Terpaksa Menikahi Duda Arrogant

Terpaksa Menikahi Duda Arrogant
Maya Kabur


__ADS_3

Tamparan tepat mengenai pipi Rudra. Maya merasa sangat tidak terima atas apa yang Rudra tuliskan didalam perjanjian baru itu.


"Kau ingin memisahkanku dengan anakku? Tidak bisa!" Hardik Maya.


Rudra tidak tinggal diam, kini ia sudah menjambak rambut Maya.


"Kehadiranmu hanya sebatas istri, bukan cinta untukku! Kau tidak ingin menikah denganku bukan? Maka artinya itu anakku, bukan anakmu!"


Maya merasa sangat marah dengan ucapan Rudra, ia tak bisa jika harus terpisah dengan anaknya meskipun Maya tidak pernah menginginkan anak yang berasal dari Rudra.


"Meskipun aku tidak mencintaimu, tapi bukan berarti aku tidak akan menerima anak ini! Dia anakku, aku yang mengandung dan suatu saat melahirkannya!"


Rudra menghela napas kasar, lalu menunjuk Maya dengan telunjuknya.


"Dengar baik-baik, setelah anak ini lahir aku akan memastikan bahwa dia akan bersamaku!" Rudra melepaskan rambut Maya, lalu pergi dari hadapan Maya dengan tangan mengepal.


Perginya diketahui untuk mengurus masalah hak asuh anaknya nanti.


Maya menangis terisak sambil memegangi perutnya yang masih terlihat datar itu.


"Tidak! Aku tidak akan pernah membiarkan anak ini jatuh ke tangan Rudra!"


Di malam harinya saat semua sudah terlelap dan Rudra juga belum pulang Maya sedang mengemasi pakaiannya dan memasukannya kedalam koper.


Setelah memastikan tidak ada yang melihatnya, Maya langsung keluar dari rumah Rudra. Tujuannya masih belum pasti akan pergi kemana akan tetapi, Maya hanya ingin pergi sejauh mungkin dari Rudra.


Ia tak bisa jika anaknya harus jatuh ke tangan Rudra dan membiarkan anak itu tidak mengenal Maya sebagai ibunya.


...****************...


Di kantor Rudra masih memikirkan akan nasib hubungannya dengan Maya ataupun Meisya.


Kembalinya Meisya membuat Rudra tak bisa memilih dan bimbang untuk memutuskan berpisah dengan Maya yang telah memberinya pewaris atau melepaskan Meisya untuk selamanya dan berusaha membangun cinta baru antara dirinya dan Maya.


Perlu Rudra akui, bahwa Maya adalah wanita yang berhasil membuatnya takjub akan ketaatannya meskipun Rudra selalu menyiksanya.


"Aku harus bagaimana? Jika aku melepaskan Meisya, seperti ada yang hilang dalam diriku dan itu artinya aku telah melanggar janjiku pada Kak Roy. Tapi, jika aku melepas Maya... Dia yang telah memberiku pewaris dan setia padaku." Ucap Rudra dengan menghela napas kasar.


"Dengar Rudra, lihatlah siapa yang paling memperhatikanmu dalam keadaan apapun! Meisya atau Maya? Bukankah selama ini Maya tetap diam dan setiap meskipun kau menyiksanya?" Sina yang baru datang bersama Azka langsung memberi Rudra sebuah jalan mengenai kebingungannya.


Rudra menoleh, lalu terkejut melihat Sina yang datang bersama Azka.


"Lalu Meisya dan amanat dari kak Roy..."

__ADS_1


"Jangan menghubungkan lagi Meisya dan kak Roy, dia hanya menyuruhmu menjaganya. Kau sudah menjaganya selama itu, tapi kau lihat apa yang telah Meisya berikan padamu? Pengkhianatan! Kak, Meisya mengkhianatimu!" Peringat Sina.


Rudra terdiam memikirkan kata-kata Sina. Memang ada benarnya juga, mungkin Rudra hanya perlu terbiasa dengan adanya Maya dan itu bukankah bisa menumbuhkan cinta?


"Kau benar, tapi aku butuh waktu untuk menata hidup baru dan mencintai Maya." Sina mengangguk, lalu memeluk kakak keduanya itu.


"Aku selalu mendukungmu, Kak. Aku yakin kau akan mencintai Maya kelaj dengan sepenuh hatimu!" Rudra mengangguk.


Azka tersenyum melihat kehangatan antara istri dan kakak iparnya itu. Sudah lama Azka tak melihat Sina dan Rudra saling mendukung.


...****************...


Rudra membanting seluruh barang-barang yang berada didekatnya, saat tak kunjung menemukan Maya dirumahnya dan tak berada di rumah dua keluarganya juga.


"Maya!" Teriak Rudra hingga menggelegar ke seluruh ruangan.


