Terpaksa Menikahi Duda Arrogant

Terpaksa Menikahi Duda Arrogant
Kembalinya Meisya


__ADS_3

Jangan lupa follow ig author ya, buat yang punya Ig. siran_rahmawati6 biar semakin dekat antara penulis dan pembaca... 😊


"Maya," ucap Rudra sambil mengetuk pintu kamar Maya yang terbuka dengan sangat pelan.


Terlihat Maya sedang memakan beberapa potong buah-buahan, lalu ia menoleh saat Rudra memanggilnya.


Dengan segera Maya beranjak dari tenpat tidurnya dan berdiri.


"Tidak, tidak usah berdiri." Ucap Rudra lembut membuat Maya sedikit kebingungan dengan sikapnya yang kembali berubah.


Maya duduk kembali diatas kasurnya dan menundukan kepalanya.


"Ada apa?" Tanya Maya dengan intonasi yang lembut. Rudra tersenyum dengan penuh ketulusan.


"Bukan apa-apa, apakah malam itu saat aku mabuk bersama Sid, kita melakukannya." Maya mendongakan kepalanya, ia hanya tersenyum samar pada Rudra.


"Maya, jawablah apa malam itu terjadi?" Maya masih diam, dengan senyum tipisnya. Ia bingung harus jujur atau berbohong.


Jika jujur, mungkinkah hubungannya akan Rudra tidak akan berakhir? Sedangkan Maya sendiri ingin mengakhiri hubungannya yang tanpa cinta itu dengan Rudra.


"Katakan, Maya!" Desak Rudra.


Akhirnya Mayapun mengangguk samar, ia tak bisa menutupi segalanya dengan kebohongan. Terlebih mertuanya sangat menginginkan keturunan dari Rudra.


"Tapi tenang saja, aku tidak akan menggunakan anakmu sebagai alat untuk mengikatmu dengan hubungan ini. Setelah anak ini lahir aku akan pergi dari hidupmu dan memberikan anak padamu." Tutur Maya dengan suara bergetar.


Rudra menatap Maya dengan lekat, dalam mata Maya terlihat bahwa ia tidak benar-benar ingin menyerahkan anaknya.


"Kita bicarakan itu nanti, tapi tolong katakan apa yang terjadi malam itu hingga kita bisa melakukannya?" Pinta Rudra sambil meraih tangan Maya dan menggenggamnya.


"Semuanya berawal dari kepulanganmu dalam keadaan mabuk, saat itu aku sedang..."


Flashback


Maya sudah terbangun saat merasakan sebuah ciuman mendarat di dahinya dan juga kelopak matanya.


"Rudra!" Serunya sambil menahan Rudra yang sudah akan menyerangnya lagi.


"Hai cantik, apa kabar? Aku salah tidak melihatmu yang cantik, tapi..." Rudra tersenyum geli pada Maya.


"Tapi apa?"


"Cantikmu itu apa masih memiliki... Hahaha!" Tiba-tiba Rudra tergelak.

__ADS_1


Maya semakin kebingungan dengan tingkah Rudra.


"Rudra, kau pasti mabuk!" Seru Maya sambil bangun dari atas kasur dan membantu Rudra untuk menyadarkan dirinya.


Namun beberapa kali Rudra menolak, ia tidak ingin tidur malah berbicara tanpa henti pada Maya.


"Tunggu, Maya. Aku ingin meminta hakku sebagai seorang suami, apa kau bisa memberikannya padamu? Atau kau sudah memberikannya pada pria lain terlebih dahulu?" Maya menggeleng cepat.


"Tidak, kau sedang mabuk!" Ucap Maya sambil meraih segelas air putih dan menyuruh Rudra meminumnya.


"Maya, kau masih memilikinya atau tidak? Jawab saja, jangan menghindar!" Rudra membingkai wajah Maya dengan pipinya, lalu menunggu jawaban dari Maya.


Maya mengangguk samar.


"Berikan padaku, selama ini aku sangat tidak beruntung karena apa yang seharusnya menjadi hak seorang suami direnggut lebih dulu oleh laki-laki lain. Bahkan, dia juga menduakanku dengan mantan kekasihmu itu!" Hati Maya mulai tersentuh, merasa iba terhadap Rudra.


"Berikan hak itu padaku, Maya! Aku suamimu, aku suamimu!" Teriak Rudra lalu tak lama isakan keluar dari mulutnya.


Maya membingkai wajah Rudra, hatinya dibulatkan oleh tekad untuk memberikan apa yang Rudra inginkan.


Mungkin, dengan ini aku akan bebas lebih cepat.


Tanpa aba-aba, tanpa menunggu jawaban lagi dari Maya, Rudra mulai mengambil apa yang ia inginkan dan apa yang telah menjadi haknya dari Maya sebagai seorang istri, meski hanya selama satu tahun.


