
"Maya!" Rudra mengetuk pintu kamar Maya.
Maya bangun dari duduknya dan membuka pintu kamarnya. Tentunya setelah memperbaiki riasan wajahnya terlebih dahulu.
"Kau baik-baik saja, kan?" Maya mengangguk cepat sambil tersenyum pada Rudra.
"Kau ada apa kesini? Temani Meisya dan Annika diluar, mereka pasti ingin bicara penting denganmu setelah lama kalian terpisah." Maya meraba perutnya, seperti anaknya juga saat ini sedang kesal pada Rudra sehingga perut Maya terasa sakit ringan.
"Aku hanya ingin melihat apa kau baik-baik saja atau mengalami masalah karena setelah membuka pintu kau langsung menghilang. Aku takut terjadi sesuatu pada anakku." Rudra menunjuk perut Maya.
Maya menggigit bibir bawahnya dengan sangat keras.
Aku pikir dia akan mengkhawatirkanku, ternyata hanya bayinya saja. Oh Maya, apa kau pikir dia akan khawatir padamu?
Tidak, memangnya kau ini siapa?!
"Maya, kau baik-baik saja kan?" Maya mengangguk.
"Bayinya baik-baik saja, jangan khawatir!" Seru Maya sambil berjalan keluar kamar untuk memastikan apakah Meisya masih berada disana atau tidak.
Ternyata Meisya sedang duduk bersama Annika di sofa ruang tamu.
Sekilas Maya memperhatikan Meisya dan penampilannya. Maya merasa mual saat memperhatikan Meisya, mengingat bagaimana Meisya berselingkuh dengan Darena dan melakukan sesuatu yang menjijikan setiap mereka bertemu.
Hueek,...
Maya hampir muntah ditempatnya jika tidak segera berlari menuju kamar mandi terdekat.
Meisya melirik ke arah sumber suara yang seperti orang muntah namun tak menemukan pemilik suara itu.
Hanya terlihat Rudra keluar dari kamar dan masuk kedalam kamar mandi umum untuk keluarga dirumahnya.
"Ada apa, Rudra?" Tanya Meisya sambil berjalan menghampiri Rudra. Meisya mencoba menerobos ke kamar mandi untuk melihat siapa yang sedang Rudra pijat punggungnya.
Namun Rudra menghalanginya. Rudra tak ingin Meisya melihat Maya.
"Pulanglah, temui aku besok!" Perintah Rudra.
"Tapi Annika,"
"Pulanglah, apa kau tidak mendengar?" Rudra meninggikan nada suaranya.
Meisya menuruti Rudra dan membawa Annika pulang. Sementara Rudra masih membantu Maya untuk meredakan gejala mual serta muntahnya.
"Maya, apa yang terjadi padamu?" Tanya Rudra setelah Maya merasa mualnya telah mereda.
"Aku membayangkan sesuatu yang menjijikan, jadi aku merasa mual." Rudra terdiam dan mengerutkan dahinya.
Rudra sangat kebingungan dengan jawaban dari Maya. Membayangkan hal yang menjijikan seperti apa?
__ADS_1
Maksudnya apa? Menjijikan apa?
Rudra membantu Maya memasuki kamarnya lagi dan merebahkan dirinya diatas ranjang.
"Istirahatlah, jika butuh sesuatu panggil Mili!" Maya tersenyum sinis.
"Aku tidak butuh apapun, aku bisa mengambilnya sendiri. Pergilah tuan Duda yang arrogant!" Perintah Maya.
Rudra terkejut dengan ucapan Maya, lagi-lagi seperti menyiratkan sebuah ejekan padanya.
Dengan cepat Rudra mencengkeram tangan Maya dan membuat Maya berdiri hingga merasa perutnya kesakitan.
"Sakit!" Ringis Maya sambil memegangi perutnya.
Indri yang baru datang langsung mendekati Rudra dan Maya.
Plak..
"Berhenti menyakiti menantu dan cucuku!" Teriak Indri sambil melepaskan Rudra dari Maya dan memeluk Maya.
Rudra memelototi Maya dan mengepalkan tangannya.
Setelah itu tanpa mengatakan apapun Rudra bergegas pergi dari kamar Maya. Bukan tak lain alasannya karena takut akan berbuat hal yang akan menyakiti Maya lagi, lebih tepatnya bayi yang dikandung Maya juga takut akan tersakiti dengan sikapnya pada Maya.
"Maya, kau baik-baik saja kan?" Maya mengangguk. "Maafkan Rudra yang entah kenapa berubah menjadi arrogant, tapi ibu mohon jangan pergi darinya dan cintailah dia!" Pinta Indri sambil mengambil kotak obat dan mengobati luka Maya akibat cengkeraman tangan Rudra.
