Terpaksa Mau Menikah 2

Terpaksa Mau Menikah 2
Client atau Selingkuhan Kamu?


__ADS_3

Felysia telah sampai di lobby depan Xander Grup. Tanpa harus membuka pintu mobil, seorang penjaga yang bertugas di depan pintu masuk kantor itu dengan sigap telah membukakan pintu untuknya. Dan karena hal itu telah menjadi kebiasaan sang penjaga yang sudah hafal betul plat nomor dan jenis mobil dari istri sang direktur Xander grup. Dengan di bantu oleh Bu Erni, Felysia turun dengan membawa Adelio dalam gendongannya, sedangkan Adelia berada di gendongan Bu Erni. Sopir yang mengantarkan mereka sudah turun dan mengambil kereta bayi yang di simpan di bagasi saat perjalanan ke kantor.


"Nyonya, ini kereta bayinya." Ucap sang supir setelah selesai mengatur kereta bayi yang tadinya di lipat itu. Dengan perlahan Felysia dan juga di ikuti oleh Bu Erni meletakkan Adelio dan Adelia kedalam kereta bayi itu.


"Bu, saya minta tolong buat dorong kereta Baby twins, ya?" Pinta Felysia meminta tolong yang langsung di sanggupi oleh Bu Erni.


Mereka masuk kedalam kantor dan di sapa hangat oleh resepsionist yang sudah terbiasa dengan kedatangan Felysia itu. Bahkan para karyawan kantor yang berpas-pasan dengan Felysia, menyapa dengan ramah. Felysia dan juga di ikuti oleh Bu Erni yang sedang mendorong kereta bayi menuju ke lift khusus yang berada di tengah lantai satu Xander grup. saat jarak mereka hanya beberapa meter lagi dari lift khusus yang akan langsung terhubung ke lantai ruangan Vincent berada, pandangan mata Felysia tertuju pada pria dan wanita yang berdiri berdampingan di depan lift khusus, dengan kedua tangan wanita itu yang memeluk lengan sang pria. Yang membuat Felysia bertanya-tanya dalam pikirannya sekarang, postur tubuh pria itu yang sangat mirip sekali dengan Vincent, apalagi dengan pakaian yang dikenakan oleh pria itu, sama persis seperti yang di gunakan oleh Vincent, karena Vincent sering menyimpan pakaian cadangan di ruangannya.


Deg


Seketika jantung Felysia berdetak dengan kencang, bukan karena sedang jatuh cinta, melainkan merasa sakit hati ketika melihat pemandangan dimatanya saat ini. Sudah jelas pria yang bersama dengan wanita yang ia tidak tahu itu siapa adalah Vincent, suaminya. Orang yang ia tunggu kepulangannya, bahkan orang yang sangat ia rindukan, sekarang sedang tertawa lepas bersama dengan seorang wanita yang bergelayut manja di lengannya tanpa ada keberatan sama sekali dari sang pemilik lengan.


"Apa ini alasan kamu nggak pulang?"


"Apa dia alasan kamu lupa sama aku dan juga Baby twins?"


"Aku nggak nyangka kamu bisa setega ini sama aku."


Bu Erni yang melihat majikannya yang tiba-tiba terdiam dengan mata yang fokus ke arah lift itu merasa khawatir.


"Bu, Ibu kenapa?" Tanya Bu Erni berharap majikannya itu bisa mendengarnya.


Seketika Felysia langsung tersadar dari lamunannya, dengan segera ia menghapus jejak airmata yang sempat mengalir dimatanya itu menggunakan jari-jari tangannya.

__ADS_1


"Eh kenapa Bu?" Tanya Felysia seakan tidak terjadi apa-apa.


"Seharusnya saya yang bertanya, Ibu kenapa melamun, nggak baik tau Bu." Ucap Bu Erni memperingati Felysia agar tidak melamun.


"Iya Bu, saya hanya sedikit banyak pikiran akhir-akhir ini." Jawab Felysia seadanya tanpa mau mengatakan ada apa sebenarnya.


Bu Erni tidak membalas lagi karena takut ia jadi semakin lancang berbicara dengan majikannya itu. Ia tidak ingin jika di saat baru hari pertama ia bekerja, ia akan langsung di pecat karena lancang menegur majikannya itu.


