Terpaksa Menikahi Duda Arrogant

Terpaksa Menikahi Duda Arrogant
Tidak Pernah Tertarik Padanya


__ADS_3

Warning, ada 21+nya jadi yang dibawah umur dilarang baca! Bijaklah dalam membaca, jangan lupa like, komen, vote, kasih gift juga yaaa!!!


Azka menatap punggung Rudra hingga menghilang didalam mobil. Setelah itu ia memasuki rumah dan mengunci pintu rumahnya rapat-rapat, tak lupa Sina yang sudah menunggu di dalam kamar.


"Ada apa? Apa kak Rudra mengatakan sesuatu?" Azka mengangguk, kemudian mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya dan memutar video yang diberikan oleh Rudra.


Video terputar menampilkan Daren dan kedua orang tuanya. Hingga sampai video selesai diputar Sina dan Azka akhirnya menemukan sebuah fakta tentang Daren dan kedua orang yang disebut ayah dan ibunya.


"Jadi mereka dibayar?" Tanya Sina dengan nada tak percaya.


Azka mengiyakan dengan anggukan.


"Tapi apa tujuan mereka?"


"Perusahaan." Jawab Azka dengan penuh keyakinan. "Mereka menginginkan perusahaan ayah dan Rudra. Kau ingat dulu? Sebelum kita menikah, Daren yang seharusnya menikah denganmu. Tapi kita malah terjebak hingga dijodohkan dan menikah." Jelas Azka.


"Jadi maksudmu Daren ingin balas dendam pada kita dengan cara menghancurkan apapun yang kita miliki?" Azka mengangguk lagi.


Sina terdiam, lalu menunduk dalam-dalam.


"Jika begitu kita harus bertindak cepat agar Maya tidak menikah dengannya!"


...****************...


Di sebuah ruangan gelap tampak tiga orang sedang berbicara dengan nada seperti sedang bergurau, sesekali mereka tertawa dengan tawa puas.


"Bagaimana? Apakah akting kami bagus?" Tanya sebuah suara seorang wanita yang mungkin sudah tua.


"Bagus, sangat bagus! Jangan lupa minggu depan adalah hari pernikahanku dengan wanita bodoh itu, jangan sampai kalian membuat kesalahan!" Suara seorang pria menjawab wanita tua itu.


"Lalu bagaimana dengan bayaran kami? Kapan kami akan mendapatkannya?"


"Semua akan dibayar setelah rencana pertama selesai, setelah aku menikah dengannya." Ucap pria dengan suara khas pria muda tersebut dengan nada tegas.


Dalam obrolan tersebut tiba-tiba lampu dihidupkan, membuat ketiga orang yang semula tak terlihat karena kegelapan kini terlihat setelah mendapat penerangan.


"Bagaimana, Daren? Apakah semua berjalan lancar hari ini?" Seorang wanita yang berpenampilan sexy dan cantik menghampiri pria yang dipanggil Daren, lalu duduk dipangkuan Daren dan membelai Daren dengan belaiannya.


Daren hanya tersenyum dengan senyuman yang sudah bergai rah, tak menjawab sepatah katapun hanya menikmati belaian wanita di pangkuannya.


"Kau diam saja, menyebalkan!" Ketus wanita itu sambil meraih dagu Daren dan mengecup singkat bibir Daren.


Sementara dua orang wanita dan laki-laki yang tadi bersama Daren hanya menunduk tak berani melihat aksi dihadapannya.

__ADS_1


Daren mengerutkan salah satu alisnya sambil melihat dua orang yang masih berdiri tersebut.


"Kalian ingin melihatku dengannya melakukan aksi kami?" Tanya Daren yang langsung dijawab gelengan kepala oleh keduanya.


Kemudian keduanya pergi dari ruangan tersebut meninggalkan Daren dan wanita yang masih duduk manja dipangkuan Daren.


"Apa semuanya berjalan lancar?" Tanyanya masih dengan tangan yang menjamah kesegala bagian tubuh Daren.


"Tentu saja, akan bertambah lancar jika kau selalu mendukungku," Jawab Daren sambil meraih tangan wanita itu dan melingkarkannya keleher Daren.


Wanita itu mengikuti kemana Daren melatakan tangannya dan mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Daren.


"Kenapa kau tertarik padaku?" Tanya wanita itu mengubah pembicaraan.


"Karena kau bisa memberikan sesuatu yang tidak bisa aku dapatkan dari wanita bodoh itu,"


"Kau yakin?" Daren mengangguk, kemudian mulai mendekatkan tubuh wanita itu hingga kedua agar-agar kenyal berbentuk gunungnya menempel tepat didadanya.


Kini mata Daren berubah lebih buas dari tatapannya. Wanita yang berada di pangkuannya tak tinggal diam, ia terus menjamah ke segala tempat sensitif milik Daren.


