Terpaksa Menerima Perjodohan Ini

Terpaksa Menerima Perjodohan Ini
Lunch


__ADS_3

Matahari telah menampakan dirinya. Pancaran sinar sudah memasuki ke celah celah jendela menerangi ruangan itu.


Larisa membuka matanya secara perlahan dan meregangkan ototnya lalu memulihkan angannya


Ketika sudah mulai tersadar ia melihat ke arah sofa di lihatnya Zun sudah tidak ada di sofa itu tempat dimana Zun semalam tertidur, ia langsung turun dari tempat tidurnya dan mencari keberadaan suaminya di penjuru ruangan itu namun tidak di temukannya.


Lalu ia menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya setelah ia selesai mandi di depan pintu kamar mandi matanya terbelarak melihat foto yang di hiasi bingkai dan di letakan di atas dinding perlahan ia melangkahkan kaki untuk mendekat ke foto itu.


Larisa memandangi dengan seksama dan Ia tersenyum ketika melihat foto pernikahannya di gambar itu terlihat jelas Zun sangat tampan dengan senyum yang sangat semuringah, tak lama ia memandangi foto pernikahannya ia lalu bergegas untuk memakai baju dan merias wajahnya dengan make up yang sederhana, setelah itu ia langsung keluar kamar untuk menemui Bi Ratna.


Dilihatnya Bi Ratna dan suaminya sedang asik mengobrol di ruang keluarga tanpa kehadiran Zun.


" Pagi Paman pagi Bi maaf Risa bangun kesiangan." ucap Risa dengan gugup karena merasa malu.


" Eh kamu sudah bangun sini neng duduk di samping bibi kita ngobrol- ngobrol." ucap bi Ratna sambil menepuk nepuk sofa di sampingnya.


" Maaf Risa bangun kesiangan Bi, Risa sedikit tidak enak badan." jawab Risa dengan seribu alasan.


" Gapapa namanya juga pengantin baru, iya kan pak." jawab Bi Ratna sambil melirik ke suaminya.


Risa yang mendengarnya hanya bersenyum simpul.


" Menikah sudah lima bulan masih aja di bilang penganntin baru" .gerutu Risa dalam hatinya.


" Zun tadi berangkat ke kantor pagi sekali neng sampai ga sarapan, buru buru katanya." ucap Bi Ratna.


" Masa si bi, biasanya dia selalu menyempatkan untuk sarapan" jawab Larisa


" Iya tadi dia bilang lagi banyak kerjaan di kantor makanya dia buru buru." ucap pamannya.


" Kamu tidak kuliah Risa." sambung pamannya.


" Tidak paman, hari tidak ada jadwal kuliah." jawab Risa


Paman hanya menganggukan kepalanya


" Oh iya bagaimana kalau sekarang kita masak untuk makan siang lalu kamu antarkan untuk Zun." ucap Bi Ratna yang memberi ide.


" Ta..tapi Bi, Risa ga terlalu pintar memasak." jawab Larisa dengan gugup karena malu


" Nanti Bibi ajarin neng." ucap Bi Ratna.


" Beneran Bi mau ajarin Risa."


" Iya atuh masa Bibi ngebohong, ya udah ayo kita masak sekarang."


Risa dan Bi Ratna bergegas ke dapur untuk memasak, setelah memasuki dapur dan melihat isi kulkas Risa bingung hari ini apa saja yang akan di masak.


" Bi kita mau masak apa, di kulkas cuma ada sayuran, ayam, udang daannnn pe.. petai ." ucap Risa bertanya ke Bi Ratna sambil merasa aneh di kulkasnya ada petai padahal ia tak pernah menyuruh bi inah untuk membeli petai


Ini pete dari mana ya, perasaan aku ga pernah nyuruh bi inah beli pete, atau Zun yang menyuruh Bi Inah, ahhh tidak mungkin masa Zun suka makan petai


Risa masih bertanya tanya pada dirinya sendiri karena bingung melihat petai sebanyak itu ada di kulkas


.


" hmmmmm.. Kita masak sambel goreng udang campur petai" jawab Bi Ratna.


