Terpaksa Menikahi Duda Arrogant

Terpaksa Menikahi Duda Arrogant
Perjanjian


__ADS_3

Masih Flashback


Meisya dan Rudra berhenti berlari saat mendengar suara tembakan itu, apalagi saat mendengar suara Roy memanggil nama Meisya.


"Keluarlah! Roy sudah mati, dia akan mati!" Seru ketua geng itu.


Meisya melirik Rudra, matanya sudah memanas karena akan menangis. Lalu Meisya berlari kembali ke area pernikahan untuk menghampiri Roy.


"Roy!" Teriak Meisya dengan berlari langsung terduduk dimana tempat Roy sudah tergeletak dengan keadaan sekarat dipenuhi darah.


"Me... Meisya, aku..." Meisya semakin menangis histeris. Rudra yang baru sampai dibelakang Meisya ikut menangis saat melihat keadaan Roy, kakak sulungnya.


"Kakak!"


"Rudra, jaga dia... Jangan sampai, dia..." Napas Roy mulai semakin tak beraturan, Meisya semakin menangis histeris lagi. Roy meraih tangan Meisya dan Rudra, lalu mempersatukan kedua tangan itu.


Setelah itu napas Roy mulai berhenti, tubuhnyapun sudah semakin melemah hingga tangannya jatuh ketanah.


"Roy!" Teriak Meisya histeris dengan tangis tak berhenti.


Rudra hanya terdiam, Ia melirik Meisya dengan tatapan ragu. Ketua geng yang memiliki konflik dengan Roy sudah pergi bersama para anak buahnya.


"Meisya Permadi, aku Rudra Raizada adik dari Roy hari ini menyatakan akan menikahimu atas pesan dari Roy Raizada." Ucap Rudra sambil menepuk kepala Meisya pelan.


Flashback off.


"Lalu bagaimana? Apa Meisya mau menikah dengan Rudra?" Tanya Maya pada Sina.


Sina terdiam, kemudian melihat jam ditangannya.


"Sepertinya cerita ini belum bisa aku lanjutkan, besok adalah pernikahanmu. Selain itu aku masih banyak pekerjaan. Setelah kalian menikah, jika kau ingin mengetahui segalanya datanglah. Aku akan menceritakannya lagi." Ucap Sina sambil berdiri dan melangkah keluar dari kamar Maya.


Tak peduli meski Maya terus memanggilnya dan memohon Sina meneruskan ceritanya.


"Kak! Kak Sina, aku mohon!"


...****************...


Hari pernikahan berlangsung, kedua mempelai sudah berada di tempat pernikahan yang didesain sangat mewah tamun tak terjangkau media.


Bukan lain hal tersebut atas permintaan sang mempelai laki-laki, Rudra. Ia meminta pernikahannya tak diumbar pada media apapun.


Bahkan sejak ia berada di kursi pelaminan matanya terus memicing tajam pada Maya disebelahnya. Hingga sebuah kesempatan dimana orang-orang sibuk mempersiapkan akad, Rudra menarik tangan Maya menjauh dari lokasi pernikahan.

__ADS_1


"Sakit!" Ucap Maya sambil menghempaskan tangan Rudra yang mencengkeramnya dengan kasar.


"Dengar, pernikahan ini terjadi atas persetujuanmu. Tapi jangan harap kau bisa mendapatkan kasih sayang ataupun belas kasihan dariku." Ancam Rudra sambil merogoh saku dalam jasnya dan mengeluarkan sebuah map.


Rudra menarik tangan Maya lagi dan mendudukannya di bangku taman gedung pernikahan dengan kasar.


Didepan bangku itu terletak sebuah meja. Rudra melemparkan map itu pada Maya. Maya sedikit terkejut, namun penasaran dengan apa yang berada didalam map itu.


"Apa ini?" Tanya Maya.


"Kau buka dan baca tulisannya!"


Maya membuka map itu, didalamnya ada selembar kertas yang sudah tertera tulisan hasil ketikan.


Maya membaca tulisan itu dengan mata yang membelalak.


*Surat Perjanjian Pernikahan


Pihak pertama : Rudra Raizada


Pihak Kedua : Mayada Vyas.


Sebelum membaca, pihak kedua harus menandatangani surat perjanjian ini. Jika tidak maka pihak kedua harus membayar denda sebesar satu Milyar rupiah*.


Maya berhenti membacanya, lalu menoleh pada Rudra yang menatapnya dengan tatapan benci.


"Kau baca sampai selesai baru boleh bertanya sesuka hatimu!" Tunjuk Rudra pada map berisi surat perjanjian itu.


