Terpaksa Menikahi Duda Arrogant

Terpaksa Menikahi Duda Arrogant
Meminta Kesempatan Terakhir


__ADS_3

Semua sudah berkumpul di ruang keluarga, dua keluarga yang masih menjadi besan itu saling menatap dalam hening.


Hanya ada gerakan dari seorang pria muda yang tengah berjalan ke arah seorang wanita muda yang baru saja melahirkan bayi laki-laki berparas tampan.


Ia berjongkok di hadapan wanita itu, dengan yang dilakukannya pertama kali mengecup bayi merah itu pelan.


"Kami hadir disini untuk Rudra, tolong pikirkan semuanya. Maafkan dia." Indri menghapus keheningan itu.


"Jika memungkinkan, tolong berikan aku satu kesempatan lagi." Rudra menggenggam tangan Maya, Indri yang mengerti mengambil alih cucunya tersebut dan membawanya duduk.


"Rudra," Maya mulai membuka suara sambil melepaskan tangan Rudra dan berdiri.


"Aku tidak-"


"Aku mohon," Rudra berlutut dan menyentuh kaki Maya.


Maya menarik napas panjang, kemudian memejamkan matanya.


"Baiklah,"


Seketika Rudra berdiri. Langsung memeluk Maya dan mengecupi wajahnya penuh rasa bersyukur.


"Tapi aku memiliki syarat untuk kesempatan terakhir ini, aku harap kau bisa memenuhinya!"


Rudra mengangguk cepat, tak ingin menyia-nyiakan waktu dan kesempatannya lagi.


"Kau harus menemukan titik kesalahanmu sendiri, juga kau harus percaya setiap apa yang aku katakan mengenai Meisya."


"Memangnya ada apa dengannya?" Indri menyela pembicaraan.

__ADS_1


Maya bergegas naik ke atas, meninggalkan semua orang dengan pandangan bingung.


Tak lama Maya kembali dengan ponselnya dan menunjukan sebuah video pada Rudra.


"Ini rekaman cctv hotel xx, saat aku menghilang waktu itu. Aku tidak sengaja..."


*Setelah mendapatkan nomor kamar hotelnya, Maya dengan cepat menaiki lift dan tidak butuh waktu lama sampai di depan kamar hotelnya.


Namun, saat Maya akan membuka pintu kamar hotel yang di tempatinya, ia mendengar sebuah suara yang berasal dari kamar yang berada di sebelah kamarnya yang pintunya masih sedikit terbuka.


"Suara apa itu? Sepertinya aku mengenalnya!" Gumam Maya sambil melangkahkan kakinya menuju kamar itu.


Tepat saat pintu terbuka agak lebar, Maya menangkap sebuah pemandangan yang mengejutkan.


Dimana dua sosok yang sangat familiar di matanya tengah bersatu di atas sofa lebar.


'Bukankah itu Meisya?'


Di sisi lain, ia tak sengaja melihat ada sebuah cctv di ruangan itu dan langsung bergegas untuk ke ruangan cctv hotel*.


"Jadi, selama ini..."


"Meisya dan Daren selingkuh," potong Indri dengan wajah tak percaya.


Semua sangat terkejut, tidak menyangka bahwa dua orang yang tentunya memiliki peran dalam keluarga mereka berbuat semenjijikan itu.


...****************...


"Maya, aku benar-benar minta maaf. Terima kasih telah menyadarkanku, bahwa Tuhan selalu memiliki alasan setiap dia menjauhkan kita dari orang yang kita cinta." Ucap Rudra sambil bersandar di bahu Maya.

__ADS_1


Keduanya kini sedang duduk di atas sebuah bangku panjang di halaman rumah milik Rudra.


Dengan Maya yang menggendong anaknya yang tengah tertidur pulas.


"Apa kau mencintaiku?" Tanya Maya tiba-tiba membuat Rudra menegakkan duduknya, menatap Maya kesal.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Kesal Maya melihat tatapan kesal Rudra.


Rudra meraih bayinya, kemudian membawanya masuk ke dalam rumah dan memberikannya pada pengasuhnya.


Tak lama ia kembali dengan wajah masih terlihat kesal.


"Kau pikir untuk apa aku meminta kesempatan terakhir padamu?" Dengan berkacak pinggang, ia bertanya pada Maya.


Tak ingin kalah, Maya ikut berdiri, berkacak pinggang dan menajamkan tatapannya.


"Tapi kau tidak pernah bilang bahwa kau mencintaiku!" Protes Maya.


"Lalu kenapa aku minta kesempatan terakhir darimu jika tidak mencintaimu?!"


"Bisa saja karena kau hanya ingin bersatu denganku untuk anak kita!" Jawab Maya tak kalah kesal, membuat Rudra memulai sebuah tindakan konyol nan panas.


Ia meraih leher Maya, membuat tanda yang tidak mudah hilang.


"Jika aku tidak cinta padamu, mana mungkin aku melakukan ini!" Ucapnya sambil menunjuk dua tanda merah di leher Maya.


Keduanya terus berdebat, hingga tidak sadar dari jauh seorang wanita berpakaian terbuka tengah memerhatikan keduanya dengan wajah kesal.


"Beraninya kalian bahagia diatas deritaku! Aku tidak akan membiarkan ini!"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2