
Felysia dan juga Vincent hanya bisa menjadi penonton, di saat Adelio dan Adelia yang menjadi sasaran rebutan kakek dan nenek dari kedua bayi itu. Hal itu belum berlangsung lama, setelah mereka selesai makan bersama barulah sang kakek dan nenek mulai berebutan siapa yang akan memeluk Adelio atau Adelia duluan.
"Lio dan Lia, untungnya nggak rewel ya sayang pas jadi rebutan gini. Tapi tumben banget sih." Ucap Vincent pada Felysia yang sibuk tertawa melihat kehebohan para orangtua di depan mereka itu.
"Mungkin Lio dan Lia tau, kalo mereka akan jarang ketemu sama Grandma dan Grandpa mereka. Makanya mereka jadi anteng kayak gini." Ucap Felysia yang di angguki setuju oleh Vincent.
"Oh iya Fel, ikut aku yuk." Ucap Vincent yang membuat Felysia menoleh ke arah suaminya itu.
"Mau kemana? Terus Lio dan Lia gimana kalo tiba-tiba nangis?" Tanya Felysia yang membuat Vincent tersenyum memenangkan.
"Aku yakin kalo Baby twins nggak akan nangis kok. Kamu liat mereka anteng gitu di pelukan Grandma dan Grandpa-nya kan." Ucap Vincent tapi tetap saja Felysia merasa khawatir.
"Tapi Vincent," ragu Felysia untuk menuruti kemauan suaminya itu.
"Ayolah, kapan lagi aku bisa punya waktu full berdua sama kamu sayang. Apalagi kita udah pindah rumah kayak gini. Kamu pasti akan lebih punya waktu banyak sama Baby twins, dan aku juga lebih banyak menghabiskan waktu buat bekerja. Akan sulit untuk kita bisa punya waktu berdua sendiri loh." Ucap Vincent sambil memelas ingin permintaannya di turuti oleh sang istri. Felysia yang suka tidak tegaan pada Vincent, akhirnya memilih untuk menurut saja.
"Ya udah aku ikut kamu, tapi jangan lama-lama ya. Aku nggak mau buat mereka kerepotan nantinya kalo Lio dan Lia nangis." Ucap Felysia yang sama sekali tidak di angguki oleh Vincent, karena pria itu memilih berdiri dari duduknya, dan entah membicarakan apa dengan Theo, sang ayah. Setelah itu barulah ia menarik tangan Felysia untuk ikut bersamanya.
"Kita emang mau ngapain sih ke kamar di jam kayak gini? Ini masih siang loh Vincent." Tanya Felysia saat mereka berdua sedang berada di tangga untuk menuju ke kamar mereka berada.
"Pengen berduaan aja sama kamu, sekalian cobain tempat tidurnya nyaman apa nggak buat kita." Ucap Vincent yang sebenarnya punya maksud terselubung di dalamnya.
"Kok aku kurang percaya ya sama kata-kata kamu. Kamu nggak ada maksud terselubung kan ngajak aku buat ikut kamu ke kamar?" Tanya Felysia yang membuat Vincent langsung terkekeh.
Kini mereka telah berada di lantai atas, setelah menaiki anak tangga.
"Ya ketahuan deh. Tapi aku pengen sekarang Fel, aku udah nahan dari Baby twins lahir sampai sekarang loh. Lagian aku udah tanya ke dokter kapan amannya gitu setelah Baby twins lahir. Dan setelah aku hitung-hitung sekarang udah boleh kok, malah udah kelewat satu minggu juga." Ucap Vincent dengan wajah yang sengaja di buat sememelas mungkin di hadapan sang istri.
__ADS_1
"Astaga, suami aku mesum dan nggak tau malu banget. Sampai di tanya ke dokter lagi astaga." Ucap Felysia merasa tidak habis pikir dengan suaminya itu.
"Ya namanya juga, aku masih normal sayang." Ucap Vincent mencari sebuah pembelaan untuk dirinya.
"Terserah kamu deh." Ucap Felysia yang membuat Vincent langsung tersenyum senang.
"Jadi boleh kan kalo aku minta sekarang? Serius boleh ya, boleh?" Tanya Vincent layaknya anak kecil yang sedang membujuk Ibunya agar mau membeli permen coklat untuknya.
"Iya-iya. Tapi jangan semau kamu aja, ingat ada Baby twins." Peringat Felysia, yang hanya di angguki oleh Vincent.
Cup
"VINCENT!" Teriak kaget Felysia karena setelah Vincent memberikan sebuah kecupan di bibirnya, pria itu langsung menggendongnya untuk masuk ke kamar mereka.
