
"Apa ini? Bagaimana bisa Teddy menerima perjodohan antara Rudra dan Maya jika besok Maya akan bertunangan?!" Teriak Dirga dengan suara yang menggema di ruang keluarganya.
Sedangkan Indri dan Rudra beserta yang lainnya hanya terdiam tidak mengerti karena belum mengetahui mengenai undangan yang tadi pagi diterima Dirga.
Rudra tersenyum kecut, dalam hati ia sungguh bersyukur karena tidak jadi menikah dengan Maya.
"Sudah kubilang, aku tidak akan perna menikah dengannya!" Ucap Rudra sinis. "Lihat, belum apa-apa tapi sudah mempermalukan," Sambung Rudra sambil meninggalkan ruang keluarga.
"Apa maksudmu, Rudra?!" Teriak Dirga. Namun Rudra tak menghiraukan teriaka ayahnya. Ia tetap melangkah masuk menuju kamarnya yang terdapat di lantai dua rumah besar tersebut.
Dirga dan Indri saling bertatapan masih tidak percaya bahwa Teddy mengirimi mereka undangan pertunangan Maya.
"Apa maksudnya? Kenapa Teddy mempermainkan kita?" Tanya Indri dengan raut wajah kecewa.
Dirga menggeleng, ia lalu duduk diatas sofa sambil memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.
"Lebih baik kita tanyakan alasan semua ini langsung pada Azka, bukankah dia yang meminta Rudra dijodohkan dengan Maya?" Usul Indri sambil mengusap punggung Dirga.
Dirga mengangguk, kemudian mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Azka.
Sambungan ketiga baru Azka mengangkat teleponnya.
"Ayah, maaf." Ucap Azka langsung saat panggilan telah tersambung.
"Ayah pasti ingin menanyakan apa maksud dari semua ini bukan? Dengarkan aku baik-baik, kami hanya...." Dirga mengangguk mendengar penjelasan dari Azka.
Setelah telepon tertutup Dirga langsung melirik Indria yang sedang duduk disampingnya.
"Bagaimana?" Indri bertanya dengan wajah bingung. Apalagi ketika melihat wajah Dirga yang mulai menunjukan raut wajah tenang.
"Kau akan mengetahuinya nanti, sekarang kita hanya perlu melanjutkan rencana pernikahan antara Rudra dan Maya." Jawab Dirga sambil tersenyum penuh tanda tanya.
Indri hanya mengerutkan dahinya, merasa bingung dengan apa yang dikatakan Dirga.
"Tapi bagaimana bisa?" Tanya Indri tak mengerti.
"Bukankah Maya akan bertunangan dan menikah dengan Daren?"
Dirga mengangguk, lalu menepuk pelan bahu istrinya.
"Sudah aku bilang, kita lihat saja nanti apa yang akan terjadi setelah ini. Aku pastikan Rudra dan Maya akan menikah!" Tegas Dirga yang menambah rasa penasaran Indri.
...----------------...
"Semua sudah siap, kan?" Beberapa orang yang sedang mendekorasi rumah mengangguk. "Bunga, panggung, dekorasi rumah, jangan sampai ada yang kurang!"
Maya memerintah para pegawai yang mendekorasi rumahnya dengan begitu percaya diri. Ia tak ingin acara pertunangannya kekurangan atau menjadi tidak bagus hanya karena hal-hal kecil sedikitpun.
__ADS_1
"Maya!" Azka memanggil Maya dengan teriakan keras, membuat Maya mendengus sebal.
"Apalagi? Kenapa kakak sering menggangguku belakangan ini? Hmm?!" Dengus Maya.
Azka membuang napas kesal. Setiap kali ia ingin memperingatkan Maya tapi Maya tidak pernah mempercayainya.
"Kau akan menyesal telah mengambil keputusan ini!" Ucap Azka sambil berlalu menuju kamarnya.
Di tengah perjalanan Maya menghalangi Azka.
"Kenapa kakak selalu berucap seperti itu padaku? Apa kakak tidak senang melihatku berbahagia, hmm?"
Azka menghela napas pelan, lalu mengatur napasnya agar tak terlihat marah lagi.
"Aku senang melihatmu bahagia. Akan tetapi jika kau berbahagia dengan orang yang tepat, bukan dengan pria seperti Daren!" Ucap Azka sambil mengusap pelan kepala Maya.
Lalu Azka kembali melangkah menuju kamarnya tanpa mempedulikan adiknya yang sudah berteriak menanyakan apa alasan ucapannya lagi.
Azka memasuki kamarnya dengan wajah muram. Hal itu membuat Sina, istrinya bertanya-tanya dan bingung.
"Kenapa? Apa ini karena Maya lagi?"
Azka mengangguk, lalu duduk disebelah Sina dan menyandarkan kepalanya ke bahu Sina.
"Tenang saja, Maya pasti akan menikah dengan Rudra. Sebentar lagi Maya sendiri yang akan mengetahui bagaimana wajah Daren yang sebenarnya," Ucap Sina sambil mengelus kepala Azka.
