
"Aku..." Maya terdiam lagi, dengan mata yang masih basah oleh air mata.
Rudra menatap tajam Maya, hatinya berharap Maya tidak akan pernah menyetujui perjodohan dan pernikahan antara mereka.
"Tidak? Sudah kubilang, dia tidak ingin menikah denganku!" Sinis Rudra sambil mengacungkan kedua jempolnya pada Maya.
Indri menatap Maya penuh harap. Maya berdiri dari duduknya dan menghampiri Indri.
"Semua demi kebaikan keluarga, bukan?" Indri mengangguki ucapan Maya.
"Aku... Menerima perjodohan ini," ucap Maya yang langsung membuat Rudra membelalak tak percaya.
"Tidak! Aku menolak perjodohan ini!" Protes Rudra sambil menunjuk Maya.
Indri dan Dirga berdiri dari duduknya lalu menghampiri Rudra yang sejak tadi berdiri dengan tatapan mata tajam penuh amarah.
"Kau dengar baik-baik, Rudra! Meskipun kau bersikeras menolak perjodohan ini kami tidak akan membatalkannya! Pernikahan ini akan terjadi, meskipun kau tidak menginginkan Maya sebagai pendampingmu!" Hardik Indri dengan jari telunjuk mengacung pada wajah Rudra.
Dirga mengangguk menyetujui ucapan Indri. Rudra kembali tertawa sinis dengan pandangan tajam pada Maya.
"Baik, lakukan saja pernikahan ini. Tapi jangan berharap belas kasihan apalagi cinta dariku untukmu, nyonya Mayada Vyas!"
"Setiap detik hidupmu bersamaku akan seperti neraka, didalamnya tidak akan ada kebahagiaan sama sekali. Hidupmu akan penuh dengan derita, hanya derita!" Teriak Rudra tak lepas dengan jari yang menunjuk Maya.
Setelah itu Rudra pergi meninggalkan dua keluarga yang masih terkejut dengan kata-kata Rudra pada Maya. Maya sendiri sudah menangis dengan suara keras.
Bukan karena ucapan Rudra, akan tetapi karena meratapi nasib hidupnya yang sudah jatuh kini ia harus masuk kedalam sebuah neraka bernama Rudra.
Demi keluargaku, apapun akan kulakukan.
Kalimat itu kini yang berada dihati Maya. Tidak mengapa bagi dirinya menderita, asalkan keluarganya tidak harus menanggung malu lagi karena dirinya.
...****************...
Setelah hampir lama setelah batalnya pernikahan Maya dan Daren, kini waktunya bagi kedua keluarga, keluarga Maya dan Rudra untuk mempersiapkan pernikahan Maya dan Rudra.
Seluruh anggota keluarga sedang sibuk mempersiapkan berbagai macam persiapan pernikahan, kecuali Maya yang sejak batalnya pernikahannya dengan Daren hanya berdiam diri dikamar.
Sina yang turut merasa sedih atas semua kejadian yang menimpa Maya, hari ini turun ke kamar Maya untuk menyemangatinya.
"Maya," ucap Sina saat melihat Maya sedang duduk diatas ranjang dengan memeluk lututnya.
__ADS_1
Maya hanya melirik Sina sekilas, lalu kembali lagi larut dalam lamunannya. Sina melangkah mendekati Maya dan duduk di hadapan Maya lalu mengelus kepala Maya.
"Masih ada waktu, tolak saja perjodohan ini jika kau tidak menginginkannya." Maya mendongakan wajahnya, berusaha menahan air mata yang akan kembali turun membasahi pipinya.
"Tidak, kak. Aku harus menebus kesalahanku, jadi pernikahan ini akan tetap terjadi."
Sina menghela napas kasar, dalam hatinya ia sangat ingin pernikahan antara Rudra dan Maya terjadi. Akan tetapi bukan dengan kebencian, melainkan cinta.
"Satu hal jika pernikahan ini ingin tetap berlanjut, pahamilah Rudra terlebih dahulu." Ucap Sina dengan pandangan lurus keluar jendela.
"Maksudmu?" Maya mengerutkan dahinya tak mengerti.
"Sejauh ini pasti kau belum mengenal kakakku, kan?" Maya menggeleng cepat, iapun menunggu Sina menjelaskan maksudnya.
"Rudra pernah mengalami kegagalan dalam pernikahan," Maya membelalakan matanya mendengar hal tersebut.
"Maksudmu?"
Sina menoleh pada Maya, kemudian tersenyum miris pada Maya. "Kau pasti mengerti bahwa Rudra..."
