
Nachella mengerjapkan matanya beberapa kali, dirinya sangat antusias atas cerita yang tengah di sampaikan gadis di depannya. Gadis itu nampak bersemangat namun beberapa kali pula menampilkan wajah kesedihannya yang mendalam.
Dia adalah Vio, gadis yang tadi di temuinya di hutan. Tadinya gadis itu nampak pendiam, terlebih lagi saat tatapan matanya tertuju pada pakaian yang dikenakan Nachella sangat berbanding jauh dengan yang dikenakannya. Lusuh, kotor dan berbau tidak sedap.
Jujur saja, Nachella sebenarnya tidak enak dengan tatapan mata gadis itu. Namun dia juga tidak mungkin langsung membawa Vio ke rumahnya dengan kondisi yang cukup memprihatinkan itu. Apa yang akan dikatakan keluarganya? Ia takut, jika nantinya Vio akan langsung di usir saat sampai di gerbang istana.
"Jadi, anda ini siapa, nona?" Tanya Vio.
"Kamu juga nanti akan tau" jawab Nachella dengan senyum khasnya.
"Bisakah kamu menceritakan tentang dirimu sendiri? Dan bolehkan aku memanggil kamu dengan sebutan kakak?" Tanya Nachella.
Terlihat jelas di matanya Nachella jika gadis itu nampak membulatkan matanya melihat kearahnya.
"Apakah aku pantas untuk bisa dipanggil kakak olehmu, nona?" Tanya Vio dengan raut sedih.
"Tentu saja. Kakak cantik, hanya saja kulit kakak kurang terurus. Jika kakak rajin merawat kulit, aku yakin kakak pasti sangat cantik bahkan bisa melebihi ku"
"Te..Terima kasih"
"Sama-sama, jadi bagaimana kisah kakak?" Tanya Nachella dengan Antusias.
Vio menarik napas panjangnya, lalu secara perlahan menghembuskannya.
"Aku hanya seorang gadis biasa. Ibuku meninggal saat beberapa orang masuk secara paksa ke dalam rumah. Ibuku menyembunyikanku di dalam lemari yang terdapat sebuah lorong rahasia menuju hutan. Ibuku berjanji akan menemuiku di hutan saat malam hari dan memintaku untuk segera meninggalkan rumah. Namun hingga malam tiba, ibu tidak kunjung datang. Akhirnya aku kembali lagi ke rumah melalui lorong rahasia. Namun saat kembali, aku melihat jika rumahku sudah dalam kondisi terbakar, banyak mayat berserakan dan dari kejauhan aku melihat i.. ib..ibuku" ucapnya yang kini mulai terisak.
Nachella mengusap pelan punggung Vio, berusaha menenangkannya. Ia tahu jika luka lama Vio telah ia ungkit lagi secara tidak sengaja, dan dia tidak ingin membuat Vio semakin sedih.
"Sudah kakak, jangan lanjutkan lagi. Maafkan aku" ucapnya lirih.
"Tidak apa" sahut Vio yang kini mulai menetralkan kembali napasnya
"Ibuku tergantung di pohon dengan sebuah pedang tertancap tepat di perutnya menembus batang pohon"
Nachella meringis, membayangkan betapa sakitnya menjadi ibunya Vio. Bahkan untuk membayangkan menjadi Vio yang menyaksikan ibunya meninggal secara tragis dirinya tidak akan sanggup.
"Saat itu, aku berharap ayah yang tak pernah menemuiku sedari lahir akan datang menemuiku. Tapi ternyata takdir membohongiku, pria itu tidak datang. Aku membencinya yang telah menelantarkanku dan ibuku. Saat itu para bandit datang, menjarah barang berharga yang masih tersisa. Namun sialnya, aku bertemu dengan salah satu dari mereka dan aku pun dibawa untuk di jadikan budak. Sepanjang jalan aku memberontak, hingga akhirnya mereka membuangku di hutan perbatasan menuju kekaisaran. Kemudian aku yang tidak punya tujuan memutuskan untuk kembali ke sini hingga akhirnya kita bertemu" ucapnya mengakhiri cerita panjangnya.
"Tenanglah, Kak. Mulai sekarang, aku akan menjagamu" ucap Nachella yang langsung di balas senyuman Vio.
Tak lama kereka kuda berhenti, disusul dengan suara Nix yang mulai menampakkan dirinya di pintu kereta.
"Tu.. nona, kita akan kemana sebagai tujuan awal?" tanya Nix.
Nachella terdiam sejenak memikirkan tujuannya hingga tanpa sengaja matanya bertemu dengan netra emas milik Vio. Seketika dirinya tersadar dengan keadaan Vio yang masih memakai baju kotor dengan wajah dipenuhi debu. Dia tidak jijik pada Vio, hanya saja dirinya takut dia Vio menjadi bahan ejekan saat sampai di pasar.
