Terpaksa Menikahi Duda Arrogant

Terpaksa Menikahi Duda Arrogant
Bermain Sandiwara


__ADS_3

"Tidak mungkin!"


Maya menatap tak percaya pemandangan didepannya. Bagaimana mungkin, Daren yang mengatakan ada di rumah kini berada dihadapannya.


Maya masih berdiam diri dimobil ingin tahu selanjutnya ada apa lagi pemandangan yang dilihatnya. Dari pintu lain, mulai terbuka dan keluar sepasang kaki jenjang nan mulus.


"Kaki itu? Kaki siapa?" Gumam Maya dengan hati yang sudah mulai terasa perih. Dadanya mulai sesak, cairan bening mulai menggenang dipelupuk matanya.


Kaki tersebut mulai semakin terlihat, tak lupa terlihat juga kaki tersebut menggunakan sepatu hak tinggi berwarna merah api.


Itu... Kaki wanita? Ya, tidak mungkin seorang pria berkaki mulus dan menggunakan sepatu wanita bukan? Tapi siapa?


Maya semakin merasa sesak, tapi ia masih ingin melihat siapa sosok wanita bersepatu merah api itu?


Hingga sosok wanita tersebut keluar dari mobil barulah Maya menghidupkan mobilnya dan melajukannya dengan isak tangis yang memenuhi ruang mobilnya.


Akan tetapi, baru beberapa meter mobilnya melaju, ia memutar balik setir mobilnya dan melajukannya kembali menuju arah apartemen Daren.


Hatinya masih memberi kesempatan dan berpikir mungkin Daren hanya mengantar wanita itu untuk menginap di apartemennya.


Sebab, setahu Maya wanita itu baru datang dari luar negeri dan belum sempat pulang kerumahnya yang jaraknya harus menempuh waktu tiga sampai empat jam.


Sampai di apartemen mobil Daren masih terparkir disana. Kali ini Maya melangkah memasuki apartemen dan menaiki lift untuk sampai di apartemen Daren yang sudah Maya ketahui letaknya.


Sepanjang langkah kaki jantung Maya tak hentinya berdebar lebih kencang dari biasanya. Ia merasa ada yang aneh dengan hatinya, seakan menyuruhnya untuk mengikuti terus Daren.


Kini kaki Maya sudah berpijak didepan pintu apartemen milik Daren. Pintu yang didesain mewah itu dengan cat kayu berwarna putih tertutup rapat.


Maya mencoba membukanya akan tetapi terkunci. Hingga akhirnya ia merogoh sesuatu dari dalam tasnya. Yaitu kunci cadangan. Ya, Maya memiliki kunci cadangan apartemen Daren karena dulu Maya sering menginap diapartemen Daren saat masih kuliah.


Pintu terbuka, menampilkan ruangan yang kosong seperti tak berpenghuni. Namun terdengar suara keributan dari dalam kamar Daren yang biasa Maya tempati.


Suara yang semakin Maya melangkah mendekati kamar tersebut semakin jelas. Suara yang pernah Maya dengar saat dirinya dulu hampir menyerahkan kesuciannya.


Maya merasa kakinya seperti tak bertulang, kini ia sudah bersandar pada dinding luar kamar itu dengan menempelkan telinganya pada pintu kamar itu.


Suara ini?... Tidak!


"Tidak, itu tidak mungkin!" Isak Maya sambil mengumpulkan kekuatannya untuk berdiri. Bermaksud untuk keluar dari apartemen tapi tangan Maya malah meraba gagang pintu dan membukanya.


Pintu terbuka lebar namun yang berada didalam tidak mengetahui dan menyadarinya.


Maya menutup mulutnya dan melangkahkan kakinya keluar dari apartemen.

__ADS_1


Di lorong apartemen Maya terus berlari sambil terisak hingga tubuhnya tak sengaja bertabrakan dengan seseorang.


"Ma.. Maaf" Ucap Maya sambil berdiri.


"Tidak apa-apa, sekarang kau percaya padaku, kan?" Maya terdiam, suara itu sangat ia kenali.


Azka! Itu adalah Azka, kakaknya Maya.


Maya mendongakan kepalanya kemudian memeluk pria dihadapannya dengan seorang wanita yang berdiri disamping Azka ikut memeluk Maya.


Sina memeluk Maya da mengelus punggung Maya lembut.


"Sudah lihat sendiri?" Maya menjawab pertanyaan Sina dengan anggukan.


"Percaya padaku?" Kini Azka yang bertanya dan langsung mendapat anggukan dari Maya.


"Ayo pulang, tenangkan dirimu dan jangan bicara apa-apa dulu dengan ayah ataupun ibu. Jika ada yang bertanya katakan saja tadi kau kecelakaan kecil dijalan. Paham?" Ujar Azka yang dijawab oleh anggukan lagi dari Maya.


