The Bloom At Royal Harem

The Bloom At Royal Harem
11. Hai, Salam Kenal!


__ADS_3

Nachella POV


Aku menatap sekeliling, hingga tanpa sengaja mataku melihat seorang pria yang sedari awal ingin sekali ku hindari. Namun nyatanya pria itu kini justru berada di depanku, menatapku yang juga tengah menatapnya. Hingga aku tidak menyadari sudah banyak orang berdatangan ketempat ini.


“Kita bertemu lagi, Putri” ucap pria itu.


Aku tersenyum getir sebelum memberi salam padanya yang juga diikuti Vio dengan membungkuk 90 derajat.


“Ya, salam dari saya Yang Mulia Putra Mahkota Kekaisaran Visilion semoga Dewi Anocia melindungi Anda” ucapku bersamaan dengan Kak Vio.


Kulihat Felix yang nampak menyunggingkan senyum tipisnya yang diselimuti wajah dinginnya itu, membuat beberapa putri bangsawan yang berada di sekitarnya menjerit histeris seolah lupa akan tata krama yang telah dipelajarinya.


“Chella, akhirnya kita bertemu lagi?” ucap seorang putri bangsawan yang tiba-tiba datang memelukku hingga hampir membuatku terhuyung ke belakang jika Kak Vio tidak menahannya.


Aku segera melepaskan pelukan itu untuk melihat wajah putri bangsawan yang tanpa alasan memanggilku dengan panggilan akrab. Karena selama ini tidak ada satu pun bangsawan yang dekat denganku. Hingga terlihatlah wajah gadis bermata coklat yang tengah tersenyum lebar dan terkesan hangat, namun tidak tahu dengan hatinya. Baiklah, aku tahu berpikir negatif itu tidak baik. Tapi wanita ini adalah dalang utama atas kematianku.


Dasar, rubah!, ucapku dalam hati yang kemudian ikut tersenyum palsu.


“Salam dariku, Nona Katterina” ucapku menyindir.


Tentu saja, aku tidak benar-benar memberi salam padanya. Terlebih kedudukan dan posisiku lebih tinggi darinya yang hanya putri dari menteri di kerajaan yang di pimpin ayahku. Jadi seharusnya, Katterina bisa sadar akan posisinya dan tidak bisa memanggil namaku dengan panggilan akrab yang bahkan aku saja tidak berniat akrab dengannya.


“Maafkan kecerobohan saya, Putri. Saya Katterina, memberi salam kepada Putri Kerajaan Courlage....” ucapnya terpotong, matanya langsung melihat kearah samping kirinya yang terdapat Felix lalu tersenyum seramah mungkin.


“Saya memberi salam kepada Yang Mulia Pangeran Mahkota Kekaisaran Visilion semoga Dewi Anocia melindungi Anda.. berdua” lanjutnya dengan akhir yang dikecilkan. Senyumnya masih terpatri di wajahnya menatap Felix yang masih menatap lurus ke arahku.


Woho, kejadian macam apa ini?, pikirku dalam hati setelah melihat posisi aku, Felix, dan Katterina berbentuk seperti segitiga sembarang.


Aku menatap kedua orang itu secara bergantian, senyum simpul mulai ku cetak tipis di bibir. Kakiku perlahan mulai mengambil ancang-ancang untuk pergi menghindari keduanya yang merupakan jelmaan malaikat maut dalam hidupku.


Sebelum berangkat kesini, aku memang sudah memantapkan diri untuk semaksimal mungkin menghindari pertemuan dan kedekatan dengan mereka, tentu saja hal itu sudah ku rencanakan karena aku sudah tahu jika mereka akan masuk ke akademi dua tahun lebih awal dari ku. Yang artinya mereka adalah seniorku saat ini.


“Mau kemana kau, PUTRI?” tanya Felix dengan penuh penekanan di akhir katanya.


“Iya, Chella kau mau kemana? Aku senang akhirnya kau diizinkan masuk ke akademi, jadi aku ingin mengobrol denganmu” timpah Katterina.


Oh, dia mau pansos ternyata. Tunggu akan ku balas, ucapku dalam hati hingga membuatku tersenyum seperti orang bodoh.


“Nona Katterina, maafkan saya. Namun saya rasa kita tidak sedekat itu, sehingga kau bisa memanggilku seperti itu” ucapku dengan senyum tipis yang ku buat semanis mungkin.


Skakmat! Siapa suruh salah memilih lawan?, batinku bersorak senang melihat wajah kaget Katterina.


Kini pandanganku beralih pada Felix yang tengah menatapku tajam. Aku kembali tersenyum menutupi semua maki dan caci yang siap ku lontarkan padanya. Dengan cepat aku menyatukan kedua tangan di depan dada, wajahku buat menyedihkan berharap pria itu mau memaafkan dan mengizinkanku pergi.