"Apakah disini ada pemandian umum yang letaknya tidak jauh dari butik?" Tanya Nachella.
"Ada, nona. Apakah kita akan kesana?" Tanya Nix lagi yang langsung dibalas anggukan Nachella.
Nix kembali lagi ke kursi kemudi untuk kembali menjalankan kereta kuda menuju tempat yang Nachella minta.
Tak lama, kereta kembali berhenti disusul dengan suara Nix mengatakan jika mereka sudah sampai tujuan. Nachella perlahan turun, sembari mengangkat gaunnya yang langsung disambut tangan Nix untuk membantunya turun.
__ADS_1
"Terima kasih" ucap Nachella yang langsung di balas anggukan serta senyuman Nix.
Setelah Nachella turun, keluarlah Vio yang kini menjadi pusat perhatian para pengunjung pasar. Sesekali matanya menatap para pengunjung yang melihat Vio dengan tatapan merendahkan, bahkan tak jarang yang menghinanya secara terang-terangan.
Lihatlah, siapa gadis itu. Sangat kotor!
Kotor dan berbau, dia tidak cocok dengan nona cantik itu
Aku bingung, dari mana nona cantik itu memungutnya?
Ukh, dia menjijikan!
Aku rasa, nona itu jijik dengannya
Telinga Nachella seketika berdengung, seperti mendapat bisikan iblis dari kanan, kiri, depan, belakang dan sekelilingnya. Matanya kini melirik ke arah Vio yang menundukkan kepalanya sembari memilin bajunya yang kusut hingga bertambah kusut. Ia merasa tidak enak kepada Vio yang diperlakukan seperti itu oleh rakyat di negara. Bagaimana bisa mereka begitu mudahnya menghina orang lain hanya karena penampilannya yang berbeda? Bagaimana jika nantinya orang dengan kedudukan yang lebih tinggi mencoba menyamar dan menyebabkan mereka sendiri yang terkena masalah?
Ah, sepertinya aku harus merubah pola pikir mereka, batin Nachella.
"Kakak masuklah, aku akan membeli gaun. Jadi tunggulah disini" ucap Nachella yang langsung mendorong Vio agar masuk ke dalam.
⚜⚜
Nachella POV
Setelah kepergian Vio, aku langsung menuju ke arah sebuah butik yang terpaut dua kios dengan tempat pemandian. Kemudian masuk ke dalam butik tersebut yang langsung disambut dengan hangat oleh para pelayan toko serta pemilik butiknya sendiri.
"Selamat datang Tuan Putri Nachella, sebuah kehormatan bagi saya kedatangan Anda" ucap pemilik butik yang langsung mempersilahkan masuk.
"Maaf, Tuan Putri. Saya rasa gaun ini terlalu besar untuk anda" ucap seorang pelayan.
Ya, itu memang benar. Gaun itu cukup besar dan panjang untuk seukuran tubuhku yang terlampau kecil. Tapi memang itulah tujuan aku kemari lebih cepat, karena aku ingin membelikan Vio gaun dan bukan untuk diriku sendiri.
"Ah, itu memang bukan untukku" ucapku yang lalu memberikan sekoin emas ke kasir sebelum melenggang pergi meninggalkan butik.
Nachella POV END
⚜⚜
Author POV
Mata Nachella tidak berhentinya melihat kearah tempat pemandian. Dirinya sangat tidak sabar melihat perubahan Vio yang tentu akan terlihat sangat cantik.
Satu persatu orang mulai keluar dari tempat itu, hingga seorang yang dinantinya sedari tadi akhirnya mulai menampakkan dirinya dalam balutan gaun navy yang tadi telah aku beli. Rambut silvernya yang di biarkan tergerai sedikit bercahaya saat terkena pantulan sinar matahari. Wajahnya yang putih bersih nampak halus dengan bibir tipis munginya yang semakin menambah kecantikannya. Matanya yang semula terpejam mulai terbuka, menampilkan netra keemasan membuat siapa saja yang melihatnya memekikkan suaranya penuh kekaguman.
Gadis itu nampak melihat ke sekitar, sebelum akhirnya berjalan menghampirinya yang berada tepat di depan kereta kuda bersama Nix, Adele dan para pelayan.
"Nachella, apa aku aneh? Mengapa mereka melihatku seperti itu?" Tanya Vio sembari mengangkat gaunnya sedikit kemudian bergerak ke kanan dan ke kiri.
Nachella menggeleng pelan diiringi senyum lebar yang terpatri di wajahnya menampilkan lesung pipitnya yang terbentuk sempurna.
