Terpaksa Menikahi Duda Arrogant

Terpaksa Menikahi Duda Arrogant
Datang ke Pesta Siddharth


__ADS_3

"Maya!" Teriak Rudra saat sudah berada didalam rumah, tapi tidak menemukan sosok yang sejak tadi diteriakinya.


Mili segera muncul menghadap Rudra, saat melihat Rudra, Mili sedikit dibuat terkejut karena Rudra memegang sebuah paperbag yang entah berisi apa.


"Dimana Mayada?" Tanya Rudra dengan wajah masam dan kesalnya.


"Maaf, pak. Tadi nona pergi kerumah orang tuanya karena ditelepon nona Sina." Jawab Mili dengan pandangan tertunduk, karena ia sangat takut dengan amarah Rudra.


"Apa dia bilang kapan akan kembali?" Mili menggeleng cepat, lalu Rudra membantingkan paperbag itu keatas sofa.


Mili terperanjat, hingga Rudra pergi keluar dan terlihat kembali pergi dengan mengendarai mobilnya.


"Mengapa wanita itu selalu saja membuat masalah denganku?" Gumamnya sambil menyetir mobil menuju rumah orang tua Maya.


Tak disangka-sangka, kedatangan Rudra tentunya membuat kesan membingungkan bagi Maya dan Sina. Sedangkan keluarga Maya mengira bahwa hubungan Rudra dan Maya tidak seburuk yang dikira.


"Rudra, ada apa kesini? Apa ingin menjemput Maya?" Rudra tertawa sinis, kemudian tanpa menjawab pertanyaan dari Teddy ia langsung menarik tangan Maya yang sedang duduk keluar rumah.


"Kau sangat tidak punya sopan santun, ya?!" Protes Maya sambil menepis tangan Rudra.


"Kau yang tidak memiliki sopan santun! Pergi tanpa izin dariku!" Bentak Rudra.


"Sejak kapan kau peduli padaku? Sampai harus meminta izinmu untuk pergi kemanapun aku mau? Bukankah ini tidak ada dalam perjanjian?" Ucap Maya acuh tak acuh dengan wajah yang berusaha memberi ekspresi menyebalkan.


Rudra mendengus kesal, lalu menarik tangan Maya menuju mobilnya dan memasukan paksa Maya kedalam mobil.


"Dasar duda gila! Kau sama sekali tidak menghormati wanita!" Teriak Maya dengan tubuh meronta-ronta berusaha membebaskan diri dari Rudra.


Namun, Rudra tentunya adalah seorang laki-laki yang pasti kekuatannya lebih besar daripada seorang wanita, ia terus memaksa Maya masuk kedalam mobil.


Tidak peduli Maya terus meneriakinya, akan tetapi jauh dalam relung hati Maya, Rudra tidak sekejam yang dia kira. Bahkan buktinya Rudra menyusul Maya ke rumah orang tuanya, meskipun belum jelas apa tujuan menyusulnya.


"Diam, gadis bodoh!" Bentak Rudra dengan mata melotot.


"Bisakah kau membiarkan aku melakukan apapun sendiri?" Pinta Maya dengan nada suara meninggi.


Rudra akhirnya mengalah, membiarkan Maya melakukan apapun sendiri.


"Bersiaplah, kita harus pergi ke pesta ulang tahun pernikahan Pak Siddharth dari SAR-E Group!" Perintah Rudra dengan mata menatap lurus kedepan, menyetir mobilnya menuju jalanan.


"Kenapa mengajakku? Bukankah kau tidak-"


"Diam, gadis bodoh! Sebaiknya kau turuti kata-kataku, jika masih ingin bisa bicara!" Ancamnya dengan tatapan masih lurus.


Maya bergidik ngeri, ancaman Rudra memang bukan nyata akan tetapi tetap sama ancaman itu menakutkan. Bisa saja, Rudra akan benar-benar melakukan apa yang dikatakannya.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan Maya menjadi pendiam, bukan karena ia telah berubah. Akan tetapi, setiap kali Maya akan membuka mulutnya untuk bersuara sudaj mendapat delikan mata yang tajam dari Rudra.


"Jangan bicara, telingaku muak mendengar suaramu!" Peringat Rudra yang membuat Maya memutar bola matanya malas dan mencemberutkan bibirnya.


"Dasar arrogant, hanya bisa marah saja. Tidak bisakah sabar sedikit? Oh, ya Tuhan! Hidupku benar-benar sial, sudah menikah dengan duda bahkan memiliki bonus yang sangat langka!" Umpat Maya kesal.


Telinga Rudra masih cukup baik, untuk mendengar umpatan Maya. Kesal memang, tapi menurutnya itu hal yang sangat lucu.


"Kau bicara apa?" Sinis Rudra.


"Apa?!" Ketus Maya. "Aku hanya berencana untuk memukul kepalamu dengan galon yang masih berisi air!" Celetuknya membuat Rudra tertawa sinis.


"Kau tertawa?"


"Menangis!" Ucap Rudra masih dengan tawanya. "Memukul kepalaku dengan galon, silahkan saja jika kau bisa." Sambungnya acuh tak acuh.