BRAAKK
Pintu kamar mereka tertutup dengan rapat, dan dimana Felysia hanya bisa pasrah pada akhirnya dengan ulah suaminya itu.
Felysia mengelus sayang kepala Vincent yang saat ini sedang tertidur lelap, setelah apa yang pria itu inginkan terkabul. Dan setelah itu, ia mencoba melepaskan tangan Vincent yang memeluknya di dalam selimut, tapi langsung di tahan oleh pria itu yang tiba-tiba membuka matanya yang sayu melihat ke arah sang istri.
"Mau kemana?" Tanya Vincent dengan suara seraknya.
"Mau mandi Vincent. Setelah itu aku harus check keadaan Lio dan Lia di bawa dulu." Ucap Felysia sambil mengusap sayang pipi Vincent, yang membuat pria itu memejamkan matanya karena kenyamanan dari sentuhan telapak tangan dari istrinya itu di wajahnya.
"Ya udah kalo gitu, aku tidur dulu. Nanti aku nyusul sebentar buat ke bawa." Ucap Vincent kini kembali menutup matanya. Felysia hanya bisa tersenyum ketika melihat suaminya kini telah kembali memejamkan matanya.
Cup
__ADS_1
"Sleep tight, my husband." Ucap Felysia setelah memberikan sebuah kecupan yang ia sedikit tahan lama di dahi suaminya itu. Setelah itu ia memilih turun dari atas tempat tidur, dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Selesai membersihkan diri, Felysia yang sempat berpikir akan menggunakan kembali pakaian yang ia pakai tadi, karena koper yang berisi pakaiannya masih berada di dalam bagasi mobil seingat dari Felysia. Tapi Seketika rencananya itu menjadi tidak jadi, karena saat ia melihat ke arah walk in closet, sudah tersusun rapi pakaiannya dan juga Vincent, entah sejak kapan. Pria itu memang bisa sesuka hatinya tanpa berpikir jika ia telah terlalu boros kembali membeli pakaian baru untuk mereka saat pindah rumah seperti ini. Setelah memilih sepasang pakaian santai, Felysia keluar dari dalam ruangan ganti itu dan kini mulai menata rambutnya, sebelum ia turun ke lantai bawa.
Sedangkan di lantai bawa, para orangtua sedang berbicara tentang banyak hal dengan Adelio dan Adelia yang kini telah terlelap dengan di pelukan dari Evans, dan juga Theo sebagai Grandpa dari kedua bayi itu.
"Untung anak-anak mereka ini nggak rewel. Anak kamu memang nggak bisa apa mintanya malam." Ucap Evans yang membuat Theo tertawa pelan, karena takut membangunkan Adelio yang sedang berada di pelukannya itu.
"Ya mau gimana lagi, Vincent udah butuh kehangatan dari istrinya." Ucap Theo yang membuat Ayudia dan juga Sherly hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar jawaban dari Theo itu.
"Oh iya Evans, gimana kerjaan kamu sekarang?" Tanya Deon membuka pembicaraan baru, karena takutnya pembahasan seperti itu akan terus berlanjut dan tiada akhirnya jika kembali ada yang menanggapi.
"Baik Om." Jawab Evans apa adanya. Karena memang pekerjaannya sedang baik-baik saja.
Syukurlah kalo kayak gitu. Kalo ada apa-apa kamu bisa minta bantuan saya atau Theo. Dan kamu bisa minta bantuan ke Vincent juga kalo kamu merasa sungkan kepada kami berdua." Ucap Deon.
"Baik Om, terima kasih untuk kebaikannya." Ucap Evans.
Sementara mereka sedang mengobrol, Felysia tiba-tiba menghampiri mereka.
"Duh, aku minta maaf ya Ayah, Dad. Kalian jadi repot buat jaga Lio dan Lia." Ucap Felysia merasa tidak enak hati ketika melihat kedua anaknya itu sedang berada di tangan ayahnya dan juga ayah mertuanya.
"Udah nggak apa-apa sayang. Lia cucu Ayah, jadi Ayah sama sekali nggak merasa keberatan." Ucap Evans.
"Begitu juga dengan Lio. Lio itu cucu Dad, dan Dad senang karena bisa melihat Lio bisa tidur dengan anteng di gendongan Dad." Ucap Theo ikut menanggapi.
"Udah sayang, kamu nggak usah merasa nggak enak. Yang penting sekarang kan Lio dan Lia sama sekali nggak rewel selama kamu tinggal." Ucap Sherly memberikan ketenangan pada menantunya itu.
__ADS_1
"Benar yang di katakan sama Mom kamu." Ucap Ayudia membenarkan perkataan anak menantunya itu.
Felysia hanya bisa mengangguk sebagai pertanda ia paham. Tidak lupa ia kembali berterima kasih.