
Sebuah jeritan menggema didalam sebuah ruangan, diluar dua orang tampak menanti dengan wajah khawatir.
Hingga seorang pria berpakaian rapi datang dengan senyum yang terus mengembang, setelah diberi tahu proses kelahiran akan calon pewarisnya yang telah lama ia idam-idamkan dari wanita yang telah mengkhianatinya.
Akan tetapi, kini keinginannya terkabul oleh seorang wanita yang menikahinya karena terpaksa namun kenyataannya memiliki hati yang tulus dan lembut. Buktinya, hari ini ia dengan sukarela berkorban mempertaruhkan nyawanya demi melahirkan anaknya yang tumbuh tanpa disengaja..
"Sina, apa Maya sudah baik-baik saja? Apa bayiku sudah lahir?" Yang ditanya menggeleng, seketika wajahnya pucat.
Hingga sebuah jeritan membuat bulu kuduknya merinding dan bertekad masuk kedalam ruang dimana wanita berbadan dua itu menjerit.
"Mau kemana, Rudra?!" Teriak Azka.
Rudra tak menoleh, tapi masih menjawab.
"Aku harus menemaninya!" Teriaknya sambil memasuki ruangan bersalin tanpa mengetuk ataupun permisi terlebih dahulu.
Didalam semua terkejut, melihat seorang pria menyelonong masuk dan langsung meraih tangan Maya.
"R-Rudra..." Maya berucap dengan napas yang sudah tak beraturan.
"Jangan, jangan katakan apapun! Berjuanglah kau pasti bisa!" Rudra menggenggam tangan Maya.
Dokter mengarahkan Rudra untuk membantu Maya dalam proses bersalin, Rudra mengikuti semua arahan dokter.
...****************...
Flashback
Setelah pergi dari rumah, Rudra terkejut karena di tengah-tengah perjalanannya mencari Maya teleponnya berbunyi.
"Apa?!" Matanya membelalak, setelah mendengar apa yang dikatakan si penelepon.
Lalu dengan segera menancap gas melajukan mobilnya.
Sementara di dalam mobil lain
Maya, Azka, dan Sina tengah berjalan-jalan menikmati pemandangan. Hingga tiba-tiba Maya merasa pinggangnya panas dan perutnya kesakitan.
__ADS_1
"Kenapa, Maya?" Tanya Sina saat menyadari ada sesuatu yang berbeda pada Maya.
Wajahnya pucat, tangannya gemetar dan berkeringat.
"Kak, sakit!" Tiba-tiba Maya meringis, membuat Azka dan Sina panik.
"Sepertinya Maya akan melahirkan, cepat putar balik mobilnya ke rumah sakit!" Perintah Sina.
Setelah sampai di rumah sakit, beberapa saat setelah Maya dimasukan kedalam ruang bersalin Sina diam-diam menelepon Rudra.
Hal itu tentunya membuat Rudra langsung tersenyum dan bergegas menuju rumah sakit.
Flashback off
Maya dengan sekuat tenaganya terus mengejan dan menjerit, Rudrapun tak henti-hentinya menyemangati Maya.
Hingga Maya melemah dan terdengar suara tangis bayi yang membuat Rudra ikut melemah dengan wajah yang sudah dipenuhi air mata.
Tiba-tiba perhatiannya kembali pada Maya, yang sudah memejamkan matanya. Tentu saja Rudra panik, karena saat ia akan memulai kebahagiaan bersama Maya, hal ini menimpanya.
"Maya, Dokter! Maya, apa yang terjadi padamu? Bangun!" Rudra mengguncangkan tubuh Maya.
"Dia hanya lemah, karena tenaganya yang terkuras habis dalam proses melahirkan." Rudra menghela napas lega, kemudian teralihkan lagi pada bayi yang sedang dibersihkan perawat.
Begitu tampannya bayi itu, hingga tanpa diberi tahu Rudra sudah mengetahui bahwa bayinya adalah seorang laki-laki.
...****************...
Empat hari berlalu, setelah kelahiran putra Rudra dan Maya. Selama itu juga, Rudra tidak pulang ke rumah. Ia terus menemani Maya dan menggendong putranya di rumah sakit.
Hal itu membuat hati Maya luluh, hingga terharu karena melihat kasih sayang Rudra pada anaknya.
"Jika kau ingin, bawalah dia. Segera, sebelum aku berubah pikiran!" Perintah Maya.
Rudra melirik Maya, lalu menggeleng.
"Aku tidak akan membawanya sendiri, melainkan bersama dengan wanita yang telah bertaruh nyawa melahirkannya." Maya menatap Rudra terkejut, kemudian tersenyum sinis.
__ADS_1
Ia tak percaya, buktinya Rudra hanya baik karena sebuah alasan. Setelah tidak ada alasan lagi, Rudra akan kembali arrogant dan menyiksanya.
"Kau tidak percaya?" Maya menggeleng.
"Akan aku buktikan!" Tegas Rudra.
"Tidak perlu, buktinya selama ini kau selalu tidak bisa dipercaya." Maya berucap dengan nada sinis.
Rudra menaruh bayinya didalam box bayi, kemudian mendekati Maya dan duduk di sampingnya.
Ketika Rudra akan menggenggam tangan Maya, ia segera menepisnya.
"Beri aku waktu, jika aku tetap begitu maka aku akan pergi dari hidupmu! Aku akan pergi jauh, kau akan tetap tinggal dirumah sebagai permintaan maafku." Maya menatap Rudra, mencari keyakinan didalam diri Rudra.
Ia menemukan hal besar yang mengejutkan, tampak sebuah kejujuran dalam mata Rudra yang membuatnya mengangguk.
"Terima kasih!" Rudra menggenggan tangan Maya dan mengecupnya
Entah apa yang membuatnya yakin, akan tetapi Maya merasa bahwa kali ini Rudra benar-benar akan membuktikan ucapannya.
"Lalu siapa nama bayinya?" Seseorang menyahut dari arah pintu.
Indri dan keluarga Maya tampak tersenyum, kemudian masuk kedalam ruangan Maya dengan terburu-buru mengambil bayi yang sedang terlelap di dalam box bayi itu.
Rudra melirik Maya, Maya juga melirik Rudra. Keduanya kebingungan belum memikirkan nama untuk bayinya.
"Gopal," ucap Maya sambil terkekeh yang membuatnya langsung mendapat tatapan tajam dari semua orang.
"Maya!" Teriak semuanya serempak.
Maya terkekeh, kemudian meminta maaf. "Aku hanya bercanda!"
Kini Rudra berdiri, mengambil alih bayinya yang ada di gendongan Indri.
"Aku akan memberinya nama... Lucky, Lucky Raizada!"
Semua mengangguk setuju, nama yang bagus hingga hatinyapun sebagus namanya.
__ADS_1
Bersambung...
Besok insya Allah up lagi, bab untuk Kejahatan Meisya