Duda gila! Dia pikir aku tidak bisa mengangkat galon? Wohoho, aku tidak selemah itu!


Maya tersenyum geli membayangkan sedang memukul Rudra dengan galon yang masih terisi, detik berikutnya dia sudah cekikikan karena membayangkan hal tersebut.


"Diam, wanita gila!" Bentak Rudra.


Maya terdiam kembali, beberapa kali dia melirik Rudra yang selalu berekspresi datar. Mungkin, tawanya hanya akan terdengar bila Maya bersikap konyol.


Mungkin saja, jika kita bersahabat dan kau mau menjadi sahabatku aku bisa membantumu bersatu kembali dengan Meisya.


Maya membuang pandangannya ke jalanan, lalu menyandarkan kepalanya dan memejamkan matanya hingga tiba-tiba mobil Rudra berhenti dengan mendadak.


"Hei!" Teriak Maya.


Rudra acuh saja, ia sengaja ingin mengerjai Maya.


Sampai di rumah Maya masuk lebih dulu kedalam rumah. Rudra sibuk memarkirkan mobilnya di garasi.


Setelah keduanya duduk saling berhadapan, kini Rudra mengambil paperbag yang tadi dilemparnya keatas kursi dan melemparnya lagi pada Maya.


"Pakai itu dan bersiaplah! Tiga puluh menit, kau harus sudah berada disamping tempat duduk dalam mobilku!" Perintahnya.


Maya tidak banyak bicara lagi, ia segera membawa tas belanjaan itu kekamarnya dan bersiap seperti yang tuannya katakan tersebut.


"Cih, pakaian macam apa ini? Apa dia ingin membuatku seperti badut?!" Rutuk Maya setelah mengenakan pakaian yang diberikan Rudra. Berikutnya ia langsung melangkah menuju kamar Rudra.


Maya melupakan batasan, bahwa ia tidak boleh masuk ke area kamar Rudra. Ia telah melupakan surat perjanjian mereka.


"Hei, duda gila! Buka pintunya!" Teriak Maya dengan tangan mengetuk pintu dengan sangat keras.

__ADS_1


Rudra membuka pintunya, Maya langsung membalikan tubuhnya melihat sosok Rudra yang hanya terbalut handuk dari pinggang hingga lutut saja.


"Gadis gila! Apa kau tidak bisa berlaku baik sebentar saja? Ada apa?!" Teriak Rudra.


"Apa kau tidak memiliki pakaian yang lebih baik dari ini? Hmm!" Maya membalikan tubuhnya dan memperlihatkan pakaian yang dipakainya.


Rudra sama terkejutnya dengan Maya, mulutnya menganga lebar.


"Pakaian darimana itu? Menjijikan sekali!" Ucapnya.


"Darimana? Kau yang memberikannya!" Sambil menunjuk Rudra.


"Ganti pakaianmu! Cepat!"


Maya kembali ke kamarnya, mengganti pakaiannya lagi dengan gaun bagus yang ia miliki. Kini, penampilan Maya menjadi lebih baik lagi daripada memakai pakaian yang diberikan Rudra.


Setelah selesai bersiap, Maya keluar menuju garasi karena tampak Rudra sudah menunggu didalam mobil.


"Apa kau tidak bisa menghemat waktu? Lihat ini!" Menunjukan jam tangan yang dipakainya. "Lima menit, kau terlambat!"


"Hei, dengar ya! Ini adalah kesalahanmu! Siapa yang membeli baju bodoh tadi?!" Cibir Maya yang membuat Rudra terdiam.


Tak ada lagi pembicaraan setelah mobil melaju menuju kediaman Siddharth yang sedang merayakan pesta ulang tahun pernikahannya yang ke lima belas tahun.


Hingga sampai di kediaman itu Maya disambut ramah oleh para tamu dan pemilik rumah setelah diperkenalkan oleh Rudra sebagai istrinya.


"Selamat datang, Mayada. Kau sangat cantik, pantas saja Rudra mau menikah denganmu." Sambut Kirana sambil memeluk Maya.


"Terima kasih, selamat ulang tahun pernikahan. Semoga kalian selalu bersama sampai maut memisahkan." Balas Maya tak kalah ramah.


Maya begitu akrab dengan Kirana, bahkan Maya sangat senang bisa sangat dekat dengan Kirana yang sangat terkenal sebagai istri dari Siddharth. Terlebih kisah cinta mereka yang begitu penuh perjuangan hingga bisa sampai ke titik tersebut.


Siddharth menghampiri Rudra yang berdiri di samping Maya yang sedang mengobrol dengan Kirana.


"Apa kabar, Rudra? Ini istrimu Mayada, bukan?" Sambil menunjuk Maya.


Rudra memulai sandiwara lagi, ia merangkul pundak Maya dan tersenyum manis.


"Ya, ini Maya istriku. Cantik bukan?"


"Tentu, makanya kau mau menikah lagi!" Ejek Siddharth sambil terkekeh.


BERSAMBUNG...


MAAFIN AUTHOR YANG DUA HARI ENGGAK UP, SEMUA KARENA AUTHOR MENGGARAP 3 NOVEL DALAM SEHARI...

__ADS_1


😓😓😓


__ADS_2