Terpaksa Menikahi Duda Arrogant

Terpaksa Menikahi Duda Arrogant
Pulanglah Sendiri!


__ADS_3

Maya merasa bosan di pesta itu, Rudra sendiri masih asyik mengobrol dengan Siddharth dan Kiran.


Beberapa kali Maya menyenggol lengan Rudra, bermaksud mengajak Rudra pulang. Namun Rudra tak memedulikan Maya, hanya meliriknya sekilas dengan tatapan acuh.


Hingga kali ini, Maya benar-benar sudah merasa sangat bosan dan berniat menyenggol lengan Rudra lagi. Namun, lagi-lagi Rudra mengacuhkannya. Hingga Maya menginjak kakinya dengan sangat keras.


"Heuh!" Dengusnya sambil menatap Maya tajam. Siddharth dan Kirana menatap Rudra dengan tatapan geli.


"Lain kali pedulikan dia, jangan sampai dia merasa bosan karena kau mengacuhkannya!" Cibir Kiran.


"Permisi, aku ingin bicara dengannya dulu!" Ucap Maya sopan sambil menarik tangan Rudra menuju tempat sepi.


Setelah sampai ditempat sepi, Rudra melepas pegangan Maya dengan menepisnya kasar kemudian menarik tangan Maya dengan sangat keras.


"Kenapa? Kau ini sangat menggangguku!" Bentak Rudra.


"Aku bosan, apa aku boleh pulang?" Tanya Maya dengan wajah santai. Rudra tersenyum sinis, kemudian menatap Maya dengan tatapan mengejek.


"Benar-benar wanita bodoh!" Ejeknya.


"Aku minta pulang, bukan ejekanmu duda arrogant!" Balas Maya secara sengaja.


"Pulanglah, pulang sendiri!" Perintah Rudra tanpa belas kasihan. Maya dengan senangnya langsung keluar area rumah besar milik teman Rudra tersebut dan saat diluar ia begitu kebingungan.


"Kenapa tidak ada taksi yang lewat?" Gumam Maya dengan wajah bingung.


Beberapa saat menunggu, taksi belum terlihat juga. Hanya saja, ada beberapa pria yang keluar dari dalam area rumah besar tersebut dan tiba-tiba mendekati Maya.


"Hai cantik, kau sedang apa disini? Kenapa tidak didalam? Sambil minum dan duduk manis!" Goda mereka yang tentunya diacuhkan Maya.


Maya memilih menjauh dari mereka, akan tetapi mereka malah menarik tangan Maya dan membuat Maya menjadi sangat kesal sekaligus takut.


"Lepas!" Teriak Maya.


"Wah, dia marah!" Seru salah satu pria.


"Lepas!" Teriak Maya lagi. Namun mereka enggan melepaskan Maya. Maya terpaksa menggunakan cara lain, yakni menggunakan nama Rudra.


"Lepas! Atau suamiku akan menghabisi kalian!" Ancam Maya.


Bukannya takut, mereka malah enggan melepaskan Maya dan semakin mendekati Maya juga berusaha menyentuh Maya.


"Lepaskan! Rudra, Rudra!" Teriak Maya.


Namun yang diteriaki tak muncul karena mungkin tak mendengar teriakan Maya. Maya kini merasa sangat takut dan menangis.


Bugh!

__ADS_1


"Berani kau mendekati istriku?" Ucap seseorang dengan menarik kerah leher kemeja pria itu.


Maya tersadar, ketika mendengar suara Rudra. Dibelakang Rudra ada Siddharth dan Kirana yang menatap Maya khawatir.


"Ada apa ini?"


"Mereka menggangguku!" Ucap Maya sambil menunjuk pria-pria yang telah tergeletak kesakitan diatas jalanan.


Siddharth menatap mereka dengan tatapan kesal, kemudian memanggil anak buahnya dengan teriakan kesal.


"Ada apa tuan?"


"Bagaimana bisa mereka masuk dan bagaimana bisa ada minuman disini?"


Anak buah Sid menjelaskan segalanya, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk masuk kedalam rumah kembali. Berbeda dengan Maya, yang terua meminta pulang pada Rudra.


Rudra menghela napas kesal,kemudian melempar kunci mobilnya pada Maya.


"Pulanglah sendiri!" Ketusnya sambil berlalu masuk kedalam. Maya tertawa senang, kemudian segera menyetir mobil Rudra menuju kerumahnya tak peduli Rudra akan pulang atau tidak dan akan pulang naik apa.


Masa bodoh, dia kan bisa pulang naik apapun semaunya!


...****************...


Maya sudah tertidur sejak pulang dari pesta, bahkan tanpa mengganti pakaiannya sama sekali. Sedangkan Rudra baru pulang tengah malam, semua dikarenakan ia dan Siddharth pasti akan melakukan hal diluar rencana pesta.


