
****hay guys autor kembali up nih
Mohon maaf apabila cerita yang author buat tidak menarik karena author sudah berusaha semaksimal mungkin
happy reading guys**
.
Matahari sudah tidak menampakan dirinya di gantikan oleh senja yang sangat indah dan di temani dengan desiran angin yang cukup sejuk pada sore itu.
Zun pulang dengan keadaan gembira karena hari ini ia bisa menyelesaikan meetingnya dengan investor dari turky dan investor itu menanamkan lima puluh persen sahamnya ke perusahaan yang sekarang ia kelolah berasama kakek Larisa.
Hari ini juga Zun mendapatkan beberapa sanjungan dari beberapa anggota teamnya dan terutama sanjungan dari kakek mertuanya itu.
Namun kebahagiaan itu seolah pergi dan berganti dengan ke khawatiran ketika Zun sampai di rumah ia mendapatkan informasi dari Bi Ratna bahwa istrinya belum pulang sedari tadi setelah mengantarkan makanan untuk Zun.
Hati Zun semakin cemas karena ponsel Larisa tidak bisa di hubungi lalu Zun mencoba menghubungi Shinta dan Dewi sahabat dari istrinya itu namun mereka juga tidak mengetahui keberadaan Larisa, Zun juga menelfon kerumah kakek mertuanya ia menanyakan keberadaan Larisa kepada Mbok Jum tetapi Mbok Jum juga tidak mengetahui keberadaan Larisa, namun sebelumnya ia memohon kepada Mbok Jum untuk tidak memberi tau masalah ini kepada kakek mertuanya itu karena Zun takut kakeknya juga ikut khawatir.
Seketika Zun berfikir untuk melapor kepada polisi untuk mencari Larisa dengan laporan orang hilang tapi ia mengurungkan niatnya karena ia ingat kalau melapor polisi dengan laporan orang hilang harus menunggu dua puluh empat jam baru bisa melapor.
Bi Ratna juga menghawatirkan Larisa tapi lagi lagi Zun terpaksa berbohong untuk menenangkan hati bibinya itu, ia beralasan bahwa Larisa meminta Izin kepadanya untuk pergi kerumah sahabatnya untuk membahas tugas dari kampus
Waktu telah menunjukan pukul 21.00 terdengar ada suara yang membuka pintu depan Zun yang sedang berada di ruang keluarga langsung menuju ke pintu depan ia berharapa bahwa itu adalah Larisa, dan benar saja kalau itu adalah istrinya Zun sedikit lega karena istrinya sudah pulang dengan keadaan selamat.
Ketika membuka pintu Larisa langsung terkejut karena melihat sosok Zun yang sudah berdiri di depannya dengan melipat tangan di atas dada tetapi mereka tidak mengeluarkan satu katapun mereka hanya bertatapan, karena bagi Zun ia akan membiarkan istrinya untuk membersihkan badannya terlebih dahulu baru nanti ia akan meminta penjelasan dari Larisa.
Larisa langsung naik ke lantai atas tapi di pertengahan anak tangga ia ingat bahwa saat ini ia masih satu kamar dengan Zun, ia membalikan badan dan menuruni anak tangga, Zun yang berada di bawah hanya memperhatikan tingkah istrinya lalu ketika Larisa sudah masuk ke dalam kamar beberapa menit kemudian ia juga memasuki kamarnya ia mengetuk pintu, padahal itu adalah kamarnya sendiri, ia langsung masuk dan melihat istrinya sedang berbaring di atas tempat tidur.
" Apa kamu sangat lelah hari ini.? Tanya Zun sedikit basa basi.
" Ya lumayan." jawab Larisa dengan sntai seolah olah tak ada permasalahan.
__ADS_1
" Setelah kamu mengantarkan makan siang untuk ku, kamu pergi kemana." Tanya Zun.
" A a aku pergi ke toko buku." jawab Larisa gugup dan berbohong pada suaminya
" Jangan pernah kamu bohong padaku Risa."
" Aku ga bohong, seterah kamu mau percaya atau tidak."
" Dengan siapa kamu pergi ke toko buku."
" Ya dengan Shinta dan Dewi lah, dengan siapa lagi kalau bukan mereka." lagi lagi Risa beralasan.