“Selamat datang para putri, pangeran, nona dan tuan. Saya Frigid Verte Vandemair, pemilik akademi ini sekagus orang yang akan mengajari kalian seni berpedang dan menggunakan pedang. Sedangkan untuk memanah akan diajarkan oleh anak saya yang kebetulan saat ini sedang berhalangan hadir” ucap serorang pria dengan tegas dari balik punggungku.


Aku segera berbalik badan menyamakan posisiku dengan para bangsawan yang lain. Hingga terlihatlah seorang pria yang ku yakini berusia 30 tahunan dengan wajah tegas dan kumis tipis. Masih terbilang muda sih menurutku untuk dipanggil guru.


Tunggu, pedang? Apa pedang yang dimaksud adalah pedang sungguhan?, pikirku dalam hati.


Meskipun ku tahu tujuan utamaku masuk ke akademi selain mengetahui sihir yang ku miliki adalah melatih ilmu beladiri yang nantinya dapat ku gunakan jika sedang menghadapi musuh dan dalam keadaan mendesak lainnya. Namun tetap saja aku sedikit kaget ketiga orang yang akan ku panggil guru itu menyebutkan kata ‘pedang’.


“Latihan akan dimulai besok” ucap Frigid yang langsung di angguki para bangsawan.


“Dan untuk anda, Putri Nachella dan Nona Vio kamar anda ada di lantai 2, nomor 15. Persiapkan diri kalian untuk besok” lanjutnya di barengi dengan senyum tipis yang mampu mengikat hati, kecuali hatiku yang sudah terkunci untuk ayah dan kedua kakak tampanku.


Dengan langkah cepat, aku meninggalkan ruangan tersebut hingga lupa akan sopan santun dan memberi salam. Tak lama, Vio datang menyamai langkahnya denganku yang bisa ku perkirakan jika ia telah memberi salam.


“Ah, persetan, aku tidak peduli” gumamku sangat pelan hingga Kak Vio yang berada di sampingku saja tidak dapat mendengar.


“Kak, jika nantinya aku keluar lebih cepat apakah kakak juga akan ikut dengan keputusanku?” tanyaku.


“Tentu saja, Putri. Saya disini juga karena anda jadi saya akan mengikuti anda keputusan anda selama disini” ucap Kak Vio.


Aku tersenyum senang. Serangkaian kegiatan sudah ku susun di otakku untukku dan Kak Vio nantinya.


Pokoknya saat Felix dan Katterina lulus, aku juga harus lulus begitupun dengan Kak Vio, tekadku dalam hati.


“Kak, ayo kita lulus 2 tahun lebih cepat” ucapku pada Kak Vio. Dapat kulihat wajah Kak Vio yang kaget.


“Baik, Putri” ucapnya yang terdengar berat.

__ADS_1


Nachella POV END


⚜⚜


Author POV


Malam berganti pagi, burung-burung membero seiring berjalannya waktu yang kian menampakkan cahaya kebiruan dari ufuk timur. Udara dingin khas pedesaan terhirup ke seluruh penjuru ruangan yang kini menampilkan seorang gadis cantik yang sudah lengkap dengan seragam resmi akademi. Sebuah shirt dress berwarna hitam yang dibalut coat dengan warna senada dengan hiasan kancing berwarna emas di kedua sisinya. Di bagian dada sebelah kanannya, terpasang sebuah lencana berbentuk naga terbang yang membawa sebuah kristal es, sedangkan dibagian belakang lencana tersebut terdapat lapisan tipis yang terbuat dari emas berbentuk daun serta bertulis ‘Tritilion’ di bawahnya.


Gadis itu menghampiri cermin menatap penampilannya sendiri, kemudian mengambil tali rambut yang terbuat dari pita untuk menguncir rambutnya seperti buntut kuda. Wajahnya ia biarkan polos tanpa polesan sedikit pun.


“Putri, apakah anda sudah bangun?” tanya seseorang dari balik pintu.


Nachella tersenyum lebar, menatap sekali lagi pantulan dirinya. Sebelum berjalan menghampiri pintu yang masih tertutup.


“Aku bahkan sudah siap kakak” ucap gadis itu kemudian membuka pintunya yang langsung mendapat tatapan penuh kekaguman dari gadis dengan seragam yang sama sepertinya, Vio.


“Ayo kita berangkat kak!” ajak Nachella.


Tangannya menggandeng lengan Vio sebelum melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan yang sudah ia tempati semalaman. Dengan perlahan, kakinya menjelajahi jalan setapak yang nampak penuh ditumbuhi pohon bambu yang menjulang tinggi.


