
"Kau sudah pulang? Payah, bagaimana bisa kau pulang dalam waktu yang lama?!" Rudra bersandar pada pintu sambil menatap Maya dengan tatapan mengejek.
Maya hanya bisa menunduk dan berusaha meyakinkan hatinya agar jangan melawan Rudra.
"Kau tuli? Darimana saja kau sampai pulang selarut ini?!" Nada suara Rudra meninggi, membuat Maya sampai berdiri dari duduknya. "Kau sudah bersuami! BERSUAMI! Aku harap orang tuamu mengajarimu bagaimana cara menjadi wanita yang sudah bersuami."
Maya menunduk lebih dalam lagi, rasanya ia tak percaya bahwa telah menikah dengan seorang duda kejam dan arrogant seperti Rudra.
Entah apa yang membuat Rudra seperti itu, akan tetapi bukan berarti Rudra bisa berbuat sesuka hati padanya hanya karena pernikahan mereka yang tidak diinginkan.
"Dengar, dirumah ini hanya ada pelayan yang bertugas membersihkan rumah. Sekali lagi hanya bertugas membersihkan rumah. Selebihnya kau yang melakukannya! Sekarang cepat masak untuk suamimu ini, tuan putri!" Bibir Rudra menyunggingkan senyum menyeringai, lalu berlalu dari kamar Maya menuju kamarnya.
Maya bergegas memasuki dapur, mencoba memasak makanan sebisanya dalam waktu cepat. Mungkin dengan sikap Rudra, Maya bisa mengerti bahwa ia harus melakukan apapun dengan sangat cepat.
Setelah selesai memasak, Maya langsung menyajikannya di meja makan. Kemudian Maya bermaksud akan memanggil Rudra yang masih berada di dalam kamarnya. Akan tetapi, Maya teringat bahwa ia tidak boleh memasuki area kamar Rudra.
Maya mengurungkan niatnya, kemudian memanggil pelayan dan menyuruhnya memanggil Rudra.
Tak lama setelah dipanggil Rudra turun dengan ekspresi yang selalu datar dan menyebalkan. Hingga duduk di meja makan, Rudra masih berekspresi datar.
Maya tidak duduk bersama Rudra, akan tetapi memilih berdiri disamping kursi yang berhadapan dengan Rudra.
"Apa kakimu tidak merasa pegal?" Maya menggeleng cepat. "Bagus, berdiri sampai aku selesai makan!"
Maya menganga tak percaya. Ia sungguh tak percaya bahwa Rudra yang berada dihadapannya saat ini adalah seorang manusia.
Dia bukan manusia, dia adalah seorang Singa!
Maya mengepalkan tangannya sambil menatap Rudra dengan tatapan kesal dan penuh amarah. Mungkin jika ia bukan istri Rudra, Ia sudah akan menghabisi Rudra.
Drama baru dimulai, dimana Rudra mulai mencicipi makanan yang dibuat Maya. Saat menyendok salah satu sayurnya, Rudra langsung memuntahkannya.
"Apa kau tidak mempunyai garam?!" Hardiknya dengan nada tinggi.
"Sejak kapan rumah ini selalu kehabisan bahan makanan? Terutama bumbu dapur? Kau ini memasak apa?" Rudra terus menghardik Maya. Kini, tubuh Maya bahkan sudah bergetar karena ketakutan.
"Mili!" Teriak Rudra dengan suara yang memekakan telinga.
Mili adalah pelayan rumah Rudra yang tadi menyambut Maya saat Maya baru datang kerumah.
"Ya, Tuan." Ucap Mili saat berada di hadapan Rudra.
"Coba kau makan ini," sambil menyodorkan makanan yang tadi dicicipinya.
__ADS_1
"Rudra, itu..." Maya mulai membuka suaranya akan tetapi terpotong karena Rudra yang sudah menatapnya tajam.
"Rudra? Panggil aku Tuan!" Bentaknya.
Tuan? Jadi disini aku sudah dijadikan pelayan? Sialan! Batin Maya dengan perasaan yang tercabik-cabik.
"Mili, coba!" Mili langsung mengambil makanan itu. Mili mencobanya dengan perlahan, kemudian tersenyum simpul.
"Pak, ini hidangan penutup. Rasanya sudah sangat pas dan manis." Ucap Mili yang membuat Rudra terdiam seketika dengan wajah yang mungkin mulai berubah menjadi gugup.
Maya menatap Rudra dengan tatapan penuh kemenangan. Dalam hatinya sudah tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Rudra.
"Kenapa kau hanya diam saja? Seharusnya kau memberitahuku!" Rudra tidak kehabisan cara untuk mempermalukan Maya.
Maya mulai kesal lagi pada Rudra, kini tangannya kembali terkepal.
Manusia ini, ternyata tidak punya malu sama sekali!