Tangannya berhenti tepat di bagian daging panjang milik Daren yang mungkin sudah akan menembus celana Daren.


"Apa kau tidak pernah tertarik padanya?" Daren dengan cepat menghentikan tangan wanita itu yang sudah mengelus-ngelus miliknya.


"Aku harus tertarik di bagian mana? Apa yang membuat dirinya bisa menarik?" Sinis Daren diiringi tawanya. "Aku tidak pernah tertarik padanya. Hanya kau dan yang kau berikan yang mampu membuatku tertarik, apalagi jika ranjangku hangat setiap malam!" Kata Daren sambil melepaskan sesuatu di tubuh wanita itu.


Kemudian Daren memindahkan posisi duduk wanita itu menjadi lebih panas, dengan daging panjang yang masih berada dalam sangkarnya ditekankan ke belahan wanita itu yang masih tertutup.


"Ah..." Sebuah suara lolos begitu saja dari bibir wanita itu.


"Ayo, malam ini milik kita lagi!" Ucap wanita itu sambil menggesek-gesekan belahannya pada daging panjang Daren yang menonjol itu.


Daren mengangguk, kemudian mulai melucuti pakaiannya dan juga pakaian wanita itu.


Dengan buas ia berkali-kali membuat wanita itu melenguh dengan nada yang tak beraturan meskipun permainan utama belum dimulai.


"Lakukan, atau aku bisa mati!" Pinta wanita itu dengan nada yang sudah sangat menginginkan daging menonjol milik Daren menghantam belahannya.


Hingga beberapa saat akhirnya pertempuran panas itu selesai dengan napas keduanya yang sudah tak beraturan akibat kelelahan.


"Terima kasih, sayang." Ucap Daren sambil mengecup pipi wanita si sampingnya.


...****************...

__ADS_1


"Kenapa dia tak bisa dihubungi?" Kesal Maya sambil terus berusaha menelepon Daren.


Pada telepon ke lima kali baru telepon dari Maya diangkat.


"Hallo? Daren, kenapa kau tidak mengangkat teleponku dari tadi? Aku sudah satu jam menunggu, kemarin kau bilang akan kesini jam satu siang!" Maya langsung memarahi Daren.


"Hallo, nona maaf. Pak Daren sedang sibuk meeting dengan cliennya."


Maya menghela napas kesal, lalu menutup teleponnya tanpa bicara apapun lagi. Wajahnya sudah berubah menjadi masam karena kesal.


Akhirnya dengan perasaan yang masih kesal Maya memilih untuk pergi ke kantor ayahnya. Selama perjalanan perasaannya merasa sangat kecewa dengan hari ini. Bukan karena Daren yang tidak mengangkat teleponnya akan tetapi kecewa dengan sesuatu yang belum pasti.


Hingga pada saat lampu merah ia tak menyadarinya jika saja sebuah mobil yang berada di belakang mobilnya tidak berteriak-teriak dengan klaksonnya.


"Hei, maaf, maaf!" Ucap Maya sambil menghentikan mobil yang sudah hampir melintasi lampu merah.


Di sisi lain masih di posisi bagian lampu merah, Rudra tampak sedang tertawa puas sambil memperhatikan mobil Maya.


"Dia itu memang sudah bodoh dari lahir ya? Bagaimana bisa tidak mematuhi peraturan lalu lintas?!" Gumam Rudra diikuti tawanya.


"Pak, kemana kita akan pergi? Apa ke kantor atau ke kantornya pak Teddy?" Tanya supirnya Rudra.


"Ikuti mobil itu!" Perintah Rudra sambil menunjuk mobil Maya.


Supirnya mengangguk, mengikuti mobil Maya ketika lampu sudah berubah menjadi hijau.


Menyadari ada mobil yang mengikuti mobilnya, Maya langsung menancap gas hingga kecepatan tinggi.


Tak perlu waktu lama, akhirnya Maya sampai di parkiran kantornya begitu juga dengan mobil milik Rudra.


Maya segera turun dari mobil, lalu menghampiri mobil Rudra dan menendang mobilnya lebih dulu.


"Hei, keluar kau! Kenapa kau mengikutiku?" Teriak Maya dengan terus menendang mobil Rudra.


Rudra yang masih berada di dalam mobilnya hanya menurunkan kaca mobil dan menatap Maya dengan tatapan datar tanpa ekspresi.


"Hmm, kau suka sekali membuat masalah ya? Sekarang tolong perbaiki dan bersihkan mobilku!" Ucapnya datar.


Maya menganga sekaligus membelalak, tak percaya dengan siapa yang berada di dalam mobil.


"Kau tidak dengar? Baik, mungkin tidak sekarang." Ucap Rudra datar. "Perbaiki mobilku setelah pulang dari sini!" Kali ini Rudra berucap dengan nada suara meninggi.


"A.. Apa?!"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2