
Deruman serta kepulan asap gelap knalpot kendaraan khas perkotaan menghiasi jalanan yang tampak ramai hari ini. Belum lagi dengan cahaya terik matahari yang menyinarinya, membuat siapa saja yang berada disana ingin segera kembali ke rumah, menikmati dinginnya ruangan yang di hasilkan dari pendingin ruangan.
Tetapi hal itu tidak berlaku bagi Nachira Dyo Almeeira yang saat ini tengah sibuk berdiri di antara kerumunan orang yang berteriak histeris lantaran melihat seorang pria tengah membersihkan peluh di wajahnya sampai dengan leher.
Nachira bukanlah tanpa alasan berdiri disana, bukan pula seperti kerumunan orang-orang itu. Dirinya adalah seorang penulis cerita novel yang juga merupakan penulis naskah drama yang baru di beri kepercayaan untuk menulis drama series tentang kerajaan. Karena hal itulah dia berada disana, menikmati teriknya matahari yang seolah membakar kulit putih pucat miliknya. Jika saja bukan karena gulungan kertas di tangannya itu, mungkin saat ini dia akan memilih tidur siang di temani AC dan musik klasik yang menengkan jiwanya. Jadilah dirinya akan tetap cantik mempesona, tidak seperti sekarang yang kotor dan sedikitcemong karena terkena debu dan asap kendaraan. Dirinya juga tidak perlu berdesak- desakan dengan kerumunan para wanita berdandan tebal yang teriakannya sangat mengganggu indra pendengarannya.
“OMG, Felix ganteng banget” ucap salah seorang wanita dari balik kerumunan. Wanita dengan kaki jenjang dan pinggang ramping yang juga membawa sebuah banner besar di tangannya.
“FELIX, I LOVE YOU”
“Felix, liat sini dong!”
“Gila, gue di notice” teriak yang lainnya saat pria itu melihat kearah kerumunan.
⚜⚜
Nachira POV
Pria dengan wajah tampan dan rahang tegas, hidung mancung, mata sipit, dan bibir yang cukup menawan untuk seorang pria. Dia adalah Leonardo Felix, aktor sekaligus penyanyi yang sedang naik daun saat ini. Di kabarkan pria itu tengah dekat dengan seorang aktris berinisial “W”. Pria itu juga dikatakan rutin memberikan sumbangan ke panti asuhan dan daerah terpencil, sebuah tindakan yang terbilang sangat mulia.
Aku membuang napas kasar, melihat betapa hebohnya para wanita di sekitarku. Sebagai kaum wanita, jujur saja aku merasa malu. Bagaimana tidak? Mereka berteriak heboh karena dilihat oleh pria bernama Felix itu yang bahkan tidak sedikitpun tersenyum, hanya wajah datar yang terbilang cukup rupawan itu. Aku juga mempunyai idola, tapi aku tidak pernah seperti mereka. Aku cukup mengaguminya dari jauh, melihatnya sembari tersenyum, lantaran jarak tempatku dan idol yang terlalu jauh. Aku di sini, dia di negara sebelah.
“Kak Nachira?” panggil salah seorang kru film menghampiri pusat kerumunan.
Dapat aku lihat kerumunan wanita itu heboh mengaku-ngaku jika merekalah pemilik nama Nachira yang tentu saja tidak semudah itu di percayai oleh kru tersebut. Aku sedikit merasa berbangga diri. Tentu saja karena aku merasa spesial karena di panggil secara khusus untuk menemui idola mereka, Felix.
“Saya..
“Saya..
“Saya..
“Ih apa sih? Saya yang bener
“Saya kak, itu saya saya Nachira
Dih, ngaku-ngaku lo semua. Jangan mimpi, bangun woy udah siang!, rutukku dalam hati.
Aku perlahan maju, membelah kerumunan menghampiri kru bertopi kuning yang tadi sempat memanggilku.
“Saya Nachira” ucapku sembari menunjukkan nametag yang sempat di berikan produser sebelum kesini. “apakah sudah bisa?” lanjutku.
“Iya, kak. mari ikut saya, kebetulan Felix sedang istirahat” ucapnya sembari membuka rantai pembatas yang membatasi gerak kerumunan itu, lalu memimpin jalan menemui Felix yang tengah duduk santai sembari membaca majalah dan sebuah minuman di tangan kanannya.
