Terpaksa Menerima Perjodohan Ini

Terpaksa Menerima Perjodohan Ini
Hari Pernikahan Part 1


__ADS_3

Satu hari sebelum hari pernikahan Zun banyak berdiam diri di kamar untuk menyakinkan dirinya dan menenangi hatinya yang saat waktu itu hati Zun berdebar sangat kencang apabila mengingat pernikahannya yang akan di selanggarakan besok.


Tak peduli dengan keadaan rumah Zun yang sudah ramai dengan kedatangan Bibi dan pamannya dan beberapa saudaranya yang datang dari Bandung .


Beberapa saudara Zun membantu untuk menyiapkan seserahan yang akan di bawa besok untuk Larisa.


Waktu menunjukan pukul 21.00 setelah solat isya Zun duduk menyendiri di balkon kamarnya sambil memandangi langit yang malam itu muncul dua bintang,


Di tangan Zun sudah ada kotak berbentuk hati yang di dalamnya ada sepasang cincin mas putih dengan di padukan beberapa batu berlian yang sangat indah, kali ini cicin itu lebih bagus dari cincin waktu Zun memberikan pada Larisa pada saat Zun melamarnya. Sesekali Zun membuka kotak itu dan memandangi sepasang cincin yang ada di dalamnya.


Di dalam hati Zun selalu bertanya dengan sendirinya.


Apa aku mampu menjadi imam mu


Apa aku bisa membuatmu jatuh cinta padaku


Apa aku bisa menjagamu Larisa.


Tok..tok..tok. terdengar suara dari luar kamar, Zun segera membukanya dan di lihat ternyata pamannya yang mengetuk pintu kamarnya itu.


" Ada apa paman?" tanya Zun


"Kamu belum tidur Zun, boleh paman masuk ke kamarmu.?" tanyak balik pamanya


" Silakan paman,"


sambil mempersilakan pamannya untuk masuk.


Mereka duduk di balkon kamar milik Zun.


" Udara Jakarta lumayan panas ya." paman basa basi sebelum menuju topik pembicaraan .


"Ya begini lah Jakarta, beda dengan di bandung yang udaranya sejuk." jelas Zun


" Sudah malam apa kamu belum ngantuk, besok kan hari pernikahanmu kamu harus bangun lebih pagi."


" Zun belum bisa tidur paman." ungkap Zun pada pamannya


" Kenapa.,? Kamu memikirkan calon istrimu." Karena saat itu paman sudah mengetahui bahwa pernikahan Zun dan Larisa atas dasar perjodohan dan Larisa belum bisa mencintai Zun.


" Iya paman, Zun takut tidak bisa menjadi imam yang baik untuk dia, Zun takut pernikahan ini hanya seumur jagung, Zun takut Larisa tidak bisa mencintai Zun. " Mengungkapkan yang ada di dalam hatinya pada paman.


" Bismilah, Jika Tuhan sudah menakdirkan Kamu dengan Larisa bagaimanapun caranya kalian berdua pasti akan di satukan."


" Tapi paman." Sebelum melanjutkan perkataannya sudah terpotong lebih dulu oleh pamannya

__ADS_1


" Zun yang penting kamu selalu berusaha jadi yang terbaik buat Larisa, jangan pernah menyakiti hatinya apalagi membuat dia menangis karna ulahmu yang membuat dia sedih, tuntun Larisa ke jalan yang benar, suatu saat nanti pasti Larisa akan bisa menerima mu dan mencintaimu ." sedikit wejangan yang di berikan paman.


" terimakasih atas nasehatnya paman, insya allah Zun akan selalu berusaha jadi yang terbaik buat Larisa."


" Sudah malam sana tidur jangan sampai besok kesingan bangunnya." perintah pamannya


" Iya paman" Zun menganggukan kepalanya.


" Ya sudah paman juga mau tidur sudah ngantuk." Sambil membuka pintu kamar Zun lalu di tutupnya kembali.


Di saat sedang menuruni anak tangga batin paman berbicara.


Kasihan kamu Zun dulu kamu harus menerima kenyataan pada saat bapa ibumu meninggal, sekarang juga kamu harus menerima kenyataan lagi perempuan yang nanti akan kamu nikahi tidak mencintaimu paman cuma bisa mendoakan yang terbaik buatmu.


..................


Sementara di kediaman Larisa banyak pekerja yang sedang menghias rumahnya untuk acara siraman dan Ijabkobul akan di selenggarakan di rumah sedangkan pesta di selenggarakan di gedung jam tujuh malam.


Kakek saat itu sudah sibuk menyambut tamu yang sudah berdatangan untuk memberi selamat ke Larisa dan menyaksikan acara siraman yang di pandu oleh team wedding organazier.


Larisa terlihat sangat cantik pada saat acara siraman, pada saat itu Kake dan orang yang di tuakan ikute serta untuk menyirami tubuh Larisa menggunakan Air yang sudah di campuri bunga Melati.


Setelah siraman masih ada beberapa acara adat yang harus Larisa ikuti dan membuat Larisa lumayan lelah.


Setelah acara selesai Larisa lebih dulu masuk kedalam kamar di temani kedua temannya Dewi dan Shinta.


" Sa udah dong jangan nangis orang tua lo juga pasti bahagia ko ngeliat lo nikah sama Zun." ungkap Shinta sambil menghapus air mata Larisa di pipinya.


" Iya Sa, bener kata Shinta orang tua lo pasti bahagia, lo udah ngelakuin yang terbaik ko Sa udah ngejalanin wasiat orang tua lo." tambah Dewi.