"Bibi kemarin bawa dari bandung kebetulan pohon petai di belakang rumah sedang berbuah." sambung Bi Ratna menjelaskan berasal dari mana petai itu karena malihat wajah Larisa yang sedikit kebingungan melihat petai yang jumlahnya lumayan banyak.

__ADS_1


" Ohhhhh." Ucap Risa sambil menganggukan kepala.


Risa mulai belajar masak dari Bi Ratna ia memperhatikan Bi Ratna memasak dengan sesekali ia juga menumis bumbu yang sudah di siapkan.


Bi Ratna sangat telaten mengajarkan Risa memasak sambil memasak ia juga menceritakan kisah Zun semasa kecil


" Zun itu ya neng suka banget sama yang namanya petai."


" Masa si Bi? Risa ga pernah lihat Zun makan petai."


" Hahaha Zun itu ya kalau udah makan sama petai bisa sampai tiga piring dia makannya."


Bi Ratna terus memceritakan masa kecil Zun kepada Risa, mereka mengobrol sampai selesai masak.


Waktu sudah menunjukan pukul 11.00 masakan yang di masak Risa dan Bi Ratna sudah siap di hidangkan Risa juga menyiapkan makanan untuk Zun dan kakeknya di kantor. Ia memesan taksi online untuk pergi ke tempat kerja Zun, sebelumnya ia tidak memberi kabar kepada Zun untuk mengantarkan makanan dan ini juga pertama kalinya ia mengantarkan makanan untuk suaminya.


Sesampainya di perusahaan ia langsung memasuki ruangan milik kakeknya karena memang Risa sering berkunjung ke perusahaan kakeknya,


Tapi di saat ia memasuki ruangan milik kakeknya terlihat kosong tak ada satu orangpun lalu ia kembali keluar dan akan menuju keruangan sebelah yaitu ruangan Zun. Namun di saat Larisa akan memasuki ruangan itu ia di cegah oleh seorang perempuan cantik dan semampai perempuan itu adalah karyawan baru yang bekerja di perusahaan itu dan menjabat sebagai sekertaris Zun.


" Maaf kamu siapa, kamu tidak boleh masuk sembarangan ke ruangan ini." ucap sekertaris Zun.


" Memangnya kenapa saya tidak boleh masuk" jawab Larisa sedikit dengan nada tinggi.


" Ini ruangan atasan saya kamu tidak boleh masuk sembarangan." jawab sekertaris itu


Tapi Larisa tidak menggubris perkataan perempuan yang ada di depannya ia memaksa akan masuk keruangan Zun.


Namun perempuan itu menarik tangan Larisa sehingga Larisa terjatuh.


Zun yang mendengar kebisingan dari dalam ruangannya langsung keluar dan melihat Larisa sudah jatuh di lantai.


" Risa, kamu gapapa." ucap Zun langsung bergegas membantu istrinya untuk bangun.


" Dia santi sekertaris baru disini." Jawab Zun.


" Kenapa kamu mendorong istriku sampai terjatuh." tanya Zun dengan tegas


Santi yang mendengar perkataan itu sangat terkejut ia tidak mengetahui bahwa perempuan yang ia dorong adalah istri dari atasannya karna di pikiran santi bahwa atasannya itu belum menikah dan ia ingin memacarinya.


" Maaf pak saya tidak mengetahui kalau itu istri bapa." ucap Santi sambil tertunduk.


" Maaf maaf sakit tau, tuh lihat jadi berantakan semuanya, untung saja makanannya tidak tumpah ."ucap Larisa dengan kesal.


Zun melihat ada paper bag yang di dalamnya ada beberapa tempat makan sudah berserakan di lantai.


" Sudah sudah ayo kita masuk keruangan ku, " ucap Zun sambil mengajak istrinya untuk masuk keruangannya .


" Lain kali kalau ada orang yang mau bertemu dengan saya tolong kamu lebih sopan, saya tidak mau kejadian seperti ini terulang." ucap Zun dengan tegas.


" Maaf pak habisnya tadi istri bapak memaksa masuk keruangan bapak." jelas sekertarisnya.


