
**hay guys autor kembali up nih
Mohon maaf apabila cerita yang author buat tidak menarik karena author sudah berusaha semaksimal mungkin
happy reading guys**
.
Telfon rumah Waluyo Hertanto berbunyi berkali kali, mbok Jum yang sedang berada di dapur langsung berlari kwcil untuk segera mengangkat panggilan itu.
" Halo dengan keluarga waluyo di sini."
" Mbok ini saya Zun" suara pria di ujung sana yang sepertinya mbok Zun sudah mulai menghapal suara itu.
" Iya den Zun, ada yang bisa saya bantu." jawab si pembantu rumah tangga itu.
" Saya mendapat kabar bahwa kakek sakit, bagaimana keadaanya sekarang."
" Iya den tuan Waluyo sakit tapi tadi dokter sudah memeriksanya dan sekarang sedang beristirahat di kamar."
" Oh ya sudah nanti kalau ada apa apa cepat kabari saya ya mbok, insyaallah nanti sore saya kerumah."
" baik den" pembantu rumah tangga itu langsung menaruh gagang telfon ke tempat semula setelah suara di ujung sana mengakhiri panggilannya, ia langsung kembali ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya.
Hari ini di kantor Zun tidak berkonsentrasi dengan pekerjaannya ia selalu terpikir oleh istrinya dan hatinya sangat resah, berulang kali ia mencoba mengotak ngatik ponselnya dan menyambungkan panggilan ke nomer istrinya tapi tidak ada jawaban dari istrinya.
Sampai tiba saatnya jam makan siang tiba, santi yang di perintah Zun untuk memesan makanan untuknya sudah menyiapkan makanan itu di meja yang ada di ruangan Zun, sebelum makan Zun membiasakan untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim untuk bersembayang lalu ia makan siang.
__ADS_1
Di saat Zun baru akan memasukan makanan ke mulutnya, ponsel yang ia letakan di meja kerja yang saat ini berjarak satu meter olehnya berdering ia langsung mengambil dengan cepat ponsel itu, ia pikir yang menelepon adalah Larisa tapi ternyata salah di layar ponselnya tertera nama Pak Rohim supir dari Kakek mertuanya,
Zun mengjeringitkan dahinya karna tidak biasanya Pak Rohim menelpon dirinya, ia segera menjawab panggilan itu dan meletakan ponselnya di kuping sebelah kiri.
Tanpa berbasa basi suara pria di balik panggilan itu langsung mengutarakan pembicaraanya dengan nada yang sangat khawatir.
" Halo den Zun, tuan Waluyo masuk rumah sakit sekarang sedang di tangani dokter di ruang Instalasi darurat, den Zun segera kemari saya takut terjadi sesuatu dengan tuan."
" Baik saya segera kesana" jawab Zun ia juga sangat khawatir dengan Kakek mertuanya, ia langsung mengambil kunci mobil yang di letakan di dalam laci meja kerjanya, ia segera keluar dari ruangannya dan mengabaikan makan siangnya tapi sebelumnya Zun menghampiri sekertarisnya untuk memperintahkan menghandle pekerjaanya hari ini, setelah memberi perintah kepada Sekertarisnya Zun langsung berlari menuju lift untuk turun ke lantai dasar, sesampainya di lantai dasar ia langsung bergegar keluar gedung sehingga membuat karyawan yang bekerja di perusahaan itu memperhatikan Zun dan bertanya tanya sendiri karena tak biasanya atasannya mereka terlihat begitu panik.
Zun langsung lari ke parkiran untuk mengambil mobilnya dan langsung menancapkan gas pada mobilnya lalu melajukan mobil dengan kecepatan lumayan kencang.
Mobil Zun telah tiba di gerbang rumah sakit, ia langsung memarkirkan mobil miliknya dan segera masuk kedalam rumah sakit menuju ruang instalasi darurat, namun ia mendapatkan informasi dari perawat yang bertugas di ruang instalasi bahwa orang yang ia cari sudah di pindahkan ke ruang ICU, ketika mendengar kata ICU jantung Zun berdetak sangat kencang karena menurutnya ruang ICU adalah ruangan khusus bagi orang yang mempertaruhkan nyawanya antara hidup dan mati.
