Terpaksa Mau Menikah 2

Terpaksa Mau Menikah 2
Baby Twins Rewel


__ADS_3

Hari semakin malam tapi tidak membuat seorang pria yang sedang mengetik entah apa di komputer itu berhenti. Pria itu seakan tidak ada mengantuknya sama sekali, padahal jarum jam sudah menunjukkan pukul 00.00 AM. Ia terus menatap layar komputernya dengan begitu fokus. Ia adalah Vincent yang memilih untuk kembali ke kantor setelah pertengkarannya dengan Felysia di kolam renang. Jika ia tetap akan tinggal, ia tidak yakin jika ia bisa menahan lagi emosinya, dan untuk itu lebih baik ia menghindar dari istrinya itu. Ia harus menyiapkan mentalnya dulu, sebelum menghadapi sikap keras kepala istrinya itu.


Huh


Vincent menyandarkan tubuh itu di sandaran kursi sambil menghela nafas lelah. Pikirannya berkelana pada pertengkarannya dengan Felysia beberapa jam yang lalu, jika di pikir-pikir seharusnya mereka tidak harus sampai bertengkar untuk membahas Baby Sitter. Tapi Felysia seakan merasa sangat sensitif dengan perkataannya itu hingga membuat Felysia marah-marah.


"Kamu kenapa berubah si Fel? Baru sebulan semenjak Lio dan Lia ada, kamu jadi kayak gini. Apa jadinya setelah Lio dan Lia semakin besar nanti?" Gumam Vincent.


Berbeda dengan Vincent yang di landa rasa frustasi itu, saat ini Felysia sedang menenangkan Adelio dan Adelia yang sangat rewel hingga membuatnya kerepotan. Tidak biasanya Adelio dan Adelia seperti ini, apa mungkin ini karena kedua anak kembar itu bisa merasakan jika ia dan Vincent tadi bertengkar hingga Vincent pergi dari Mansion? Itu yang ada di pikiran Felysia.


"Sayang, kalian yang tenang ya."


"Jangan nangis terus dong, kalian buat Mommy khawatir."


Felysia merasa sangat cemas dengan keadaan Baby twins. Ia sudah mencoba beberapa kali memberikan ASI, tapi Baby twins menolak dan memilih untuk terus menangis. Felysia jadi kewalahan jadinya, ah mungkin jika Vincent ada disini, suaminya itu bisa membantunya. Tapi hal itu sangat mustahil, karena mereka baru saja bertengkar tadi.


Tok...Tok...Tok


Suara ketukan di pintu kamarnya dan Vincent itu membuat hati Felysia seakan merasa senang, karena ia pikir pasti yang mengetuk pintu itu adalah Vincent, karena ia memang mengunci pintu dari luar tadi.


"Mom, Grandma. Ada apa?" Tanya Felysia menutupi raut kecewanya ketika mengetahui orang yang berada di balik pintu itu, tidak sesuai dengan apa yang sedang ia harapkan.

__ADS_1


"Mom dengar suara tangisan Lio dan Lia, makanya Mom kesini." Jelas Sherly.


"Nah benar kata Mom kamu, Grandma juga datang kesini, karena mendengar suara tangisan Lio dan Lia. Mereka kenapa menangis sampai nggak berhenti- berhenti gitu?" Tanya Ayudia begitu penasaran.


"Felysia juga nggak tau, biasanya mereka kalo rewel nggak bakal sampai seperti ini." Ucap Felysia dengan raut wajah cemas.


"Boleh Mom sama Grandma masuk kedalam?" Tanya Sherly yang langsung di angguki oleh Felysia.


Felysia membuka pintu kamar dengan lebar, agar memudahkan Sherly dan juga Ayudia masuk kedalam kamar. Sherly dan Ayudia menghampiri Adelio dan Adelia yang masih saja menangis di dalam box bayi.


"Ya ampun cucu, Grandma. Jangan nangis sayang, ini Grandma datang loh." Ucap Sherly sambil mengangkat Adelio untuk masuk kedalam gendongannya. Ia jadi tidak tega sekali melihat cucunya itu menangis seperti itu. Tapi ia tidak mungkin menyalahkan Felysia, karena ia tahu seberapa repotnya Felysia mengurus kedua bayi kembar itu.


