
Setelah acara lamaran itu berlangsung Larisa selalu mengurung dirinya di kamar, tak bnyak kata kata yang di ucapkan dari mulut Larisa dia menjadi pendiam di rumah bahkan untuk berbicara dengan kakek hanya seperlunya saja.
Hari pernikahan Larisa dan Zun akan di selenggarakan satu bulan lagi banyak yang harus di persiapkan untuk menyambut acara tersebut, tapi tak seperti calon pengantin perempuan pada umumnya yang menjadi orang nomer satu untuk mempersiapkan hari bahagianya itu,
Larisa tampaknya tidak tertarik untuk mempersiapkan semuanya hanya mempercayai semuanya dengan Zun.
Tiba saatnya untuk viting baju pengantin, Zun yang sangat perhatian terhadap Larisa menjemput calon istrinya dan pergi bersama untuk mendatangi kantor wedding organazier yang sudah dia pilih.
Setibanya di sana sudah di persiapkan beberapa baju pengantin yang harus Risa pilih untuk di acara pernikahannya, baju baju itu terlihat sangat indah dan elegan yang di hiasi dengan beberapa mute-mute yang cantik tapi lebih kelihatan simple.
Soal memilih baju pengantin Larisa sedikit lebih teliti karena memang dia sangat memperhatikan penampilan dan tidak mau terlihat jelek jika dipandang orang lain,
Dua jam berlalu Zun terasa sangat bosan menunggu calon istrinya memilih baju dan setelanjutnya giliran Zun yang memilih baju tapi tidak luput dari penilaian Larisa.
Zun yang keluar dari ruang ganti dan memakai jaz yang di pilih Larisa terlihat begitu gagah.
“ Gimana menurutmu dengan jaz yang ini" tanya Zun pada Larisa
Larisa memutari tubuh Zun dan menggelengkan kepala menandakan jaz itu tidak cocok apabila di pakai olehnya
“ini sudah jass yang ke lima Larisa kenapa masih kau bilang tidak pantas di pakai olehku" protes Zun.
“ Ya memang tidak pantas di pakai oleh mu. sudah jangan banyak bicara ganti lagi dengan jaz yang lain”.
“ sepertinya tadi di saat kamu yang mencoba baju pengantin aku tidak banyak protes sepertimu.”
Zun yang sudah mulai kesal dengan Larisa mencona sabar dan tetap menuruti kemauan calon istrinya.
“ Ya karna memang sudah takdirnya aku cantik dan pantas untuk memakai baju apapun .." saut Risa dengan percaya diri.
“hhhhhhhhuuuuhhhhhhh” desahan nafas Zun yang kelihat sudah mulai kesal.
Larisa tersenyum karena merasa sedikit puas melihat Zun kesal
Ternyata dia bisa marah juga ya, aku pikir dia orang yang tidak bisa marah.
Sepuluh menit kemudian Zun keluar dari ruang ganti seketika mata Larisa terpanah melihat perawakan Zun yang terlihat begitu gagah mengenakan jaz yang dia pakai,
Jantung Larisa berdebug kencang sehingga dia hampir salah tingkah di depan Zun tapi tetap saja Larisa menunjukan sikap cuek dan seolah tidak peduli dengan Zun.
Astaga pemandangan apa ini kenapa dia terlihat sangat gagah
“ kalau yang ini gimana? " tanya Zun,
__ADS_1
Tapi Risa ridak menggubrisnya karna masih memandangi Zun yang begitu gagah.
“ heyyyy Larisa kau mendengar ku kan“
.
“ Ok lumayan bagus “ setelah beberapa detik dia menjawab dengan ketus untuk menutupi kekagumannya terhadap Zun.
..............................
Empat jam berlalu waktu menunjukan pukul 13.30 mereka bergegas pergi dari tempat itu dan telah memilih dua baju pengantin yaitu kebaya putih dengan memadukan adat sunda yang akan mearka pakai untuk akad nikah dan satu lagi gaun pengantin yang bertema internasional..
Setelah selesai viting baju pengantin mereka berencana untung mensurvei gedung yang akan di gunakan untuk menyelengarakan acara pernikahan mereka, tetapi sebelumnya mereka mampir ke suatu lesteroran untuk makan siang dan lagi lagi Zun memesankan makanan kesukaan Larisa nasi goreng seafood tanpa dia pinta.
Larisa dan Zun menyantap nikmat makanan yang mereka pesan.
“ ada berapa orang teman mu yang akan di undang pada pernikahan kita nanti?" taya Zun pada Risa
“ tidak banyak mungkin hanya dua puluh orang termasuk Shinta dan Dewi".
Risa menjawab tanpa melihat wajah Zun sedikitpun.
