nyenyak dari anak kembarnya itu.
"Udah pasti dong. Waktu bersama kamu dan juga anak-anak itu berharga banget buat aku tau." Ucap Vincent sambil memberikan sebuah kecupan singkat di pipi Felysia.
"Ngomong-ngomong, kalo aku perhatikan hobi Lio dan Lia tidur terus ya sayang." Ucap Vincent sambil memperhatikan kedua bayi yang terlihat begitu nyenyak dalam tidur mereka.
"Namanya juga bayi, emang kamu mau mereka ngapain coba?" Tanya Felysia yang hanya mendapatkan gelengan kepala dari pria itu.
"Ya aku kan cuma heran aja Fel, masa nggak boleh." Ucap Vincent.
"Udah tentu aku lagi persiapan diri. Aku akan senang banget kalo mereka udah bisa ada di masa-masa itu soalnya." Ucap Vincent yang hanya mendapatkan gelengan kepala dari istrinya.
"Oh iya, selesai Bu Erni makan dan balik kesini. Kita makan malam dulu ya, aku udah masakin kamu." Ucap Felysia yang membuat mata Vincent langsung berbinar senang.
"Serius kamu masakin aku?" Tanya Vincent yang mendapatkan anggukan dari wanita itu.
"Ya siapa lagi yang bisa aku masakin selain kamu? Kamu pengen---," ucap Felysia menggantung karena suaminya itu tiba-tiba membalikan tubuhnya dan memberikan sebuah kecupan singkat di bibir istrinya itu, hingga ucapannya menjadi terpotong.
"Nggak usah ngomong-ngomong yang nggak-nggak deh, aku nggak suka. Kamu cuma boleh masakin aku, atau masak buat keluarga aku dan kamu aja. Selain dari itu, aku nggak akan biarin orang lain bisa merasakan masakan kamu." Ucap Vincent mulai lagi dengan sifat posesifnya itu.
"Lah. Emang tadi aku mau ngomong apa coba?" Tanya Felysia sambil terkekeh.
__ADS_1
"Udah nggak usah pura-pura. Aku suami kamu, dan aku udah tau kebiasaan apa yang akan kamu bilang nantinya." Ucap Vincent.
"Ya udah iya-iya," ucap Felysia memilih untuk tidak melanjutkan topik pembicaraan mereka.
Tidak lama kemudian, Bu Erni kembali masuk setelah mengetuk pintu sebanyak tiga kali, yang tentunya membuat Vincent harus melepaskan kedua tangannya yang melingkar di pinggang sang istri.
"Bu Erni, jagain Lio dan Lia dulu ya sekarang. Saya dan suami saya mau makan malam dulu." Ucap Felysia yang mendapatkan kata iya dari wanita paruh baya itu.
Setelah mendapatkan persetujuan dari Bu Erni, Vincent langsung menarik pinggang Felysia dan mereka keluar bersama dari dalam kamar itu untuk menuju ke meja makan yang tersambung dengan dapur itu.
"Kamu duduk aja dulu, aku mau hangantin dulu makanannya udah pada dingin." Ucap Felysia yang mendapatkan anggukan dari Vincent. Dan setelah itu, pria itu memilih untuk melangkah mendekat ke arah Felysia yang sedang sibuk itu, dan kembali memeluk Felysia dari belakang seperti tadi.
"Vincent, aku udah minta duduk loh. Ngapain juga kamu pakai nyusul aku kesini. Aku masih harus hangantin ini, dan butuh waktu beberapa menit setiap makananannya." Ucap Felysia mulai mengomel.
"Nggak enak kalo cuma duduk aja, soalnya aku nggak akan bisa peluk istri aku yang paling cantik ini jadinya." Ucap Vincent sambil memperhatikan makanan yang kini sedang berada di dalam wajan.
"Lebay deh. Padahal kita tidur sekamar, dan setempat tidur juga." Ucap Felysia yang langsing membuat seorang Vincent terkekeh.
"Oh iya, Mom, Dad, Ayah, Grandma, sama Grandpa pulang jam berapa tadi?" Tanya Vincent.
"Sekitaran jam lima tadi mereka pulang. Awalnya mau nunggu kamu turun, tapi nyatanya kamu nggak turun-turun tadi sampai akhirnya mereka milih buat pulang, karena hari makin sore dan sebentar lagi malam." Jawab Felysia yang mendapatkan anggukan dari pria itu.
"Akhirnya selesai juga, sekarang kita makan yuk." Ajak Felysia yang di angguki oleh Vincent.
Sebagai suami yang baik, Vincent membantu isterinya untuk meletakkan semua masakan yang sudah selesai di hangatkan itu di atas meja.
__ADS_1