The Bloom At Royal Harem

The Bloom At Royal Harem
16. Argetlam


__ADS_3

Kepada para pembaca yang udah selalu dukung cerita ini, aku mau minta maaf ya kalo sekarang jarang up. karena buat pengajuan naskah disini lumayan susah. jadinya sedikit terhambat. sekali lagi saya selaku author meminta maaf


⚜⚜


Tangan perak itulah arti buku yang saat ini tengah di pegangnya. Sebuah buku yang cukup tebal dan tidak cocok untuk dijadikan dongeng pengantar tidur. Tentu saja, karena isi dalam buku itu sangat bertolak belakang dengan judulnya yang seperti buku dongeng. Buku itu berisi kumpulan mantra sihir dari yang menurutnya paling mudah sampai yang tersulit ada di dalamnya.


Sejujurnya ia sedikit malas saat hendak membacanya. Tapi karena ada gambar pendukung di dalamnya membuat minat membacanya kembali lagi. Ya, gadis yang tengah membaca buku itu sangat menyukai buku seri bergambar seperti buku komik di zamannya.


Tak usah bertanya, siapa lagi jika bukan Nachella. Gadis yang tengah duduk di meja belajarnya yang hanya diterangi sinar ketiga lilinnya yang berjejer rapi. Ia terlalu fokus membaca buku tersebut hingga dirinya tidak menyadari jika hari sudah berganti dini hari. Namun semua itu tidaklah sia-sia, karena sekarang dirinya sudah mengingat beberapa mantra yang mungkin berguna baginya dalam beberapa waktu kedepan.


Tangannya ia rapatkan di depan dada, sembari membetulkan posisi kakinya. Matanya terpejam, lidah dan otaknya telah siap merapalkan mantra yang sedari tadi sudah ia hafalkan. Ia akan mencoba kekuatan sihir yang dimilikinya, terlebih dia memang belum mengetahui betul bentuk sihir yang ia miliki. Ia merasa dirinya masih memiliki sihir lain selain air dan petir, tapi dia juga tidak tahu sihir apa itu. Apakah baik atau justru buruk?


Tak butuh waktu lama, sebuah cahaya biru mengitarinya, membentuk pola rumit berbentuk segitiga yang saling merangkai hingga membentuk lingkaran. Bersamaan dengan itu, muncul air dari lantai kamarnya yang semakin meninggi hingga membentuk sebuah kubah. Matanya kembali terpejam mencoba fokus untuk mengetahui sihir lain yang ia miliki hingga suara petir terdengar menggelegar di telinganya. Dengan cepat ia membuka mata dan mendapati sebuah pohon yang terbuat dari petir berada tepat di sudut kamarnya.


Tidak buruk, pikirnya.


Tanpa ia sadari, kubah yang semula terbentuk dari air kini mulai membeku membentuk sebuah kubah kristal es yang sangat cantik dan memanjakan matanya. Perlahan tanaman kian merambat di sekitar kubah, sebelum akhirnya memunculkan bunga-bunga berwarna merah yang siap merekah.


Menyadari hal aneh, Nachella menoleh ke kanan dan kirinya. Rasanya tidak mungkin ia mempunyai kekuatan tersebut yang terbilang cukup atau sangat langka. Yang dia tahu saat sebuah kekuatan langka hadir, maka ia juga harus menghapuskan kekuatan jahat lain. Dan dia belum cukup berani untuk menghadapi kekuatan jahat itu, setidaknya untuk sekarang.


Mata Nachella kembali menelusuri setiap sudut kamarnya mencari barangkali ada seseorang yang menyusup masuk dan hendak membohonginya dengan cara memunculkan sihir es dan tanaman. Namun tetap saja hasilnya nihil, tidak ada satupun orang di sana kecuali dirinya dan... seorang pria yang entah sejak kapan berada disana.


Tap.. Tap.. Tap..


Nachella menyadarkan kembali dirinya saat mendengar langkah kaki yang semakin mendekat kearahnya. Matanya kembali terpejam, merapalkan beberapa mantra hingga matanya kembali terbuka menampilkan netra biru laut bersamaan dengan hilangnya efek sihir yang ia timbulkan tadi.


