Terpaksa Menikahi Duda Arrogant

Terpaksa Menikahi Duda Arrogant
Pria Arrogant!


__ADS_3

"Apa?! Kau ingin memerasku ya?!" Teriak Maya sambil menarik tangan Rudra untuk keluar dari dalam mobil.


"Memeras? Tidak! Tapi kau lihat mobilku jadi rusak karenamu!" Sinis Rudra sambil menunjukan beberapa bagian mobilnya yang terlihat lecet akibat tendangan Maya.


Maya membelalakan matanya, ia menyesal telah melakukan hal tadi.


Apa yang telah kulakukan? Jika tahu ini adalah mobilnya pria arrogant ini, tidak mungkin aku akan menendangnya! Oh Maya, kau memang bodoh!


Rudra tersenyum sinis pada Maya, lalu menarik tangan Maya menuju kedalam kantor.


"Eh, apa yang kau lakukan! Apa kau tidak punya sopan santun?!" Teriak Maya menepis tangan Rudra.


"Kalau begitu cepat!"


"Apa?" Tanya Maya tak mengerti.


"Perbaiki mobilku!"


"Apa?!" Pekik Maya.


"Kau tuli? Aku bilang perbaiki mobilku, aku tidak ingin saat pulang nanti tampilannya masih seperti ini!" Bentak Rudra sambil menunjuk lagi mobilnya yang terletak empat meter dari tempatnya berdiri dengan Maya saat ini.


Maya semakin merasa kesal dengan Rudra, hingga wajahnya mulai memerah karena menahan amarah.


"Kenapa hanya lecet seperti itu saja kau memintaku untuk memperbaikinya? Bukankah kau ini kaya? Oh, apa sekarang kau sudah bangkrut dan tidak punya uang lagi?" Cerca Maya dengan wajah meledek pada Rudra.


Rudra mengeratkan pegangannya pada tangan Maya, pegangan yang kini berubah menjadi cengkeraman. Maya meringis kesakitan akibat cengkeraman Rudra.


"Apa kau bilang? Bangkrut? Jika kau tidak memperbaiki mobilku maka dirimu sendiri yang akan bangkrut saat ini juga!" Ancam Rudra sambil menghempaskan tubuh Maya hingga terbentur ketanah.


"Hei!" Teriak Maya tak terima dengan perlakuan Rudra.


Namun Maya mengurungkan niatnya untuk melanjutkan perdebatan saat melihat Daren yang muncul di belakangnya.


"Kau dengar baik-baik, ya! Urusan kita belum selesai!" Teriak Maya sambil menarik tangan Daren dan membawanya memasuki area kantor.


Namun baru beberapa langkah Maya berjalan, Rudra sudah berteriak lagi padanya.


"Iya, urusan kita belum selesai! Jika sore nanti mobilku masih dalam keadaan seperti ini maka akan kupastikan kau menjadi gelandangan!"


Rudra kemudian berjalan mendahului Maya dan Daren, saat berpapasan dengan Daren, Rudra berhenti sebentar sambil tersenyum sinis.


"Kau hebat, tuan Daren! Mau berapa lagi yang kau manfaatkan untuk kehangatan ranjangmu?" Bisik Rudra yang langsung membuat Daren membelalakan matanya.


Tangan Daren mengepal, lalu perlahan naik dan mencengkeram kerah kemeja Rudra.


"Lihat saja! Aku akan menghabisimu!" Teriak Daren sambil menarik Rudra ke arah tempat kosong.


"Daren! Tidak, jangan melakukan ini!" Cegah Maya.

__ADS_1


Daren melepaskan cengkeramannya, sedangkan Rudra hanya bisa tersenyum sinis melihat Maya yang begitu perhatian pada Daren.


"Hahaha, Mayada Vyas! Kau ternyata sangat polos sampai memilih pria sepertinya!" Rudra menunjuk Daren kemudian bergegas memasuki kantor untuk menemui Teddy.


Sedangkan Daren kembali akan menyerang Rudra jika Maya tidak segera menahannya lagi.


"Tidak, hentikan! Aku percaya bahwa kau tidak seperti itu." Ucap Maya sambil menenangkan Daren.


"Siapa dia? Kenapa dia bisa sampai berada di kantormu?" Tanya Daren sambil menunjuk punggung Rudra yang sudah mulai menjauh.


Maya menggeleng, lalu memilih menarik tangan Daren menuju mobilnya.


"Sekarang lupakan yang tadi, bukankah hari ini kita akan memilih kartu undangan?"


Daren terdiam, dalam hatinya ia terus mengatai betapa bodohnya Maya yang sangat terobsesi padanya.


"Baik, ayo naik mobilku!"


Maya dan Daren memasuki mobil Daren. Mobil mulai melaju menuju tempat percetakan undangan pernikahan yang sudah dipilih Maya untuk mencetak undangan pernikahannya dengan Daren.


Sesampainya di tempat tersebut Maya dan Daren langsung memasuki tempat percetakan dengan Maya yang tak berhenti-hentinya tersenyum.


Daren hanya bisa terus mengatai Maya dalam hatinya.


