Terpaksa Mau Menikah 2

Terpaksa Mau Menikah 2
Tolong Kasih Aku Kesempatan Terakhir


__ADS_3

Felysia yang baru saja selesai menidurkan Adelio dan juga Adelia yang sedari tadi rewel, dengan di bantu oleh Ibu Erni. Sekarang ingin keluar menuju ke dapur untuk mengambil minuman, tapi tiba-tiba niatnya itu, harus ia urungkan saat ia mendengar suara berisik dari luar rumah. Dengan rasa penasarannya, wanita itu mulai melangkah dengan pelan menuju ke pintu utama depan rumah.


"Vincent, Ayah." Kaget Felysia ketika melihat suami dan juga Ayahnya itu yang ternyata telah membuat suara berisik dari luar rumah.


Vincent yang melihat Felysia yang kini berada di depannya sekarang. Dengan terburu-buru dengan menggunakan lututnya, ia mendekat ke arah Felysia, dan langsung memeluk kedua kaki istrinya itu dengan erat.


"Felysia, aku mohon, maafin aku."


"Aku nggak bermaksud kayak gitu sama kamu."


"Tolong percaya sama aku, aku mana mungkin selingkuh dari kamu, sayang. Aku hanya mencintai kamu dan anak-anak kita." Ucap Vincent dengan terus memeluk erat kedua kaki Felysia.


Felysia di buat kaget dengan ulah suaminya itu. Ia tidak pernah sampai berpikir, jika Vincent akan sampai seperti ini padanya. Felysia melihat ke arah Ayahnya yang kini juga melihat ke arahnya itu.


"Ayo masuk Felysia." Ucap Evans dengan penekanan di setiap perkataannya itu.


"Tapi Ayah," ucap Felysia menggantung. Entahlah, tiba-tiba rasanya berat untuk meninggalkan Vincent di luar seperti ini. Padahal pria itu telah menyakitinya, bahkan waktunya masih baru sekali.


"Tapi apa? Kamu mau memaafkan laki-laki bajingan ini, setelah apa yang sudah dia lakukan sama kamu?" Tanya Evans dengan nada suara yang kini naik satu oktaf.


"Bukan begitu Ayah. Tapi, biar bagaimanapun Vincent tetap Ayah dari Lio dan Lia. Walaupun nanti aku sama dia akan berpisah, setidaknya dia masih punya hak atas anak-anak kami."


Vincent yang mendengar ucapan dari Felysia itu, seketika merasa sangat takut. Ia tidak pernah berharap hal ini bisa jadi seperti ini. Penyesalannya begitu besar sekarang, karena lelucon yang ia buat, kini ia harus menerima konsekuensinya sekarang.


"Aku nggak mau pisah Fel, aku nggak mau."


"Tolong jangan tinggalin aku, aku butuh kamu dan juga anak-anak kita." Ucap Vincent memohon.


"Aku mohon jangan, hidup aku nggak ada arti apa-apa lagi kalo nggak ada kalian." Ucap Vincent.

__ADS_1


Felysia yang melihat Vincent yang seperti ini, semakin merasa tidak tega. Dan entah bagaimana caranya, hanya dengan melihat Vincent yang seperti ini saja, hatinya langsung luluh.


"Tolong kasih aku kesempatan terakhir aja buat jelasin semuanya sama kamu, Fel. Aku akan buktikan kalo Theresia itu sama sekali bukan selingkuhan aku. Dia cuma teman aku Fel, tolong percaya." Ucap Vincent masih berharap adanya sebuah harapan untuknya itu.


"Vincent, kamu berdiri dulu sekarang." Ucap Felysia tanpa membalas perkataan Vincent itu. Pria itu dengan otomatis langsung menggelengkan kepalanya, dan semakin memeluk kedua kaki Felysia dengan erat.


"Ayah, tolong biarkan aku kasih kesempatan Vincent untuk menjelaskan semuanya. Ayah tau sendiri, bagaimana aku mencintai Vincent kan Ayah." Ucap Felysia kini melihat ke arah Ayahnya yang melihat ke arah lain, dengan wajah penuh amarah itu.


"Setelah apa yang dia lakukan sama kamu? Dengan begitu mudahnya kamu mau kasih kesempatan untuk laki-laki brengsek ini Felysia?" Tanya Evans dengan amarahnya.


"Aku tau Ayah nggak akan setuju. Tapi Ayah, untuk sekarang bukan hanya ada perasaan aku aja yang harus aku prioritaskan. Ada Lio dan juga Lia, bagaimana nasib mereka nanti kalo orangtua mereka berpisah nanti." Ucap Felysia dengan pelan, berharap ayahnya itu akan mengerti dengan keputusannya itu.


