
Saat Maya terbangun, seorang dokter tampak tersenyum padanya bersama Mili yang duduk disampingnya.
"Anda sudah bangun, nona? Sekarang dimakan sarapan obatnya!" Perintah Mili sambil menyodorkan makanan pada Maya.
Maya mengangguk, kemudian memakannya dengan lahap. Setalah itu dokter memberinya sebuah obat penurun demam.
"Keadaan anda mulai membaik, setelah ini jangan sampai membiarkan anda kelaparan!" Setelah itu dokter pergi keluar diantar oleh Mili.
Maya kebingungan, karwna setahunya tadi Rudra yang membawanya menuju kekamar saat pingsan akan tetapi hal itu tak ia permasalahkan.
Maya mengambil ponsel yang terletak diatas meja disamping tempat tidurnya dan membukanya. Saat membukanya ia terkejut karena mendapat pesan dari Sina yang menyuruhnya datang kerumah.
Merasa keadaannya sudah membaik, Maya memutuskan akan pulang kerumah. Tepatnya setelah memastikan pekerjaan rumah yang menjadi tanggung jawabnya sudah selesai dikerjakan.
Rudra sudah berangkat ke kantor, sedangkan Maya masih mengerjakan pekerjaan rumah yang hampir sebagian besar menjadi tanggung jawabnya. Bahkan pakaian kotor milik Rudrapun ia harus mencucinya sendiri.
Setelah semua pekerjaan dirumah dipastikan selesai, Maya berniat untuk mengunjungi rumahnya.
Bukan karena ingin mengadu tentang Rudra, melainkan Maya ingin mengetahui kembali seluruh cerita tentang kegagalan Rudra dalam membina pernikahan pertamanya bersama seorang wanita bernama Meisya.
Sepanjang perjalanan nama Meisya terus terngiang-ngiang didalam pikiran Maya, terlebih saat mengetahui bahwa Daren juga berselingkuh dengan wanita bernama Meisya.
Apakah Meisya mantan istri Rudra adalah wanita yang sama dengan yang menjadi selingkuhan Daren? Jika begitu, bagaimana bisa Daren tidak tahu bahwa Meisya berada disini bersama Daren?
Pertanyaan itu terus memenuhi pikiran dan bayang-bayang Maya, sementara sebuah ide muncul didalam pikirannya.
Jika aku bisa bertemu Meisya mantan istri Rudra, bukankah itu sebuah kesempatan untuk bebas dari kandang singa itu?
Beberapa rencana mulai memenuhi pikiran Maya, tentang bagaimana, dimana, dan kemana ia akan mencari Meisya dan menyatukannya kembali dengan Rudra.
Sampai dirumah keluarganya, Maya sudah disambut oleh Sina karena saat perjalanan Maya sudah megabari Sina bahwa ia akan datang kerumahnya.
"Ayo, masuklah. Aku akan menceritakan lagi segalanya!" Ajak Sina yang langsung diangguki Maya.
Keduanya memasuki kamar Maya, lalu duduk dengan saling berhadapan diatas kursi didalam balkon kamar Maya.
"Semua terjadi tanpa kami ketahui, baik pernikahan Roy dan Meisya hingga kejadian yang merenggut nyawa Roy. Akan tetapi, pernikahan Rudra dan Meisya sebenarnya dalam kendali dan atas izin kami." Sina mulai menceritakan segalanya.
Maya tertegun, ia masih kebingungan dengan misteri kisah rumah tangga Rudra dan Meisya.
"Dengarkan baik-baik, ini kisah dimana Rudra memulai sebuah awal dengan Meisya," Maya mengangguk lalu bersiap memasang telinga untuk mendengarkan cerita Sina.
__ADS_1
Flashback
"Apa maksudmu, Rudra? Aku tidak bisa menikah denganmu! Dalam hatiku hanya ada Roy, aku sudah berjanji padanya bahwa aku hanya akan menjadi miliknya!" Bantah Meisya tak terima saat Rudra mengatakan bahwa ia akan menikahinya.
"Ini adalah wasiat dari Roy, jangan menganggap aku bahagia dengan pernikahan ini! Aku hanya menikahimu karena Roy yang memerintahkannya!" Teriak Rudra didepan jasad Roy yang terbujur kaku.
Meisya menangis sesenggukan, hatinya masih sangat bersedih karena kematian Roy calon suaminya. Lalu apakah kini dihari kematian Roy, ia harus berpesta untuk pernikahannya dengan Rudra?
Seolah tahu apa yang Meisya pikirkan, Rudra akhirnya membuat keputusan kembali.
"Bukan hari ini, tapi kita akan menikah setelah satu bulan!"
Jasad Roy mulai diangkat oleh beberapa petugas rumah sakit, sementara Rudra membawa mobil Meisya pulang kerumahnya.
