Terpaksa Menikahi Duda Arrogant

Terpaksa Menikahi Duda Arrogant
Meisya Permadi


__ADS_3

Maya dan Daren menoleh bersamaan, ketika mendengar suara seseorang yang memanggilnya.


Maya mengerutkan dahinya saat melihat sosok wanita yang memanggilnya tersebut karena Maya tidak mengenalinya. Sementara Daren berubah menjadi pucat pasi seperti ketakutan.


"Siapa kau?" Tanya Maya. "Apa kau mengenalku? Maaf, tapi aku tidak mengenalimu."


Daren masih dengan tatapan mata ketakutan pada wanita dihadapannya, sementara wanita itu hanya meliriknya sekilas sambil tersenyum kecut.


"Aku Meisya, temannya Daren. Kau Maya bukan? Calon istrinya Daren? Selama ini Daren sering menceritakan tentangmu padaku, dia bahkan mengatakan bahwa kalian sebentar lagi akan menikah!" Jelas wanita yang mengenalkan dirinya sebagai Meisya tersebut dengan nada akrab pada Maya.


"Teman? Daren kau tidak pernah bilang bahwa..."


"Benarkah?" Potong Meisya cepat.


"Kau ini jahat sekali, ya! Tidak mengenalkan sahabatmu ini pada calon istrimu!" Ketus Meisya sambil memukul lengan Daren.


"Ah iya, maaf. Maya, ini Meisya teman lamaku... Maksudku sahabatku, sahabat lamaku waktu sekolah. Dan Meisya, ini Maya calon istriku." Daren memperkenalkan Maya dan Meisya.


Meisya memeluk Maya, kemudian melepaskan pelukannya dengan senyuman manis. Sementara Maya masih kebingungan dengan hadirnya Meisya yang mengaku dan diperkenalkan sebagai sahabat lamanya Daren.


"Kenapa hanya diam saja, Maya? Kau sedang memilih kartu undangan bukan?" Maya mengangguk cepat, ia berusaha mempercayai Meisya yang mengaku sahabatnya Daren.


"Mari, aku akan membantumu memilihnya!" Ucap Meisya sambil menarik tangan Maya. Maya menahan tarikan itu dengan tangannya.


"Aku sudah memilihnya, Meisya. Ini dia." Maya memperlihatkan kartu undangan berbentuk persegi panjang warna hijau pada Meisya.


Meisya kemudian terlihat diam dan menunjukan ekspresi kecewa. Maya yang memang tidak pernah tega pada orang lain langsung melirik Daren.


"Baiklah, kau boleh memilih untukku mungkin pilihanmu akan lebih bagus dariku." Ucap Maya sambil tersenyum manis.


"Eh, apa? Kita yang akan menikah, bukan aku dan Meisya!" Ujar Daren tak terima.


"Tidak apa-apa, biarkan dia memilihnya."


Meisya tersenyum senang, lalu mulai memilih kartu-kartu yang tadi dipilih Maya. Saat Maya lengah, Meisya melirik Daren dengan tatapan tajam.


Daren menunduk, lalu meminta maaf dengan cara menyatukan kedua telapak tangannya dan meletakannya di dada.


Tak sadar bahwa Maya sudah memperhatikan mereka.


Apa ini? Kenapa mereka seperti sedang... Ah, tidak! Mungkin Daren meminta maaf saja karena lupa mengenalkanku pada Meisya!


...****************...


Setelah selesai memilih kartu undangan Daren langsung mengantarkan Maya pulang ke kantor. Sementara Meisya meminta diantarkan hingga bandara.

__ADS_1


"Kenapa kau minta diantarkan ke bandara?"


Meisya melirik Daren, lalu menunjukan wajah marah padanya.


"Aku dengar keluarga Maya dan keluarga mantan suamiku itu sangat dekat, jika aku muncul disana maka dia akan mengetahui segalanya dan tidak akan mempercayaiku lagi bahkan mencarikupun tidak akan! Apa kau tidak berpikir kesana? Jika aku tetap disini, maka kau juga akan ikut hancur!" Cercah Meisya dengan nada tinggi.


Daren terdiam, lalu mengangguk setuju dengan ucapan Meisya. Tidak ada pembicaraan lagi antara keduanya hingga mobil sudah terparkir di parkiran bandara.


Saat memasuki area dalam bandara, Meisya sangat terkejut ketika melihat sosok yang sangat ia kenal. Sosok tersebut tak lain adalah Rudra yang merupakan mantan suaminya.


Meisya langsung mengambil posisi bersembunyi dibelakang Daren.


Rudra sendiri sedang menelepon dengan ponselnya. Namun pada saat Daren akan melewatinya, Rudra menoleh pada Daren dengan mata tertuju langsung pada Meisya yang mungkin sedikit tak terlihat di belakang Daren.


"Selamat sore, Tuan Daren! Siapa lagi yang kau bawa? Apakah penghangat ranjangmu yang baru?" Sinis Rudra dengan tatapan masih berusaha mencari tahu siapa yang bersembunyi dibelakang Daren.


"Diam kau Rudra!" Teriak Daren penuh emosi.