Saat Maya sedang berbicara dengan pelayan tempat percetakan undangan, ponsel Daren berdering membuat Maya langsung menoleh padanya seketika.


Daren tersenyum, kemudian memberi isyarat pada Maya bahwa dirinya akan mengangkat telepon diluar.


"Hallo, Mei? Ada apa? Apa kau masih belum puas?" Ucap Daren sambil terkekeh pelan.


"Tenang saja, setelah ini aku akan memuaskanmu sampai kau benar-benar merasa puas!" Ucap Daren lagi sambil mengakhiri panggilan telepon setelah wanita yang dipanggil Mei selesai berbicara padanya.


Saat berbalik, Daren terkejut mendapati seseorang sudah berada dibelakangnya. Hatinya mulai berdebar tak karuan mendapat tatapan curiga dari wanita yang berada di hadapannya saat ini.


"Ke.. Kenapa?" Daren tergagap, terutama setelah Maya mengambil ponselnya secara paksa dan membukanya.


Jantung Daren tambah berdebar kencang, ia sudah pasrah jika Maya akan mengetahui segalanya dan ia gagal meraih tujuannya.


"Kenapa, Maya? Apa kau sudah selesai memilih undangan?"


Maya semakin menatap Daren dengan tatapan tajam, ia sendiri tidak mengerti mengapa Daren sampai segugup itu bicara padanya baru saja.


"Daren, kau..."


"Wah, kita bertemu lagi disini!" Potong seseorang tiba-tiba.


"Bagaimana, apa mobilku sudah kau perbaiki?" Maya dan Daren menoleh secara bersamaan.


Rudra tersenyum sinis lagi pada Maya dan Daren.

__ADS_1


"Apakah siang menjelang sore hari ini kau belum terpuaskan, Daren?" Tanya Rudra dengan tatapan mengejek.


"Kau!" Bentak Daren dengan jari telunjuk yang sudah menunjuk wajah Daren. "Kenapa kau selalu menggangguku? Apa kau tidak punya pekerjaan lain sampai-sampai mengikutiku hingga kesini?"


Mendapat tuduhan seperti itu Rudra tergelak, membuat Daren dan Maya semakin kesal padanya.


"Masalahnya, calon istrimu ini masih memiliki hutang yang belum dibayar!" Ucap Rudra dengan tawa yang masih berusaha ia hentikan. "Masalah aku punya pekerjaan atau tidak, aku ini seorang bos! Semua pekerjaanku hanya tinggal kusuruh orang lain menyelesaikannya,"


"Jadi, kapan kau akan memperbaiki mobilku nona Mayada? Atau kau ingin tinggal dibawah jembatan itu?" Sambil menunjuk jembatan di seberang jalan yang dibawahnya terdapat sungai.


Daren mengepalkan tangannya dengan sangat kuat, kemudian melirik Maya dan mengajaknya masuk kembali kedalam toko tempat percetakan undangan.


"Hei, Mayada! Jangan lupa perbaiki mobilku!" Teriak Rudra sambil berjalan memasuki sebuah gerbang Villa bertingkat dua.


Di dalam toko Daren masih terlihat kesal pada Rudra. Begitu juga dengan Maya, namun hatinya kali ini bukan hanya merasa kesal pada Rudra melainkan juga merasa curiga dengan perkataan Rudra yang selalu menuduh Daren tentang hubungan int*m.


Kenapa si Rudra arrogant itu selalu berkata tentang kepuasan pada Daren? Dan tadi Daren juga berkata tentang kepuasan di telepon?


Sedikit demi sedikit, Maya mulai menaruh rasa curiga pada Daren. Pikirannya bercampuraduk antara perkataan kakaknya dan perkataan Rudra yang selalu menuduh Daren.


"Apakah benar yang dia katakan?" Tanya Daren membuyarkan lamunan Maya.


"Benar apanya? Dia siapa?" Tanya Maya tak mengerti.


Daren menarik napas pelan, lalu membuangnya kasar.


"Rudra, yang dikatakan Rudra tadi? Apa benar kau punya hutang padanya?" Maya mengangguk, lalu menatap Daren sebentar.


"Hutang apa? Coba jelaskan!"


"Hutang kecil, tadi aku merasa diikuti saat perjalanan menuju ke kantor. Saat tiba di kantor aku langsung menendang mobilnya pria arrogant itu berkali-kali."


Daren tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.


"Itu tidak lucu!" Ketus Maya.


"Dengar, hanya lecet saja kenapa harua memintamu untuk memperbaikinya?" Maya menggeleng.


"Entahlah aku tidak mengerti."


"Bagaimana bisa orang sekaya dia memintamu untuk memperbaiki mobilnya yang hanya lecet saja? Dia kaya atau ingin diakui kaya?" Ucap Daren diikuti gelak tawanya lagi.


"Sudahlah! Kita kesini untuk memilih kartu undangan bukan untuk bergosip tentang pria arrogant itu!" Ketus Maya yang langsung ditertawakan Daren.


"Baik-baik, jadi kita akan memilih yang mana?"


Maya langsung mengambil salah satu kartu dan menunjukannya pada Daren.


"Daren, Maya?!"

__ADS_1


Bersambung...


Mulai penuh tanda tanya 🤣


__ADS_2