
Maya tak mengindahkan lagi rasa mual dan pusing yang beberapa hari ini menerpanya di pagi hari, bahkan Maya menganggap mungkin itu hanya karena masuk angin.
Lain dengan Rudra yang mendengar Maya muntah di pagi hari itu membuatnya curiga akan sesuatu.
Seperti pagi ini, melihat Maya yang berwajah pucat dan lemah membuat Rudra segera menghampirinya di kamarnya.
"Apa kau sakit?" Tanya Rudra dengan wajah yang datar, namun terlihat cemas.
Maya keluar dari kamar mandi setelah terlebih dahulu mencuci wajahnya, kemudian menatap Rudra dengan tatapan tak peduli.
"Jika aku memang sakit apa pedulimu?" Ketus Maya sambil minum air putih yang berada disamping tempat tidurnya.
Rudra tersenyum kecut, kemudian mendekati Maya. Diperhatikannya Maya dari atas ke bawah dengan teliti hingga matanya menangkap banyak perubahan di tubuh Maya.
"Selama aku pulang malam, laki-laki mana saja yang kau ajak menghangatkan ranjangmu?" Maya langsung membelalakan matanya mendengar pertanyaan Rudra.
"Apa maksudmu?" Maya menunjuk Rudra disertai tatapan tajam.
Rudra mendekati Maya, disentuhnya tangan Maya dan ditunjuknyaperut Maya yang terlihat sedikit menonjol bahkan hampir tak disadari siapapun akan perut Maya yang sedikit menonjol itu. Bahkan, bagian gunung Maya terlohat sedikit membesar.
"Kau pikir aku tidak menyadarinya?" Menunjuk perut Maya dengan sedikit ditekankan.
Rudra menarik Maya menuju cermin besar, lalu membiarkan Maya melihat dirinya sendiri di cermin itu.
"Perhatikan baik-baik, baru setelah iti kau bicaralah!" Perintahnya sambil meninggalkan Maya yang masih berdiri di hadapan cermin.
Maya memperhatikan dirinya sendiri di cermin, lalu mengelus perutnya yang masih rata itu. Hatinya bertanya-tanya apakah ia hamil? Tapi bagaimana bisa terjadi hanya dengan satu kali saja?
Tidak! Tidak mungkin aku hamil!
Maya mencoba mengusir pikirannya tentang kehamilan, akan tetapi semakin hari semakin Maya merasa ada sesuatu yang berbeda pada dirinya sendiri.
Hingga pada hari ini, saat ia kembali muntah di pagi hari tanpa sepatah katapun Rudra menghampirinya dan menarik tangannya menuju mobil.
Sepanjang perjalanan Rudra tak mengatakan apapun. Maya sendiri cukup takut dengan air muka Rudra yang terlihat sangat mengerikan. Seperti petir yang tertahan pada saat akan menyambar pohon.
Mobil Rudra berhenti di parkiran rumah sakit, Maya merasa semakin takut melihat bahwa ia dibawa ke rumah sakit. Saat Rudra menyuruhnya turun, Maya selalu menolak.
"Rudra, apa yang kau lakukan? Kenapa aku dibawa ke rumah sakit?" Tanyanya dengan panik.
"Diam! Aku akan membuktikan semua kecurigaanku, bahwa kau bukan gadis baik seperti yang keluarga kita lihat!" Hardik Rudra.
Dengan terpaksa Maya mengikuti Rudra masuk kedalam rumah sakit, langsung ke tempat poli kandungan.
__ADS_1
Maya mengikuti seluruh instruksi dokter, hingga puncaknya ia memilih bersandirwara setelah hasil pemeriksaan dokter tersebut.
"Selamat, pak Rudra anda akan menjadi seorang ayah." Ucap dokter itu tanpa merasa takut dan tidak memperhatikan wajah Rudra yang tengah terlihat menahan amarah.
Bisa-bisanya dia hamil oleh pria lain!
Tanpa sadar ada rasa kecewa didalam hati Rudra yang menerpanya.
Tapi, kenapa aku harus marah? Bukankah ini adalah jalan dimana aku dan dia bisa berpisah lebih cepat dari apa yang tertulis didalam surat perjanjian?
Rudra tersenyum sinis, kemudian melirik Maya dan membawanya keluar setelah berpamitan dengan dokter.
Didalam Rudra menatap Maya lekat-lekat.
"Kau pandai sekali bermain dibelakang rupanya! Anak siapa itu?" Sambil menunjum perut Maya.
Maya menatap balik Rudra dengan tatapan lebih tajam.
