Terpaksa Menikahi Duda Arrogant

Terpaksa Menikahi Duda Arrogant
Persetujuan Rudra


__ADS_3

"Kalian pasti memanggilku untuk membujukku lagi, kan?" Tanya Rudra sambil memperhatikan wajah keluarganya satu-persatu.


Dirga dan Indri mengangguk, sementara yang lainnya terdiam sambil saling melirik satu sama lain.


"Sudah kubilang, aku tidak akan menikah dengan wanita lain selain Meisya!" Bentak Rudra penuh amarah.


"Meisya? Kau sudah mencarinya selama dua tahun, tapi apa kau menemukannya? Sampai kapan?" Nesya adiknya Rudra mulai melontarkan kekesalannya terhadap Rudra yang masih terlalu mengharapkan Meisya.


"Sampai kapan, kak kau akan mengharapkan jal*ng itu? Dengar! Ibu dan ayah sudah tua, mereka menginginkan menantu yang baik dan juga pewaris dari dirimu! Setidaknya, jangan hanya memikirkan cinta dan dirimu sendiri, tapi pikirkan mereka juga yang sangat berharap besar padamu!"


"Nesya benar, Rudra! Jika Meisya memang benar mencintaimu maka saat ini pasti dia tidak akan menghilang tanpa kabar!" Timpal Indri dengan wajah kesal.


Rudra terdiam, satu-persatu wajah anggota keluarganya ia amati. Terutama wajah Indri, wanita yang paling setia dalam hidupnya. Wanita yang telah mengandung dan melahirkannya hingga ia bisa ada sampai saat ini.


"Katakan, sekarang apa yang harus aku lakukan?" Ucap Rudra dengan nada suara lembut dan tatapan lembut juga pada Indri.


Indri tersenyum bahagia, karena bujukannya kali ini sedikit berhasil meluluhkan hati Rudra.


"Ibu ingin kau menikah dengan salah satu putri dari rekan bisnis perusahaan kita, Teddy Vyas."


"Apa?!" Ucap Rudra dengan nada terkejut. "Apa kalian sedang bermain-main denganku?"


"Tidak, kami benar-benar ingin kau menikah dengan Mayada. Apa salahnya? Dia wanita yang sangat baik, bahkan dia memiliki kecerdasan yang luar biasa didalam karirnya,"


Rudra kembali terdiam, ia mengenal Mayada yang tak lain adalah Maya yang waktu itu menemuinya di kantor.


Wanita tidak tahu sopan santun itu, kenapa aku harus menikahinya? Apakah dia ingin mengincar posisi dan harta kekayaanku?


"Apa tujuan kalian menjodohkanku dengannya?" Tanya Rudra dengan mimik wajah meneliti.


"Apa tujuan kami? Kau pikir untuk apa?! Kami ingin pewaris darimu!" Dirga menunjuk Rudra dengan jari telunjuknya.


Rudra mengepalkan kedua tangannya, mencoba meredam amarahnya karena tak menyangka Dirga akan menunjuk-nunjuk Rudra seperti yang baru saja terjadi.


"Putuskan sekarang, Rudra! Jika kau tidak setuju untuk menikah dengan Maya kami juga tidak akan pernah mengizinkanmu rujuk kembali bersama Meisya!" Kata Indri disertai ancaman.


Amarah Rudra bertambah, ia tak menyangka bahwa Indri akan seegois itu dengan memaksa Rudra menikahi Maya.


Namun Rudra juga tak mungkin melawan perintah ibunya.


"Baiklah, aku akan menikahi Maya. Tapi beri aku waktu satu bulan dan izinkan aku menceraikannya juga jika aku bisa menemukan Meisya dan Annika!" Ucap Rudra sambil tersenyum kecut.


Dirga dan Indri menatap Rudra dengan tatapan tajam. Keduanya tidak senang dengan apa yang Rudra katakan baru saja.

__ADS_1


"Apa kau membuat kesepakatan dengan keluargamu sendiri?" Tanya Dirga sambil menunjuk Rudra lagi.


"Ayah, aku mencintai Meisya. Jadi mana mungkin aku bisa bertahan dengan..."


"Dengar Rudra! Hari ini mungkin kau membuat kesepakatan seperti ini karena belum mengenal Maya. Akan tetapi, jangan menyesal bila suatu saat kau sudah mengenalnya dan jatuh cinta padanya tapi semuanya sudah terlambat!" Pungkas Indri dengan ekspresi yang sama seperti Dirga dan tak lupa juga menunjuk-nunjuk wajah Rudra dengan telunjuknya.


"Baik, bu. Mari kita buktikan semuanya, benarkah aku akan mencintainya?"


......-------------------......


Sore hari dengan pemandangan senjanya yang indah, menampilkan langit biru yang kini warnanya telah berubah menjadi berwarna jingga. Namun, tak membuat langit itu kehilangan keindahannya sedikitpun.