"Terserah kamu!" Ucap Evans dan langsung masuk kedalam rumah tanpa mau melihat ke arah Felysia dan juga Vincent.


"Vincent, kamu berdiri dulu ya." Ucap Felysia dengan pelan.


"Nggak Fel, aku nggak akan berdiri. Aku takut kamu jadi berubah pikiran setelah aku berdiri nantinya." Ucap Vincent sambil menggelengkan kepalanya.


"Aku kangen Fel, kangen banget." Ucap Vincent setelah berdiri ia langsung memeluk Felysia dengan erat. Ia sangat merindukan istrinya itu.


"Aku bodoh karena udah buat lelucon nggak berguna itu."


"Sekarang, aku mau kamu tau semuanya. Aku nggak mau lagi ada kesalahpahaman di antara kita." Ucap Vincent yang hanya di angguki oleh Felysia.


Felysia juga membalas pelukan dari Vincent. Karena ia begitu merindukan pria yang ada di pelukannya ini. Memang benar jika ada yang mengatakan cinta itu buta dan juga bodoh, karena itulah yang sekarang terjadi pada dirinya.


"Sekarang lepasin dulu pelukannya, sesak lama-lama kalo pelukan terus kayak gini." Ucap Felysia yang langsung di iyakan oleh Vincent.


"Baby twins mana? Aku kangen pengen ketemu mereka." Tanya Vincent terlihat begitu antusias.

__ADS_1


"Aku nggak akan biarin kamu ketemu sama mereka, sebelum kamu jelasin semuanya sama aku." Ucap Felysia yang membuat Vincent menghela nafas pelan. Ia tahu tidak semuda itu sekarang untuk bertemu dengan anak-anak mereka.


"Oke, aku akan telpon Theresia untuk kesini sama suaminya dulu. Biar kamu sama Ayah bisa percaya dengan aku nantinya." Ucap Vincent yang membuat Felysia kaget, jika wanita yang kemarin ia tarik rambutnya itu sudah memiliki seorang suami.


"Jadi, selingkuhan kamu itu udah punya suami?" Tanya Felysia yang membuat Vincent langsung melotot.


"Dia bukan selingkuhan aku, Fel. Dia cuma teman aku, tolong percaya sama aku." Ucap Vincent dengan ekspresi wajah memelas.


"Oke-oke, jadi teman kamu itu udah punya suami?" Tanya Felysia lagi, kini mengubah kata-katanya.


"Iya dia udah punya suami. Jadi bentar aku hubungi Theresia buat kesini." Ucap Vincent sambil merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya.


Pria itu mengubungi Theresia, dan dengan sengaja menloudspkear panggilannya itu. Agar Felysia juga bisa mendengarkan suara dari sebrang sana nantinya.


"Halo Vincent. Kamu mau aku lakuin apa lagi huh? Nggak usah aneh-aneh lagi deh, karena kepala aku masih sakit karena rambut aku di tarik-tarik sama istri kemarin ya."


Felysia seketika mengigit bibirnya ketika mendengar suara dari sebrang sana itu. Apa sebegitu sakitkah apa yang ia lakukan pada wanita itu kemarin?


"Halo Sia. Kamu sama suami kamu, bisa nggak datang ke rumah orangtua istri aku sekarang? Nanti aku share location, ke kamu sekarang."


"Ke rumah mertua kamu? Duh nggak deh, aku udah tobat kemarin, nggak mau kena amukan lagi aku."


"Aku jamin nggak akan terjadi apa-apa sama kamu. Tolong ini penting banget buat aku, Sia. Hanya kamu yang bisa bantu aku sekarang, ini untuk terakhir kalinya tolong bantuin aku."


"Yaudah, kamu share location aja. Nanti aku sama suami aku kesana sekarang. Dan awas aja, kalo sampai aku dapat sesuatu yang lebih dari kemarin, aku bakalan tendang kamu."


Setelah berkata seperti itu, Theresia langsung mematikan sambungan itu, tanpa menunggu Vincent berkata terlebih dahulu.


"Setelah mereka datang, kamu akan tau kalo aku sama sekali nggak bohong sama kamu Fel. Aku bisa buktiin kalo yang kemarin itu, cuma lelucon yang seharusnya nggak aku lakuin." Ucap Vincent yang hanya di angguki oleh Felysia.

__ADS_1


"Yaudah, kalo gitu kita masuk dulu." Ucap Felysia sambil mengajak Vincent untuk masuk kedalam rumah.


__ADS_2