Lihatlah, mereka sangat cantik
Iya, kedua nona itu sama-sama cantik
__ADS_1
Meskipun tidak secantik nona Nachella, namun aku tidak bisa bohong jika gadis di depannya juga tidak kalah cantik
Ah, siapa gadis itu?
Nachella yang mendengar hal itu semakin melebarkan senyumnya, hingga membuat beberapa orang kembali memekik kearahnya dengan wajah memerah.
"Kakak sangat cantik, itu sebabnya mereka melihat kakak tanpa berkedip" ucap Nachella dengan suara agak di kencangkan.
Mendengar hal itu, seketika semua orang kembali tersadar dan mulai melanjutkan kembali aktivitasnya, meskipun sesekali mereka masih melirik ke arahnya dan Vio.
"Terima kasih" ucap Vio.
Nachella tidak menjawab, justru dirinya terlebih dahulu menarik tangan Vio berjalan mengelilingi pasar dengan sesekali membeli permen apel yang di balut gula karamel dan beberapa jajanan pinggir jalan lainnya yang tentunya sempat dilarang Nix dan Adele. Tapi bukan Nachella namanya jika menurut, dia tetap saja membeli semuanya tanpa memperdulikan larangan keduanya.
Kini keduanya berhenti di sebuah toko perhiasan, diikuti para anak ayam yang juga berhenti. Keduanya nampak saling memandang, sebelum akhirnya Nachella segera menarik Vio untuk masuk.
Mata kedua kini di sambut dengan hamparan perhiasan yang tersusun rapi di rak-rak kaca tembus pandang.
Nachella melangkahkan kakinya menuju sebuah perhiasan yang menarik perhatiannya sedari awal. Sebuah jepit rambut berbentuk bunga mawar dengan ukiran kupu-kupu di atasnya. Di bawahnya terdapat sebuah ornamen menjuntai seperti akar tanaman dengan dihiasi daun dan bunga-bunga kecil. Tangannya segera mengambilnya, lalu mendekatkannya ke hidung. Sesuai dugaannya jika perhiasan tersebut mengeluarkan bau harum khas bunga mawar. Sungguh dirinya menyukai sihir. Tidak ingin di ambil orang lain, Nachella segera membayarnya dan membawanya menghampiri Vio yang masih terdiam di depan pintu masuk.
"Kakak, pilihlah. Aku yang akan membayarnya" ucap Nachella yang langsung membuat Vio berbinar penuh bahagia.
⚜⚜
Nachella dan rombongannya serta Vio kini dalam perjalanan menuju istananya. Dilihatnya kereta yang semula longgar kini sesak di penuhi barang keduanya dan para pelayan terutama milik Nachella memenuhi seisi kereta, belum lagi dengan kumpulan bibit tanaman yang juga di bawa para pelayan lain di luar kereta karena kereta yang memang sudah tidak sanggup lagi menerima lebih banyak barang..
Mereka telah membawa pulang 3 gaun pesta, 4 gaun santai, 3 gaun tidur, 3 kotak perhiasan, 2 pasang sepatu hak untuk Nachella. 2 pasang gaun pesta, 3 gaun santai, 3 gaun tidur, 1 kotak perhiasan dan sepasang sepatu selop untuk Vio. Sebuah pakaian formal dan sebuah pakaian santai untuk Adele dan Nix. Dan 10 pasang pakaian pelayan baru bagi para pelayan yang sedari tadi telah menemaninya di pasar.
Hari yang cukup melelahkan bagi mereka, namun tidak satupun diantara mereka yang terlihat lelah. Justru mereka terlihat sangat menikmatinya, hingga tanpa mereka sadari kini Nachella dan rombongannya telah sampai di depan pintu gerbang yang langsung di sambut dengan tundukan kepala 90 derajat.
"Selamat datang kembali Tuan Putri Nachella" ucap para penjaga.
Nachella membuka tirainya, menampilkan senyum terbaiknya.
"Berdirilah!"
"Terima kasih, Tuan Putri"
Kereta kembali berjalan memasuki pekarangan yang dipenuhi berbagai tanaman dengan sisi kanan terdapat arena bertarung.
Vio memperhatikan sekelilingnya yang di penuhi bangunan menjulang tinggi dengan sebuah menara yeng terdapat bendera berwarna biru saphire dengan perpaduan warna hitam yang terletak di sebelah kanan bangunan lain. Disudut lain, terdapat sebuah taman yang terlihat cukup tandus yang sedang di rawat oleh beberapa orang orang depan pakaian seragam yang sama berwarna coklat muda.
"Kau seorang Putri?" Tanya Vio yang langsung di balas anggukan kepala.
"Iya, selamat datang di kerajaanku, kakak"
"Agh, Kak Vio. Aku lupa membeli buku sihir" lanjutnya dengan nada frustasi.
Author POV END
⚜⚜
TBC
__ADS_1