"Wah, tenang-tenang Tuan Daren!" Rudra menepuk-nepuk bahu Daren yang langsung mendapat tepisan dari Daren sendiri.


"Hei, nona! Kenapa kau bersembunyi? Kau harus tahu wajah mantan sahabat pemilikmu ini! Wajah mantan sahabat yang istrinya direbut oleh pemilikmu!"


Meisya terhenyak, merasa hatinya sakit dengan perkataan Rudra. Akan tetapi ia hanya bisa diam hingga tujuan dihatinya yang sudah lama Meisya rencanakan berhasil.


"Cukup, Rudra! Dia adalah kakakku! Lebih baik kau menyingkir dari hadapanku! Kemarin mungkin aku berbaik hati di hari pertunanganku dengan tidak mengungkit kisah lama yang belum terbukti aku bersalah! Tapi hari ini kau harus sadar bahwa Meisyamu itu tersakiti olehmu!" Hardik Daren.


"Terserah! Aku tidak percaya!" Ucap Rudra sambil berlalu meninggalkan Daren dan Meisya yang masih bersembunyi dibelakang Daren.


"Keluarlah, dia sudah pergi!" Meisya keluar dari belakang punggung Daren dan langsung memeluk Daren.


"Jangan takut, aku ada untukmu! Sekarang cepat masuk kedalam pesawat agar tidak ada yang bisa melihatmu lagi terutama Rudra dan keluarganya!" Meisya mengangguk kemudian masuk kedalam pesawat.


...****************...


Di kantor, Maya masih memikirkan apa yang tadi dialaminya. Apa yang ia lihat antara Meisya dan Daren. Pikirannya tertuju juga pada perkataan Azka dan Rudra yang selalu menuduh Daren tidak baik.


"Apa benar yang kakak dan Rudra katakan?" Gumam Meisya sambil terus memutar ulang semuanya dalam bayangannya.


"Tapi, apa tujuan Daren melakukan hal itu? Dan kenapa Meisya tiba-tiba datang mengaku sebagai sahabat Daren? Bukankah semua itu..."


"Aneh!" Potong Azka yang baru masuk ke ruangan Maya.


"Kakak, kau disini?"


"Ya, aku sudah mendengar segalanya. Akan kupastikan semua kecurigaanmu itu terbukti!" Tegas Azka sambil berlalu meninggalkan Maya yang terduduk diam diatas kursi.

__ADS_1


Maya kembali terdiam, pikirannya sudah melayang kearah negatif. Kini ia harus membuktikan kebenaran akan Daren dan jika apa yang dikatakan kakaknya dan Rudra benar maka ia harus menyiapkan hati untuk melepas Daren dan memulai hidup baru dengan seseorang yang akan dipilihkan ayahnya.


Air matanya mulai jatuh membasahi pipinya. Entah apa yang ia tangisi, sikap kakaknya atau takut akan pengkhianatan dari Daren?


"Aku harus mencari tahu segalanya, sebelum terlambat!" Tegas Maya dalam gumamannya.


*Tuhan, bantu aku. Jika memang semua yang dikatakan kakak benar maka tolong kuatkanlah aku dan buatlah aku menerima segalanya.


Permainan apa ini yang terjadi padaku? Takdir macam apa ini yang kau berikan? Apakah ini hukumanmu atas tindakan cerobohku tempo hari? Tapi bukankah itu tidak terjadi?


Lantas mengapa cintaku diuji seperti ini?


^^^Mayada Vyas*^^^


...****************...


Di dalam kamarnya Rudra masih sibuk dengan laptopnya meski waktu telah menunjukan pukul sepuluh malam.


Matanya mungkin terfokus pada laptopnya, akan tetapi pikirannya saat ini melayang kepada dimana Meisya berada.


Dimana? Itulah dia, Rudra sendiri tidak mengetahui dimana mantan istri yang masih ia cintai tersebut berada.


Dalam hatinya ia sangat merindukan Meisya. Akan tetapi di lain kata ia masih mengingat bagaimana pengkhianatan Meisya dengan Daren padanya.


*Aku harus bagaimana? Jika nanti menemukannya? Haruskah aku menerimanya kembali karena aku mencintainya? Tapi bagaimana dengan apa yang telah ia lakukan?


Ah, Tuhan memberiku kisah dan pilihan yang rumit! Bagaimana bisa aku berada diantara cinta dan benci?


Atau haruskah aku menemukan wanita lain untuk kucintai? Tapi siapa? Maya?


Kenapa aku malah teringat wanita bodoh dan cerewet itu?! Dia bahkan belum mengembalikan mobilku*.


"Mobilku?! Pasti gadis bodoh itu belum memperbaikinya!"


Rudra berdiri, lalu meraih ponselnya. Pada saat ia akan menelepon Rudra kembali bingung.


"Aku harus meneleponnya kemana? Nomor ponselnya tidak ada!"


**Bersambung...


Alhamdulillah mulai mood lagi buat nerusin cerita, sampai hari ini bisa nabung bab di Siran dan Bos Galak.


Jangan lupa dukungannya ya biar author bisa crazy up nanti buat Bos Galak sama Siran**.


Komen kuy napa!!! biar ceritanya gak berhenti di tengah jalan!!!

__ADS_1


__ADS_2