
Pernikahan adalah hari yang seharusnya menjadi moment terbahagia bagi pasangan yang akan menikah tersebut.
Tapi tidak bagi Maya. Hari ini ia harus dilema dengan pernikahannya bersama Daren. Dalam hatinya Maya merasa kecewa terhadap orang tuanya yang masih akan menikahkannya dengan Daren meski Maya telah memberitahukan segalanya tentang Daren.
"Semuanya sudah terlanjur direncanakan, jadi lakukan saja daripada membuat malu keluarga!" Itulah kata-kata Teddy yang enggan membatalkan pernikahan Maya dan Daren.
Maya terpaksa menikah dengan Daren, ia tak ingin membuat nama keluarganya malu. Karena walau bagaimanapun semua akibat kenaifan dirinya juga yang terlalu percaya bahwa Daren adalah pria yang baik bagi dirinya.
"Maya, cepat keluar!" Ucap Azka sambil tersenyum manis pada Maya.
Maya hanya menoleh sekilas, lalu memejamkan matanya sebentar.
"Cepat, semua orang sedang menantimu!" Tegas Azka. Lalu Azka bergegas keluar dari ruang kamar Maya. Baru sampai di depan pintu, Maya menahan lengan Azka.
"Kenapa? Masihkah aku harus menikah dengannya walaupun aku akan hancur?" Azka memejamkan matanya dan menghela napas panjang sebelum berbalik untuk menatap dan menjawab pertanyaan Maya.
Kemudian Azka berbalik, dan mengecup kening Maya. Azka menatap lekat-lekat wajah Maya, adik semata wayangnya yang mulai beberapa menit lagi akan menjadi milik orang lain. Rudra, bukan Daren.
...****************...
Flashback
"Maya tidak akan menikah dengan Daren," tegas Teddy dalam obrolan dan perkumpulannya bersama keluarga besarnya.
"Ini semua telah diatur, jadi kalian harus mengikuti setiap rencanaku. Jangan sampai keluarga Daren merasa curiga dengan kita!" Semua orang mengangguk, lalu kemudian datanglah Rudra dengan keluarganya dari arah pintu.
Rudra yang melihat satu keluarga itu berkumpul berniat untuk keluar lagi dari rumah jika saja Dirga tidak menahannya dengan mencekal tangannya.
"Aku harus keluar," ucap Rudra.
Dirga menggeleng. Lalu ia menarik tangan Rudra menuju ruang dimana keluarga Maya sedang berkumpul.
"Rudra akan tetap menikah dengan Maya," tegas Azka membuat Rudra menatapnya dengan penuh amarah. "Sekarang undangan yang tersebar bukan Maya dan Daren, tapi pernikahan Rudra dan Maya!"
"Kau pikir hidupku begantung pada keputusanmu?! Kau mempermainkan adikmu sendiri!" Hardik Rudra dengan tangan yang sudah mencengkeram kerah leher kemeja Azka.
Dirga kembali melerai Rudra. Akan tetapi Rudra tidak melepaskan Azka begitu saja, ia masih sangat marah pada Azka yang memutuskan hal tentang dirinya sesuka hati.
"Dengar, aku tidak akan menikah dengan adikmu! Meskipun aku menikahinya jangan harap akan ada cinta diantara kami ataupun melihatnya bahagia bersamaku!"
"Akan kujadikan setiap detik dalam hidupnya disampingku bagaikan dalam neraka, dia tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaannya! Hanya ada satu nama yang berarti dan aku cintai dalam hidupku, bukan dia! Meisya." Rudra kemudian melepaskan cengkeramannya dengan kasar hingga Azka hampir saja terjatuh.
Setelah itu Rudra berbalik dan meninggalkan rumah keluarga Maya dengan penuh amarah dihatinya.
Flashback off
...----------------...
__ADS_1
Azka membawa Maya melangkah dari dalam kamar menuju ke ruang pernikahan, sepanjang langkah hati Maya terasa sakit.
Bagaimana bisa mereka bisa setega ini padaku?
Hingga akhirnya ia sampai diruang pernikahan dengan mata berkaca-kaca dan tangan terkepal.
Terlihat juga Daren sudah duduk diatas pelaminan dengan senyum mengembang. Sedangkan Maya ragu untuk melangkah kembali menuju Daren, hanya rasa sakit dihatinya yang bisa ia rasakan saat ini.
"Ayo, mereka sudah menunggu!" Bisik Azka.
Maya mengangguk, lalu melangkahkan kakinya pelan menuju pelaminan dimana Daren sedang menunggu masih dengan senyuman manisnya.
Rudra yang hadir dengan keluarganya memandang sinis pemandangan didepannya. Ia merasa sangat dipermainkan oleh keluarga Maya.
Bagaimana bisa? Meskipun aku tak menginginkan pernikahan ini, bukan berarti mereka sesuka hati mempermainkan pernikahan putri mereka?
"Kenapa kau melihat mereka seperti itu?" Indri membuyarkan lamunan Rudra.
Rudra menggeleng, lalu merangkul ibunya dengan sangat lembut.
Indri mengambil segelas minuman dihadapannya, lalu dengan sengaja menumpahkannya kepada baju Rudra hingga meninggalkan bekas warna minumannya.
