Terpaksa Menikahi Duda Arrogant

Terpaksa Menikahi Duda Arrogant
Kebaikan Rudra


__ADS_3

Setelah keluar dari kamar mandi, wajah Rudra tiba-tiba berubah menjadi merah padam. Ia tak menyadari bahwa dari semalam sudah berada di kamar Maya.


"Kenapa kau tidak bilang jika aku berada di kamarmu?" Ucap Rudra pelan, tak seperti biasanya.


"Kau menyalahkanku? Kau sendiri tidak pernah bertanya padaku!" Kesal Maya.


Rudra menunduk, ia merasa sangat malu karena hal ini. Mungkin, jika bisa dikatakan maka dia merasa menjadi bodoh dihadapan Maya.


"Maaf," ucap Rudra.


Mata Maya membelalak mendengar kata sakral tersebut terucap dari mulut manusia kejam seperti Rudra.


"Jangan ucapkan maaf, itu tidak pantas keluar dari mulutmu!" Balas Maya dengan cibiran.


Rudra mendongakan kepalanya. Kemudian menatap Maya dengan tatapan tajam. Maya sendiri memperhatikan tatapan itu, baru saja merasa Rudra sudah menyesali sikapnya ternyata salah.


Rudra tetaplah Rudra si kejam yang berasal dari rasa kecewanya akan cinta yang telah mempermainkannya.


Cih, semalam mungkin tatapan paling tulusnya yang hanya akan terjadi sekali selama satu tahun ini.


"Kenapa kau menatapku begitu?" Tanya Rudra dengan suara yang tidak seperti biasanya, nadanya sedikit pelan.


Maya menggeleng, kemudian mempersiapkan makanan untuk Rudra dan menyajikannya.


Rudra langsung memakan makanan yang dibuatkan Maya dengan lahap, tanpa ada komentar atau bicara sedikitpun. Merasa aneh, Maya terus menatap Rudra dengan tatapan bingung.


Kenapa manusia ini berubah seperti ini? Biasanya juga seperti Singa yang mengamuk!


"Kau menatapku terus ingin minta apa? Katakan!" Ketus Rudra.


Maya menggeleng lagi, kemudian ikut makan bersama Rudra. Bahkan Rudra tak berkomentar tentang Maya yang ikut makan saat dia makan. Berbeda seperti kemarin, yang akan langsung membentak Maya saat Maya ikut makan.


"Makanlah lebih banyak, aku tidak ingin orang tuamu menyalahkanku jika kau sakit lagi!" Ucap Rudra datar. Maya semakin kebingungan dengan sikap Rudra yang perlahan berubah.


Dalam hatinya bertanya-tanya, apa ini karena semalam?


"Kenapa kau berubah? Biasanya selalu kasar padaku?!" Tanya Maya langsung, tak sadar jika itu menyinggung Rudra.


Rudra menghela napas panjang, kemudian menghentikan memakan makanan dan menghampiri Maya yang masih duduk.


"Dengar, ya!" Ucapnya sambil mencengkeram dagu Maya.


"Aku manusia, ada kalanya aku harus bersifat baik padamu karena aku masih berperikemanusiaan!" Sambung Rudra sambil mengambil nasi dan menambahkannya ke piring Maya.


Maya membelalakan matanya, nasi di piringnya yang baru saja ditambahkan Rudra tiba-tiba membuatnya semakin sulit untuk makan.

__ADS_1


"Makan!" Perintah Rudra dengan menambahkan lagi sayuran ke piring Maya. Maya mengangguk cepat, kemudian Rudra kembali ke tempat duduknya dan melahap lagi makanannya.


Semakin sore, Rudra semakin tidak bisa ditebak. Sikapnya berubah seiring waktu dan seiring dengan apa yang terjadi di malam kemarin.


Apa dia menyadarinya? Maya membayangkan bahwa Rudra memang menyadari hal yang terjadi diantara keduanya semalam.


...****************...


Hingga satu minggu, Rudra tidak pernah lagi membentak Maya ataupun memarahinya sejak malam itu terjadi.


Maya semakin curiga dengan semua itu, apakah Rudra memang menyadari hal itu? Jadi ia bersikap baik pada Maya. Malam ini Maya mengeluarkan keberaniannya untuk bertanya sebenarnya ada apa dengan Rudra.


Nyatanya, saat Rudra pulang dari kantor


Maya kembali merasa bagaikan dineraka. Sifat Rudra ternyata masih sama, masih tetap Rudra yang kejam dan arrogant.


"Maya!" Teriaknya dengan lantang.


Maya dengan cekatan segera menghampiri Rudra. Ia tahu bahwa nyanyian peperangan akan segera dimulai.


"Kau lambat sekali!" Bentak Rudra. "Cepat minggir! Jangan muncul dihadapanku!" Perintahnya.