Sayup-sayup telinganya mendengar suara dentingan benda tajam yang saling bersahutan. Nachella dengan cepat melebarkan langkahnya, menghampiri sumber suara yang sedari tadi menarik perhatiannya. Kini matanya, menangkap dua orang yang saling mengarahkan pedangnya ke arah lawan di sebuah lapangan luas. Muka keduanya nampak serius dengan peluh penuh lelah terlihat jelas di keduanya. Terlihat, seorang wanita menghampiri salah satu dari mereka, sembari membawa air dan handuk di tangannya.


"Haish, ular pun beraksi" gumam Nachella di iringi napas kasarnya.


"Putra Mahkota, izinkan saya membersihkan keringat anda" ucap wanita itu yang langsung mengelap wajah Felix sampai dengan leher tanpa seizin pria tersebut.


Nachella mendengus pelan melihat pemandangan di depannya. Kakinya perlahan maju menghampiri ketiganya, lalu membungkukkan tubuhnya yang juga diikuti Vio di belakangnya.


"Salam Yang Mulia Putra Mahkota, Salam Guru Frigid, Salam Nona Katterina" ucapnya yang langsung diminta berdiri oleh Frigid.


Matanya menangkap tingkah Katterina yang langsung menarik kembali tangannya dari wajah Felix. Sekilas terlihat jelas di mata Nachella jika wanita itu mendengus sinis kearahnya yang langsung di balas senyum Nachella.


Jangan lupakan Felix yang kini mulai kikuk di tempatnya. Matanya mengedar seolah menghindari tatapan matanya bertemu dengan mata Nachella.


Frigid tersenyum pada Nachella, diikuti sebuah perintah yang ditujukan pada seorang pria di ujung lapangan.


"Sean, ambilkan ku satu pedang lagi!" perintah Frigid yang langsung disanggupi pria itu yang kini mulai berjalan menghampari mereka sembari membawa sebuah benda panjang yang masih tertutup sarung bludru berwarna merah.


"Putri, silahkan di terima. Kita akan latihan berpedang" ucap Frigid sembari menyerahkan pedang yang tadi di pegang Sean kepadanya.


"Baik, Guru" sahutnya yang masih tersenyum lebar dengan mata berbinar.


Hai, Salam Kenal. Aku Nachella, jadilah pedang yang baik. Okey!!, Ucapnya dalam hati sembari mengarahkan kedua tangannya kedepan bersiap menerima pedangnya.


Bruk!


Terdengar suara orang terjatuh dari ujung lapangan yang langsung membuat semua orang tertuju pada asal suara tersebut. Sedangkan orang yang terjatuh itu hanya dapat meringis pelan menahan sakit pada pinggang dan kedua pergelangan tangannya yang seakan putus akibat menerima benda yang kini tergeletak di tanah.


"Putri, anda tidak apa-apa?" Ucap Vio sembari membantu Nachella bangun dari posisinya.


Ya, orang yang terjatuh itu adalah Nachella. Nachella terkejut saat mengetahui benda yang sedari kemarin ia puja dan nantikan ternyata sangat berat, bahkan meja marmer di rumahnya dulu tidak seberat pedang itu.


Matanya mendadak mendelik ngeri melihat 3 orang yang tadi pernah memegang benda bernama pedang itu.


Bagaimana bisa mereka mengangkatnya dengan mudah? Sedangkan aku bagai sehelai kapas tertimpuk besi, pikir Nachella yang masih meringis di tempatnya.


"Anda baik-baik saja, Putri?" ucap pria bernama Sean yang langsung mengalihkan Nachella.


Nachella melihat kearah pria itu yang masih terbilang sangat muda. Ia sangat yakin jika pria itu mungkin seumuran dengan Felix. Bedanya pria itu sangat ramah, sedangkan Felix seperti gunung es tak tersentuh.


"Putri apakah pendengaranmu bermasalah? Dua orang menanyakan keadaan mu itu!" sinis Felix.


Nachella mendengus pelan,


"Maafkan saya Putra Mahkota. Saya baik-baik saja dan terima kasih Vio" ucap Nachella.


Pandangan Nachella kini beralih pada Frigid yang juga tengah menatapnya sedikit khawatir, mungkin.


"Guru bolehkan saya belajar mengangkat pedang terlebih dahulu sebelum ke inti pembelajaran?" tanya Nachella pelan sembari menunjukkan puppy eyes nya. Ya, dia memang sepertinya harus mempelajari cara mengangkat benda pipih panjang itu. Bagaimana caranya ia berlatih pedang, jika mengangkat saja dirinya tidak sanggup?.


Frigid terdiam, sesaat kemudian senyum tipis terlihat di wajahnya sembari diiringi anggukan pelan sebagai jawaban.