Flashback off.
"Kak, bukankah Meisya tidak setuju dengan pernikahan itu? Lalu bagaimana bisa Rudra menikah dengannya dan sangat mencintai Meisya?" Maya menyela cerita Sina.
Sina berdiri dari duduknya, lalu mendekati pagar balkon dengan tatapan lurus kedepan.
"Kak Rudra dan Meisya menikah, atas persetujuan keluarga. Meisya menerima pernikahan ini karena... Dia sudah mengandung bayi didalam rahimnya."
"Apa?!" Maya tersentak, pikirannya mengarah pada Roy. "Apa anak iti anaknya kak Roy?" Sina menggeleng, membuat Maya menuju ke arah lain.
Kemudian Sina mengeluarkan ponselnya, menggeser layarnya dengan cepat dan menunjukan sebuah foto anak perempuan kecil pada Maya.
"Siapa ini?"
"Annika Raizada, putrinya Meisya."
Flashback
Satu minggu sejak kematian Roy, Meisya tidak pernah keluar dari kamarnya. Pernikahan dengan Rudra sudah disetujuinya demi mengembalikan kehormatan keluarganya yang tercoreng akibat kejadian tempo hari.
"Meisya, keluarlah! Ada seseorang yang menunggumu diluar!" Elis, ibunya Meisya memanggi Meisya.
Meisya menoleh pada Elis, lalu mengangguk padanya dan segera mengikuti Elis menuju ruang tamu.
Saat berada diruang tamu Meisya terkejut bukan main saat melihat sosok yang sangat ia kenal.
"Untuk apa kau kesini?" Teriak Meisya histeris.
__ADS_1
"Tenang, Mei! Aku kesini untuk menunjukan sesuatu padamu tentang Roy!" Desta, pria yang sebenarnya mantan kekasih Meisya dan musuh Roy menunjukan sebuah foto peti didalam ponselnya.
Meisya merasa sangat penasaran terutama ketika Desta mengatakan bahwa ia ingin menunjukan sesuatu tentang Roy.
Dengan mudahnya, Meisya menyetujui ajakan Desta dan ikut bersamanya pergi menuju tempat yang dituju Desta.
Hingga sampai didepan sebuah villa, Meisya merasa ada yang aneh dengan Desta. Tiba-tiba saja Desta menjadi berani padanya, bahkan Desta selalu berusaha memegang tangannya saat berjalan memasuki villa yang disebut milik Roy.
"Sebenarnya ada apa? Kenapa kau mengajakku kesini?" Tanya Meisya karena penasaran.
Desta tersenyum licik, lalu menunjukan sebuah foto pada Meisya. Foto itu memperlihatkan Roy yang tampak sedang meniduri seorang wanita dengan tubuj tanpa sehelai benangpun. Bahkan dari foto itu terlihat jelas keduanya sangat menikmati posisi itu.
"Tidak! Dia tidak mungkin melakukan itu!" Teriak Meisya sambil melempar foto itu dengan kasar.
"Tenang, tenang saja!" Desta menenangkan Meisya dengan memberinya segelas air putih.
Meisya meminum air putih itu dan berusaha menenangkan dirinya.
"Sudah lama aku ingin menunjukan itu, tapi kau selalu saja membelanya saat aku ingin mengatakan sesuatu tentangnya!" Ucap Desta dengan seringaian licik. Tangannya bahkan sudah berada diatas kedua pundak Meisya.
Desta membelai lembut pundak Meisya, sementara Meisya berusaha menenangkan dirinya. Pijatan ringan mulai Desta lalukan pada Meisya, sehingga Meisya mulai bergejolak dengan sebuah perasaan asing namun membuatnya rileks.
Akan tetapi, Meisya masih ingat batasannya. Iapun menepis tangan Desta dan berdiri bermaksud melangkah pergi menjauh.
"Apa yang.."
Bruuk
Meisya kehilangan kesadarannya. Desta tertawa bahagia melihat Meisya yang sudah tak sadarkan diri didalam pelukannya.
Dengan sigap Desta menggendong Meisya memasuki sebuah kamar didalam villa dengan desain yang sangat indah dan besar.
Tak lupa, ternyata kamar sudah dihias seindah mungkin bak kamar yang akan dipakai oleh pasangan yang akan berbulan madu.
Dengan pelan dan lembut Desta menidurkan Meisya diatas ranjang besar nan empuk tersebut.
Rencana yang sudah ia tahan, kini Desta akan memulainya dan akan mendapatkan apa yang telah lama ia inginkan dari Meisya.
"Wah, aku akan mendapatkannya hari ini!"
Bersambung...
__ADS_1
dapat apa sih? 😂😂😂🤣🙏🏻🙏🏻🙏🏻