Belum sempat aku berdiri tepat di depan Felix, suara berat dan angkuhnya sudah terlebih dahulu terdengar bersamaan dengan turunnya majalah yang sempat di bacanya hingga menutupi seluruh wajahnya.
“Kau orangnya?” tanyanya.
Aku menarik napas secara perlahan, udara di sini sepertinya lebih panas bahkan pasokan oksigen saja terasa cukup tipis. “Iya. Perkenalkan nama saya Nach...”
“Oke, langsung intinya” ucapnya dingin, raut wajahnya kini lebih serius dengan tetap mempertahankan wajah datarnya.
Anjir, nih orang gak sabaran banget. Mana nih yang kata aktor yang terkenal dengan sifat sopan santun, ramah, dan murah senyum itu. Heleh, Cuma efek depan kamera!, caci ku sembari mempertahankan posisi bibir tersenyum.
“Jadi?” tanya Felix yang kini menopang dagu, menatap serius kearah ku dan naskah yang sedari tadi masih aku pegang.
Aku segera memberikan naskah drama yang telah aku buat. Dapat kulihat sesekali wajahnya mengernyit kemudian kembali datar. Sempat juga dia tersenyum, senyum tipis nyaris tak terlihat sebelum kembali menjadi wajah serius yang tetap terlihat tampan.
“Ah, ya maaf. Jadi kaisar yang bernama Felixious itu...bla bla bla..” jelasku menerangkan isi cerita yang telah aku buat selama tiga hari itu.
__ADS_1
Raut wajah Felix telah berubah, bersamaan dengan pulpen yang telah berada di tangannya yang entah dia ambil sejak kapan karena aku tidak melihatnya. Yang jelas sudah kupastikan, bahwa sebentar lagi akan terjadi perang mulut antara aku dan Aktor Felix yang terkenal itu.
“Lalu, bagaimana bisa Felix menikah kembali dengan wanita lain, sedangkan pada awal pernikahannya dengan Nachella sudah dijelaskan jika wanita itu tidak mau jika Felix menikah atau memiliki selir? Dan bukankah menikah juga merupakan pernikahan politik yang diajukan ayahnya merupakan kaisar agar Felix kelak mendapat dukungan dari banyak pihak terutama keluarga Courlage? Sedangkan Katterina, wanita itu hanyalah anak dari seorang menteri di Kerajaan Coulage yang tentu saja pengaruhnya tidak cukup besar” tanya Felix panjang lebar.
Aku kembali menarik napas panjang sebelum menghembuskannya secara perlahan.
“Ya, memang benar jika Felix menikah dengan Nachella karena politik, namun hal itu juga terjadi karena Felix telah jauh cinta kepada Nachella yang juga di dukung kaisar dan para menteri kekaisaran. Sedangkan untuk pernikahan Felix dengan Katterina terjadi karena dengan para menteri yang di sogok oleh ayah Katterina. Namun siapa sangka, jika pengangkatan Katterina sebagai selir juga berpengaruh pada hati Felix yang akhirnya juga menyukai wanita itu” jelasku panjang lebar.
“Mengapa Felix jatuh cinta dengan wanita itu? Sedangkan disisi lain dirinya juga tahu jika wanita itulah penyebab adiknya meninggal. Ada apa dengan cerita ini? Cerita ini sungguh tidak masuk akal. Bahkan alurnya saja cukup sulit untuk dicerna. Apa-apaan dengan cerita pemeran wanita yang meninggal setelah 10 bulan menikah dengan Felix, terlebih wanaita itu di bunuh oleh sahabatnya yang hanya sebatas selir. Jadi sebenarnya tokoh utama wanita disini itu siapa? Nachella atau Katterina?” tanyanya lebih menuntut.
“Nachel..”
Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, pria itu terlebih dahulu bangun dari posisi duduknya kemudian berdiri tegak yang juga langsung aku ikuti. Pandangannya lurus, dengan tatapan mata tajam dan menusuk yang di arahkannya padaku.
“Apakah kau pikir dengan naskah seperti ini akan membuat para penonton menjadi tertarik? Benahi dulu naskah itu! Jangan harap aku akan menjadi pemain, bahkan jadi pemain figuran saja aku tidak sudi, jika naskah itu belum kau ubah” sarkas pria itu yang kemudian melenggang pergi meninggalkanku bersamaan dengan datangnya kru bertopi kuning tadi.