__ADS_1


Senyum Nachella merekah sempurna.


Keselamatan masih berpihak padaku, ucap Nachella sembari bernapas lega.


⚜⚜


Nachella mengayunkan kedua kakinya ke dalam kolam hingga menimbulkan suara cipratan pelan. Bibirnya maju beberapa senti menampilkan kekecewaan tercetak jelas di wajah cantiknya.


Rasanya dia telah menyia-nyiakan waktu tidurnya karena harus berdandan agar dirinya siap berlatih pedang di hari pertamanya belajar di akademi. Namun semuanya sia-sia saat dirinya yang minim pengetahuan itu dengan sombongnya menerima pedang yang beratnya ia yakini melebihi berat badannya.


Nachella memejamkan matanya sejenak, berusaha menghibur hatinya sendiri. Bahkan Vio yang selalu ada di dekatnya ia usir karena dia tidak ingin perasaaannya semakin terjun layaknya sedang terjun payung. Keningnya mengernyit tak kala sebuah gesekan dedaunan dan derap langkah kaki mengarah semakin dekat padanya.


"Kakak, tinggalkan aku sendiri" ucap Nachella tanpa ingin melihat ke belakang.


"Mohon ampun, Putri. Ini saya Sean" ucapnya dengan langkah yang semakin mendekat kearahnya.


Nachella menarik kembali kakinya dari kolam, kemudian segera menoleh kearah sumber suara yang menampilkan seorang pria yang kini tengah tersenyum manis kearahnya.


"Duduklah!" Perintah Nachella yang langsung disanggupi pria itu.


"Tadi, siapa namamu?" Tanya Nachella.


"Izin menjawab, Putri"


Nachella memutar bola matanya malas. Ia sangat membenci orang yang bersikap formal kepadanya. Dengan kesal, Nachella hanya menjawab dengan deheman pelan.


"Nama saya Sean O'Pryverte Vandemair" ucapnya memperkenalkan diri.


Nachella membuka matanya lebar-lebar. Ia sangat tahu siapa Sean sebenarnya. Dia adalah second lead male dalam cerita, dimana dalam cerita di jelaskan jika Sean jatuh cinta pandangan pertama pada Katterina. Namun berkali-kali pula cintanya di tolak, hingga di akhir cerita disebutkan jika dirinya harus di hukum mati karena di tuduh telah berniat menodai Katterina yang sudah menyandang gelar sebagai permaisuri.


"Kau bermarga Vandemair? Jadi kau anak Guru Frigid?" Tanya Nachella.


"Iya, Tuan Putri" sahut Sean yang hanya di balas oh ria oleh Nachella.


"Izin bertanya, Putri" ucap Sean dengan nada penuh keraguan.


Nachella mendengus pelan mendengar ucapan pria di depannya yang sangat-sangat formal.


"Bisakah kau memanggilku Nachella saja, tanpa membawa gelarku? Aku tidak menyukainya" ucap Nachella yang langsung mendapat tatapan tak percaya Sean.


"Saya tidak berani, Putri" sahut Sean lirih.


"Panggil aku Nachella atau kau ku laporkan pada ayahku dan aku bilang kau telah menghinaku" ancam Nachella yang langsung di balas gelengan kepala Sean.


"Jadi, panggil aku Nachella" lanjut Nachella yang kini langsung diangguki Sean dengan ragu.


"Jadi, kau ingin tanya apa?" Tanya Nachella yang penasaran dengan pertanyaan yang hendak di ajukan padanya tadi.


"Ah, itu Put.. maksud saya Nachella. Mengapa anda disini? Apakah anda tidak ingin ikut latihan" tanya Sean.


Nachella menghembuskan napasnya pelan.


"Apakah kau tidak melihat kejadian tadi? Aku bahkan tidak kuat mengangkat pedang tadi. Bagaimana caranya aku latihan? Apakah aku harus menggunakan itu?" Tanya Nachella sembari menunjuk ke sebuah benda yang terselip di antara ruang kecil bangunan yang nampak berhimpitan.


"Maafkan saya. Saya tidak berniat meminta anda berlatih dengan sapu itu. Hanya saja saya ingin menyampaikan sedikit pemikiran saya" balasnya.


Nachella mengerjapkan matanya beberapa kali, melihat kearah Sean yang kini tersenyum padanya.


Senyumnya kayak gulali, manis banget, pikir Nachella dalam hati.


Tanpa sadar dirinya tersenyum lebar, membuat Sean terkikuk di tempat.


"Nachella, apakah anda berniat memikirkan saran saya?" Tanya Sean mengalihkan perhatian Nachella.


"Jadi apa saranmu?"


Author POV END


⚜⚜


TBC

__ADS_1


__ADS_2