Terpaksa Menerima Perjodohan Ini

Terpaksa Menerima Perjodohan Ini
Hari Pernikahan Part 2


__ADS_3

Setelah acara akad nikah selesai Zun dan Larisa harus mempersiapkan diri untuk acara resepsi yang akan di selenggarakan nanti malam.


Waktu sudah menunjukan pukul 18.00 Zul dan Larisa bersiap-siap untuk mendatangi gedung tempat resepsi yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kediaman Larisa.


Larisa dan Zun akan menumpangi mobil pengantin yang sudah di hias dengan sedemikian cantik yang di kendarai Pak Rohim supir pribadi Larisa.


Saat perjalanan menuju lokasi Larisa yang duduk di samping Zun hanya menatapi jalanan dan tidak ingin sekali melihat wajah suaminya yang berada di sampingnya, perasaan Larisa saat itu kacau sedih dan jengkel melihat Zun.


Kenapa harus lelaki itu yang menjadi suami ku kenapa harus dia yang bersanding di pelaminan bersamaku malam ini, harusnya Romi yang menjadi pasanganku malam ini harusnya Romi yang duduk di pelaminan


bersamaku.


Romi adalah mantan kekasih Larisa yang sampai saat ini masih Larisa cintai, mereka berpisah karena Romi harus melanjutkan kuliahnya di Amerika dan akan meneruskan bisnis orangtuanya dan entah sampai kapan Romi akan lembali ke Tanah Air.


Awal mula Larisa dan Romi menjalankan hubungan jarak jauh mereka baik-baik saja setiap hari Romi mengabari Larisa untuk menayakan kabar seperti layaknya pasangan kekasih lainnya, namun setelah Romi memberi tahu pada Larisa untuk jangan pernah menunggu kepulangannya ke Tanah


Air perlahan hubungan Romi dan Larisa renggang dan Romi mulai susah di hubungi dan jarang memberi kabar dengan alasan sibuk dengan kuliahnya.


Suatu hari di lihatnya Romi mengaupload fotonya bersama wanita lain setelah Larisa menanyakan kepada Romi siapa wanita yang ada di foto itu dia bilang hanya teman lalu Romi memblokir pertemanannya dengan Larisa di media sosial.


Sesampainya Larisa dan Zun di halaman depan Gedung tempat resepsi pernikahan itu banyak tamu yang sudah berdatangan dan menyambut kedatngan Laria dan Zun.


Larisa yang menggunkan gaun berwarna mocca dengan desain internasional di tambah Zun juga mengenakan jaz yang


berwarna mocca sehingga mereka terlihat sangat serasi.


Semua tamu undangan hanya menuju pandangannya  kepada Zun dan Larisa


yang akan memasuki gedung dan menuju ke pelaminan, Zun menggandeng tangan Larisa dengan lembut dan menuntunnya untuk menuju pelaminan mereka berjalan di atas karpet merah yang di taburi serpihan bunga


mawar dan di iringi musik melodi yang dimainkan oleh grub orkestra ternama yang di sewa oleh kakeknya.


Lagi-lagi Zun dan Larisa di banjiri dengan kata selamat dan pujian karena mereka terlihat seperti pasangan yang serasi Zun yang mempunyai perawakan tubuh yang ideal  dan wajah yang tampan di tambah Larisa yang tingginya hampir setara dengan Zun dan juga mempunyai wajah yang cantik dan terlihat sangat anggun pada malam itu, mereka berdua terlihat seperti Raja dan Ratu pada saat itu.


Sesampainya di pelaminan Zun membantu istrinya yang terlihat kesulitan untuk duduk karena ekor dari gaun yang di pakai Larisa tersangkut di kaki bangku pelaminan dan membuat Zun harus berjongkok untuk


melepaskan ekor gaun Larisa.