Dengan rasa menyesal Rudra bergegas mencari Maya. Ia bertekad akan mencari Maya kemanapun Maya pergi.


Kini, bukan lagi bayi dalam kandungan Maya yang menjadi alasannya untuk mencari Maya. Akan tetapi niatnya untuk berubah dan mulai belajar menerima Maya seutuhnya yang menjadi alasannya.


Rudra tersenyum, jika mengingat bahwa sebentar lagi ia dan Maya akan memiliki seorang anak yang asli hasil dari Rudra sendiri.


Anak yang selama ini Rudra nanti dari istrinya. Cukup menjadi hadiah yang sangat besar bagi Rudra, karena Meisya yang tak pernah menginginkan keturunan dari Rudra.


"Maafkan aku, Maya. Selama ini aku salah telah menyia-nyiakan wanita sebaik dirimu." Gumam Rudra sambil menitikan air mata.


Perlahan-lahan, benteng keras yang dibangun Rudra runtuh berkat kehamilan Maya. Sementara Maya sendiri, sebenarnya sejak awal mengetahui masalah Rudra sudah berniat untuk mengembalikan rasa cinta Rudra dan menghilangkan sifat arrogantnya.


Sepanjang malam pencarian terus Rudra lakukan namun tak menemukan hasil. Rasa penyesalan mulai meliputi hatinya. Khawatir sudah jelas, ia sangat mengkhawatirkan Maya.


Siang hari, Rudra pulang kerumah orang tuanya karena mendapt telepon dari Indri yang menanyakan kabar tentang Maya.


"Bagaimana? Apa Maya sudah pulang?" Rudra menggeleng pelan lalu menunduk di hadapan Indri.


"Tidak apa-apa, tetaplah berusaha. Pasti suatu hari kita akan menemukan Maya!" Indri menyemangati Rudra dan mengelus bahunya.


Rudra tersenyum, lalu mengangguk samar.


Keduanya lalu mengobrol tentang rencana Rudra yang ingin belajar menerima Maya di dalam hidup dan hatinya.


Ketika tengah fokus membicarakan itu, pintu terdengar diketuk dari luar. Membuat Rudra dan Indri menoleh secara bersamaan.


Rudra dan Indri segera bergegas menuju pintu dan membukanya. Mata keduanya membelalak saat melihat siapa yang datang.

__ADS_1


"Meisya?!" Ucap Indri dan Rudra bersamaan.


Terlihat Meisya tersenyum manis pada keduanya dengan tangannya yang menggenggam tangan mungil putrinya, Annika.


"Nenek!" Annika memeluk Indri. Sementara Indri dan Rudra saling melirik.


"Ada apa kalian kesini?" Tanya Rudra dengan nada datar. Sedikit membuat Meisya terkejut dengan sikap Rudra yang mulai berubah.


Namun Meisya mulai berdrama kembali, dengan memeluk kaki Indri dan bersimpuh di hadapannya.


"Ibu, aku mohon maafkan aku. Aku ingin kembali lagi pada keluarga ini." Pinta Meisya dengan tangisnya.


Indri menghempaskan Meisya, lalu menjauh dari Meisya.


"Satpam!" Panggil Indri pada satpam rumahnya yang langsung datang secepat kilat.


"Usir dia dari rumah ini!" Dengan segera satpam itu mengusir paksa Meisya.


Meisya meronta-ronta, hatinya sangat kesal melihat Rudra yang sudah mulai tak memedulikannya.


Dengan tangannya ia menarik pakaian Rudra, hingga Rudra tidak bisa bergerak.


"Rudra, aku mohon! Bukankah ini keinginan kakakmu?" Rudra menepis tangan Meisya.


"Apa maumu? Sudah berselingkuh, kenapa sekarang kembali?"


"Iya, kau benar Rudra!"


Meisya menatap Rudra tak percaya.


"Kau dengar atau tidak? Pergi!" Usir Rudra.


Lagi-lagi, Meisya menatap Rudra tak percaya. Selama dua tahun semenjak bercerai, baru kali ini Rudra membentak Meisya.


Sebelumnya dalam telepon Rudra selalu memperhatikannya. Bahkan Rudra selalu mengajak Meisya untuk rujuk kembali.


**Bersambung...


maaf ya up lama, soalnya sibuk dengan novel yang lain juga. Setelah yang lain tamat, insya Allah lebih rajin up dengan novel ini. Jangan lupa mampir di novel lain saya yang judulnya :


-SIRAN : The Musician's Love Stories.


Kisah cinta sang musisi menaklukan hati seorang gadia bernama Keyra yang tidak percaya cinta namun saat setelah mempercayai cinta, Keyra terpaksa meninggalkan Siran karena menderita penyakit Leukimia dan ingin menggapai impiannya juga sebagai seorang musisi**.

__ADS_1


__ADS_2