“Maaf Kak Nachira, tapi Felix harus kembali syuting. Kembalilah sekarang dan turuti permintaannya. Semangat! Saya permisi” ucapnya sembari tersenyum lebar seolah menyemangati hariku yang telah berantakan.
Dengan kesal, aku pergi meninggalkan tempat itu bersamaan dengan gulungan kertas berisi naskah yang sempat ku berikan pada Felix. Kertas itu kini penuh dengan coretan tangan Felix yang kian memenuhi setiap lembar yang sebelumnya telah terisi tulisan komputer.
Nachira END POV
⚜⚜
Author POV
Nachira kembali ke rumahnya, kemudia berjalan lurus hingga dirinya sampai di depan pintu berwarna coklat tua yang cukup tinggi dan masih tertutup rapat. Tangannya bergerak membuka knop pintu sebelum menutupnya kembali dengan sedikit kasar. Matanya menatap nanar kasur yang kian mendingin bukti bagaimana berantakannya jam tidur yang di milikinya.
“Ini semua karena Leonardo Felix! Gara-gara dia gue jadi susah tidur. Tidur pagi bangun pagi. Ya, Tuhan aku kezal!” gerutu Nachira sembari meremat naskah drama yang masih dipedangnya itu hingga menjadi lecek tidak beraturan.
Nachira mendekati meja kerjanya yang terdapat tumpukan novel hasil ciptaannya yang telah beberapa kali terbit, sebuah lampu berbentuk pohon, dan laptop yang masih tersambung kabel charger. Tangannya menarik kursi, mendudukkan bokongnya disana kemudian menarik laptop agar semakin dengannya, menyalakannya hingga sebuah layar berwarna biru mulai muncul dari sana.
Tangannya perlahan ia gerakkan sebagai bentuk peregangan sendi, sebelum memulai tempurnya bersama laptop kesayangannya yang mungkin akan membuatnya lupa waktu. Telapak tangannya ia tekuk ke atas dan ke bawah, di susul dengan gerakan memutar kedua lengannya ke kanan, kiri, depan dan belakang. Tidak sampai disitu, lehernya juga ia gerakkan ke kanan dan ke kiri hingga terdengar bunyi yang cukup nyaring.
Setelah selesai, matanya menatap fokus ke layar laptop. Jari jemarinya kini sudah berselancar, membuka Libraries mencari soft file naskah drama berjudul “The Secret Of Romance And The Darkness”, kemudian membukanya bersamaan dengan munculnya ribuan kata yang siap menyambut kedatangannya untuk kesekian kalinya.
Author END POV
⚜⚜
Nachira POV
“Okey, Nachira. Revisi ke-10. SEMANGAT!” ucapku menghibur diri sendiri.
Jika kalian bertanya kemana hasil revisiku yang pertama sampai sembilan, maka dengan bangganya aku akan menjawab jika semua naskah itu telah menyatu bersama dengan tumpukan kertas lain yang kian menggunung memenuhi kamarku. Meskipun di kamarku ada tempat sampah, namun tempat sampah itu tidak cukup berpengaruh dapat kalian lihat dengan banyaknya tumpukan kertas yang berserakan. Hanya ada dua orang penyebab kejadian itu, selain diriku sendiri. Yaitu Felix dan Pak Botak, si sutradara yang selalu memintaku revisi lagi, dan lagi. Hingga terkadang aku mual karena melihat banyak tulisan di laptopku.
Rasanya aku seperti telah menyia-nyiakan masa mudaku dengan berkutat di profesi ini. Berharap lebih jauh jika profesi ini dapat menambah pundi-pundi uang yang lebih besar di bandingkan dengan menerbitkan sebuah novel. Aku bahkan sampai harus tinggal di apartemen karena rumahku yang asli sangat jauh dengan pusat kota. Berpisah dengan kedua orang tuaku yang berada di kampung, sulit interaksi dengan orang lain seperti tetangga apalagi pacar yang tentu sangat aku harapkan. Aku tidak berharap seperti Kayla, sahabatku yang sebentar lagi akan melangsungkan pertunangan. Aku hanya berharap punya pacar, terlebih lagi umurku sebenarnya sudah cukup untuk menikah, tapi balik lagi, calonnya mana?