“ Untung saja belum ada yang tamu naik kepelaminan dan mereka tak


sadar kalau gaunmu tersangkut, kalau ada yang melihat mungkin kamu


akan di tertawakan.” Ucap Zun pada Larisa


“ Untung saja hanya kamu yang mengetahuinya, kalau sampai kamu


menertawakannku awas saja akan di balas nantin.” Jawab Larisa sambil


mencubit tangan Zun


Zun hanya meringis kecil kesakitan karena di cubit oleh istrinya.


Para undangan mulai menghampiri Zul dan Larisa yang berada di pelaminan untuk bersalaman dan mengucapkan selamat.


Malam itu cukup banyak tamu undangan yang datang mulai dari kerabat keluarga, teman dari Zun dan Larisa serta beberapa staff direksi dan relasi perusahaan kakeknya.

__ADS_1


Sementara Shinta dan Dewi juga menikmati resepsi malam itu dan mencicipi beberapa menu makanan yang di sediakan dari kedua mempelai, dewi yang asik mengobrol dengan beberapa temannya dan yang pasti itu juga teman Larisa, Sedangkan Shinta berjalan ke arah meja minuman yang akan dia


ambil karena terasa haus.


Tanpa sengaja Shinta bertemu dengan lelaki


yang menabraknya waktu itu di bhoont makanan dan menumpahkan popcorn


yang sudah dia beli


“ Kayaknya kita pernah ketemu deh,” membuka obrolan dengan lelaki itu


yang juga ingin mengambil minuman


“ Maaf mungkin kamu salah orang ,” jawab lelaki yang sekarang ada di depannya


“ Engga engga kita bener pernah ketemu, kamu yang waktu itu nabrak aku


kan sampai popcron yang baru aku beli jatuh berantakan,”  Shinta


Lelaki itu mengerutkan keningnya sambil mencoba meningat


“ oh iya iya maaf aku baru ingat “ jelas lelaki itu


“ hhmmmm “ Shinta hanya bergumam


“ Maaf ya waktu itu aku buru-buru karna ada keperluan “ mencoba menjelaskan pada Shinta


“Ok gapapa, oia waktu itu kamu meninggalakan kembalian di saat beli


“Tak apa untuk kmu saja “


" oh iya kita belum berkenalan, nama ku Shinta." sambil mengulurkan tangan ke lelaki itu


" Aku Alfatih panggil saja aku Fatih," ucapnya menanggapi uluran tangan dari Shinta.


Shinta dan Fatih berbincang cukup lama mereka saling mengakrabkan diri karena menurut Fatih Shinta wanita yang cantik di saat dia melihatnya di depan bhoot makanan beberapa hari yang lalu.


Malam semakin larut dan resepsi pernikahan Zun dan Larisa berakhir para undangan satu persatu meninggalkan pesta itu begitu juga sepasang pengantin baru itu bergegas meninggalkan tempat itu untuk pulang menuju rumah Larisa .


Dewi dan Shinta juga pulang tapi malam ini mereka tidak berniat untuk menginap di rumah Larisa pikirnya tidak mau mengganggu malam pertama Zun dan Larisa.


Dewi dan Shinta pulang bersama dengan menggunakan taksi online yang sudah di pesan oleh Dewi karna memang rumah Dewi dan Shinta berada di satu komplek perumahan.


Di perjalanan pulang Shinta dengan tidak sengaja melihat Romi menggunakan motor besar berwarna merah dan tidak menggunakan helm jadi Shinta bisa melihat jelas wajah Romi, karena Shinta masih ingat motor yang di tumpangi Romi yang selalu dia pakai waktu masih sekolah, motor itu menyalip mobil yang di tumpangi Dewi dan Shinta.


"Wi, itu yang di depan kita Romi kan." menunjukan tangannya sambil memberi tahun Dewi.


" Mana, " tanya Dewi


" Itu yang di depan motor warna merah. Sama percis kaya punya Romi." sekali lagi memeberi tahu Dewi


" Lo pikir motor kaya gitu cuma Romi yang punya, banyak kali orang yang punya motor kaya gitu." ujar Dewi


" Tapi gue tadi liat jelas itu Romi Wi" berusaha menyakinkan Dewi.