"Apa pedulimu dengan anak siapa ini? Bukankah ini keinginanmu? Jalan untuk mengakhiri pernikahan neraka ini!" Ujar Maya dengan tatapan sesinis Rudra.
Rudra tersenyum kecut, kemudian menghela napas kasar. Hatinya merasa kecewa, dua kali pernikahan mesti merasakan dua kali pengkhianatan oleh istrinya sendiri. Tak masalah jika itu Maya, karena Rudra tak mencintainya. Tapi untuk Meisya, ia sangat menyayangkan itu setelah Rudra berkorban begitu banyak untuk Meisya. Bahkan Annika diakui Rudra sebagai putri kandungnya.
"Katakan, anak siapa itu?" Sinis Rudra.
"Bayi?!" Potong seseorang dari belakang, membuat Rudra dan Maya menoleh secara bersamaan.
"Ibu," ucap keduanya bersamaan melihat Indri, ibunya Rudra.
"Bayi?! Apa Maya hamil?" Seru Indri dengan mimik wajah bahagia.
"Tidak, bu. Tidak ada yang hamil." Bohong Rudra dengan wajah meyakinkan namun hati berdebar takut ibunya mengetahui pengkhianatan Maya hingga memiliki bayi itu.
"Jangan bohong! Ibu mendengar segalanya!"
Segalanya? Batin keduanya dalam hatinya.
"Iya, menantu ibu hamil tapi bukan..."
"Sudah ibu duga!" Potong Indri.
"Kalian ini menyebalkan! Tidak saling mencintai, tapi bagaimana bisa hamil?" Indri memeluk Maya dengan perasaan terharu dan bahagia.
Maya menatap Rudra, Rudra menatap Maya dengan penuh arti.
__ADS_1
Tanggung akibatnya sendiri, itu kan arti tatapanmu tuan muda Rudra?
"Ayo, jangan berdiri! Kau sedang hamil jadi kita duduk saja!" Indri membawa Maya duduk disofa dan mengusap perut Maya yang sedikit menonjol itu.
"Berapa usia kandunganmu?" Tanya Indri yang membuat Maya menoleh pada Rudra.
Rudra hanya membalas tatapan Maya dengan mengedikan kedua bahunya. Maya sendiri ragu mengatakan usia kandungannya.
"Maya, jawab! Kenapa hanya diam saja?" Maya menoleh pada Indri.
Indri menggenggam kedua tangan Maya.
"Satu bulan lebih satu minggu," jawab Maya dengan suara bergetar. Indri tersenyum bahagia dengan jawaban itu.
"Baik, semoga cucuku adalah seorang laki-laki yang akan menjadi penerus Rudra!" Seru Indri dengan sangat bahagia.
"Bu, dia bukan cucumu."
"Apa maksudmu Rudra? Dia cucuku! Anakmu dan Maya, bagaimana bisa kau berkata begitu?" Indri membentak Rudra tak terima.
Rudra mengepalkan tangannya tak terima bayi yang dikandung Maya dikatakan adalah anaknya. Maya menatap Rudra, memperhatikan raut wajah Rudra.
"Maya, jaga baik-baik kandunganmu ya. Ibu tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada kandunganmu!" Pesan Indri dengan sangat perhatian.
Maya mengangguk, kemudian beranjak saat Rudra duduk dihadapan Indri. Dalam hati Rudra sedikit terkejut mengetahui usia kandungan Maya yang berumur satu bulan lebih satu minggu.
*Satu bulan lebih satu minggu? Bukankah aku juga tertidur di kamar Maya di waktu itu, apa artinya...
Bayi itu memang anakku*?
"Ada apa Rudra? Kenapa hanya diam saja?" Indri menatap Rudra dengan tatapan bingung.
Rudra menggeleng, ada yang menghangat dalam perasaannya. Jika benar bayi yang dikandung Maya adalah anaknya, maka Rudra akan mempertahankan Maya meskipun Maya ataupun dirinya sendiri tak ada yang saling mencintai.
"Rudra, ibu tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Maya ataupun bayinya! Kau harus menjaga dia dengan sangat baik!" Pesan Indri.
Rudra mengangguk, kemudian bergegas menuju kamar dan merenungkan apa yang hari ini ia dapatkan.
Telinganya terus terngiang-ngiang ucapan ibunya dan usia kandungan Maya.
"Benarkah aku adalah ayah dari bayi itu?" Gumamnya dengan kepala yang dipegang dan merasa sedikit berat.
"Kau kenapa?"
__ADS_1
Bersambung...