"Iya, terima kasih selalu mendukungku! Aku mencintaimu, Sinara Raizada adiknya Rudra Raizada!" Ucap Azka diikuti kecupan pada kening Sina.
Sinara adalah adiknya Rudra, ia menikah dengan Azka karena sebuah perjodohan yang tak sengaja akibat kesalahan ayahnya Sina. Hingga saat ini setelah lima tahun menikah akhirnya Sina dan Azka saling mencintai terlebih saat Sina mengandung anaknya Azka.
...****************...
Acara yang ditunggu-tunggu Maya telah dimulai, kedua keluarga sudah tersenyum bahagia. Terutama Maya yang terus menunjukan senyum bahagianya sambil menggandeng tangan Daren.
"Ayo, kita akan melakukan pertukaran cincin! Cepat bawa cincinnya kemari!" Perintah Teddy.
Sina membawakan cincinnya menuju panggung, lalu memberikannya pada Teddy.
Maya dengan senang hati memasangkan cincinnya ke jari Daren. Lalu Daren kini yang akan memasangkan cincinnya ke jari Maya.
Namun pada saat cincinnya akan terpasang tiba-tiba cincinnya jatuh menggelinding menuju arah seorang pria yang sedang berdiri dengan tangan dimasukan kedalam saku.
"Eh, maaf. Aku akan mencari cincinnya!" Ucap Daren sambil turun dari panggung.
Pria yang berdiri tersebut mengambil cincin yang jatuh tepat dihadapan kakinya langsung mengambilnya.
"Mencari ini?" Ucapnya sambil menunjukan cincinnya.
__ADS_1
Daren mengangguk, lalu mengambilnya dan membawanya kembali untuk dipasangkan pada Maya.
Saat menaiki panggung Daren terkejut ketika melihat perhatian calon mertuanya tertuju pada pria yang tadi memberikan cincin padanya.
"Waah, lihat siapa itu? Rudra!" Seru teddy sambil turun dari panggung dan memeluk Rudra.
"Jadi bagaimana? Apa cincinnya sudah bisa kupasangkan?" Tanya Daren membuat semua perhatian Teddy kembali padanya.
"Ya, pasangkanlah!"
Setelah cincin terpasang semua bertepuk tangan.
Sementara Azka dan Sina menghampiri Rudra yang duduk di kursi untuk para undangan.
"Kau masih punya wajah untuk ditunjukkan padaku?" Ujar Rudra dengan senyuman sinis. Kemudian memeluk Sina dan merangkulnya.
"Jangan begitu, dia istriku!" Ketus Azka.
"Ya, terserah. Tapi aku salut padamu yang masih bisa menunjukan wajahmu dan tidak tahu malu, kau memintaku menikah dengan Maya tapi hari ini kau sendiri dan Sina yang memberikan cincin pertunangannya!" Sinis Rudra.
"Wah, kau kesal ya? Baik, baik! Aku akan memastikanmu menikah dengan Maya!" Azka terkekeh, kemudian terdiam setelah mendapat tinjuan pelan di tangannya dari Rudra.
Azka mengusap lengannya, kemudian meninggalkan Rudra yang menatap ke arah Maya dan Daren yang duduk dikursi dengan senyuman merekah.
Kemudian tak lama sepasang pasangan tua datang menghampiri Daren dan membisikan sesuatu padanya.
"Ada apa itu?" Gumam Rudra dengan terus memandang Daren.
Kemudian terlihat Daren meninggalkan Maya setelah berpamitan terlebih dahulu. Rudra langsung berdiri dari duduknya dan mengikuti kemana arah Daren bersama pasangan yang mungkin orang tuanya pergi.
Ia berhenti mengikuti Daren ketika melihat Daren masuk kedalam rumah milik Teddy.
Rudra kemudian bersembunyi dibalik dinding dan merekam semua yang pasti akan dilakukan atau dibicarakan Daren.
Setelah hampir tiga puluh menit, Rudra segera bergegas untuk kembali setelah mendapat tanda bahwa Daren akan keluar dari rumah.
"Kau darimana saja, Rudra? Ayah mencarimu dari tadi!" Ucap Dirga sambil menarik Rudra menuju tempat duduk para tamu.
"Aku tadi ke kamar mandi." Bohong Rudra yang tentunya dipercaya oleh Dirga.
Setelah acara pertunangan selesai, Rudra menemui Azka terlebih dahulu untuk menunjukan hasil yang tadi dimilikinya saat mengikuti Daren.
"Kenapa kau membawaku ke tempat sepi? Jangan bilang kau akan memperk*s*ku!" Rutuk Azka.
"Tidak waras! Ini, aku akan mengirimkan sebuah video padamu! Jangan lupa kau tunjukan juga pada adik dan keluargamu setelah semuanya selesai!"
"Apa? Tapi...."
__ADS_1
Bersambung...