"Aku ingin memberitahu anda, tapi anda tidak memberiku kesempatan untuk berbicara dan malah langsung memanggil Mili." Jawab Maya sambil melirik Mili yang juga melirik Maya sambil tersenyum manis.
Rudra menghela napas ringan kemudian duduk kembali dan mulai memakan makanan lainnya.
Mili kembali pada pekerjaannya, sedangkan Maya masih berdiri menunggu Rudra selesai makan. Cukup lama, hingga kaki Maya sudah terasa sangat pegal.
"Mau kemana kau?" Tanya Rudra dengan berdiri bersandar pada dinding pembatas ruangan.
Maya menoleh dengan cepat, lalu menundukan pandangannya.
"Aku akan istirahat."
"Benar-benar istri yang tidak tahu diri, seharusnya kau melayani suamimu dimalam pertama pernikahan!" Bentak Rudra.
Maya membelalakan matanya hingga membulat sempurna mendengar Rudra mengatakan tentang malam pertama.
"Me... Melayani anda?"
Apa dia benar-benar ingin... Tidak, itu tidak mungkin!
Tiba-tiba saja, Rudra tertawa sinis dengan cukup keras. Maya semakin dibuat bingung dengan sikap Rudra yang semakin membingungkan.
"Wah, ternyata kau peka juga? Tapi tidak, jangan harap aku menyentuhmu sedikitpun! Jangankan menyentuh, bahkan jika bisa rasanya aku tidak ingin melihat wajahmu itu!" Ejek Rudra sambil berlalu dari hadapan Maya dan menaiki tangga.
Maya kembali mencoba meredam amarahnya dengan mengepalkan tangannya.
__ADS_1
"Apa dia tidak bisa berbaik hati sedikit saja padaku? Ini bukan keinginanku, bukankah ini keinginan kedua keluarga saja?" Gerutu Maya.
Maya memasuki kamarnya, bermaksud untuk mengistirahatkan tubuhnya yang terasa sangat lelah.
Sebelum tidur hatinya berbicara dengan dirinya sendiri, matanya mengeluarkan air mata yang tak terhitung jumlahnya. Menangis, meratapi nasibnya yang harus seperti ini.
*Mungkin ini takdirku, selama satu tahun akan tersiksa dalam belenggu seorang duda kejam seperti Rudra.
Kau kuat, Maya! Kau harus kuat! Semua demi orang tuamu. Jangan mengecewakannya lagi! Penyiksaan ini baru dimulai, kedepannya kau harus lebih kuat dan siap lagi Maya*!
Menegarkan diri sendiri dan menguatkan diri sendiri, mungkin itu jalan satu-satunya untuk menghadapi Rudra dan juga segala kekasarannya mulai malam ini hingga satu tahun.
Hanya satu tahun, Maya dan setelah itu kau akan memulai hidup baru. Segala hal yang baru, tanpa paksaan dari siapapun ataupun keluargamu.
Mata indah milik Maya mulai menutup sempurna, pembicaraan antar dirinya dan batinnya membuat Maya semakin pulas dalam tidurnya.
...****************...
Pagi telah menyapa, seiring dengan semakin naiknya matahari menyinari bumi dari timur menuju kebarat.
Di jam yang seharusnya bagi Maya masih tertidur, kini Maya harus berkutat dengan segala perabotan dapur dan sibuk memasak sarapan untuk seseorang yang bergelar suaminya sekaligus majikannya.
Kesibukannya membuat Maya lupa akan dirinya sendiri, lupa bahwa kesehatannya sendiri harus ia jaga. Pola makannya mulai rusak, di jam seperti ini seharusnya Maya sudah sarapan dan berada di kantor.
Tapi pagi ini Maya belum menyentuh makanan sedikitpun dari semalam. Sehingga membuat tubuhnya sedikit merasa lemah, namun Maya tak menghiraukannya. Ada yang lebih penting yang harus Maya utamakan saat ini.
Saat seluruh makanan telah siap, Rudra juga sudah menuruni tangga. Maya dengan sigap kembali berdiri didepan meja makan sambil menunduk.
"Ambilkan aku itu," perintah Rudra menunjuk makanan yang jauh dari jangkauan keduanya.
Maya berjalan dengan langkah pelan, mengambilkan yang diminta Rudra namun saat langkah itu sudah dekat, Maya mulai merasa penglihatannya menggelap.
"Kenapa kau lama sekali? Cepat ambilkan!" Samar-samar sebuah suara membentaknya.
Beberapa kali, namun Maya sudah tidak bisa mendengarnya dengan jelas.
Hingga ia tak ingat apapun lagi dan seluruhnya berubah menjadi gelap. Tidak lupa dengan kepala yang sudah terasa berputar-putar hingga akhirnya tubuh Maya membentur benda keras.
Bruukk...
Bersambung...
Rudra kamu terlalu kejam sih! 🙄🙄🙄😣😣😏😏
__ADS_1