" Lagi lagi kamu berbohobg Risa " kali ini Zun sedikit meninggikan nada suaranya
" Aku tidak berbohong Zun, aku bilang tidak ya tidak." Larisa juga sedikit meninggikan nada suaranya.
" Hey jangan kamu kira aku bodoh Risa, Shinta hari ini sedang di luar kota sedangkan Dewi sedang menemi adiknya yang sakit." Ucap Zun
" Ka kamu tau dari mana kalau Shinta sedang di luar kota dan Dewi menemani adiknya " ucap Larisa sedikit gugup.
Karena pada dasarnya Zun juga manusia biasa yang mempunyai batas kesabaran dan hari ini batas kesabarannya meluap karena terlalu sering di bohongi dan di sakiti hatinya oleh Larisa.
" Kamu pergi bersama laki laki itu kan , kamu pergi dengan Romi mantan pacarmu kan." Zun melontarkan pertanyaan Larisa karena sedari tadi Zun sudah mempunyai filing kalau istrinya pasti pergi bersama manta pacarnya.
Risa yang mendengar pertanyaan Zun sekita kaget karena ia bingung dari mana suaminya tau kalau ia telh pergi bersama Romi.
" Ya... Ya aku pergi dengan Romi mantan pacarku, memangnya kenapa, aku mencintai dia."
Seketika ucapan Larisa sangat menusuk hati Zun .
"Apa kamu tak ingat kalau sekarang kamu sudah menjadi istriku sudah menjadi milikku, Apa kata orang jika nanti mereka melihat kamu pergi dengan laki laki lain tolong jaga nama baik saya dan nama baik keluargamu Risa." Ucap Zun dengan sedikit memohon.
__ADS_1
" aku tak peduli dengan perkataan orang lain, dan aku tak pernah lupa kalau aku sudah menjadi seorang istri, kamu memang sudah memiliki ku tapi tidak dengan hati ku,"
" Kerena sedikitpun aku tidak pernah mencintaimu dan aku menikah denganmu karena terpaksa."
Ucapan Larisa seolah olah mengiris hati Zun, betapa sakitnya Zun mendengar perkataan itu dari istrinya sendiri yang selama ini ia cintai dan Zun selalu berusaha untuk menjadi suami yang baik untuk Larisa.
Malam semakin larut namun pasngan suami istri itu terus bertengkar karena ulah Larisa.
Secara tidak sengaja ternyata di luar kamar sedari tadi Bi Ratna dan suaminya mendengar pertengkaran itu lalu seketika Bi Ratna menangis karena hatinya juga terasa sesak seolah ia juga merasakan apa yang di rasakan oleh Zun,
Bagaimana tidak selama ini Bi Ratna sudah menganggap Zun sebagai anaknya sendiri, tapi paman yang mendengar pertengkaaran itu tidak terlalu kaget karena sebelumnya ia telah mengetahui kalau pernikahan Zun dan Larisa tidak di dasar oleh cinta dari kedua belah pihak tetapi hanya Zun yang mencintai Larisa, namun paman selalu memberi wejangan kepada Zun untuk selalu bisa memperjuangkan cintanya.
Setelah cukup mendengar pertangkaran itu Bi Ratna langsung menaikin tangga untuk menuju kamar dan di ikuti oleh suaminya.
ketika berada di dalam kamar ia masih saja menangis seoalah hatinya juga teriris.
" Sudah jangan menangis, itu masalah mereka kita tidak boleh ikut campur." ucap suaminya.
" Tapi aku gak tega melihat Zun tersakiti seperti itu." Ucap Bi Ratna sambil mengahapus air matanya yang sudah membanjiri pipinya.
" Namanya juga berumah tangga pasti selalu ada masalah di dalamnya, suatu saat mereka pasti saling mencintai."
" kita besok pulang saja ke bandung, " pinta Bi Ratna kepada suaminya. dan permintaan itu langsung di tanggapi karena ia tau bagaimana suasana hati istrinya saat ini
.
.
.
.
__ADS_1
Mohon dukunganya untuk author ya jangan lupa like komen and vote karena like and vote kalian sangat berarti buat author
Terimakasih semoga kalian terhibur dengan karya author....