"Maaf, bu. Aku tidak bisa berjanji mencintai Rudra seperti apa yang ibu katakan." Kata Maya sambil menahan tangan Indri.
Indri menatap Maya, kemudian tertawa geli. Maya merasa bingung kenapa Indri tertawa dengan kata-kata yang diucapkan Maya.
"Maya, apa kau ini sudah amnesia?" Indri berkata sambil menahan tawanya.
"Maksud ibu?" Tanya Maya tak mengerti.
"Jika kalian tidak saling mencintai, bagaimana bisa ada cucuku didalam sini?" Sambil menunjuk perut Maya.
Maya terdiam, ia merasa malu. Merasa bingung juga. Ucapan Indria memang benar, mana mungkin seseorang yang tidak saling mencintai saat ini akan diberi keturunan?
Maya ingin sekali bisa menjelaskan apa yang membuatnya bisa hamil, akan tetapi Maya takut Rudra dan Indri menjadi bertambah masalahnya jika mengetahui bagaimana Maya bisa hamil.
Maya dan Indri kembali terdiam, keduanya bingung harus bicara apa sampai tiba bagi Indri untuk mengatakan sesuatu pada Maya.
"Maya, apa yang tadi membuat Rudra sampai menyakitimu?" Maya menatap Indri dengan tatapan mata ragu dan bingung harus berkata apa.
Haruskah Maya menjelaskan bahwa tadi ada Meisya datang kerumah? Atau Maya harus berbohong dan mengatakan bahwa mereka bertengkar?
"Hallo, Maya!" Indri melambai-lambaikan tangannya didepan wajah Maya.
"Tadi kami hanya bertengkar, Bu!" Bohong Maya.
__ADS_1
"Bertengkar karena apa? Sampai Rudra menyakitimu seperti ini?" Menunjuk lagi bekas luka yang diciptakan Rudra.
"Sebenarnya... aku..."
"Bu, apa ibu tahu apa yang bisa mengurangi rasa mual dan muntah saat seseorang sedang hamil?" Potong Rudra yang masih berjalan melangkah menghampiri Maya.
Indri tersenyum pada Rudra dan menepuk ranjang menyuruh Rudra duduk disampingnya bersama Maya.
"Iya, bu. Tadi kami bertengkar karena aku yang membantah Rudra. Aku merasa mual saat melihat nasi, jadi aku bersikeras tidak ingin makan apapun. Mungkin Rudra sangat menyayangiku, jdi dia tidak mau aku dan bayi kami kelaparan!" Jelas Maya yang tentunya masuk akal dan membuat Indri percaya akan hal itu.
Indri menggeleng sambil tersenyum manis.
"Mari, ikut ibu ke dapur!"
...****************...
Indri sudah pulang setelah menjelaskan beberapa cara untuk meredakan mual pada Rudra dan Maya.
Kini dirumah kembali sepi. Maya masih berada didapur, Rudra juga masih setia berada didapur memperhatikan Maya yang sedang mengikuti cara Indri meredakan mualnya.
"Dengar, Maya!" Ucap Rudra sambil memberi isyarat agar Maya duduk.
Maya duduk dan bersiap mendengarkan apa saja yang ingin Rudra katakan padanya ataupun hinakan padanya.
"Aku sudah membuat perjanjian baru dalam pernikahan kita, tentunya tidak merugikan juga."
Rudra mengambil sebuah map berwarna coklat dan membukanya lalu melemparkan selembar kertas putih berisi banyak ketikan hasil komputer pada Maya.
"Bacalah, lalu tanda tangani!"
Maya membacanya dengan teliti hingga pada sebuah bagian ia melirik Rudra dan menatap tak setuju.
"Kau bilang tidak merugikan? Kau akan mengambil anakku dan membawanya jauh dariku? Lebih baik aku pergi sekarang juga, daripada anakku tidak mengenalku sama sekali!" Tegas Maya sambil melemparkan kertas putih itu pada Rudra.
Rudra tertawa sinis kemudian membaca poin-poin surat perjanjiannya sendiri sambil tersenyum.
"Memangnya kau ingin bagaimana? Ingin aku menyerahkan bayi itu sepenuhnya padaku? Tidak! Dia adalah pewarisku! Aku tidak akan menyerahkannya padamu!" Hardik Rudra.
Maya merasa tak terima, boleh saja baginya untuk Rudra membawa anaknya. Akan tetapi, jika anaknya tidak boleh mengenalnya sebagai ibunya, Maya merasa itu merugikannya.
Sangat merugikannya.
"Rudra!"
**Bersambung...
Tidak ada ibu yang tidak ingin tidak dikenali anaknya, pasti sakit rasanya kalo anak kita sendiri tidak mengenali kita, iya enggak?
😊😊😊**
__ADS_1