"Maaf, nak! Ayo kita ganti saja pakaianmu disana." Sambil menunjuk rumah Maya dan menarik Rudra menuju kesana.
Sebelum menjauh Indri menoleh kebelakang sekilas dan mengacungkan ibu jarinya ke arah Dirga sambil tersenyum penuh arti.
Hingga sampai di sebuah kamar didalam rumah Maya, Indri langsung memberikan sebuah setelan tuxedo warna putih pada Rudra dan menyuruhnya untuk memakainya.
"Jangan banyak bertanya, pakai saja karena pakaian yang lainnya tidak muat padamu!"
Dengan sedikit rasa curiga Rudra memilih memakai pakaian itu. Setelah selesai Indri langsung membawa Rudra kembali menuju ruang pernikahan.
"Mempelai prianya sudah siap!" Seru Dirga saat Rudra sudah sampai bersama Indri.
Daren yang duduk disamping Maya membelalakan matanya mendengar seruan Dirga, lalu ia menoleh pada Maya. Terlihat Maya sudah didampingi Azka yang mengulurkan tangannya pada Maya.
"Apa ini?!" Protes Daren tak terima.
Rudra masih menoleh kesana kemari, mencoba mencari penjelasan atas ucapan ayahnya baru saja. Termasuk Maya yang sama sekali tidak mengerti dengan hari pernikahannya tersebut.
"Kalian semua penipu!" Ujar Daren dengan wajah marah.
"Apa ini? Konspirasi macam apa ini? Apa kalian sengaja ingin mempermalukan kami?!" Ibunya Daren atau ibu palsunya bersuara.
"Satu orang, tolong berikan mereka undangan pernikahan ini!" Seru Azka.
Sina datang dengan sebuah kertas undangan ditangannya, lalu memberikannya pada Azka.
__ADS_1
"Disini tertulis pernikahan Rudra dan Maya adikku, bukan dengan Daren! Asal kau tahu saja, aku tidak akan pernah memberikan Maya adikku pada seseorang seperti dirimu! Penipu dan perusak kebahagiaan orang lain!" Hardik Azka pada Daren.
Daren tersenyum sinis, lalu berjalan mendekati Maya dan menarik tangannya hingga kini Maya berada dibawah genggamannya.
"Kalian berani menipuku? Maka rasakan apa yang akan terjadi pada Maya!" Ancamnya sambil mengarahkan sebuah pisau pada leher Maya.
"Lepaskan!" Teriak Maya sambil mencoba melepaskan diri.
Melihat suasana yang berubah menjadi tegang, Rudra tak tinggal diam. Ia diam-diam mengambil tindakan dengan berjalan mengendap-ngendap kebelakang Daren.
"Lepaskan atau kau sendiri yang akan berakhir disini!"
Daren semakin tertawa sinis.
"Jadi Rudra kini sudah melupakan Meisya, ya?" Ucap Daren sinis. Amarah Rudra menciut mendengar nama wanita yang ia cintai.
Hal itu membuat Daren leluasa menyerang kembali keluarga Maya.
"DIMANA MEISYA?!!!" Teriak Rudra.
Daren tertawa sinis lagi, lalu kembali mengarahkan pisau ke leher Maya.
"Tidak!" Teriak keluarga Maya dengan penuh ketakutan.
Rudra kembali mencoba melepaskan Maya dengan caranya hingga ia melihat kearah vas bunga dan mengambilnya lalu memukulkannya ke belakang kepala Daren.
Brak...
Vas bunga hancur dengan kepala Daren yang sudah berlumuran darah. Tanpa membuang-buang waktu, Rudra segera menarik Maya dan membawanya kearah Azka.
Yang lainnya langsung menangkap Daren dan juga kedua orang tua palsunya. Dengan Daren terlebih dahulu dibawa kerumah sakit sebelum dibawa ke kantor polisi.
"Lalu bagaimana dengan pernikahannya?" Tanya Dirga setelah suasana mulai tenang.
"Kita tunda saja, hingga Maya sudah tenang." Ucap Azka sambil memperhatikan Maya yang tampak shock.
"Tunggu! Sebelum mereka menikah aku ingin bertanya dulu pada Maya sendiri. Apakah dia mau menikah dengan Rudra?" Indri menunjuk Maya.
"Apa kalian tidak melihat? Aku tidak ingin menikah dengannya!" Hardik Rudra sambil menunjuk Maya.
"Ibu tidak bertanya padamu, tapi bertanya pada Maya! Ibu tidak perlu keputusanmu untuk menikah atau tidak, karena ibu akan tetap menikahkanmu dengan wanita manapun itu kecuali Meisya!" Balas Indri dengan nada tinggi.
Rudra mengepalkan tangannya erat, amarah sudah memenuhi dirinya namun ia tak mungkin melampiaskannya dihadapan dua keluarga tersebut.
"Jawab, Maya! Apa kau bersedia menikah dengan Rudra?" Indri menghampiri Maya dan mengelus pucuk kepalanya lembut.
"Aku..."
__ADS_1
Bersambung...
komen jangan lupa 😉