
Matahari sudah menampakanya dirinya, hari ini adalah hari minggu biasanya di akhir pekan Larisa selalu menghabiskan akhir pekannya bersama kedua sahabatnya sedangkan Zun tetap bekerja karena selain ia bekerja di perusahaan milik kakeknya Larisa ia juga memiliki lestoran yang bernuansa pedesaan dan menyajikan makanan sunda yang terletak di puncak bogor, karena itu sudah menjadi cita-citanya dari dulu untuk bisa mempunyai lestoran adat sunda. Biasanya di akhir pekan Zun selalu pergi ke lestoran miliknya untuk sekedar membantu karyawannya untuk melayani para pengunjung karena di akhir pekan lestoran itu selalu di penuhi pengunjung. Tapi hari ini dia membawa istrinya untuk pergi ke lestorannya.
Sesampainya di lestoran itu beberapa karyawan menyambut Zun dan Larisa dengan sangat ramah, mereka langsung menuju saung yang berletak di tengah lestoran dan di bawahnya ada kolam ikan dan pemandangan persawahan,
Sesampainya di saung Larisa melihat begitu banyak makanan yang sudah di hidangkan.
" Kenapa sudah ada makanan di atas meja itu apa kamu sudah memesannya terlebih dahulu." tanya Larisa karena memang Larisa tidak mengetahui kalao suaminya itu pemilik lestoran itu.
Zun tidak menjawab pertanyaannya istri ia hanya tersenyum simpul.
"Ini kamu cobain kelapa muda pasti segar." ucap Zun sambil menyodorkan kelapa muda pada istrinya.
Larisa juga menanggapinya dan meminum air kelapa muda itu.
Mereka berdua langsung menyantap makanan yang sudah di hidangkan Larisa memakan dengan lahap karena baru kali ini dia memakan masakan sunda dan ternyata sangat enak. makanan yang di sajikan sudah habis di santap pasangan suami istri itu.
" Kenapa kamu membawa aku ke sini"
" Memangnya salah kalau aku ingin membahagiakan istriku"
" Biasanya kan kamu selalu sibuk dengan urusan mu sendiri walaupun itu hari libur."
" Maafkan aku Risa karena aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku"
" Sudahlah aku memang lebih senang menghabiskan akhir pekanku dengan teman- temanku" jawab Larisa sangat ketus
" Ada yang aku ingin bicarakan padamu." lanjut Larisa.
" Silakan." jawab Zun.
" Aku ingin nanti di satu tahun pernikhan ini kita bercerai. Aku harap kau bisa mengerti dengan keputusanku Zun karena aku tidak pernah sedikitpun mencintaimu." ucap Larisa.
Zun yang mendegar ucapan Larisa sangat terkejut hatinya sangat sakit tak menyangka istrinya begitu sangat tidak mencintai dirinya dan sudah merencamakan perpisahan itu.
__ADS_1
" Kenapa harus ada perpisahan Risa, aku akan terus berusaha membuat kau bisa mencintaiku." ucap Zun.
" Percuma itu hanya akan sia-sia, kau tau aku menerima perjodohan ini karen terpaksa ingin membagiakan kakek dan memenuhi wasiat mendiang orang tua ku. "
Lagi-lagi hati Zun hancur karena ulah istrinya
" Apa kau belum puas menyiksaku atas peraturanmu itu."
" Karena itu Zun aku tak ingin terus menyiksamu dan terus menyakitimu,"
" Beri aku satu alasan kenapa kau belum bisa menerimaku"
" Karena aku mencintai lelaki lain."
" Siapa lelaki itu." tanya Zun tegas
" Romi mantan kekasihku, aku berpacaran denganya selama empat tahun ,lalu di saat kita lulus Romi melanjutkan kuliahnya di Amerika karena keinginan ayahnya dalam satu tahun kami menjalankan hubunga jarak jauh dengan sempurna tapi hubungan kami kandas setelah Romi meninggalkanku begitu saja, dan sekarang Romi sudah kembalai ke tanah air aku ingin menjalin hubungan lagi dengannya karena aku masih mencintainya."
mendengar pernyataan Larisa hati Zun sangat hancur layaknya seperti luka yang di saram air cuka
" Memang seperti apa bertingkah selayaknya seorang istri." tanya Risa.