Tok! Tok! Tok!


Terdengar suara ketukan pintu kamarnya. Dengan cepat Nachella melompat naik keatas kasurnya, menarik selimut tebal berwarna oranye hingga sebatas lehernya.


"Chella, apakah kau sudah tidur?" Ucap seorang gadis dari balik pintu kamarnya yang ia yakini adalah Aryna, calon kakak iparnya.


"Belum kak, masuklah!"


Perlahan pintu kamarnya terbuka bersamaan dengan munculnya gadis dengan gaun tidur berwarna putih yang dikenakannya. Gadis itu membawa segelas minuman berwarna putih diatas nampan.


"Minumlah susu ini, agar kau cepat tinggi" ucap Aryna sembari menyerahkan susu ke Nachella yang sudah terduduk di atas kasurnya.


Nachella mengambil susu tersebut, meminumnya dalam sekali tegukan sebelum kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur.


"Tidurlah, besok kau harus berlatih sihir lagi" ucap Aryna sembari mengusap pelan puncak kepala Nachella.


Setelah mengusap kepala Nachella, Aryna perlahan menjauh sebelum akhirnya menghilang bersamaan dengan pintuk kamarnya yang tertutup.


"Huft, hampir saja ketahuan" gumamnya pelan.


Tanpa butuh waktu lama, rasa kantuk menderanya hingga dirinya dengan mudahnya terlelap terbawa mimpi yang kian membuainya bersamaan dengan perginya sosok pria tadi.

__ADS_1


⚜⚜


"Kau tidak akan bisa mendapatkannya. Cuman aku dan hanya aku seorang yang dapat memilikinya" ucap seorang gadis di dalam kamarnya.


Tangannya meraih lukisan pria. Seorang pria dengan wajah tampan dan dingin yang terlihat sulit tersentuh. Hatinya seolah beku pada setiap wanita yang kerap mendatanginya seolah tidak memiliki rasa malu.


"Agh, lihatlah wajah mempesona itu!" Ucap gadis itu lagi.


Matanya tetap fokus memperhatikan lukisan tersebut. Hingga secara tiba-tiba dirinya limbung dan hendak terjatuh, namun ia juka masih belum mengetahui penyebab hal tersebut.


"Biarkan, lagi pula besok aku akan bermain dengan si rambut blonde" ucapnya dengan seringai.


⚜⚜


Kkokkokokkkk...


Suara ayam jantan terdengar nyaring di seluruh akademi, seolah memanggil dan meminta mereka untuk segera bangun menyambut pagi dengan semangat. Yang kenyataannya justru sebaliknya, terutama bagi gadis kecil yang masih bergulung di selimutnya seolah enggan beraktivitas.


"CHELLA, BANGUN!" Teriak seseorang dari balik pintu kamarnya yang sudah di gedor secara keras, bahkan kini sudah terbuka secara paksa menampilkan dua orang gadis dengan gaun santai dengan warna yang sama seperti netra yang dimiliki keduanya.


"Oh, demi Dewa Neptunus. Tidak bisakah aku tidur lebih lama, kakak?" Ucap gadis itu yang masih tetap pada posisinya, terlilit selimut tebal.


Terlihat jelas di matanya, jika kedua gadis di depannya itu mengernyit bingung saat mendengar nama dewa yang baru ia sebutkan. Tentu saja dewa itu tidak ada di dunia ini. Karena di dunia ini hanya ada satu dewa atau lebih tepatnya satu dewi yaitu Dewi Anocia, dewi pelindung, dewi kesuburan, dan dewi kemakmuran yang sangat di puja kaisar dan para rakyat termasuk dirinya saat ini.


"Dewa Nep.. Dewa Neptunus, dewa apa itu Chella?" Ucap Vio yang tidak dapat menutupi keingintahunnya.


"Lupakan, tidak usah di pikirkan kak" ucapnya enteng.


"Mana bisa seperti itu? Semua dewa harus di puja dan tidak boleh di lupakan. Itu namanya dosa besar" kini gantian Aryna yang berbicara dengan protes.