__ADS_1


" Jangan ngaco deh, Romi itu ada di Amerika dan gatau kapan balik ke sini,"


" gue ga ngaco Dewi gue beneran liat Romi tadi ," berusaha meyakinkan Dewi


" Udah udah mending sekarang lo turun terus masuk ganti baju cuci tangan cuci kaki langsing tidur, kayaknya lo ngantuk deh,"


Tanpa di sadari ternyata sudah memasuki komplek perumahan dan sudah berada di depan rumah Shinta.


" Iya iya gue turun," Shinta turun dengan muka cemberut karna Dewi tidak percaya dengan omongannya .


" Daaaaahhhhhh, mimpi indah cantik," teriak Dewi dari dalam mobil yang membuka kaca mobil dan melambaikan tangan pada Shinta.


Lalu Dewi melanjutkan perjalan menuju ke rumahnya yang masih beberapa blok lagi.


..................


Sementara di kediaman Larisa, sepasang pengantin baru itu mereka memasuki kamar dan bersiap siap untuk tidur karena hari ini sudah menyita tenaga karna harus menyambut tamu undangan yang datang.


Namum apa yang terjadi tidak seperti pasangan pengantin baru lainnya yang menantikan malam pertama untuk saling menyalurkan cinta di antara dua insan.


Larisa yang sudah membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur miliknya dan akan segera tidur sementara Zun yang baru keluar dari kamar mandi dan akan menuju kasur yang di tiduri Larisa.


" Aku tidak mau tidur satu ranjang dengan mu, " ucap Larisa yang menyakiti hati Zun


" Memangnya kenapa kita sudah sah menjadi suami istri." jawab Zun


" Jangan harap kamu bisa menyentuh tubuh ku dan jangan berharap aku bisa mencintaimu, " lagi lagi ucapan Larisa yang menyayat hati Zun .


Larisa membuka laci yang berada di samping tempat tidurnya dan mengambil amplop berwarna coklat yang di dalamnya berisi peraturan yang sudah di buat Larisa.


" kamu baca dan pahami peraturan itu sesuai dengan permintaan ku waktu kita bertemu di cafe." Larisa


Zun mengingat ada syarat yang di minta Larisa pada saat mereka berada di cafe, lalu perlahan Zun membaca isi dari surat itu dengan perasaan yang hancur.


" Baiklah, aku akan mematuhi peraturan yang kamu minta, tapi ada satu permintaan dari mu." ucap Zun


" Apa." jawab Larisa seolah olah penasaran dengan permintaan Zun


" Kamu harus tinggal bersamaku di rumahku, dan jangan khawatir kakek sudah memberikan ijin untuk kita pindah dari rumah ini," ucap Zun


" Kamar di rumah mu ada berapa," tanya Larisa.


" Ada empat, kamar utama yang aku pakai untuk tidur, dua kamar tamu dan satu kamar pembantu, jika memang kamu tidak mau tidur satu kamar dengan ku, kamu bisa tidur di kamar tamu," ucap Zun.


" Ok baiklah, " menyetujui permintaan Zun


" Tapi aku mohon padamu kakek jangan sampai tahu dengan peraturan yang kita buat, apabila di depan kakek kita berpura- pura menjadi pasangan suami istri yang normal, aku hanya tidak ingin menyakiti hati kakek." ungkap Zun yang masih memikirkan perasaan kakek.


Larisa hanya menganggukan kepalanya


Ternyata pemikiran dia sejauh itu dan masih memikirkan perasaan kakek bahkan aku cucunya tidak sama sekali memikirkan perasaan kakek setelah membuat peraturan itu.


" Tidurlah sudah malam, aku akan tidur di sofa ." kata Zun menuju sofa yang ada di kamar Larisa.


Hati Zun pada malam itu sangat hancur karena istrinya sama sekali tidak ingin di sentuh olehnya.

__ADS_1


Bagaimana aku bisa menafkahi secara lahir dan batin Larisa sedangkan kamu tidak ingin di sentuh oleh ku.


__ADS_2