Seperti dugaanku sedari awal memegang laptop. Tanpa kusadari, hari telah berganti malam. Malam itu langit bersinar cukup terang, udara dingin yang menyelusup masuk dari jendela balkon yang terbuka lebar terasa menerpa kulit putih pucatku.
Merasa penat terus berkutat dengan laptop terlalu lama, aku pun melangkah menuju balkon. Menatap langit malam berhias cahaya bulan sabit dan ribuan bintang yang seolah melayang namun tidak dapat kuraih. Mataku terpejam, menikmati semilir angin yang menerpa tubuhku, menerbangkan sebagian rambutku menyamai arah angin. Mataku kembali terbuka, kemudian melihat ke bawah apartemen ku yang berada di lantai 10. Dapat ku liat, cahaya dari lampu-lampu jalan bersamaan dengan kendaraan yang berlalu lalang yang nampak lebih ramai dari pada biasanya.
Aku merogoh kantongku, mengambil ponsel yang sempat aku masukkan ke dalamnya sebelum berjalan menuju balkon. Tanganku mengotak-atik benda pipih iti, berniat mencari tahu apa yang terjadi dengan hari ini? Dan apa yang telah aku lewatkan atau tidak aku sadari?
Betapa kagetnya aku saat melihat, hari yang telah kunantikan selama seminggu ini terpampang jelas di layar ponsel. Hari sabtu, hari teromantis dalam satu minggu dimana menurutku pada hari itu banyak malaikat yang bertebaran membagikan cinta, tidak ada setan pengganggu karena semua setan itu sedang ngedate sama pasangannya. Tapi bagiku, hari sabtu adalah hari jomblo. Dimana pada malam itu biasanya aku akan sedih meskipun aku sendiri bingung karena sedih merasakan apa.
“Ah, udah malam minggu aja. Oke kita istirahat dan refresh otak dulu” ucapku sembari tersenyum.
Aku kembali mengotak-atik ponselku, hingga sampailah terdengar musik mengalun indah menenangkan otakku yang telah mengebul sejak siang. Cukup lama bagiku menikmati setiap musik yang terus mengalun dan berganti seiring berjalannya waktu, hingga mataku tanpa sengaja melihat kearah benda pipih bulat yang tergantung rapi di tembok, membuat mataku melotot tidak percaya. Bagaimana tidak, baru juga beberapa menit dia memutar musik dan sekarang rupanya sudah menunjukkan pukul setengah lima pagi yang artinya sebentar lagi matahari akan segera terbit dan bahkan aku belum sempat tidur.
__ADS_1
Aku kembali masuk ke dalam kamar, menutup rapat jendela kemudian duduk kembali di depan laptop. Tanganku kembali bergerak lincah seolah sedang menari dia atas keyboard. Sesekali aku mengetuk kepala, memikirkan alur cerita yang sedang ku perbarui itu. Hingga setelah dirasa cukup, aku menscroll nya kembali dari atas untuk membaca ulang.
~
Nachella menunduk, melihat darah yang mulai merembes keluar dari balik baju yang dikenakannya. Matanya menatap nanar sosok wanita di depannya, tangannya memegang sebuah pedang sebagai tumpuannya untuk tetap duduk tegak, meskipun rasa sakit terus menyerangnya.
“Katterina, kenapa? Apa salahku?” tanyanya sembari menahan rasa sakit di bagian perut yang kian menjalar ke seluruh tubuhnya.
Terdengar tawa kian menggelegar di telinganya, ia meringis saat benda panjang, pipih dan tajam kembali menghujam perutnya menimbulkan darah yang keluar semakin banyak.
“Kenapa? Kau bilang kenapa? Dasar bodoh! Kau kira aku akan membiarkanmu menjadi permaisuri dari seorang pria tampan dan sekaya Felix begitu saja? Tentu saja tidak! Kau hanya bermodalkan wajah cantik, lugu, dan reputasi yang baik. Namun satu hal yang menjadi hal yang membuatku tidak pantas menyandang gelar wanita penuh kehormatan itu, KAU BODOH! Hahaha, ya kau bodoh!” caci wanita yang telah menusuknya menggunakan pedang, Katterina.
“jadi selama ini kamu hanya ber.. berpura-pura baik?” tanya Nachella tidak percaya. Dirinya kini memuntahkan cariran kental berwarna merah.