Beberapa kali ia menggedor pintu rumah tapi tak ada yang membuka. Hal itu membuat Rudra sangat kesal, hingga berteriak-teriak. Beruntung Mili terbangun dan membukakan pintu.


Rudra masih berjala sempoyongan karena mabuk, ia merasa tak sanggup lagi berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Hingga akhirnya pandangannya tertuju pada kamar Maya.


"Pasti gadis bodoh itu belum tidur!" Gumamnya sambil terkikik sendiri.


Rudra membuka pintu kamar Maya yang ternyata tidak dikunci, Maya terlihat masih terlelap dalam tidurnya.


Rudra mulai tidak bisa mengendalikan dirinya, minuman yang beralkohol sudah membawanya dalam ketidaksadaran sama sekali.


"Hmm" dehem Maya, masih dalam tidurnya. Tidak menyadari bahwa sudah ada yang menatapnya dengan senyuman menggelikan.


"Geser, bodoh! Aku ingin tidur disini!" Ucap Rudra dengan kata-kata yang menggelikan.


Maya tak bangun, Rudra merasa tambah kesal lagi. Ia mulai menjatuhkan dirinya kemana saja. Tapi merasa tak nyaman, hingga Rudra berjalan sempoyongan lagi menuju ranjang Maya.


Tak sengaja, kakinya tersandung sesuatu yang keras hingga membuatnya terjatuh menimpa Maya.


Wajah Rudra kini berada sangat dekat dengan wajah Maya yang masih tertidur pulas meski tubuh Rudra telah menimpanya.


Rudra menatap wajah Maya dengan tatapan terkagum-kagum.

__ADS_1


Dia cantik sekali, dia milikku kan?


Rudra tersenyum aneh, kemudian menatap lagi wajah Maya.


Rudra mengelus pipi Maya dan menyingkirkan rambut Maya yang menutupi wajah Maya. Rasa kagum yang muncul dalam ketidaksadaran itu semakin meninggi, hingga Rudra berani semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Maya.


...****************...


Satu jam berlalu, Rudra sudah tertidur pulas dengan posisi disamping Maya. Selimut menutupi tubuhnya. Tak lupa, tangannya melingkar pada tubuh Maya. Tidurnya sangat pulas dengan wajah yang tenang.


Maya sendiri terbangun, menatap wajah Rudra disampingnya dengan menggigit bibirnya sekeras mungkin.


Kenapa pengorbananku harus sebesar ini? Apakah itu tulus? Tidak!


Tapi kenapa tidak ada kekasaran sama sekali? Lembut, sangat lembut.


Maya melepaskan tangan Rudra lalu mengambil satu bantal dan selimut didalam lemari lalu tidur diatas sofa.


Hatinya merasa gelisah. Tak tentu apa yang dia rasakan, hal tadi membuatnya bimbang.


Rasa bimbang itu membuat matanya tak mampu tertutup lagi untuk mengistirahatkan segala rasa lelahnya.


Hingga matahari mulai naik dari ufuk timur, barulah Maya tertidur. Rudra bahkan masih tertidur sangat pulas setelah mendapatkan sesuatu yang indah dalam ketidaksadarannya semalam.


Rasa yang indah, tapi sayang belum da cinta yang tumbuh didalam rasa semalam itu.


...****************...


Semakin siang, semakin panas juga cuacanya. Namun, tak ada yang menyangka bahwa cuaca yang tadinya panas berubah menjadi mendung dan langsung berubah menjadi hujan.


Maya sudah bangun dan membersihkan dirinya. Rudra masih tertidur mungkin karena pengaruh minuman beralkohol yang ia minum bersama Siddharth.


Maya menatap Rudra dari kejauhan, tak berani mendekatinya. Takut bahwa Rudra akan merasa jijik padanya. Padahal mereka semalam sangat dekat, hingga tak sadar telah membawa sebuah rasa dalam hati Maya.


"Duda gila!" Ucap Maya sedikit berteriak.


Rudra hanya berdeham, kemudian terbangun dengan meregangkan kedua tangannya dan menguap begitu keras.


"Apa ini sudah pagi?" Tanya Rudra dengan wajah masih mengantuk.


"Pagi? Lihat ini!" Maya menunjukan jam kecil pada Rudra.


"Jam sepuluh siang?" Ucapnya terkejut. "Bodoh! Kenapa tidak membangunkanku?!" Umpatnya sambil berlari kekamar mandi. Masih belum sadar, bahwa ini kamarnya Maya.


Bersambung...


Ada apa dengan semalam antara Maya dan Rudra? Hmm...

__ADS_1


__ADS_2