Setelah menghabiskan makan siang mereka bergegas untuk mensurvei gedung dengan menumpangin mobil milik Zun yang melaju dengan kecepatan normal.
Larisa memilih duduk di belakang, tanpa ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka berdua karena Zun yang fokus menyetir mobilnya dan Larisa asik dengan ponselnya karena sedang membaca E-comic kesukaannya.
Sampailah mereka di lokasi, Larisa dan Zun melihat lihat gedung yang nantinya akan di jadikan tempat pernikahan mereka di pandu oleh staff yang bekerja di sana,
tidak memakan waktu lama untuk mereka mensurvei gedung itu karena Larisa merasa cocok dengan gedung yang di pilih Zun karena tempatnya strategis dan sesuai dengan keinginan Larisa.
walaupun hampir semua persiapan pernikahan yang menyiapkan adalah Zun tapi Zun selalu minta pendapat Larisa karna Zun khawatir apabila nanti Larisa tidak menyukainya.
Di saat Larisa dan Zun berjalan untuk menuju mobil Zun yang ada di parkiran tiba tiba ponsel milik Zun berbunyi ada panggilan masuk dari klien dan menghentikan langkah Zun, dan dia menghentikan jalannya untuk mengangkat telfon dari klientnya itu.
Larisa mengetahui bahwa Zun berhenti berjalan untuk mengangkat telfonyan,
Larisa terus berjalan di depannya, tiba tiba hak sepatu yang di sedang gunakan Larisa patah dan membuat Larisa tidak bisa mengimbangi badannya dan membuat dia jatuh dan menyebabkan kaki Larisa terkilir
" brug.aaaaaa.... Larisa berteriak saat dirinya jatuh karna patahnya hak sepatu miliknya.
Sekita Zun langsung melihat dan berlari ke arah Larisa yang sudah terjatuh dan merintih kesakitan.
" kamu kenapa Risa"
__ADS_1
" pake tanya lagi ga lihat kalau aku jatuh" sambil meringis kesakitan dan memegang pergelangan kakinya.
Karena tidak tega melihat calon istrinya kesakitan Zun langsung membopong Larisa untuk menuju mobilnya dan ingin membawanya pulang.
" ehhhh... Apaan si turunin aku masih bisa berjalan sendiri..."
triak Larisa sambil memukuli pundak Zun.
Lalu Zun menuruni Larisa dan apa yang terjadi Larisa jatuh lagi di saat dia mencoba untuk berdiri.
" Tuh kan ga bisa jalan, Sudahlah menurut saja pada ku". gumam Zun pada Larisa
Zun langsung menggendong lagi Larisa menuju mobilnya tapi saat ini Larisa tidak banyak bicara dan menuruti perkataan Zun.
Mobil Zun memasuki garasi rumah Larisa, Zun bergegas turun dari mobil lalu membuka pintu belakang mobilnya untuk menuruni Larisa lalu menggendongnya lagi menuju ruang tamu.
Sesampainya ruang tamu di sambut oleh kakek yang kebingungan karna melihat cucunya di gendong Zun yang merintih kesakitan.
" Lohh.... Zun ada apa ini kenapa Larisa"
tanya kakek sambil kebingungan.
" aku jatuh kek,,,,, hak sepatu yang Risa pakai patah.." jawab Larisa sambil meringis kesakitan dan masih dalam gendongan Zun.
" kek apakah ada minyak gosok.." tanya Zun sambil menurunkan Larisa di sofa dengan hati hati.
" Ada...Mbokkk Jum tolong ambilkan minyak gosok di kotak obat" ,perintah kakek kepada mbok Jum..
Tak lama mbok Jum tiba dan membawa minyak gosok dan langsung di berikan kepada Zun.
"Ehhhhh mau apa kamu"
Teriak Larisa yang melihat Zun sudah memegang kakinya .
" Diam saja dan tahan sakitnya sebentar aku akan memijat kaki mu agar tidak terkilir lagi", kata Zun
Larisa menuruti perkataan Zun dan tidak banyak bicara tapi dia meringis kesakitan.
Di saat Zun sedang memijat kaki mulus Larisa diam diam dia memandangi Zun karena dia sadar ternyata calon suaminya itu begitu tampan dan baik, walaupun Larisa selalu kasar, cuek dan membuat Zun kesal tapi sama sekali Zun tidak pernah marah dengan dirinya, Larisa semakin kagum dengan laki laki yang sedang memijit kakinya itu.
Tuhan kenapa dia terlihat begitu sempurna di mataku
Kakek mengetahui di saat Larisa memandangi Zun diam diam kake tersenyum karna melihat cucunya mulai bisa menerima Zun sebagai calon suami yang di pilihkan olehnya.
__ADS_1