"Bu Erni sama Baby twins tunggu disini sebentar ya, saya mau menelfon dulu." Ucap Felysia dan langsung sedikit menjauhkan jaraknya untuk menelfon yang tidak lain adalah menelfon suaminya, Vincent. Ia hanya ingin memastikan apakah Vincent akan jujur atau tidak padanya kali ini. Felysia memilih tempat yang agak sepi barulah ia menghubungi Vincent.


Tidak menunggu lama, dalam percobaan pertama panggilannya telah tersambung pada Vincent.


Vincent : Halo....


Felysia menunggu selama beberapa detik dan Vincent tidak langsung menjawab pertanyaan darinya itu. Apakah sesulit itu untuk menjawab pertanyaan singkatnya itu, apa karena wanita yang bersama dengan suaminya itu di dalam lift tadi yang membuat Vincent merasa ragu untuk menjawab. Helaan nafas terdengar dari seberang sana sebelum akhirnya Vincent menjawab pertanyaan dari Felysia.


Vincent : Aku di kantor, ada apa?


Felysia : Nggak apa-apa, aku hanya ingin tanya kapan kamu akan pulang.


Vincent : Aku belum bisa pastiin kapan, karena aku lagi sibuk urus proyek baru aku.


Felysia : Oh begitu ya....

__ADS_1


Vincent : Kalo nggak ada lagi yang mau kamu katakan, aku tutup. Aku harus meeting sama client aku dulu.


Felysia : Client atau selingkuhan kamu?


Vincent : Maksud kamu apa? Aku nggak paham apa yang sebenarnya kamu bicarakan.


Felysia : Nggak usah berpura-pura, aku liat semuanya tadi. Kamu sama wanita itu mesra-mesraan di tempat umum. Padahal kamu sendiri tau, kalo kamu udah menikah dan udah punya Baby twins.


Vincent : Oh jadi kamu udah liat, baguslah tanpa harus aku kasih tau kamu udah liat sendiri.


Felysia tidak menyangka jika Vincent dapat berkata sesantai itu padanya sekarang. Bahkan Vincent seakan tidak memikirkan perasaan Felysia yang sekarang bercampur aduk, sakit hati dan kecewa bercampur menjadi satu.


Felysia : Kenapa kamu tega? Aku tau aku salah tapi bukan berarti kamu bisa langsung cari pengganti aku kayak gini.


Vincent : Kamu sendiri yang mendorong aku untuk pergi dari kamu Fel, kamu yang bilang kamu bisa mengurus Baby twins tanpa ada aku sekalipun. Dan aku hanya mengikuti kemauan kamu, pergi sesuai yang kamu inginkan.


Felysia : Nggak, ini pasti nggak benar. Aku tau kamu pasti cuma bercanda.


Vincent : Aku sama sekali nggak bercanda, aku tutup dulu.


Felysia menatap nanar ponselnya, Vincent mengkhianatinya? Tidak ini tidak benar, ia tidak bisa mempercayai hal ini begitu saja. Ia butuh penjelasan yang jelas, ia butuh berbicara dengan Vincent sekarang. Tanpa peduli jika sekarang Vincent sedang meeting atau apapun itu, ia tetap akan menghampiri Vincent sekarang juga. Felysia menghapus air mata yang sempat jatuh di pipinya itu dan berjalan kembali ke tempat Baby twins dan juga Bu Erni berada.


"Bu, saya mohon tolong jaga anak-anak saya sebentar aja. Saya butuh bicara dengan ayah mereka, ini hal penting dan tidak mungkin jika Baby twins harus ikut, jadi saya mohon tolong jaga Baby twins dengan baik." Ucap Felysia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.

__ADS_1


Felysia tidak bisa menahan perasaan sakit di hatinya lagi, tanpa mempedulikan orang orang yang berada di sekitarnya Felysia menangis hingga ia jatuh berjongkok di depan kereta bayi Adelio dan Adelia. Kakinya tiba-tiba terasa lemas dan tidak bisa ia topang lagi. Bu Erni yang tidak tahu apa-apa jadi bingung mau menanggani Felysia, apalagi di tambah dengan kedua bayi yang sekarang juga ikut menangis membuat Bu Erni jadi kelimpungan sendiri.


__ADS_2