“ya, tentu saja. Hanya wanita bodoh seperti yang dengan mudahnya aku bodohi. Bagaimana rasanya ditusuk oleh sahabat baikmu, ini? Pasti sakit” ucap Katterina sembari mengangkat tinggi pedangnya yang telah berlumuran darah.
Katterina kembali tersenyum, lebih terkesan seringai. Pedangnya kembali ia arahkan ke perut Nachella yang telah basah karena darah yang terus keluar.
“SELAMAT TINGGAL!” ucapnya bersamaan dengan pedang yang kembali menghujam tubuh Nachella, hingga dirinya terjatuh tidak dapat menopang lagi tubuhnya.
Di sisa kesadarannya, matanya mengedar, mencari sosok pria yang di cintainya, yang ternyata juga melihat kearahnya. Tidak bergeming, tetap berada di tempat yang sama seolah pria itu tidak pernah mengenalnya apalagi mencintainya. Sebutir cairan bening keluar dari pelupuk matanya, sebelum akhirnya netra biru setenang lautan tertutup sempurna dengan pedang yang masih menancap di perutnya.
~
“AGH! Sudah cukup!” teriakku saat membaca sedikit naskah yang hampir jadi itu.
Badanku merinding, membayangkan betapa sakitnya saat benda panjang dan tajam itu menusuk perutku. Belum lagi aku membayangkan, betapa sakitnya menjadi Nachella di khianati oleh sahabatnya sendiri bahkan pria yang di cintainya di akhir hidupnya juga tidak peduli dengannya.
“Lagian Nachella juga sedikit bodoh sih menurutku. Kenapa juga dia gak mau belajar sihir? Padahal kan kalau dia bisa sihir pasti si bren**k Katterina itu gampang di kalahinnya” rutukku da hasil karyaku sendiri.
Tiba-tiba kepalaku terasa sakit setelah membaca dan memaki cerita itu. Tanganku juga terasa kaku, padahal aku masih harus merevisi ending cerita yang masih 3-4 halaman itu. Tapi apa boleh buat, mungkin tanganku sedikit kram, tapi kemudian dadaku terasa sesak disusul dengan sulitnya aku untuk bernapas. Seolah aku sedang tenggelam seperti 3 tahun lalu.
“To.. Tolong...” pintaku sebelum semuanya menjadi gelap bersamaan dengan hilangnya kesadaranku.
Nachella END POV
⚜⚜
Di tempat lain, di sudut istana. Serang pria parubaya dengan pakaian khas ksatria eropa nampak berlari meninggalkan sebuah ruangan menuju ke tempat lain.
“Yang Mulia!” ucapnya tanpa kalimat salam.
Jantung pria itu terasa akan lepas, saat dilihatnya pria dengan pakaian kebesarannya yang berwarna emas yang semula sedang duduk santai di taman melihatnya dengan tatapan tajam. Merasakan hawa mencekam, kepalanya kembali tertunduk, dengan tangan yang saling meremas kedua telapak tangannya sendiri.
“Ada apa?” tanya pria itu tegas.
“Mohon ampun, Yang Mulia. Maafkan ketidaksopanan saya” ucap pria itu sembari duduk bersimpuh di tanah yang hanya di balas deheman pelan dari pria yang di panggilnya ‘Yang Mulia' itu.
“Yang Mulia, tadi saya menemukan Tuan Putri Nachella terjatuh ke dalam Danau Pesona” ucap pria itu dengan nada bergetar.
“APA?” sentak pria itu yang langsung berdiri dari posisi duduknya.
Dengan cepat, kakinya meninggalkan tempat itu bersamaan dengan aura kelam yang di tinggalkannya. Wajah dinginnya kini terasa lebih menakutkan, bahkan aura membunuh dapat di rasakan siapa saja yang di lewatinya. Pikirannya benar-benar tidak karuan, hatinya khawatir bercampur panik memikirkan keadaan putri satu-satunya.
BRAK!
“MINGGIR KALIAN!” perintah pria itu yang tentu saja langsung di sanggupi oleh para penjaga dan beberapa orang dengan seragam pelayan yang tadi berdiri di ambang pintu besar, mereka segera mundur sembaru terus menundukkan kepalanya takut.
“Siapa?” ucap gadis itu.
__ADS_1
⚜⚜
TBC