Maya kembali membacanya, semakin banyak Maya membacanya semakin sakit juga hatinya yang harus masuk kedalam pernikahan yang akan dimainkan oleh Rudra.


"Tanda tangani, tunggu apalagi?" Maya menggeleng tak percaya dengan surat perjanjian itu.


"Tidak, mana mungkin bisa begini? Apa kau bercanda? Kenapa kau mempermainkan pernikahan ini?" Rudra berdiri, lalu tertawa sinis.


"Kenapa? Karena aku tidak menginginkannya! Cepat tanda tangani, atau kalian akan menjadi gelandangan!"


Dengan cepat Maya menandatangani surat itu, lalu membaca peraturan demi peraturan didalam surat perjanjian itu.


*Aturan dan perjanjian dalam pernikahan :



Pihak kedua akan tinggal dirumah pribadi pihak pertama dengan lokasi kamar paling bawah.

__ADS_1


2.Pihak kedua dilarang memasuki kamar pihak pertama.


3.Pernikahan hanya akan berlangsung selama satu tahun, dan selama satu tahun itu seluruh perkataan pihak pertama harus dituruti pihak kedua.



Jika salah satu dari pihak meminta bercerai dengan waktu yang belum mencapai satu tahun, maka pihak tersebut harus membayar denda dengan total satu triliun rupiah*.


"Sudah selesai? Kau paham tanpa harus pengacara jelaskan lagi apa yang dimaksud semua itu, bukan?" Maya mengangguk cepat, tanpa ia ketahui lagi segalanya sudah pasti bahwa hidupnya akan seperti dineraka seperti apa yang Rudra katakan tempo hari.


Pernikahan berlangsung lancar dengan topeng Maya yang berpura-pura bahagia disamping Rudra pada tamu-tamu yang datang. Meski kenyataannya Rudra bahkan sama sekali tidak meliriknya sekalipun meski mereka duduk berdampingan.


Setelah pernikahan selesai dengan waktu yang sangat malam, kini hanya tinggal Rudra dan Maya yang berada disana.


Rudra bergegas pulang kerumahnya, diikuti Maya dibelakangnya yang seperti asisten mengikuti atasannya.


Pada saat Maya akan memasuki mobil milik Rudra, Rudra langsung menghentikannya.


"Mau apa kau? Pulang sendiri! Jangan menaiki mobilku!" Hardik Rudra.


"Apa?" Ucap Maya terkejut. "Tapi, aku..."


"Kau ingin membantah? Baik, masuklah jangan lupakan perjanjian itu!" Maya memundurkan langkahnya, hatinya kini menjadi penuh kebencian terhadap Rudra.


"Jangan lupa mengetuk pintu saat kau sudah sampai di rumah!" Ucap Rudra dengan datar sebelum mobil yang dibawanya melaju meninggalkan Maya dengan tangisnya.


Dengan hati yang perih, Maya berjalan menuju tempat menunggu taxi. Beberapa orang yang masih berlalu lalang tak lepas melirik Maya.


Beberapa dari mereka bahkan ada yang berbisik-bisik saat melihat penampilan Maya yang masih terbalut gaun pengantin dengan wajah dan mata yang sembab akibat menangis.


"Lihat itu, sepertinya dia baru menikah!" Bisik seorang wanita.


"Baru menikah atau dia terkena gangguan jiwa karena gagal menikah?" Bisik yang lainnya.


Meski pelan, namun telinga Maya masih bisa mendengar bisikan itu. Maya menundukan kepalanya dalam-dalam, lalu saat sebuah taxi berhenti didepannya Maya langsung menaikinya dan mengarahkannya menuju alamat yang diberitahukan Rudra.


Sesampainya di rumah pribadi Rudra, lampu sudah dimatikan dan keadaannya sudah hening. Salah seorang pelayang menyambutnya dengan ramah.


"Nyonya Maya, silahkan. Aku akan menunjukan kamar anda." Sambut pelayan itu.


Maya tersenyum miris pada dirinya sendiri sambil mengikuti kemana pelayan itu pergi untuk mengantarkannya ke kamar miliknya.


Hingga langkahnya berhenti tepat disebuah kamar yang cukup besar, namun sederhana. Didalamnya sudah ada ranjang berukuran sedang dan juga sebuah lemari serta meja rias berukuran kecil.

__ADS_1


"Silahkan nyonya, ini kamarmu. Mulai saat ini jika anda butuh apa-apa bisa memanggilku." Maya mengangguk, lalu pelayan itu pergi setelah membantu Maya mempersiapkan tempat tidurnya.


Bersambung...


__ADS_2