"Dia seorang duda, istrinya pergi mengkhianatinya dengan pria lain." Sahut seseorang dari ambang pintu yang membuat Maya dan Sina menoleh ke arah sumber suara.
"Rudra seorang duda?" Ulang Maya.
"Kurang lebihnya kakak iparmu yang akan menceritakannya," Azka menepuk bahu Sina, lalu berbalik lagi meninggalkan Sina dan Maya.
Setelah Azka keluar dari kamar Maya, kini Sina menatap Maya dengan intens.
"Kak, tolong ceritakan tentang Rudra dan bagaimana bisa dia mengalami kegagalan dalam pernikahannya." Pinta Maya dengan wajah memelas.
Sina mengangguk, kemudian mulai menceritakan satu-persatu permasalahan dan asal mula bagaimana bisa Rudra mengalami kegagalan tersebut.
Flashback
Seorang wanita sedang duduk didepan meja rias yang memiliki cermin besar, tubuhnya terbalut sebuah gaun pernikahan berwarna putih dengan desain mewah dan indah. Tak lupa riasan wajah yang membuat wajah cantiknya semakin terlihat cantik.
Bibirnya tak henti-hentinya menyunggingkan sebuah senyum menawan. Tampak dari wajahnya ia sangat bahagia dengan hari yang tak lain akan menjadi hari pernikahannya tersebut.
"Nona, anda sudah siap?" Seorang pelayan menghampiri Meisya sambil menunduk.
Meisya mengangguk, lalu berdiri dari duduknya dan berjalan keluar dari kamarnya.
__ADS_1
Diluar rumah, seorang pria yang berpenampilan rapi dengan setelan pakaian senada dengan yang dipakai Meisya sudah menyambutnya.
Pria itu mengulurkan tangannya pada Meisya yang langsung disambut oleh Meisya. Kemudian keduanya saling bergandengan menuju tempat akan dilaksanakannya pernikahan.
Sesampainya ditempat tersebut, Meisya dan pria yang akan menjadi suaminya tersebut kembali bergandengan tangan menuju meja pernikahan.
Keduanya melaksanakan pernikahan dengan sangat indah, hingga tidak diduga sebuah geng memasuki area pernikahan dengan senjata di tangan masing-masing.
Para pria tersebut mengelilingi area pernikahan. Jumlahnya yang sangat banyak membuat Meisya sangat ketakutan.
"Roy, bagaimana ini?" Tanya Meisya pada pria yang masih menggandeng tangannya dengan ekspresi yang sangat panik.
Roy melirik Meisya, lalu mengangguk tanda bahwa Meisya harus tenang.
Meisya memegang tangan Roy dengan sangat erat, rasa takut semakin menguasainya saat para pria yang bersenjata itu mengarahkan senjatanya pada mereka.
"Roy!" Teriak Meisya dengan penuh ketakutan.
Roy memeluk Meisya dan menenangkannya, kemudian memanggil Rudra untuk membawa Meisya pergi.
Setelah Maya pergi kini tinggal Roy sendirian menghadapi sekumpulan geng pria tersebut.
"Kenapa kalian datang disaat seperti ini? Urusan ini pribadi, jangan melibatkan keluargaku dan hari bahagiaku!" Sinis Roy sambil merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah pistol.
"Roy Raizada, kami tidak akan memandang hari apa untuk menyerangmu! Hari ini sudah hilang kesabaranku untuk menunggumu kembali, maka sesuai sumpah maka yang berkhianat akan mati!" Sanjay, ketua dari geng tersebut berseru lalu maju mendekati Roy dengan mengacung-ngacungkan sebuah senjata tajam.
Roy menghela napas kasar, lalu mulai perlahan-lahan menekan senjata apinya.
"Mau menyerang kami? Sepertinya seranganmu sendiri yang akan melenyapkanmu," ucap Sanjay penuh keyakinan.
Serangan telah dimulai, satu-persatu anak buah Sanjay telah tewas ditempat. Pada sebuah kesempatan saat Roy lengah, Sanjay mengeluarkan pistolnya dan mulai mencoba menyerang Roy dengan menembakinya secara bertubi-tubi.
Roy berhasil lolos, namun satu serangan lagi kini berhasil mengenai lengannya hingga Roy merasa kesakitan dan terjatuh ditempat.
"Rudra! Bawa Meisya pergi!" Teriak Roy.
Sanjay tersenyum sinis, lalu mendekati Roy dengan posisi masih mengacungkan senjata apinya. Kini Sanjay menodongkannya kepada Roy.
Dor...
"Me... Mei... Meisya"
__ADS_1
Bersambung...
episode selanjutnya masih flashback yaa... 😀