" Tapi gue ga cinta sama Zun, gak kebayang nanti kalo gue tinggal satu atap sama orang yang gak gue suka dalam ikatan pernikahan."


" Acara pernikahan lo tinggal menghitung jam Sa, masa lo mau ngebatalin acaranya, yang ada kakek murka banget sama lo," ungkap Dewi.


" Iya sa, lagi pula Zun baik banget sama lo, walaupun lo sering bikin dia kesel tetep aja kan dia baik sama lo, suatu saat pasti nanti lo bisa nerima Zun,"


Larisa hanya terdiam mendengar perkataan temannya tapi air mata masih memenuhi pipinya.


...............


Hari pernikahan tiba Mbak Priska yang akan merias wajah Larisa sudah datang dari pagi Dewi dan Shinta juga ikut di dandani oleh asistent Mbak Priska.


Di saat Larisa sedang di dandani oleh Mbak Priska tak henti- hentinya air mata Larisa terus mengalir.


" Sa, udah dong jangan nangis mulu , nanti make upnya luntur loh kan jadi ga bagus." ucap Mbak Priska.

__ADS_1


" Iya Mbak maaf, Risa cuma ga bisa nahan rasa gugup pas ijab kobul nanti," jawab Larisa sambil menutupi masalahnya.


" Wajar sa, Orang yang mau menikah pasti ngerasain apa yang kamu juga rasain, seneng, sedih, haru pokoknya campur aduk lah. Mbak juga dulu gitu ," jawab Mbak Priska


Setelah Larisa di rias, kakek mengetuk pintu kamar Larisa dan masuk kedalam membuat Mbak Priska, Dewi dan Shinta meninggalkan Larisa di kamar hanya berdua dengan kakeknya, karena mereka tau bahwa kakek bicara empat mata dengan Larisa.


Kakek duduk di samping Larisa yang saat itu sedang duduk di depan meja riasnya.


" Cucu kakek sangat cantik ya."


ucap kakek yang melihat Larisa menggunakan kebaya putih dan memakai mahkota siger yang ada di kepalanya khas adat sunda .


" Larisa sudah menuruti kata Kakek, tapi jujur sampai saat ini Larisa belum bisa mencintai Zun kek" ungkap Larisa


" Suatu saat kamu pasti bisa menerima dan mencintai Zun, karena menurut kakek hanya Zun yang pantas untuk kamu, apabila waktu itu kakek tidak menemukan orang yang di maksud orang tuamu kakek akan tetap menjodohkan kamu dengan dia." ucap kakek mengungkapnya yang ada di dalam hatinya.


Waktu menunjukan pukul 10.00 Zun dan keluarganya sudah berada di kediaman Larisa dan penghulu juga sudah datang,


Larisa pada hari itu terlihat cantik mengenakan kebaya berwarna putih dan siger kepalanya dengan tema adat sunda modern menuruni anak tangga secara perlahan dan di ikuti kedua temannya yang saat itu seolah- olah menjadi dayang dayang Larisa.


Lagi-lagi Zun terpanah melihat keanggunan Larisa yang membuat jantungnya berdebar semakin kencang Larisa menghampiri Zun lalu duduk di sampingnya, Setelah itu Mbok Jum yang sudah di anggap seperti keluarga memakaikan selendang putih di kepala Zun dan Larisa,


Lalu Zun memegang erat tangan kakek yang saat itu bertugas menikahkan Larisa cucu kandungnya karena ayah Larisa yang juga anak kandung dari kakek sudah meninggalkanya lebih dulu,


Acara ijab kabol akan di mulai kakek secara tidak sadar meneteskan air mata saat menggenggam erat tangan Zun dan mulai mengucapkan ijab yang di pandu oleh penghulu yang ada di samping kakek.


Saya terima nikah dan kawinnya Larisa Hertanto binti abapak Wahyu Hertanto Almarhum dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan perhiasan emas di bayar tunai


Dengan satu tarikan nafas Zun mampu mengucapkan ijab kobul di hadapan penghulu dan wali dari Larisa dan semua saksi berkata SAH..


Di hari itu Zun dan Larisa udah sah menjadi sepasang suami istri, Zun memandangi wajah istrinya yang cantik itu dengan penuh cinta lalu Zun menyematkan cincin di jari manis Larisa dan sebaliknya Larisa juga menyematkan cincin di jari manis Zun lalu Larisa mencium punggung tangan suaminya itu .


Tamu yang bereda di ruangan itu ikut senang dan mendoakan Larisa dan Zun untuk bisa menjadi suami istri yang sakinah mawadah warahma.


Setelah ijab kobul selesai Zun dan Larisa bersungkean dengan paman bibi dan kakek yang mereka anggap sebagai orang tua pengganti karena mereka sudah tidak mempunyai orang tua.


Di saat Larisa sungkem di hadapan kakek air mata kakek semakin deras menjatuhi pipinya di ikuti oleh Larisa yang juga ikut menangis dan berkata..


" Terima kasih kek, sudah mau merawat Risa dari kecil maafkan Risa suka membantah perkataan kakek"


Kakek hanya mengangguk kepalanya dan memeluk cucu kesayangannya itu, lalu di lanjut dengan Zun yang juga sungkem dengan kakek ,


Kakek membisiki telinga Zun dengan pelan


" Titip Risa jangan membuat Risa bersedih" ucap kakek, seolah - olah kata- kata itu menjadi pedoman untuk Zun

__ADS_1


Zun dan Larisa di banjiri dengan kata selamat oleh tamu tidak terkecuali dengan kedua sahabatnya yang ikut menjatuhkan air mata melihat Larisa menikah.


__ADS_2