Rudra memulai dengan menggendong Maya dan merebahkannya diatas tempat tidur, Rudra membuka kemejanya dan merebahkan dirinya diatas Maya.


Ditatapnya manik mata Maya yang indah sebentar kemudian Rudra tersenyum samar dan menutup kedua mata Maya dengan usapan tangannya. Dikecupnya kelopak mata Maya dengan lembut.


Hingga kecupan itu perlahan menurun, hingga ke bibir Maya yang tipis. Dari lembut, berubah hingga memburu.


Terus menurun, hingga akhirnya sebuah kecupan meninggalkan jejak cinta di leher mulus dan putih Maya. Beberapa tanda berwarna merah pudar terlihat disana.


Rudra tersenyum lagi, hingga ia mulai melakukan apa yang akan membuatnya mengambil hak itu.


Jantung Maya berdebar kencang saat kedua tangan kekar Rudra membuka lapisan kain yang dipakainya.


Semakin berdebar kencang, saat tongkat milik Rudra sudah akan masuk kedalam hutan miliknya.


"Rudra!" Teriak Maya sambil mencakar punggung Rudra karena menahan rasa perih dibagian bawah tubuhnya.


Rudra tetap meneruskannya, meski beberapa kali Maya menancapkan kukunya pada punggungnya.


Pengambilan hak itu terus terjadi, tanpa ada penolakan sedikitpun. Hingga setelah melepaskan puncaknya, tubuh Rudra ambruk dan menimp tubuh Maya dengan dua bagian berbeda mereka masih menyatu.

__ADS_1


Flashback off


Rudra menundukan kepalanya, ia tidak menyesalinya begitu juga dengan Maya. Mungkin, Rudra harus berterima kasih pada Maya karena berkat Maya, ia akan memiliki pewaris aslinya sendiri.


"Dari hatiku yang paling dalam, aku memohon maaf padamu." Ucap Rudra dengan mengeratkan genggamannya pada tangan Maya.


Maya menatap Rudra dengan tatapan iba, pria dihadapannya ini memang selalu membuat perasaannya berbesa sehingga membuat kesan tersendiri di hati Maya.


...****************...


Beberapa hari setelah kebenaran terungkap, sikap Rudra perlahan melembut pada Maya. Bukan lain adalah karena bayi yang saat ini dikandung Maya yang menjadi alasannya.


Maya sendiri merasa nyaman dengan sikap lembut Rudra, meski dalam hatinya masih ingin lepas dari hubungan tersebut.


Hingga hari ini, Maya bermaksud membuat ulang sebuah perjanjian dengan Rudra.


Akan tetapi, sebuah bunyi bel mengejutkan Maya.


"Siapa yang bertamu di pagi buta seperti ini?" Gumam Maya sambil beranjak untuk membukakan pintu.


Maya membuka pintu rumah dengan cepat, lalu saat pintu terbuka pandangannya membelalak karena seorang gadis kecil yang ternyata datang kerumah Rudra.


"Hai, bibi apa ayah sudah berangkat kekantor?" Tanya gadis kecil itu sambil menunjukan deretan giginya yang sebagian sudah menghitam.


"Ayah? Maaf, kau siapa?" Tanya Maya sambil mencubit pipi gadis kecil itu.


Kebetulan Rudra sedang berjalan melewati pintu utama, hingga saat melihat Maya berbicara dengan seseorang diambang pintu membuatnya berhenti berjalan.


Gadis kecil itu menoleh kesana kemari, hingga saat pandangannya berhenti pada Rudra tanpa berkata apapun lagi gadis kecil itu berlari menghampiri Rudra.


"Ayah!" Rudra terkejut dengan gadis itu namun segera menghilangkan rasa keterkejutan itu.


"Annika, kau kesini? Dengan siapa datang ke sini?" Rudra menjongkokan dirinya untuk mensejajarkan tubuhnya dengan gadis bernama Annika itu.


"Ibu, dia juga ada diluar." Maya langsung menoleh keluar, ia terdiam saat melihat sosok yang disebut ibu. Meisya.


Rudra menatap Meisya dengan tatapan terkejut juga.


Meisya memasuki rumah dan langsung berhambur memeluk Rudra. Hal itu membuat Maya yang memang sedikit sensitiv merasa kesal.


Maya langsung bergegas masuk kedalam kamar dan mengunci pintu kamarnya. Ia benar-benar tak ingin menyaksikan drama antara mantan itu lagi.


"Maya!"

__ADS_1


Bersambung ...


Meisya oh Meisya, mau apa lagi???🤓🤓🤓🙄🙄😏😏😣


__ADS_2