Maya seperti orang gagu yang tak bisa bicara, suaranya seperti tercekat oleh kenyataan yang baru saja dilihatnya.


Kekasihnya berselingkuh dengan wanita itu, mungkin saja sudah lama. Tapi kenapa Maya baru bisa mengetahui itu sekarang?


"Kak, bagaimana kakak bisa tahu aku ada disana?" Maya mulai membuka suaranya lagi. Namun nadanya masih sendu, karena ia masih meratapi kisah cintanya yang akan kandas dengan Daren.


"Siapa wanita itu?"


"Kau akan mengetahuinya nanti," Sahut Sina dari samping Azka.


Maya hanya mengerutkan dahinya. Ia tak ingin bicara apapun lagi, yang ia rasa saat ini tubuhnya lelah, perlu istirahat. Begitu juga dengan hatinya yang sudah terluka sangat dalam.


Jangan tanya penampilan Maya saat ini, ia terlihat seperti kain kusut yang belum disetrika. Hidupnya seperti kehilangan semangat.


...----------------...


Hari-hari yang dipenuhi kesedihan sejak Maya menemukan perselingkuhan Daren telah Maya lalui. Setiap harinya ia lebih sering mengurung diri dikamarnya.


Telepon dari Daren tak pernah Maya angkat. Rasanya Maya sudah merasa enggan untuk bicara ataupun bertemu dengan laki-laki b*jingan itu.


"Angkat, putuskan segalanya. Jangan biarkan dia tahu bahwa kau sudah memergoki perselingkuhannya, biarkan semua terjadi sesuai rencana kita." Sina menyahut dari ambang pintu.


Maya menoleh, ia melihat sebuah kasih sayang dimata kakak iparnya tersebut.


"Kak, tapi bagaimana mungkin aku menikah dengan laki-laki seperti Daren?" Sina menggeleng pelan, lalu mendekati Maya dan duduk disampingnya.

__ADS_1


"Lakukan saja apapun yang kukatakan,"


"Tapi..."


"Jangan bertanya lagi, biarkan kami melakukan semua yang telah kami rencanakan sejauh ini. Apapun yang terjadi di hari pernikahan kalian, terimalah. Yakinlah bahwa apa yang ayah lakukan untukmu adalah yang terbaik!" Mendengar nasihat Sina, Maya langsung meraih ponselnya dan menelepon balik Daren.


"Berusahalah terlihat baik-baik saja. Dan berpura-puralah bahwa kau belum tahu apapun, mengerti?!" Maya mengangguk.


Telepon tersambung, terdengar suara hallo dari orang didalam telepon.


"Ada apa? Aku sibuk, kau tahu kan bahwa pernikahan kita dua hari lagi?" Ucap Maya dengan suara biasa.


"Kau ini kemana saja? Beberapa hari ini ponselmu selalu berada dalam luar jangkauan!"


"Tidak kemana-mana, aku hanya sibuk. Itu saja." Ucap Maya sambil mengusap dadanya, berusaha menghilangkan amarahnya.


Sina mengusap punggung Maya, membantu Maya meredam amarahnya.


"Kau tidak merindukanku? Aku sangat merindukanmu, bagaimana kalau kita bertemu sebelum pernikahan?"


Maya melirik Sina, lalu Sina menggelengkan kepalanya yang berarti menyuruh Maya untuk menolak ajakan Daren.


"Tidak bisa, aku tidak diperbolehkan keluar oleh ibu. Maaf, eh sudah dulu! Sampai jumpa di hari pernikahan nanti!" Maya menutup teleponnya tanpa menunggu jawaban Daren, kemudian langsung memeluk Sina dan menangis dipelukan Sina.


"Jangan menangis, kau adalah wanita yang ceria dan kuat!" Ucap Sina sambil memeluk Maya.


...----------------...


"Rudra, dua hari lagi Maya akan menikah. Kau harus ikut dan hadir dipernikahannya!" Perintah Indria sambil membangunkan Rudra.


"Apa maksud ibu?" Tanya Rudra sambil menegakan duduknya diatas tempat tidur.


"Setidaknya jangan menolak, ibu hanya memintamu hadir di pernikahan Maya! Jika tidak maka ibu akan pulang ke Amerika!" Ancam Indri.


Dengan terpaksa Rudra menyetujui ajakan Indri, setelah Indri keluar ia langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Sementara Indri menemui Dirga yang sedang duduk di ruangan keluarga sambil menyeduh teh dan membaca koran.


"Dia setuju untuk ikut, semoga semua berjalan sesuai rencana kita." Ucap Indri pada Dirga.


"Bagus, semoga saja." Ucap Dirga sambil tersenyum senang. "Maya akan menjadi menantu kesayanganku, karena dia adalah istri dari pewarisku!"


"Tentu saja, sepertinya akan seru jika Maya masuk kedalam keluarga kita. Kau masih ingat bukan? Sejak kecil dia adalah wanita yang ceria!" Seru Indri.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2