"Itu benar, Chella. Kita tidak boleh melupakannya" ucap Vio yang kini mulai menjatuhkan dirinya agar duduk bersimpuh dengan kedua tangan memohon ampun. Kepalanya ia angkat hingga terdongak yang rupanya juga diikuti Aryna di sampingnya.


"Maafkan kami, Dewa Neptunus" ucap kedua memohon ampun.


Nachella menghembuskan napasnya pelan. Bola matanya berputar 360° saat mendengar ucapan kedua gadis di depannya. Sudut bibirnya kian berkedut, menahan tawa. Ia perlahan keluar dari lilitan selimut, berjalan menuju kamar mandi.


"Hahahahahahahha, kakak lucu" tawanya pecah sebelum suara itu terdengar samar bersamaan pintu kamar mandi yang tertutup hingga menyisakan tanda tanya di benak kedua gadis yang ditinggalkannya.


⚜⚜


"Chella jadi Dewa Neptunus itu dewa apa? Mengapa aku baru tahu?" Tanya Aryna untuk kesekian kalinya sembari menarik narik tubuh Nachella yang hampir limbung dibuatnya.


Kalau disisi kirinya ada Aryna, maka disisi kanannya ada Vio yang juga melakukan hal sama padanya. Hingga membuatnya tertarik ke kanan dan kiri.


"Ayolah, Chella! Katakan pada kami, apa tugas Dewa Neptunus?" Tanya Vio yang juga untuk kesekian kalinya.


Tak urung dapat jawaban, keduanya semakin kencang menarik tubuh Nachella ke kanan dan kiri hingga dirinya limbung dan akan terjatuh, sebelum dengan sigap sebuah tangan menahan pundaknya. Sedangkan tangannya di tarik pria itu hingga tertarik kearahnya.

__ADS_1


Deg..


Detak jantung macam apa ini? Masih 7 tahun loh ini, protes Nachella dalam hati.


Kepalanya perlahan ia angkat, hendak melihat wajah orang yang telah menolongnya. Matanya terpaku saat melihat netra merah darah dengan wajah tampan yang terkesan dingin berada di depannya. Memegang tangannya dan membantunya saat akan terjatuh dengan tidak estetik, memalukan.


Felix, batinnya seakan mau loncat.


"Sa.. Salam Panger.." belum sempat ketiganya memberi hormat, suara Felix terlebih dahulu menggelegar.


"Apakah kalian tidak punya mata dan tidak bisa bersikap layaknya seorang putri bangsawan? Bagaimana jika sampai Putri Nachella terjatuh dan wajahnya terbentur lantai?" Tanya Felix dengan tegas namun masih tetap mempertahankan wajah dinginnya.


"Kasian para pelayan, harus membersihkan kembali lantainya"


Jleb!


Fix, ini orang gak punya hati, batin Nachella menjerit.


"Maafkan kami pangeran" ucap Vio dan Aryna serempak sembari membungkuk 90 derajat.


Nachella membuang napasnya kasar, hingga tidak menyadari tatapan Felix yang tengah terarah padanya.


"Ehm, terima kasih pangeran. Saya akan ke ruang latihan sekarang. Permisi" ucap Nachella sembari melepas tangannya yang tadi masih di genggam Felix sebelum akhirnya pergi membawa dua gadis di dekatnya.


"Nyesel amat ketemu dia. Dikirain bakalan romantis, tapi ternyata zonk" gumamnya pelan.


Vio menoleh kearahnya yang masih bergumam tidak jelas sembari menatap lurus lorong yang dilewatinya.


"Kau berbicara apa?" Tanya Vio.


Nachella seketika menoleh kearahnya, bersamaan dengan terbitnya senyum lebar di wajahnya.


"Tidak ada, kak" sahutnya yang sudah kembali menatap lurus ke depan.


Disisi lain,


Pria yang menolongnya tadi langsung menoleh ke pria disampingnya yang selalu mengekorinya.


"Sean, ada apa dengan gadis itu?" Tanya Felix dengan raut wajah datarnya.


"Saya tidak tahu, pangeran" jawab Sean.


"Payah!" Sarkas Felix sembari melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda.


⚜⚜


TBC

__ADS_1


__ADS_2