Tapi Zun tidak menggubris penjelasan dari sekertarisnya ia langsung memasuki ruangannya.


Di dalam ruang kerjanya ia melihat Larisa sudah menduduki sofa yang berada di sudur ruangan itu dengan muka kesal, ia langsung mendekati istrinya dan duduk di sampingnya.


" Jangan cemberut mulu nanti cantiknya hilang loh." Goda Zun kepada istrinya.


" Apaan si ga lucu." jawab Risa ketus.

__ADS_1


" Ada perlu apa kamu kesini, tidak biasanya." ucap Zun.


" Kakek kemana" Tanya Larisa mengalihkn pembicaraan.


" Kakek sedang rapat di luar dengan para pemegang saham, lalu aku di tugaskan di kantor untuk menyambut tamu investor yang akan datang dari malaysia." ucap Zun.


" Ohhhh." jawab Larisa sambil menganggukan kepalanya ke atas dan kebawah.


" Apa yang kamu bawa.?" tanya Zun sambil melihat paperbag yang ada di atas meja.


" Aku membawa makan siang untuk mu dan kakek tadi aku masak sama Bi Ratna di rumah, Kata paman tadi kamu berangkat pagi sekali dan tidak sempat sarapan jadi Bi Ratna berinisiatif mengajarkan ku masak dan menyuruh ku untuk membawakan makan siang untukmu dan kakek." kata Larisa.


" Maaf sebelumnya aku tidak memberi tahu kalu aku pergi kerja lebih awal, lagi pula tadi pagi kamu masih tidur jadi aku ga tega untuk membangunkanmu." Jawab Zun.


" Hmmmm, sudah sana kamu makan nanti keburu dingin makanannya." perintah Larisa.


" Sebanyak ini aku harus habiskan semuanya.?" tanya Zun sambil melihat makanan apa yang di bawa istrinya.


Ia terkejut karena Larisa membawakan makanan kesukaannya ia tersenyum dan melirik istrinya.


" Kamu tau makanan kesukaanku.?" tanya Zun sambil mendekati wajahnya ke wajah Larisa sehingga hanya berjarak lima senti.


" Iiiihh jangan dekat dekat." ia mendorong Zun dengan pelan agar tidak terlalu dekat dengan wajahnya " Bi Ratna yang memberi tau kalau ini makanan kesukaan mu." ucap Larisa


" sudah sana kamu habiskan." sambung Larisa.


" sebanyak ini aku makan sendirian." tanya Zun.


" Kata Bi Ratna kamu kalau makan pakai petai bisa sampai tiga piring maka dari itu aku bawa banyak lagi pula aku juga membawakan untuk kakek tapi kakek malah lagi di luar." jelas Larisa.


" Ya sudah kita makan berdua saja." ajak Zun.


" aku tidak lapar kamu saja yang makan." tolak Larisa


" Yakin kamu tidak mau makan bersamaku ini kelihatannya enak loh." jawab Zun.


Risa menggelengkan kepalanya. Zun sudah memakan masakan yang di bawa istrinya ia memakan sangat lahap.


Risa yang melihat Zun memakan sangat lahap mulai tergiur beberapa kali ia menelan salifahnya karena melihat suaminya makan.


" Enak??" Tanya Larisa.


" Banget, kamu mau? " sambil mengarakan makanan ke mulut istrinya.


Larisa menganggukan kepalanya ia membuka mulutnya dan Zun langsung menyuapi istrinya


" Enakan." ucap Zun.


Risa menganggukan kepalanya dan Zun tersenyum


" Mau lagi, tapi jangan kamu kasih petainya " rengek Larisa


" Memang kenapa enak tau." ucap Zun sambil memperlihatkan di depan istrinya ia memakan petai.


" Ih gamau nanti mulutku bau." jawab Larisa.


" Nanti tinggal gosok gigi kumur kumur pakai obat kumur lalu makan permen mint pasti hilang baunya."


" Pokoknya aku gamau makan petai," kata Larisa

__ADS_1


Zun tersenyum dan menyuapi lagi makanan kepada istrinya.


Ia memakan masakan itu berdua dan sampai habis Larisa di suapi oleh Zun.


__ADS_2