Tidak hanya Sherly yang membawa Adelio dalam gendongannya, tapi Ayudia juga ikut mengambil Adelia untuk ia peluk dan mencoba untuk memenangkan cicitnya itu.


Felysia yang melihat ulah dari Sherly dan juga Ayudia seketika merasa tidak enak hati. Karena malam malam seperti ini ia telah merepotkan kedua wanita di depannya ini. Mungkin jika kamar yang ia tempati bersama dengan Vincent ini kedap suara, kedua wanita itu tidak akan mengetahui jika Adelio dan juga Adelia sedang menangis.


"Fel, kamu udah coba kasih mereka ASI belum?" Tanya Sherly yang di angguki Felysia.


"Aku udah coba Mom, tapi mereka berdua nolak. Dan karena itu aku jadi bingung." Jawab Felysia seadanya.


"Vincent mana? Masih belum pulang lagi setelah tadi keluar?" Tanya Sherly yang di angguki oleh Felysia.

__ADS_1


"Coba kamu hubungi Vincent, kamu lagi kerepotan begini, dia malah sibuk keluyuran di luar." Ucap Ayudia yang tiba- tiba merasa kesal dengan cucunya itu.


Seketika Felysia langsung menolak. "Eh, jangan Grandma-," ucap Felysia menggantung.


"Kenapa? Apa kalian sedang bertengkar sampai tadi Grandma liat muka Vincent kayak kesal gitu pas lewatin ruang tengah?" Tanya Ayudia yang langsung membuat Felysia terdiam selama beberapa saat.


"Eh---, nggak kok Grandma. Tadi aku sama Vincent baik-baik aja kok. Tadi dia cuma pamitan sama aku karena katanya harus balik ke kantor, ada yang harus di kerjakan malam ini." Bohong Felysia dan berharap Ayudia tidak akan bertanya lebih banyak lagi.


Karena Ayudia yang sibuk dengan menenangkan Adelia, ia tidak memperhatikan kebohongan yang dikatakan oleh Felysia, yang membuat Felysia langsung bernafas lega. Ia tidak mungkin membiarkan ada yang tahu jika ia dan Vincent bertengkar, rasanya sangat memalukan untuk di umbar. Biarlah masalahnya dan Vincent, akan menjadi urusannya dan Vincent nantinya. Ia yakin jika ia dan Vincent bisa menyelesaikan masalah mereka.


Ketiga wanita itu terus mencoba menenangkan bayi kembar itu. Hingga akhirnya setelah beberapa puluh menit kemudian Adelio dan Adelia akhirnya tertidur, mungkin efek dari kelelahan karena menangis terus. Baik Felysia, Sherly, dan juga Ayudia akhirnya bisa bernafas lega setelah melihat Adelio dan Adelia tertidur dengan nyaman didalam box bayi.


"Sekarang kamu udah boleh tidur Fel, kamu harus jaga kesehatan kamu demi Lio dan Lia." Ucap Sherly yang di angguki oleh Felysia.


"Iya Mom, makasih karena Mom dan Grandma udah mau bantuin aku buat nenangin Lio sama Lia." Ucap Felysia dengan senyuman manis.


"Tidak usah berterima kasih sayang, kamu adalah bagian dari keluarga kami. Dan juga Lio dan Lia merupakan cicit Grandma, dan cucu dari Mom kamu ini."


"Iya Grandma."


Setelah sedikit berbincang-bincang, Sherly dan juga Ayudia keluar dari kamar Felysia untuk kembali beristirahat di kamar masing-masing. Setelah kepergian Sherly dan juga Ayudia, Felysia mulai membaringkan tubuhnya di tempat tidur dengan pikiran yang mulai berkelana di mana Vincent berada sekarang. Ia jadi merasa bersalah setelah apa yang sudah ia katakan tadi pada Vincent. Seharusnya ia tidak mengatakan hal seperti itu, Vincent begitu baik bahkan menuruti apa yang ia mau, tapi ia malah melakukan yang sebaliknya.

__ADS_1


"Maafkan aku yang udah egois."


__ADS_2