Maya berlalu sambil mengumpati Rudra, ia semakin yakin bahwa sifat Rudra yang asli adalah kejam dan arrogant. Baik hanya jika apa yang dia inginkan sudah terwujud.


"Dasar gila! Tadi dia memanggilku, sekarang dia mengusirku. Apa maunya?" Umpatnya.


Semakin hari pula, siksaan Rudra semakin nyata. Rudra berani memukul Maya hanya karena sebuah kesalahan kecil yang tidak Maya sengaja.


Maya setiap malamnya selalu menangis sebelum tidur. Menangisi nasibnya yang semakin hari kian merana.


"Kau menangis? Cengeng! Sudah aku bilang, jangan pernah setuju menikah denganku! Dalam hatiku hanya ada satu wanita, bukan dirimu!" Ujar Rudra dengan tatapan penuh egonya.


"Tapi kau tidak tahu wanita yang kau cintai itu seperti apa!" Balas Maya dengan beraninya. Rudra langsung mengepalkan tangannya, dan menjambak rambut Maya dengan sangat keras.


Maya kembali menangis terisak. Mili yang menyaksikan hal itu ikut menangis dari jauh merasa kasihan pada Maya yang harus selalu mendapat siksaan dari Rudra.


"Memangnya kau tahu apa tentang Meisya? Kau bahkan tidak mengenalnya!" Hardik Rudra dengan mendorong Maya hingga jatuh ke lantai.


"Baik, kau ingin tahu seburuk apa dia?" Tantang Maya. "Coba datanglah ke apartemen nomor tiga ratus lima! Lihaah wanitamu itu sedang apa disana!"


Rudra menatap Maya sinis, kemudian mendekatinya.


"Yang pasti dia tidak sepertimu, yang dengan sengaja ingin mengorbankan kesucianmu demi pria seperti Daren!" Sinis Rudra sambil berlalu meninggalkan Maya.


Meisya, aku akan mencarimu! Hanya kau yang bisa membebaskanku dari belenggu neraka ini!

__ADS_1


Dengan cepat Maya berdiri, lalu berjalan menuju kamar mandi. Di kamar mandi dia sangat terkejut saat merasa mual dan ada yang bergejolak didalam perutnya meminta untuk dikeluarkan.


Dengan cepat Maya mengeluarkan isi perutnya.


"Ya Tuhan, kenapa ini? Kenapa tiba-tiba aku merasa pusing dan mual?" Maya terus memuntahkan isi perutnya, hingga akhirnya ia merasa lega dengan gejolak di perutnya.


Maya melangkah keluar dari kamar mandi, bermaksud untuk menidurkan dirinya. Namun kendala kembali terjadi saat kepalanya terasa pusing.


Tubuhnyapun terjatuh diatas lantai kamar mandi, tak ada seorangpun yang mengetahui Maya sudah tak sadarkan diri disana.


Bahkan, saat pagipun Maya masih belum sadar. Rudra sudah berteriak-teriak sejak tadi karena Maya belum menyediakan sarapan untuknya.


"Maya!" Rudra mengetuk pintu kamar Maya dengan sangat keras.


Tok tok tok


"Maya!" Teriaknya lagi.


Namun sampai beberapa menit menunggi belum ada yang keluar. Rudra sedikit bingung, tapi emosi lebih besar daripada bingungnya.


"Jika kau tidak keluar sekarang, jangan harap kau bisa bernapas lagi!" Ancamnya.


Beberapa menit lagi menunggu, Maya masih belum membuka pintunya. Hingga timbul rasa cemas di hati Rudra dan berniat membuka pintu kamarnya.


Saat dibuka, pintunya tidak terkunci dan Rudra tak menemukan sosok Maya diatas ranjang. Rudrapun berpikir Maya sedang mandi, akan tetapi ia tak mendengar suara gemercik air.


Hingga Rudra mendekati kamar mandi dan terkejut melihat Maya sudah terbaring diatas lantai kamar mandi.


"Maya! Bangun! Kenapa kau tidur disini?" Rudra mengguncang-guncang tubuh Maya.


Maya masih belum terbangun, membuat Rudra sedikit cemas. Dengan cepat Rudra mengangkat tubuh Maya dan membaringkannya diatas ranjang.


"Mili!" Panggil Rudra yang dengan cepat langsung membuat Mili berada di belakangnya.


"Ya Tuan."


"Cepat telepon dokter!" Mili mengangguk, langsung menelepon dokter.


Dokter sudah datang setelah tiga puluh menit dan langsung memeriksa Maya.


"Apa dia merasa pusing atau mual?" Tanya dokter.


"Aku tidak tahu, saat aku datang dia sudah pingsan disana." Sambil menunjuk kamar mandi.


"Ada apa dengannya?" Tanya Rudra dengan wajah yang cemas.

__ADS_1


"Dia..."


Bersambung...


__ADS_2