" Kamu hanya perlu menyiapkan aku makanan menyambutku di saat aku pulang kerja dan bersifat ramah kepadaku, layaknya pasangan suami istri lainnya."
" Ok aku akan mengikuti mau mu."
Jawab Larisa menyetujui perminataan Zun.
Hari semakin sore Zun dan Larisa meninggagalkn Lestoran mereka pulang menuju jakarta, sepajang jalan Zun selalu terngiang ucapan Larisa yang ingin bercerai. Dia tak bisa membayangkan bagaimana nantinya bila sudah berpisah karena Zun sudah terlalu mencintai Larisa tapi Zun mencoba menerima keinginan istrinya itu untuk berpisah walaupun sangat sulit Zun untuk menerimanya.
Sesampainya di rumah mereka langsung memasuki kamarnya masing- masing karena merasa lelah dengan perjalanan tadi.
di dalam kamarnya Zun masih teringat permitaan istrinya itu, setelah Zun membersihkan tubuhnya ia langsung menunaikan Sholat isya dan berdoa kepada penciptanya.
__ADS_1
" Ya allah ya tuhanku jika memang ini sudah garis yang kau tentukan untukku maka buatlah hati ku untuk bisa menerimanya.
apabila perceraian itu harus terjadi maka buatlah aku untuk kuat mejalani kesedirianku tanpa orang yang aku cintai."
Tak di sengaja Larisa mendengar doa yang di ucapkan Zun, karena pintu kamar Zun terbuka, ia ingin menyampaikan pesan dari kakeknya untuk Zun karena ponsel Zun di hubungi tidak aktif, tapi karena ia melihat Zun sedang solat ia memutuskan untuk berdiri di depan pinti .
Ya tuhan apa benar ia begitu mencintaiku batin Larisa berkata, beberapa menit kemudia Zun merasa kalau ada yang memperhatikannya dan menengok kebelakang, benar saja di belakang ada istrinya yang berdiri di depan pintu.
" Risa dari kapan kamu di situ." tanya Zun
" Ohh baru beberapa detik yang lalu, oh iya apa ponselmu mati.? " tanya Larisa,
"tadi Kakek meneleponku bahwa besok kamu di suruh berangkat lebih pagi karena akan kedatangan tamu dari jerman dan kakek minta kau menyiapkan berkas yang akan di bahas untuk meeting besok."
" Oh iya ponselku mati dan sekarang lagi charger terima kasih kau telah memberi tahuku."
" Zun maafkan aku kalau semua perlakuanku selalu membuat kau terluka." ucap Larisa.
" Aku akan melakukan apapun untuk bisa membuatmu bahagia."
" Terima kasih kau bisa mengerti perasaanku Zun" ucap Larisa lalu ia langsung pergi meninggalakan Zun.
kenapa harus aku yang selalu mengerti perasaanmu Risa kenapa kau tidak mau mengerti sedikit perasaanku.
Lalu zun memasuki ruang kerjanya untuk menyiapakan berkas yang ia butuhkan besok untuk meeting.
selesainya ia menyiapaan keperluannya ia membuka folder yang ada di dalam laptopnya yang berisi koleksi foto Larisa yang selalu dia foto diam-diam tanpa sepengetahuan Larisa yang dia ambil menggunakan ponsel pintarnya itu, di folder itu juga Zun menyimpan foto pernikahannya dengan Larisa. Zun langsung mencetak beberapa foto pernikahanya dan foto Larisa untuk di pajang di dinding kamarnya. agar setiap ia bangun tidur ia bisa memandangi foto istrinya dengan puas.
Hai guys maaf baru update lagi karena beberapa hari ada kesibukan yang harus author selesaikan.
saya meminta maaf apabila ada kesalahan kata karena saya juga masih dalam tahan pembelajaran.
jangan lupa like coment dan vote karena akan membuat saya semakin bersemangat untuk selalu up.
__ADS_1
Terimakasih.