Langit berwarna jingga tersebut malah lebih banyak dinikmati oleh pasangan muda-mudi yang sedang memadu kasih. Tak terkecuali Maya.


Di sore hari yang indah tersebut kebahagiaan besar telah Maya rasakan saat sang kekasih, Daren datang bersama kedua orang tuanya untuk melamar Maya.


Keduanya berada di bangku taman belakang rumah milik Maya. Sedangkan para orang tua sibuk membicarakan hal-hal penting terkait pernikahan Maya dan Daren.


"Lihat, satu cara saja akhirnya kita akan bersatu sebentar lagi," Ucap Daren dengan kepala bersandar di bahu Maya.


Maya tersenyum, senyum penuh kebahagiaan.


"Hmm, apakah nanti setelah kita bersatu kau tidak akan seperti itu lagi?" Tanya Maya lalu menampilkan senyumnya lagi.


Kenapa wanita ini begitu bodoh? Sampai tidak mengerti hal-hal kecil kebutuhan pria seperti ini!


"Kenapa kau diam?" Lamunan Daren buyar, ketika Maya menyentuh bahunya.


"Eh, apa? Kau bertanya apa tadi?" Maya menggeleng cepat.


"Tidak ada, ayo lebih baik kita masuk!" Ajak Maya sambil menarik tangan Daren untuk memasuki rumah.


Di ruang tamu tampak ayahnya Daren dan Teddy, ayahnya Maya sedang berbicara serius.


"Jadi kapan pernikahannya akan dilaksanakan?" Tanya ayahnya Daren sambil melirik Daren dan Maya yang baru memasuki rumah.


Teddy ikut melirik ke arah mereka sambil tersenyum tipis. Terutama Azka, yang masih merasa kesal ketika melihat Daren ia selalu teringat kejadian tempo hari saat Maya hampir saja kehilangan kesuciannya jika ia tidak segera datang.


"Secepatnya," Ucap Teddy yang membuat Daren membelalak serta ayah dan ibunya juga.


Ayahnya Daren melirik Daren lagi, kemudian memberi isyarat yang langsung diangguki Daren.


"Baik, pernikahannya akan dilangsungkan dua minggu lagi. Bagaimana?"

__ADS_1


Maya tersenyum bahagia, lalu mengangguk. Teddy dan Azka pun mengangguk terpaksa karena sebenarnya keduanya sudah tidak menyukai Daren sejak malam itu.


Hanya Daren dan kedua orang tuanya yang tampak memasang wajah cemas. Maya memperhatikan ekspresi ketiga orang tersebut.


Hatinya mulai merasa ada yang ganjal dengan mimik wajah ketiga orang tersebut.


Ada apa dengan mereka? Apa sedang ada masalah, kenapa wajah mereka tampak cemas?


Maya berusaha menenangkan dirinya, lalu berpikir positif dengan tak mempercayai ekspresi wajah Daren.


Mungkin saja Daren sedang ada masalah di kantornya, jadi mereka cemas.


"Ya sudah, jika tidak ada lagi yang akan dibahas mengenai pernikahan Daren putra kami dan Maya putri kalian, kami pamit untuk pulang." Pamit ayahnya Daren seraya berdiri dari duduknya diikuti ibunya Daren.


"Eh, secepat itu? Kalian belum makan apa-apa, tidak baik pulang dengan perut kosong. Ayo, makan dulu di rumah kami!" Ajak Indri sambil meraih tangan ibunya Daren dan menariknya menuju ruang makan.


Dengan wajah pasrah ketiganya mengikuti Indri masuk ke ruang makan.


Semua sudah duduk di kursi yang telah disiapkan, makanan mulai disajikan ke piring masing-masing.


Saat semuanya mulai makan, Maya memperhatikan satu-persatu wajah dihadapannya tersebut.


Pandangannya terhenti dan matanya membelalak ketika memperhatikan ayah dan ibunya Daren yang sedang makan.


Lahap sekali, apa mereka belum aakan dirumahnya?


Maya terus memperhatikan keduanya, hingga seseorang menyadari bahwa maya sedang memperhatikan dua orang tersebut.


"Uhuk,, uhuk,," Orang tersebut terbatuk. Maya langsung mengalihkan perhatiannya dengan mengambil air minum dan memberikannya padanya.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Maya sambil mengusap punggung Daren.


Daren menggeleng, lalu meraih gelas berisi air dan meneguk airnya hingga tak tersisa. Kemudian Daren meminta air lagi pada Maya.


Suasana menjadi panik karena Daren yang sepertinya tersedak makanan. Sementara semua memusatkan perhatian padanya, Daren mengulurkan sebelah kakinya dan menginjak satu-persatu kaki kedua orang tuanya.


Keduanya mengangguk,mengerti dengan kode dari Daren.


"Sudah, terima kasih!" Ucap Daren dengan mengusap dadanya.


Bersambung...


Maaf ya, author kemarin tidak up soalnya ada saudara author yang meninggal jadi sibuk membantu di rumah keluarganya...

__ADS_1


__ADS_2