
***hay guys autor kembali up nih
Mohon maaf apabila cerita yang author buat tidak menarik karena author sudah berusaha semaksimal mungkin
happy reading guys***
Hari semakin gelap matahari kini tak menampakan lagi dirinya, sanyupan angin yang berhembus membuat cuaca saat malam itu semakin dingin.
Di sudut ruang tunggu duduklah seorang perempuan yang terlihat sangat lelah dengan muka pucat dan mata yang sembab karena tak henti hentinya menangis,
Zun tau betul apa yang di rasa istrinya saat ini, ia mencoba selalu menenangkannya dengan caranya, waktu menunjukan pukul 22.00 mbok Jum yang sedari tadi ikut menunggu di rumah sakit menyarankan kedua majikan untuk pulang beristirahat.
" Nona Risa dan Den Zun lebih baik pulang saja, biar saya dan Pak Rohim yang menunggu Tuan di sini." Ucap mbok Jum.
" Tidak apa apa kalau kalian berdua kami tinggal " Ucap Zun.
" Tidak apa apa den, ini juga sudah menjadi tugas kami. besok pagi den Zun dan nona Larisa bisa datang lagi kerumah sakit." sambung Pak Rohim.
Zun setuju dengan usul Pak Rohim, ia segera menghampiri istrinya yang sedang duduk di sudut ruang tunggu dan mengajaknya pulang untuk beristirahat.
Zun mendudukan dirinya ke bangku kosong yang ada di samping istrinya ia mencoba mengajak istrinya untuk pulang tapi Larisa enggan dengan ajakan suaminya, ia sangat bersi kukuh untuk tetap di rumah sakit dan tidak akan meninggalakn kakeknya.
" Aku tidak mau pulang, kamu pulang saja sendiri" ucap Larisa
" Kamu juga harus jaga kesehatan kamu Risa." ucap Zun.
__ADS_1
" Mana mungkin aku pulang dan beristirahat di rumah sedangkan di sini kakek sedang bertaruh dengan penyakitnya."
Zun memegang tangan lembut tangan istrinya, di genggamnya dan di usap secara perlahan namun tangan Larisa saat ini terasa dingin.
" Risa aku tau kamu ingin selalu ada di samping kakek tapi kamu juga harus memikirkan kesehatanmu, kalau kamu sakit bagaimana bisa kita mencari pendonor ginjal yang cocok untuk kakek."
Larisa yang sedari tadi enggan memandang wajah suaminya dan memilih mengalihkan wajahnya ke arahbdeoan dengan tatapan kosong. tetapi saat mendengar perkataan suaminya ia menoleh kearah laki laki yang berada di sampingnya.
" aku gak mau kehilangan kakek." ucapnya dengan suara rintih dan mata yang berkaca kaca.
Zun tak tega melihat istrinya dengan muka yang lesu dan mata berkaca kaca yang sebentar lagi air matanya sudah tak mampu terbendung, ia segara menyandarkan kepala Larisa ke dalam dada bidang miliknya, kini sudah tidak ada jarak satu sentipun di antara mereka, ia mengusap lembut kepala Larisa dan menciumin rambut istrinya, beberapa detik kemudian ia merasa kemejanya basah dan benar saja lagi lagi istrinya menangis di pelukannya.
Zun memeluk mesra istrinya, ia memberi kehangatan untuk Larisa yang di saksikan oleh mbok Jum dan Pak Rohim tapi Zun sudah tidak merasa canggung dengan hal itu karena ia berpikir yang di peluknya adalah istrinya bukan orang lain.
" Kita pulang sekarang ya, kamu harus istirahat." ucap Zun
" Risa kamu kenapa sayang." Ucap Zun panik
Mbok Jum dan Pak Rohim yang juga melihat kejadian itu ikut panik.
" Pak sepertinya penyakit non Larisa kambuh." ucap mbok Jum karena sewaktu Larisa kecil ia juga ikut mengasuhnya.
" penyakit ? " Zun menoleh ke kebelakang untuk menatap wajah mbok Jum yang berdiri di belakangnya.
" Ia dulu setelah orang tua non Larisa meninggal, dia sering pingsan dan mimisan karena kelelahan dan stres." jawab mbok Jum.
__ADS_1
Tidak berpikir panjang Zun langsung membopong tubuh istrinya menuju instalasi darurat yang berjarak 10 meter dari tempatnya saat ini.
sesampainya di ruangan instalasi darurat ia di sambut oleh beberapa perawat lalu perawat yang bertugas di ruangan itu membantu Zun untuk membaringkan tubuh Larisa di tempat tidur pasien dan segera dokter memeriksa keadaan Lariasa.
Zun yang menunggu di luar ruangan terlihat sangat khawatir dengan keadaan istrinya di dalam, ia mondar mandir di depan pintu riangan itu seperti setrikaan, setelah beberapa menit dokter yang menangani Larisa keluar dari ruangan.
" Dok bagaimana keadaan istri saya." tanya Zun panik.
" Istri bapak hanya kelelahan dan kekurangan cairan, sepertinya ia sangat terpukul dengan ke adaan kakeknya." ucap dokter, karena dokter tersebut juga yang menangani Tuan Waluyo.
" Istri bapak sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat inap, nanti biar perawat kami yang mengurusnya." Sambung dokter itu.
" Syukurlah, saya takut terjadi sesuatu dengan istri saya dok."
dokter yang ada di hadapan Zun tersenyum
" Tidak usah terlalu khawatir pak, " ucap dokter sambil menepuk punggung Zun.
" Saya boleh melihat keadaan istri saya dok"
" Silakan pak"
hay hay hay maaf nih author ga nentu updatenya karena lagi sibuk banget nih.
jangan lupa dukung karya author dengan cara vote dan like ya.....
__ADS_1
Terima kasih .😊