Setelah mendapatkan informasi, Zun langsung berlari menuju ruang ICU, dari kejauhan Zun sudah melihat Pak Rohim dan mbok Jum yang sedang duduk di tempat tunggu yang berada di depan ruang ICU, Zun langsung menghampiri mereka dengan tergesa gesa, mbok Jum yang sedang duduk di kursi tunggu seketika berdiri ketika ia melihat sosok Zun yang sudah hampir dekat dengannya.
" Kenapa semua diam, apa yang terjadi sama kakek." tanyanya lagi.
" Tuan kena serangan jantung den" jawaban dari wanita paruh baya yang ada di hadapannya.
Zun sangat terkejut setelah mendengar kakek mertuanya terkena serangan jantung karena selama ini ia tidak mengetahui riwayat penyakit yang di miliki oleh kakek mertuanya dan sekaligus atasannya itu.
" Tadi sewaktu saya mengantarkan makan siang ke kamar, saya melihat tuan sedang merintih kesakitan sambil memegang dada bagian kiri, setelah itu saya langsung memanggil Pak Rohim untuk segera membawa tuan ke rumah sakit," jelas mbok Jum yang kini masih menunduk karena ia masih merasa bersalah. " Maafkan saya den karena lalai menjaga tuan".
Zun yang mendengar penjelasan dari wanita paruh baya itu mengerti bahwa ini bukan seutuhnya kesalahannya. Zun menepuk-nepuk bahu wanita paruh baya itu untuk memastikan bahwa ini bukan salahnya.
" Ini sudah jalan Tuhan mbok, seharusnya saya berterima kasih karena mbok Jum dan Pak Rohim sudah dengan cepat membawa kakek ke rumah sakit." ucap Zun sambil menenangkan mbok Jum.
__ADS_1
" Setelah tuan di tangani oleh dokter kita mencoba menghubungi non Risa tapi telfon dari saya tidak di jawab, lalu beberapa menit kemudian perawat yang menangani tuan memberitahu bahwa tuan harus segera di pindahkan ke ruang ICU karna kondisinya tidak memungkinkan," sambung Pak Rohim menjelaskan
" Maafkan kami den karna kami lancang untuk menyetujui tuan di pindahkan ke ruang ICU tanpa memberi kabar dan meminta ijin terlebih dahulu, karna kami berdua bingung dan sangat khawatir dengan keadaan tuan" ucap Pak Rohim yang merasa bersalah juga
Zun mendengarkan penjelasan dari laki laki yang ada di hadapannya, ia sangat terharu karena mereka sangat tulus untuk bekerja dengan majikan mereka, pantas saja tuan Waluyo tidak ingin asisten rumah tangganya dan supirnya di gantikan oleh orang lain.
" Sudahlah kalian berdua tidak usah merasa bersalah, keputusan kalian sudah sangat baik, yang penting sekarang kita berdoa bersama." icap Zun
Beberapa menit kemudian dokter dari ruang ICU keluar, Zun yang mengetahui itu langsung berdiri dan menghampiri dokter.
" Dok bagaimana kondisi pasien Waluyo." tanya Zun pada dokter itu
" Maaf apa hubungan anda dengan pasien tersebut." tanya dokter yang baru keluar dari ruang ICU.
" Saya menantunya dok." jawab Zun.
" Apakah bapak ada waktu sebentar untuk ikut keruangan saya karena ada beberapa hal yang harus saya bicarakan." ucap dokter dengan menunjukan muka yang sangat serius kepada Zun
" Baik dok" jawab Zun sambil menganggukn kepalanya,
" Ayo ikuti saya."
Dokter langsung menuju keruangannya dan diikuti oleh Zun.
*Mohon dukungannya untuk author ya
semoga kalian terhibur dengan karya author jangan lupa kasih komen like dan vote untuk authir ya*
__ADS_1
"Terima kasih"